Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 26
KEPUTUSAN BULAT
Keheningan kembali menelan kamar Vale setelah pintu tertutup di belakang Elizabeth.
Wanita itu berdiri terpaku di koridor beberapa detik, jantungnya berdentam seolah hendak merobek tulang rusuknya sendiri. Kata-kata Vale masih menggema, dingin, tajam, dan kejam dalam kesederhanaannya.
Barang bekas. Kalimat itu menempel di kulitnya seperti racun. Dia ingat bagaimana ia pernah pergi mencari bantuan secara diam-diam hingga ke polisi, namun saat mereka mendengar nama Luis Holloway, para polisi itu langsung mengenalinya dan menyuruh Eliza untuk tetap diam.
Elizabeth melangkah pergi tanpa menoleh lagi, menyusuri lorong panjang yang kini terasa lebih sempit dari sebelumnya. Lampu-lampu dinding tampak redup, seolah ikut menghakiminya. Ia kembali ke kamar tamu dengan langkah gontai, menutup pintu pelan, lalu bersandar di sana, perlahan meluncur ke lantai.
Air mata akhirnya jatuh. Bukan tangis keras, hanya isak sunyi yang menekan dadanya hingga sulit bernapas.
“Aku lelah…” bisiknya pada lantai marmer yang dingin. “Aku hanya ingin berhenti takut… Dan membalas perbuatan nya.”
Ia mengingat wajah Luis—selalu Luis—tersenyum seolah semua itu hanyalah hiburan singkat di sela-sela jam makan malam. Dan bagaimana pria itu mengatakan secara enteng kalau dia sudah membunuh keluarganya.
Elizabeth memeluk lututnya, menggigit bibir sampai terasa perih.
Jika ia kembali, ia tahu apa yang menunggunya: kamar terkunci, tangan yang kasar, senyum manis yang menipu, dan kematian perlahan yang dibungkus dengan kata cinta.
Jika ia tinggal… ia harus menjual bagian terakhir dari dirinya sendiri.
Ia bangkit perlahan, berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya tanpa menyalakan lampu. Gelap memeluknya seperti selimut lain.
“Tidak ada jalan yang bersih…” gumamnya.
Jam di dinding berdetak pelan.
Sepuluh menit.
Tiga puluh.
Satu jam.
Elizabeth menatap pintu kamarnya.
Di benaknya, dua bayangan berdiri saling berhadapan—Luis dengan senyum iblisnya, Vale dengan mata perak tanpa belas kasihan.
Yang satu akan menghancurkannya karena memiliki. Yang lain akan mematahkan dirinya untuk menyelamatkannya.
Akhirnya, ia berdiri lagi.
(“Tetap anggun dan menjaga kehormatan keluarga.”) kata-kata keluarganya.
Tangannya gemetar saat mengenakan cardigan yang sama. Rambutnya dibiarkan terurai, wajahnya masih basah, namun matanya kini kosong, seperti seseorang yang telah memilih untuk berjalan ke dalam api karena es telah membunuhnya perlahan.
Lorong kembali sunyi ketika ia melangkah.
Setiap langkah terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri.
Di depan pintu Vale, ia berhenti.
Kali ini, ia tidak mengetuk. Ia membuka pintu.
Vale sedang berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap pintu, segelas minuman di tangan. Ia tidak terkejut. Bahkan tidak menoleh segera.
“Aku tahu kau akan kembali,” katanya tenang.
Elizabeth menutup pintu perlahan di belakangnya.
“Aku tidak melakukannya untukmu,” ucapnya lirih.
Pria itu menoleh. Tatapan peraknya menembusnya, dingin namun tajam seperti pisau bedah.
“Aku tidak pernah berpikir kau melakukannya untukku.”
Elizabeth menelan ludah. “Aku melakukannya agar Luis tidak bisa menyentuhku lagi.”
Vale mendekat, langkahnya pelan, terkendali.
“Dan aku akan memastikan itu terjadi.”
Wanita itu mengangkat dagunya, meski matanya berkilat oleh air. “Setelah malam ini… aku bukan siapa-siapa lagi.”
“Kau salah,” jawab Vale pelan. “Setelah malam ini, kau bukan milik siapa pun… kecuali dirimu sendiri.”
Elizabeth tertawa kecil, getir. “Kau pandai berbohong.”
“Aku tidak berbohong.” Vale berhenti di depannya. “Aku hanya memilih kebenaran yang paling berguna.”
Hening kembali menyelimuti mereka. Tak ada sentuhan. Belum. Hanya dua jiwa rusak yang berdiri terlalu dekat di tengah kegelapan.
Vale memperhatikan bagaimana wanita di depannya itu nampak gemetar dan gugup hingga tak berani menatapnya. “Pergilah. Aku rasa kau belum siap, Nona.”
Seketika Eliza menahan lengan kekar Vale yang hendak berbalik pergi.
“Tidak... Maksudku, ini... Ini menjadi kali pertama untukku.” Ucap Eliza yang kini ditatap oleh Vale saat dia menunduk. “Aku berhasil meyakinkan diriku agar tidak memilih mati, aku hanya ingin bisa membalas orang yang sudah menghabisi keluargaku.”
Pria itu mengangkat tangan kanannya, menyentuh dagu Eliza dengan jarak yang dekat. “Maka kau akan melakukannya.”
Sentuhan itu membuat Elizabeth terdiam.
Jari Vale hanya berada di bawah dagunya, tidak menggenggam, tidak memaksa, namun cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya terasa mengecil menjadi jarak di antara mereka berdua. Napasnya tertahan di dada, pendek dan rapuh.
Tatapan pria itu menelusuri wajahnya, bukan dengan nafsu yang tergesa, melainkan dengan ketenangan dingin seseorang yang terbiasa menimbang luka sebelum menyentuhnya.
“Kau tidak sedang meminta perlindungan,” ucap Vale pelan. “Kau sedang memilih perang.”
Elizabeth menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, namun ia mengangguk kecil.
“Aku tidak punya apa pun lagi untuk dipertahankan,” bisiknya. “Luis mengambil semuanya. Namaku. Keluargaku. Masa depanku.”
Matanya berkilat. “Aku hanya ingin dia kehilangan menyesalinya.”
Vale menurunkan tangannya perlahan.
Keheningan merayap kembali, kali ini lebih berat. “Kau tahu apa yang akan berubah setelah ini?” tanyanya.
Elizabeth mengangkat bahu kecil. “Segalanya.”
“Tidak,” Vale mengoreksi. “Caramu memandang dirimu sendiri.”
Ia berbalik setengah langkah, membuka jubah tidurnya, lalu melemparkannya ke sandaran sofa. Gerakannya tenang, terkontrol, seolah setiap detik sudah diperhitungkan. Namun keadaannya bertelanjang dada membuat Eliza semakin berdegup kencang, melihat hiasan tatto sangar di tubuh Vale yang berotot.
“Kemarilah.”
Bukan perintah keras. Lebih seperti undangan yang tidak mengandung janji apa pun selain kejujuran.
Elizabeth ragu sesaat, lalu melangkah mendekat saat ia mencoba tetap tenang.
Setiap langkah terasa seperti melintasi kaca tipis. Ketika ia berhenti di hadapannya, jarak mereka hanya tinggal helaan napas.
Vale menunduk sedikit agar sejajar dengannya.
“Jika kau ingin berhenti, katakan sekarang.” katanya rendah.
Elizabeth menatap mata perak itu. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada cinta. Tapi ada sesuatu yang lebih jujur: keteguhan.
“Aku tidak ingin berhenti,” jawabnya pelan.
Vale mengangguk sekali, meneguk segelas beer hanya sekali tegukan sebelum ia melangkah ke arah Elizabeth.
Vale mengangkat tangannya lagi, kali ini menyentuh rambut Eliza, menyibakkannya ke belakang telinga dengan gerakan lambat. Ujung jarinya dingin, namun sentuhannya membuat kulit Elizabeth bergetar halus, bukan karena gairah semata, melainkan karena kenyataan bahwa seseorang akhirnya menyentuhnya tanpa niat menghancurkan.
“Kau gemetar,” gumam Vale.
“Aku takut.”
“Itu wajar.”
“Kau tidak?”
Vale menatapnya sejenak lebih lama. “Aku sudah terlalu lama berhenti merasa takut.”
Kejujuran itu terasa lebih menusuk daripada rayuan.
Elizabeth menarik napas dalam-dalam. “Kalau begitu… ajari aku bagaimana caranya tidak hancur.”
Untuk sesaat, sesuatu melintas di wajah Vale—sesuatu yang nyaris seperti bayangan luka lama. Namun kilat mata Erta gerakan tangannya yang seketika beralih ke rambut Eliza hingga meremasnya menjadi satu sampai wanita itu mendongak namun tidak merasakan sakit di remasan rambutnya.
Seperti ada suara detik jam, begitulah detak jantung Eliza dan suara ludah yang ia telan, tak secepat gerakan Vale yang seketika mencium bibir peach nya dan cukup mengejutkan Eliza.