Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toga, Bunga dan Jarak
Gedung pertemuan itu penuh sesak oleh ribuan orang. Suara riuh rendah percakapan, tawa, dan tangis haru bersahutan di bawah langit-langit tinggi yang megah. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau bunga segar dari karangan-karangan bunga yang berjajar di luar. Di tengah lautan toga hitam, Katyamarsha berdiri dengan anggun. Kebaya biru yang ia pilih semalam melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan dewasa yang matang namun tetap mempertahankan kesederhanaan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Donny berdiri sedikit menjauh dari kerumunan keluarga Arman. Ia mengenakan kemeja batik tulis berwarna gelap yang pas di tubuh tegapnya. Sejak tiba di gedung ini, matanya tak pernah benar-benar lepas dari sosok Katya. Ia melihat bagaimana Katya menyalami dosen, tertawa bersama teman-temannya, dan berkali-kali membenarkan letak toganya yang miring.
"Don, kenapa berdiri di sana? Sini, foto bareng kami!" seru Arman sambil melambaikan tangan.
Donny mendekat dengan langkah perlahan. Ia berdiri di sisi kiri Katya, sementara Arman dan Resti berada di sisi kanan. Fotografer memberikan instruksi agar mereka merapat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, lengan Donny bersentuhan langsung dengan lengan Katya. Ada getaran halus yang menjalar, sebuah sensasi listrik yang membuat Donny refleks menahan napas. Ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, padahal ia hanya sedang berdiri dalam sebuah foto keluarga.
"Om Donny beneran datang," bisik Katya di sela-sela senyumnya ke arah kamera.
"Om sudah janji," jawab Donny singkat, suaranya sedikit serak.
Selesai sesi foto, seorang pemuda jangkung dengan toga yang sama dengan Katya mendekat. Namanya Bagas, teman satu jurusan Katya yang selama ini santer dikabarkan menaruh hati pada gadis itu.
"Katya! Selamat ya!" Bagas memberikan sebuket bunga mawar merah yang besar. "Kamu cantik banget hari ini."
Katya tersenyum malu-malu. "Makasih, Gas. Kamu juga selamat ya, akhirnya lulus juga."
Donny memperhatikan interaksi itu dari jarak satu meter. Ia melihat bagaimana Bagas menatap Katya dengan binar yang sama dengan binar yang sering ia lihat di cermin saat ia memikirkan Katya. Namun, ada satu perbedaan besar: Bagas punya hak untuk menatapnya seperti itu. Bagas sebaya. Bagas tidak memberikan nama pada bayi Katya dua puluh satu tahun lalu. Bagas tidak memiliki sejarah persahabatan yang harus dijaga dengan ayahnya.
Ada rasa panas yang membakar di dada Donny. Cemburu? Ia ingin tertawa pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang pria berusia empat puluhan merasa cemburu pada seorang bocah ingusan yang baru saja mendapatkan gelar sarjana? Tapi fakta bahwa Bagas bisa dengan bebas menyentuh bahu Katya untuk berfoto berdua membuat tangan Donny terkepal di dalam saku celananya.
"Siapa pemuda itu, Ya?" tanya Arman saat Bagas sudah menjauh.
"Oh, itu Bagas, Yah. Teman satu organisasi," jawab Katya tenang.
Arman mengangguk-angguk, lalu menoleh pada Donny. "Don, lihat itu. Anak kita sudah besar. Sudah ada yang memberi mawar merah. Sebentar lagi mungkin akan ada yang datang ke rumah membawa martabak, tapi bukan untuk kita, melainkan untuk dia."
Donny hanya tersenyum kaku. Ucapan Arman seperti sembilu yang menyayat pelan. "Itu sudah sewajarnya, Man. Dia wanita cantik, pintar, dan murni. Siapa yang tidak tertarik?"
Setelah acara selesai, mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran di dekat area kampus. Di sana, suasana terasa lebih hangat dan tenang. Namun, bagi Katya, makan siang itu terasa aneh. Ia lebih sering mencuri pandang pada Donny daripada mendengarkan ocehan ibunya tentang rencana pesta syukuran di rumah.
Donny tampak sangat pendiam hari ini. Ia lebih banyak menatap piringnya atau melihat ke arah luar jendela. Katya merasa ada jarak yang sengaja diciptakan oleh pria itu.
"Om Donny, kok nggak dimakan makanannya? Nggak enak ya?" tanya Katya, mencoba memecah kebekuan.
Donny mendongak, matanya bertemu dengan mata Katya yang jernih. "Enak kok. Hanya sedang berpikir."
"Mikirin apa? Kerja lagi?" Katya cemberut. "Ini hari bahagia aku lho, Om. Jangan mikirin kantor dulu."
Arman tertawa melihat putrinya merajuk. "Donny ini memang robot kerja, Ya. Makanya dia sampai sekarang betah sendiri. Terlalu cinta sama berkas kantor."
"Mungkin belum menemukan yang pas saja, Man," sela Resti sambil tersenyum menggoda. "Atau kriterianya terlalu tinggi?"
Donny hanya terkekeh pelan, namun matanya tetap tertuju pada Katya. Kriteriaku tidak tinggi, Resti. Kriteriaku hanya mustahil, batinnya perih.
Saat makan siang berakhir, Arman mengajak Donny berbicara berdua di area parkir sementara Resti dan Katya masih merapikan barang-barang di dalam restoran.
"Don," panggil Arman dengan nada serius. "Ada yang mau aku bicarakan."
Donny menoleh, merasa sedikit waswas. "Apa itu, Man?"
"Tadi aku melihat caramu menatap Katya di gedung wisuda," ujar Arman langsung, tanpa basa-basi.
Jantung Donny seolah berhenti berdetak. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Apakah persahabatan mereka akan berakhir di tempat parkir ini? Apakah Arman akan memukulnya karena berani menatap putrinya dengan tatapan pria dewasa?
"Maksudmu?" Donny berusaha tetap tenang, meski tangannya sedikit bergetar saat merogoh kunci mobil.
Arman menghela napas panjang, matanya menatap kejauhan. "Aku mengenalmu sejak kita masih tinggal di kontrakan sempit itu, Don. Aku tahu bagaimana tatapanmu saat kamu peduli pada seseorang. Dan hari ini, aku melihat tatapan yang berbeda. Bukan tatapan seorang Om pada keponakannya. Tapi tatapan seorang pria yang takut kehilangan dunianya."
Donny terdiam. Kebohongan terasa sia-sia di hadapan Arman.
"Jangan salah paham, Don," lanjut Arman sambil menepuk bahu sahabatnya. "Aku tidak marah. Justru aku merasa lega. Selama ini aku cemas, pria seperti apa yang akan menjaga Katya setelah aku tidak ada nanti. Aku takut dia jatuh ke tangan pria seperti pemuda pembawa mawar tadi, yang mungkin manis di awal tapi belum tentu sekuat gunung dalam menjaga amanah."
Donny menatap Arman dengan tidak percaya. "Man, apa yang kamu katakan? Aku jauh lebih tua darinya. Aku sahabatmu!"
"Justru karena kamu sahabatku, aku tahu kualitasmu. Aku tahu kamu yang memberi nama itu padanya. Aku tahu kamu yang menjaga kesucian namanya di dalam setiap doa-doamu," Arman tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh beban sekaligus harapan. "Jika suatu saat nanti, Katya memilihmu, atau takdir membawanya padamu... aku tidak akan menghalanginya. Aku justru akan merasa tenang."
Donny tidak bisa berkata-kata. Pengakuan Arman adalah restu yang paling tidak terduga sekaligus beban yang paling berat. Restu itu membuatnya merasa memiliki izin untuk mencintai, namun di saat yang sama, ia merasa semakin bersalah karena ia merasa seperti "merampok" masa muda Katya sebelum gadis itu benar-benar menjelajah dunia.
Katya keluar dari restoran, wajahnya cerah terkena sinar matahari sore. Ia melambaikan tangan pada ayahnya dan Donny. "Ayo pulang! Katya sudah capek pakai kebaya ini!"
Donny memandang Katya yang berjalan mendekat. Gadis itu tidak tahu bahwa ayahnya baru saja meletakkan masa depannya di pundak pria yang selama ini ia panggil Om.
"Don, pikirkan ucapanku," bisik Arman sebelum Katya sampai di hadapan mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, Donny hanya diam. Ia mencengkeram kemudi dengan erat. Pikirannya berperang antara nafsu kemanusiaan yang ingin memiliki Katya dan rasa hormat yang ingin melihat Katya bahagia dengan pria yang sebaya dengannya.
Namun, di kursi belakang mobil Arman, Katya sedang memandangi mawar pemberian Bagas. Ia merasa mawar itu sangat indah, tapi aromanya tidak setenangkan aroma kayu manis dan maskulin yang selalu menguar dari pakaian Donny setiap kali mereka berdekatan. Katya meletakkan mawar itu di pangkuannya, lalu menatap punggung ayahnya dan bayangan mobil Donny yang mengikuti di belakang melalui kaca spion.
"Nama aku Katyamarsha," gumam Katya dalam hati. "Murni dan kuat. Tapi kenapa di depan Om Donny, aku merasa begitu rapuh dan ingin selalu dilindungi?"
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai bertabur bintang, sebuah kesepakatan tak tertulis telah dibuat antara dua pria dewasa. Sementara sang gadis, masih terjebak dalam teka-teki perasaannya sendiri, tanpa menyadari bahwa mawar merah di kamarnya akan segera layu, tergantikan oleh janji yang jauh lebih abadi dari seorang sahabat ayahnya.