NovelToon NovelToon
Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Janda / Selingkuh
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.

Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.

Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.

Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16

Setelah kepergian Drake, Kenji segera menghubungi Bleiz.

“Tuan Bleiz.” Laporan Kenji singkat dan lugas. “Drake sempat pulang. Sepertinya dia sempat curiga istrinya tidak kembali ke rumah. Namun pada akhirnya, Drake tetap memilih pergi bersama Ezme.”

Di ujung sana, suara Bleiz terdengar tenang, terlalu tenang untuk urusan seperti ini yang bagi Bleiz bukanlah sebuah ancaman sengit.

“Ikuti mereka.” Perintahnya.

“Lihat sampai sejauh apa. Saat ini Zayna sedang bersama Tuan Max, jadi sementara kau mengikuti Drake. Jika Zayna sudah kembali, kau harus segera kembali ke posisi dan mengawasinya.”

“Baik.” Jawab Kenji tanpa ragu.

Panggilan pun terputus.

Sejujurnya, Kenji adalah eksekutor pihak ke tiga, sehingga Kenji belum pernah bertemu langsung dengan Max. Namun nama itu saja sudah cukup membuatnya waspada.

Dari segelintir informan yang ia percaya, Max dikenal sebagai pria berbahaya, kejam, dingin, dan menekan. Aura kekuasaannya konon bisa dirasakan bahkan sebelum ia membuka mulut. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuat orang memilih menunduk.

Orang-orang di dunia gelap sering membicarakannya.

“Anak itu persis seperti ayahnya. Nelson.” Begitu kata mereka.

Kenji juga belum pernah bertemu Nelson secara langsung. Namun reputasinya mendahului segalanya. Pria itu dikenal sebagai salah satu sosok paling kejam di kalangan mafia. Tanpa perlu turun tangan sendiri, namanya saja sudah cukup membuat para eksekutor gemetar.

Begitulah cara dunia gelap bekerja. Seorang ketua mafia memberi perintah pada sekretarisnya. Sang sekretaris akan menyampaikannya pada anak buah. Dan anak buah lain lah yang akan bergerak di lapangan.

Para pemimpin sejati selalu bekerja dalam sunyi dan gelap. Wajah mereka jarang terlihat, tangan mereka jarang kotor. Namun jejak kekuasaan mereka ada di mana-mana.

Tak seorang pun perlu melihat sosok mereka secara langsung. Mendengar namanya saja, sudah cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melawan.

Ada banyak cerita di balik kekejaman Nelson. Namun salah satu cerita yang menarik bagi Kenji adalah ketika ia pertama kali terjun sebagai pihak Eksekutor. Nama Nelson baru ia dengar sekali di telinganya, bertahun-tahun lalu. Dan itu sudah cukup membuatnya merinding.

Saat itu bukan lewat tatap muka, melainkan bisik-bisik ketakutan di antara para eksekutor. Mereka tidak menyebut detail, hanya potongan-potongan cerita yang terputus, namun justru itulah yang membuatnya lebih mengerikan.

Nelson dikenal tidak suka teriakan. Tidak menyukai ancaman berisik. Pria itu lebih memilih diam.

Ada cerita tentang satu malam ketika sebuah kelompok pengkhianat lenyap tanpa bekas. Tidak ada baku tembak, tidak ada mayat di jalanan. Keesokan paginya, markas mereka kosong, bersih, rapi, seolah tak pernah dihuni siapa pun.

Satu-satunya pesan yang tersisa hanyalah sebuah meja makan yang masih hangat, dengan kursi-kursi tersusun rapi. Seakan mereka semua pergi secara sukarela.

Sejak malam itu, tidak ada lagi yang berani menyebut nama Nelson dengan suara keras.

Karena Nelson bukan tipe pria yang membunuh untuk memberi peringatan. Ia menghilangkan, agar tak ada yang tersisa untuk menceritakan apa pun.

Dan Max, adalah satu-satunya anak yang tumbuh di bawah bayangan pria seperti itu, dan tetap berdiri tegak.

Kenji menelan ludah.

Jika cerita-cerita itu benar, maka dunia yang sedang mereka pijak sekarang bukan sekadar gelap.

Ini adalah wilayah di mana satu keputusan salah saja, cukup untuk menghapus seseorang dari dunia.

Maka dari itu, Bleiz dan Kenji sama-sama tahu bagaimana khawatirnya mereka, jika Nelson tahu, apa yang sedang Max kerjakan saat ini.

—————

Di rumah sakit, Max memperhatikan setiap gerakan Zayna yang sibuk merawatnya. Dari caranya mengelap tubuhnya dengan hati-hati, hingga menerima nampan makanan dari perawat dan menyuapkannya perlahan. Tidak ada gerakan yang terburu-buru, penuh dengan tanggung jawab.

Ada sesuatu yang mengganggu dada Max.

Senyum tipis yang tadi terbit perlahan memudar. Max masih berbaring, namun matanya bergerak mengikuti Zayna tanpa ia sadari. Terlalu fokus. Terlalu penuh.

“Tenang. Ini hanya bagian dari rencana.” Batin Max.

Max juga paham, jika ia membuka identitas aslinya, Zayna bukan akan mendekat, wanita itu justru akan menjauh, membangun jarak, bahkan mungkin takut. Max tak ingin memaksa. Max ingin Zayna datang dengan kemauannya sendiri. Apalagi jika Zayna tahu siapa dirinya sebenarnya, mafia kejam yang namanya saja cukup membuat banyak orang berlutut, tidak akan ada ruang untuk kepercayaan.

“Kau pasti lelah.” Ujar Max pelan.

“Tidak.” Jawab Zayna singkat.

“Tenang saja. Kau terluka juga karena aku, jadi aku harus bertanggung jawab. Ini hanya bentuk balasanku, dan rasa tanggung jawabku.”

“Ah… Aku benar. Sudah sesuai perkiraanku, untuk itulah aku merasa terganggu, jadi benar ini semua hanya sebatas tanggung jawab.” Batin Max tersenyum dingin.

Kata itu “bertanggung jawab” membuat rahang Max mengeras sesaat sebelum ia menyadarinya.

“Bukan itu yang kuinginkan. Aku tidak ingin tanggung jawabmu. Aku ingin kau memilihku.” Batin Max lagi.

Ketika Zayna menyuapkan bubur, tangan Max hampir refleks bergerak, ingin menahan pergelangan tangan yang mungil itu. Bukan untuk menyakitinya. Hanya, memastikan. Meyakinkan diri bahwa ia masih ada. Lalu Max ingin sekali menciumi setiap inc pergelangan tangn yang nampak rapuh itu. Menciuminya dengan lembut.

Max segera menahan diri. Menarik napas panjang. Terlambat satu detik. Maka semua rencananya akan runtuh.

“Apa aku perlu mengembalikan para rentenir itu? Membiarkan mereka menekannya lagi? Sampai ia sadar bahwa hanya aku yang bisa menolongnya. Bahwa hanya aku yang berdiri di sisinya. Sampai ia paham, di dunia ini, ia hanya punya aku.” Batin Max dengan gelisah.

“Kalau boleh aku tahu.” Ujar Max hati-hati.

”Seberapa besar hutangmu pada rentenir itu?”

Zayna terdiam sesaat. Tangannya berhenti menyuapkan bubur.

“Suamiku berjudi.” Kata Zayna lirih.

”Dan selalu mabuk. Jumlahnya, bukan sedikit. Seumur hidupku juga tidak akan bisa melunasinya.”

Nada enggan itu membuat Max yakin, bahwa ia belum masuk ke dalam lingkaran kepercayaan Zayna.

“Kalau seandainya aku punya uang.” Kata Max perlahan.”

”Apa kau mau memakainya?”

“Aku tidak mau merepotkanmu lagi.”

“Aku akan meminjamkannya padamu.” Sahut Max dengan cepat.

Zayna menatapnya sekilas, lalu kembali menyuapkan bubur.

“Apa kau orang kaya?” Tanya Zayna, tanpa nada menggoda, hanya rasa ingin tahu yang datar.

Max memilih diam.

Max diam. Tapi di balik diamnya, pikirannya tidak.

“Kalau kau tahu siapa aku, kau tak akan bertanya seperti itu. Dan aku, tak akan se-sabar ini.” Kesal Max.

“Aku tidak mau kau repot memikirkan urusan yang bukan urusanmu. Membuat mu terluka seperti ini saja, aku sudah merasa berhutang padamu. Jadi jangan melakukan hal-hal seperti tadi malam lagi.” Kata Zayna pelan.

Max menelan senyum di wajahnya. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Max perkirakan.

Max memejamkan mata sesaat, menekan denyut di pelipisnya. Untuk pertama kalinya sejak lama, Max menyadari satu hal yang berbahaya, meski Max masih memegang kendali atas situasi ini, tapi tidak sepenuhnya atas dirinya sendiri.

Dan itu, membuatnya gelisah juga hampir membuat Max lepas kendali. Jika bukan karena Zayna, Max bukanlah pria penyabar.

Bersambung

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
Umi Zein
kamu gak tau yg sebenarnya Max/Sob/, klo kamu tau tentang kebenarannya bencinya kamu pasti akan berbuah syang 0d ayahmu/Whimper//Chuckle/
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
Apa penguntit itu suruhan nevari???
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
Hanima
lanjut Maxxx
Umi Zein
ya seneng bahagia laah! wong dapet jatah dr istrinya orang😂😂
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Gas Max, Bisa jadi benihhhmu juga sdh tumbuh. Jadi tanggung jawablah, perjuangkan Zayna sampai titik darahhh penghabisan🤭🤣
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Anggap saja Max adalah obat untuk luka yang diderita zayna.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Semoga saja Drake segera menceraikannn Zayna. takut bangeet Zayna goyah dan dibodohiii drake. karena mereka sd impas sdh merasakan kehangatan bersama orang lain.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
demi zayna max rela melakukan apapun🤭
Hanima
Lanjuttt Max
Hanima
semuaaaanya 🤭
Hanima
👍👍
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
gak papa drake sekarang bergaya dulu ala ala CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh😁🤭
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk
Anonymous
Thor kok blm update
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
duuuuh bolak balik ngintipin up apa blom🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Umi Zein
ooh jdi si Max sengaja ngasih posisi itu ke Drakula biar dia bisa mantau trus. licik tp pinter jg si Max /Proud//Joyful//Joyful/
Achimedess
keren
Achimedess
siipp
dlups
lanjukan
dlups
upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!