Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Kaisar mengangguk, rahangnya kembali mengeras mengingat tatapan Riko tadi. Lampu berubah hijau, mereka kembali melaju.
Sesampainya di rumah, Kaisar mematikan mesin motor dan turun lebih dulu. Dia membantu Shelina melepas helm. Rambut wanita itu sedikit berantakan tertiup angin.
Kaisar menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Apa?” tanya Shelina pelan.
Kaisar mengangkat tangan, merapikan helaian rambut yang jatuh di wajahnya. “Kamu kelihatan capek.”
Shelina tersenyum tipis. “Hari yang panjang.”
Tanpa banyak kata, Kaisar meraih tangannya dan menggenggamnya saat mereka masuk ke dalam rumah.
Begitu pintu tertutup, dunia luar seperti tertinggal.
Shelina melepas tasnya dan bersandar sebentar di dinding.
“Aku nggak nyangka mereka bakal sejauh itu.”
Kaisar mendekat, berdiri tepat di depannya. “Kamu harus hati-hati mereka itu nekat,"
Tatapan mereka bertemu.
“Aku nggak mau kamu sendirian lagi di kampus sampai malam,” lanjut Kaisar.
Shelina menatapnya lembut. “Kamu mau jadi bodyguard tetapku?”
Kaisar menyeringai tipis. “Kalau perlu.”
Hening sejenak, lalu tanpa banyak bicara, Shelina melangkah mendekat dan memeluk Kaisar. Kali ini bukan karena takut. Tapi karena ia sadar di tengah permainan yang mulai memanas, satu-satunya tempat paling aman adalah pelukan pria yang kini berdiri memeluknya erat.
Keesokan paginya di Kampus.
Langit masih pucat ketika Kaisar melangkah melewati gerbang utama. Biasanya ia datang dengan santai dan earphone terpasang, langkah malas, wajah cuek yang seolah dunia tak ada hubungannya dengan dirinya.
Tapi hari ini, sejak kejadian semalam, ada kewaspadaan di matanya.
Beberapa mahasiswa yang duduk di tangga depan fakultas langsung menoleh saat melihatnya. Bisik-bisik kecil terdengar. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat suasana terasa aneh.
“Kai…” Seseorang memanggilnya.
Reno, mahasiswa satu angkatan yang bukan bagian dari geng mana pun, berdiri canggung di dekat papan pengumuman.
“Ada apa?” tanya Kaisar datar.
Reno menelan ludah. “Kamu … diminta ke ruang Dekan sekarang.”
Langkah Kaisar terhenti.
“Sekarang?” tanyanya singkat.
Reno mengangguk cepat. “Tadi ada staf TU nyariin kamu. Katanya urgent.”
Jantung Kaisar berdetak satu kali lebih keras.
'Dekan?' Pikiran pertamanya langsung melompat pada satu hal yaitu Shelina.
'Apa semalam ada yang melapor? Apa Riko bergerak lebih cepat? Atau … rahasia kami sudah tercium oleh pihak kampus?'
Suasana di sekitarnya mendadak terasa menekan. Beberapa pasang mata kini terang-terangan memperhatikannya.
Kaisar memasukkan kedua tangan ke saku celana, berusaha terlihat santai meski pikirannya berpacu cepat.
“Oke,” jawabnya singkat.
Ia berbalik menuju gedung rektorat. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Lorong yang biasanya ia lalui tanpa beban kini terasa seperti jalan menuju ruang sidang.
Di depan gedung Dekanat, udara terasa lebih dingin. Kaisar berhenti sejenak di tangga. Menghela napas panjang berusaha menenangkan diri.
Pintu ruang administrasi terbuka ketika ia masuk. Seorang staf melihatnya dan langsung berdiri.
“Saudara Kaisar Pramudya?” tanyanya formal.
“Iya.”
“Silakan masuk. Pak Dekan sudah menunggu.” Nada itu terlalu resmi.
Kaisar merasakan rahangnya menegang. Pintu kayu besar di depan ruang Dekan terlihat tertutup rapat, dia mengetuk dua kali.
“Masuk.” Suara berat itu terdengar dari dalam.
Kaisar memutar gagang pintu. Begitu pintu terbuka, suasana langsung terasa lebih tegang dari yang ia bayangkan.
Di dalam ruangan, bukan hanya Dekan yang duduk di balik meja besar itu.
Ada Wakil Dekan dan Riko juga. Duduk di kursi tamu, wajahnya terlihat tenang, bahkan sedikit puas. Tatapan Kaisar langsung berubah tajam.
Di sisi kanan ruangan, kursi-kursi tambahan telah disusun. Beberapa dosen senior duduk dengan wajah serius. Dua dosen muda terlihat canggung. Wakil Dekan membuka map di pangkuannya. Dan di dekat jendela ada Shelina yang berdiri dengan raut wajah cemas.
Ia berdiri tegak, mengenakan blazer abu-abu gelap. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tapi hanya Kaisar yang cukup mengenalnya untuk melihat ketegangan halus di garis rahangnya.
Beberapa dosen saling berbisik pelan.
“Katanya sudah lama dekat…”
“Mahasiswa dan dosen? Berani sekali…”
“Kalau ini benar, reputasi fakultas bisa hancur…”
Kata-kata itu tidak diucapkan keras, tapi cukup untuk terdengar seperti desis yang menyayat. Kaisar mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
Riko duduk bersandar santai, pura-pura tidak terlibat, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Pak Dekan berdeham, memecah bisik-bisik.
“Kita langsung saja,” ucapnya berat.
“Pagi ini beredar informasi mengenai hubungan tidak pantas antara salah satu dosen dan mahasiswa.”
Ruangan langsung hening. Tatapan-tatapan beralih pada Shelina lalu pada Kaisar.
“Saudari Shelina,” lanjut Wakil Dekan, “apakah Anda mengetahui gosip yang menyebar sejak tadi pagi?”
Shelina mengangkat wajahnya sedikit. Suaranya stabil ketika menjawab.
“Saya mendengar ada isu yang beredar. Tapi saya tidak tahu sumbernya.” Nada suaranya profesional. Pak Dekan kemudian menoleh pada Kaisar.
“Saudara Kaisar Pramudya. Anda disebut-sebut sebagai mahasiswa yang memiliki kedekatan khusus dengan Saudari Shelina. Apa tanggapan Anda?”
Kaisar bisa merasakan seluruh ruangan menunggu jawabannya. Beberapa dosen senior terlihat kecewa bahkan sebelum ia berbicara. Riko menatapnya penuh tantangan.
Shelina tidak menoleh ke arahnya. Tapi Kaisar tahu, wanita itu menahan napas. Satu jawaban salah bisa menghancurkan kariernya. Satu kata jujur bisa membuatnya kehilangan segalanya. Kaisar mengangkat dagunya sedikit.
“Kedekatan seperti apa yang dimaksud, Pak?”
Jawaban yang cerdas, tidak menyangkal, tidak mengakui.
Wakil Dekan membuka lembaran kertas. “Ada laporan bahwa Anda terlihat sering bersama di luar jam kuliah. Bahkan semalam di parkiran kampus.”
Bisik-bisik kembali terdengar.
Seorang dosen senior berkomentar pelan, “Ini mencoreng etika akademik.”
Riko akhirnya angkat suara, pura-pura ragu. “Saya cuma nggak mau nama baik kampus rusak, Pak. Saya lihat sendiri mereka berdua di parkiran malam tadi. Sangat dekat dan bahkan ber..." Nada suaranya dibuat seolah peduli.
Kaisar menatapnya tajam.
“Dekat karena mobilnya dirusak,” jawab Kaisar tegas.
“Ban mobil Miss Shelina disobek.”
Ruangan mendadak hening.
“Disobek?” ulang salah satu dosen.
Shelina akhirnya angkat bicara. “Benar, mobil saya harus diderek tadi malam. Jika ada yang ingin mempertanyakan, saya bisa tunjukkan bukti dari bengkel.”
Pak Dekan saling pandang dengan Wakil Dekan. Riko sedikit kehilangan ekspresi percaya dirinya. Namun, gosip sudah terlanjur menyebar.
Seorang dosen senior berdeham. “Terlepas dari itu, isu hubungan pribadi antara dosen dan mahasiswa tetap harus diklarifikasi.” Kalimat itu menggantung di udara.
Kaisar dan Shelina berdiri dalam jarak beberapa meter.
Ruangan yang semula hanya dipenuhi bisik-bisik kini benar-benar sunyi. Riko berdiri dari kursinya.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu, Pak,” katanya lantang, suaranya terdengar mantap dan penuh perhitungan.
Pak Dekan menatapnya tajam. “Silakan.”
Riko melirik sekilas ke arah Kaisar, lalu pada Shelina. Ada kepuasan yang samar di wajahnya.
“Semalam,” lanjutnya, “di parkiran kampus, Saudara Kaisar secara langsung mengatakan bahwa Miss Shelina adalah istrinya.” Kalimat itu jatuh seperti bom.
Beberapa dosen langsung saling menatap. Ada yang mengernyit, ada yang membelalakkan mata.
“Istrinya?” ulang salah satu dosen senior dengan nada tidak percaya.
Riko mengangguk tegas. “Kalau itu benar, berarti ada hubungan antara mahasiswa dan dosen. Setahu saya, peraturan kampus melarang adanya relasi pribadi semacam itu selama status akademik masih berjalan.”
Ia lalu menatap langsung pada Dekan.
“Bagaimana Bapak menanggapi masalah ini?” Seketika ruangan terasa menegang.
Udara seolah menipis, Wakil Dekan membuka mapnya dengan tangan yang sedikit lebih kaku dari sebelumnya. Beberapa dosen muda mulai tampak gelisah. Isu ini bukan lagi sekadar gosip dan ini menyentuh ranah aturan resmi.
Tatapan perlahan-lahan kembali mengarah pada dua sosok yang berdiri berseberangan.
Shelina tetap tegak. Wajahnya pucat, tapi tidak runtuh. Tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya untuk menahan getar.
Kaisar menoleh pada Riko. Tatapannya dingin. Tidak ada kemarahan meledak, hanya ketegasan yang mengeras.
Pak Dekan menghela napas panjang.
“Saudara Kaisar,” ucapnya pelan namun tegas.
“Apakah Anda benar mengucapkan pernyataan tersebut?”
Semua mata kini tertuju pada Kaisar.
Ruangan begitu hening hingga detak jam di dinding terdengar jelas. Kaisar menarik napas dalam, lalu ia melangkah satu langkah ke depan.
“Benar,” ucapnya mantap, suasana langsung bergetar.
Beberapa dosen terperanjat. Wakil Dekan mengangkat wajahnya cepat. Riko tersenyum samar. Namun, Kaisar belum selesai.
“Tapi yang tidak Saudara Riko katakan,” lanjutnya, suaranya stabil, “pernikahan itu terjadi sebelum semester ini dimulai.”
Kalimat itu membuat beberapa orang kembali saling pandang.
Kaisar melanjutkan, “Kami menikah secara sah. Secara hukum negara. Dan tidak ada aturan tertulis yang melarang dosen menikah dengan mahasiswa ... yang ada adalah larangan penyalahgunaan wewenang akademik.”
Ia menatap langsung ke arah Riko.
“Saya tidak pernah mendapat perlakuan istimewa di kelas. Bahkan sebaliknya.”
Beberapa dosen tampak berpikir.
Shelina akhirnya angkat suara, tenang namun tegas.
“Saya tidak pernah memberikan nilai atau keistimewaan akademik kepada Saudara Kaisar. Semua penilaian bisa diverifikasi secara administratif.”
Pak Dekan terdiam cukup lama.
Riko terlihat sedikit goyah, tapi masih mencoba bertahan. “Tapi tetap saja ini melanggar etika, Pak.”
Pak Dekan mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
“Cukup.” Suara itu berat dan berwibawa.
“Kita tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi atau gosip. Jika benar pernikahan itu sah secara hukum, maka yang perlu kita nilai adalah potensi konflik kepentingan.”
Ia menatap tajam pada Shelina dan Kaisar.
“Untuk sementara, Saudari Shelina tidak diperkenankan mengajar di kelas yang diikuti Saudara Kaisar. Akan dilakukan penyesuaian akademik.” Ruangan kembali sunyi.
Pak Dekan melanjutkan, “Dan Saudara Riko, saya akan menyelidiki dugaan perusakan kendaraan yang disebutkan tadi malam. Jika terbukti, konsekuensinya berat.”
Senyum tipis di wajah Riko perlahan menghilang.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.