Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 11
"Jangan pernah macam-macam denganku apalagi ingin kabur dariku Aruna! Kamu masih memiliki banyak hutang padaku!" ucap Bima penuh penekanan masuk ke dalam kamar kecil dan sempit milik Aruna. Kamar pembantu yang ada di belakang rumah mewah Rahardian.
"Ibuku sudah meninggal, berapa tahun akan anda potong hukuman dan hutangku? Aku sudah memiliki setengah tahun pemotongan waktu!" tanya Aruna dengan tatapan yang semakin tajam kepada Bima.
"Aku potong satu tahun!" jawab Bima membuat Aruna tertawa mengejek.
"Nyawa ibuku kau hargai satu tahun Tuan Bima? Aku minta pemotongan waktu lima tahun! Karena sejatinya nyawa ibuku tak ternilai, tapi ini semua demi realitas dan kesepakatan," tawar Aruna membuat mata Bima membola sempurna.
Gadis kecil itu semakin pintar sjaa untuk bertransaksi dengan dia. Dia pintar sekali menawar dan menimbang.
"Satu setengah tahun!" jawab Bima.
"Tiga setengah tahun! Karena ibuku tak akan pernah bisa anda kembalikan. Walaupun dengan seluruh harta yang anda miliki, tak mampu membuat dia hidup kembali!" Aruna kembali menawar.
"Tiga tahun tak ada lagi tawar menawar. Sudah fix! Mulai Minggu depan kau aku bekerja dengan Edwin!" ucap Bima membuat Aruna menatap mata ayahnya dengan sangat tajam.
"Apa anda akan membunuhku secara perlahan dengan membiarkan aku bekerja bersama dengan om Edwin? Aku tahu pekerjaan apa yang kalian lakukan selama ini di belakang ibu. Itulah pekerjaan kotor dan berbahaya. Kau bukanlah pria baik seperti yang dibayangkan oleh ibu selama ini Tuan Bima. Kau penjahat dan mengedar barang Ter-/la-rang. Aku tidak mau! Lebih baik aku menjadi OG di kantormu!" Aruna menolak.
"Sejak kapan kau tahu?" tanya Bima menaikkan sebelah alisnya.
Istrinya saja tidak tahu pekerjaan utamanya, dari mana Aruna tahu pekerjaan utamanya bersama dengan Edwin. Selama bertahun-tahun dia menyimpannya dengan rapi. Sehingga semua orang mengira Jika dia adalah pengusaha besar yang sukses karena usahanya. Namun nyatanya perusahaan itu menyimpan sisi gelap.
"Dua tahun lalu!" jawab Aruna jujur.
"Baiklah karena kau sudah tahu maka aku tidak perlu capek-capek menjelaskannya padamu. Jadi bersiaplah, persiapkan dirimu untuk menjadi algojoku!" jawab Bima.
"Dasar iblis! Kau benar-benar tak punya hati Bima!" teriak Aruna penuh emosi.
plaaaakkk
Blaaam
Bima menampar dan pergi dari kamar Aruna dengan membanting pintu secara kasar. Hingga semua orang yang berada di dapur berlonjak kaget mendengar. Tapi mereka tidak ada yang berani bersuara saat melihat Bima keluar dengan wajah penuh amarah.
"Pak, di depan ada Pak Edwin menunggu anda!" ucap Bi Asih sambil menunduk.
"Suruh dia ke ruangan kerjaku!" jawab Bima.
"Ada apa anda memanggil saya, Tuan? Apa ada tugas baru?" tanya Edwin saat berada di ruang kerja Bima.
"Mulai Minggu depan kau bawa Aruna ke markas dan latih dia setiap hari sampai dia siap menjadi algojo!" jawab Bima tegas.
"Aruna? Tapi dia perempuan dan dia anakmu, Tuan Bima!" kaget Edwin.
"Aku tak punya anak perempuan. Anakku laki-laki dan anakku hanya Arkha," jawab Bima dengan tatapan nyalang penuh amarah.
"Aruna anak perempuan dan dia juga masih sekolah. Aku rasa dia tak akan mampu mendapatkan pelatihan seperti anak buah kita lainnya, apalagi menjadi algojo! Tolong anda pikirkan lagi. Jika memang anda mau menghukum dia, bisa melakukan dengan cara lain," Edwin saja masih memiliki perasaan kasihan kepada Aruna.
Sedangkan ayahnya bahkan tak peduli apapun dengan perasaan anaknya. Bima terlalu egois, dia akan memasukkan Aruna ke dalam lubang kegelapan yang kapan saja bisa mereng-gut nya-wanya. Pekerjaan yang tak mudah dan penuh resiko. Karena mereka bukan hanya sekedar menge-darkan barang! Tapi mereka juga tak segan untuk mem-bu-nuh. Pantaslah jika Bima tak memiliki perasaan saat menyik-sa istri dan anaknya. Karena sifat aslinya adalah seorang pem-bu-nuh.
"Dia akan berlatih setelah sekolah sampai tengah malam. Kau urus saja jadwalnya! Aku tak mau sering melihat wajah dia!" jawab Bima.
Edwin yang sudah mendapatkan perintah tak bisa menolak. Dia hanya mengangguk patuh. setelahnya mereka kembali membahas bisnis ha-/ram milik Bima. Edwin memang jarang datang ke ruang mereka, hanya sesekali saja dia datang jika Bima tak bisa datang ke markasnya. Selama ini mutiara tak pernah curiga sama sekali kepada suaminya. Namun ternyata Aruna bahkan sudah tahu pekerjaan utamanya dari dua tahun lalu.
"Maaf nona, Anda bisa ikut dengan kami? Hari ini anda akan mulai pelatihan bersama dengan kami di markas!" ucap salah seorang pria kekar keluar dari dalam mobil mencegat Aruna yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Aruna masuk tanpa banyak anda basi dan tak peduli dengan tatapan semua murid yang ada di sana.
"Besok kalian jemput aku di halte saja. Jangan terlalu mencolok jika tidak mau dicurigai sebagai pencu-lik anak remaja!" ujar Aruna membuat mereka terdiam.
"Maaf Nona, kami tak akan melakukan kesalahan lagi," jawab mereka.
Mereka masih menghargai karena sebagai anak dari pimpinan mereka. Sehingga mereka tidak berbicara lancang kepada Aruna. Selama dalam perjalanan Aruna lebih banyak diam. Dan menatap ke arah jendela, Dia memutuskan untuk mengikuti jalan takdir hidupnya. Dia akan mengikuti keinginan Bima sambil dia mengumpulkan tenaga dan pasukannya sendiri, yang pada akhirnya dia akan melawan Bima. Aruna sudah memulai merancang dan merencanakan semuanya.
Aruna bukanlah gadis kecil yang bo-doh, tapi dia memiliki kecerdasan dan kemampuan di atas rata-rata. Makanya Bima selalu memberikan tempat dan pelatihan fisik yang cukup berat untuknya. Tapi Bima tidak sadar, Jika dia sudah memberi jalan kepada Aruna untuk menikamnya suatu saat nanti. Dengan membiarkan Aruna masuk ke dalam dunia bawah. Maka Aruna akan menjadi wanita yang kuat dan yakinlah jika Aruna akan memiliki pengaruh besar di dunia hitam itu.
"Silahkan anda ganti baju dulu Nona. Setelahnya anda mau makan terlebih dahulu atau mau langsung pemanasan? Karena latihan kita akan berlangsung sampai tengah malam. Sesuai perintah dari ayah anda," tanya asisten Edwin bernama Ramon.
"Langsung saja Om!" jawab Aruna masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan untuknya selama di sana.
Hari pertama Aruna mendapatkan banyak sekali latihan fisik dasar yang benar-benar menguras tenaganya. Semua orang yang ada di sana tidak tega melihat Aruna seperti itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena itu adalah perintah dari pimpinan mereka. Perintah yang tidak bisa didebatkan lagi.
"Jam berapa ini Om Ramon?" tanya Aruna yang baru saja latihan boxing di tengah tangannya yang masih belum sepenuhnya sembuh.
"Setengah dua belas malam. Sekarang bersih-bersih dan bersihlah kami akan mengantar kamu pulang setelah kita makan. Karena aku lapar dari tadi belum makan!" jawab Ramon yang di angguki Aruna.
Edwin dan Ramon memperhatikan cara makan Aruna. Ternyata dia makan banyak juga. Mungkin karena kehilangan banyak tenaga setelah latihan.
"Pelan-pelan makannya nanti malah tersedak!" Ramon mengingatkan.
"Iya om, karena aku harus mengumpulkan tenaga sampai besok siang di sekolah. Karena aku tak pernah mendapat jatah sarapan. Aku juga harus jalan kaki ke sekolah, jadi aku harus makan banyak biar tidak ma-ti kelaparan," karena Aruna santai sambil terkekeh. Edwin dan Ramon saling pandang tak percaya dengan pernyataan Aruna.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/