Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12: HARUSKAH AKU BERTERIMA KASIH?
Sejak sistem memberi tahu bahwa misi utama kedua telah terbuka, Mei Zhiyi tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Akibatnya, kepalanya pusing dan tubuhnya terasa sangat lelah ketika dia bangun pagi ini. Jadi, dia meminta izin pada Bibi Cui agar tidak bekerja hari ini.
“Pemberitahuan: Daya hidup telah mencapai 25%. Daya kebencian misi utama kedua meningkat 81%.”
Mei Zhiyi membelalak dan seketika bangun dari posisi tidurnya. Ya ampun, ini baru berlalu beberapa jam, tapi kenapa tingkat kebencian hati Liu Yan meningkat satu persen? Hal apa yang membuatnya tidak senang hari ini?
“Sialan, Xiaotong, kau benar-benar ingin membunuhku!”
Sistem berkata jika Mei Zhiyi gagal dalam misi utama kedua dan gagal menurunkan tingkat kebencian Liu Yan, jiwanya akan dihancurkan jika daya hidupnya belum mencapai 80%.
Sekarang kebencian Liu Yan sudah 81% sementara daya hidupnya hanya 25%. Selisihnya terlalu besar!
“Tuan, lekas tingkatkan daya hidup dan turunkan tingkat kebencian Kaisar Daqi jika ingin selamat!”
Mei Zhiyi juga tahu. Tapi, dia hanya seorang pelayan kecil sekarang, tidak punya kekuasaan dan tidak punya orang untuk diandalkan.
Jika dia pergi ke harem untuk meminta bantuan, itu juga jalan buntu. Dia dengar para selir di harem sangat ganas dan membenci pelayan berwajah cantik.
Haruskah dia mencari Selir Feng, Feng Yuzhen saja?
Mei Zhiyi buru-buru menepis pikiran itu. Semalam dia memang bertemu dengan Feng Yuzhen dan melihat penampilannya. Namun hanya dengan satu kali pertemuan saja belum cukup untuk membuat Mei Zhiyi percaya bahwa Feng Yuzhen bukan jenis orang yang sama dengan orang-orang yang membuat Liu Yan memiliki kebencian sebesar itu.
“Tuan, apakah ingin membuka informasi tersembunyi?”
“Bisakah? Mana mungkin sistem sebaik itu.”
“Tentu saja bisa. Jika ingin membuka informasi tersembunyi, kau bisa menukarkan 20 poin.”
Mei Zhiyi memutar bola matanya dengan malas. “Lupakan saja.”
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Suaranya terdengar begitu tidak sabar.
“Nona Mei, mohon Nona Mei pergi mengantarkan makan siang Kaisar sekarang.”
Itu suara Bibi Cui. Mei Zhiyi melihat Bibi Cui membawa beberapa pelayan yang mengantarkan makanan. Wajah para pelayan itu dipenuhi dengan ketakutan.
“Bukankah aku sudah minta izin untuk tidak bekerja hari ini?”
“Memang sudah diizinkan, tapi situasinya benar-benar di luar dugaan. Nona, sebaiknya nona saja yang mengantarkan makanan ini. Kaisar belum makan sejak pagi, kami khawatir dia jatuh sakit.”
Aneh sekali. Liu Yan apakah belum sadar dari kehilangan kendalinya?
Sebelum mendapat persetujuan, Bibi Cui sudah lebih dulu menyerahkan semua pengantar makanan untuk dipimpin Mei Zhiyi. Dengan terpaksa Mei Zhiyi kembali bertugas. Langkahnya terlihat gontai, tapi tetap sampai ke Istana Zhaoyang meski memakan waktu agak lama.
“Kasim Li, Kaisar kenapa lagi?” tanya Mei Zhiyi pada Li Dezai yang kebetulan hendak keluar untuk suatu urusan.
“Aiya, Nona Mei akhirnya datang. Cepat masuk saja!”
Lagi-lagi Mei Zhiyi didorong masuk tanpa penjelasan. Kali ini situasinya tidak seperti saat pertama kali. Ruangan masih rapi dan tidak ada darah yang menetes di aula.
Mei Zhiyi hanya melihat Liu Yan sedang fokus membaca dokumen di mejanya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengalihkan pandangannya.
Bukankah dia baik-baik saja? Kenapa Bibi Cui dan Kasim Li malah mendorongku kemari? Hari liburku belum habis! Pekerja cuti pun harus dihargai!
Liu Yan lalu mendongak. Dia melihat Mei Zhiyi seperti melamun.
“Yang Mulia, makan siangmu sudah tiba.”
Selesai menata, Mei Zhiyi berdiri di dekat meja sembari menunggu Liu Yan selesai membaca laporan. Tapi sampai setengah jam berlalu, Liu Yan belum turun juga.
Kaki Mei Zhiyi yang lemah itu kini mulai pegal karena terlalu lama berdiri. Ingin pergi, tapi belum mendapat izin.
“Kemarilah. Giling tinta untukku,” ucap Liu Yan. Kebetulan Li Dezai yang selalu menggiling tinta sedang tidak ada.
“Baik, Yang Mulia.”
Mei Zhiyi kali ini dapat melihat seberapa banyak laporan yang harus dibaca Liu Yan. Mungkin itu adalah dokumen tingkat tinggi dari beberapa kementerian.
Melihatnya saja sudah membuat mengantuk. Ketahanan Liu Yan benar-benar bagus. Matanya benar-benar kuat melihat ratusan karakter berjejer di kertas kecil itu.
Liu Yan batuk dua kali dan melirik Mei Zhiyi. Tapi, Mei Zhiyi malah balik menatapnya dengan penuh tanya. Barulah beberapa detik kemudian dia mengerti.
Mei Zhiyi langsung menuangkan air dan memberikannya pada Liu Yan. Usai minum, Liu Yan kembali fokus membaca dokumen.
Dia belum menyentuh makanannya sejak tadi. Apakah dia pikir perutnya itu kantung ajaib? Tidak sarapan, juga tidak mau makan siang. Sayang sekali makanan sebanyak itu akan terbuang sia-sia lagi. Tak tahu apakah prajurit di luar sana dapat menikmati makan tiga kali sehari atau tidak.
Liu Yan terusik dengan pikiran itu. Dia tidak sarapan karena tidak berselera.
Dia belum makan siang juga karena masih punya banyak pekerjaan. Tapi kalimat terakhirnya itu benar-benar mengusik hatinya.
Liu Yan meletakkan dokumennya yang belum selesai dibaca. Tanpa diduga, dia mengambil sumpit dan mulai memakan hidangan makan siang yang sudah setengah jam lalu disajikan di meja.
Bahkan sampai setengah porsi dihabiskan. Tidak seperti biasa yang hanya beberapa suap saja.
“Setelah merapikannya, kau temani aku jalan-jalan. Udara di sini agak pengap. Aku ingin menghirup udara segar.”
Mana mungkin tidak pengap. Sebagian besar jendela di aula ini kau tutup rapat. Oksigen jadi tidak bisa masuk maksimal. Kau beruntung karena tidak pingsan.
Tatapan tajam Liu Yan kemudian membuat Mei Zhiyi mengernyit. Kenapa tiba-tiba pria ini terlihat tidak senang?
“Yang Mulia, apakah aku telah melakukan kesalahan?”
“Mei Zhiyi, apakah kau merasa tidak puas padaku?”
“Apa maksud Yang Mulia?”
Liu Yan terdiam sejenak. “Tidak ada. Bukan apa-apa.”
Di taman istana, salju sudah mencair. Beberapa varietas bunga sudah mulai bermekaran.
Liu Yan membawanya berjalan-jalan di sekitar kolam teratai yang semalam menjadi tempat perbincangan rahasianya dengan Duan Jiu. Di siang hari, kolam teratai itu serta pemandangan di sekitarnya terlihat jauh lebih bagus dibandingkan malam hari.
Seekor merpati kemudian hinggap di dahan pohon persik. Ketika Liu Yan menangkapnya, dia melihat ada sebuah batang kecil dari bambu diikatkan di kaki merpati tersebut.
Ada sebuah kertas di dalamnya yang kemudian diambil oleh Liu Yan. Keningnya sempat mengeryit saat dia membaca tulisan di kertas itu.
Mei Zhiyi ingin tahu isinya. Tapi, dia tidak memiliki hak atas hal tersebut dan Liu Yan tidak mungkin mengizinkannya juga. Dia tertaik pada informasi yang disampaikan surat itu. Kelihatannya sangat penting dan rahasia.
“Semalam, mengapa kau tidak bersembunyi dan malah mengobatiku?”
“Jika aku bersembunyi, apakah Yang Mulia tidak akan menghukumku?”
“Tergantung suasana hati.”
Mei Zhiyi menghela napas. Benar-benar pikiran seorang Kaisar, tidak bisa ditebak dengan mudah.
“Semalam aku memang ingin melarikan diri. Tapi jika aku melarikan diri, Yang Mulia sedang dalam bahaya. Bagaimanapun, menyelamatkan nyawa lebih penting dari sebuah pelarian.”
“Kau bisa saja lari. Tidak perlu peduli padaku.”
“Yang Mulia adalah atasanku. Jika aku pergi begitu saja, itu sama saja dengan mengkhianati. Bukankah Yang Mulia paling benci pengkhianatan?”
“Kau tidak takut aku akan memenggalmu karena kau mengetahui terlalu banyak hal?”
“Karena Yang Mulia bertanya begini, artinya Yang Mulia tidak menginginkan nyawaku.”
Sebelah sudut bibir Liu Yan terangkat membentuk sebuah lengkungan kecil. Seperti dugaan Liu Yan, Mei Zhiyi memiliki pemahaman mendalam mengenai gaya dan tindakannya yang bisa dibilang tidak terduga. Di dunia ini rupanya masih ada orang yang mempercayakan nyawanya padanya padahal posisinya jelas tidak aman.
Mei Zhiyi sepertinya memenangkan taruhan. Dia bertaruh Liu Yan tidak memiliki niat untuk membunuhnya.
Sepertinya itu memang benar. Dia masih hidup sampai sekarang dan Liu Yan tidak mengutus orang untuk menghukum atau memenggal kepalanya.
“Aku memang belum berencana mengambil nyawamu.”
Jadi, apakah aku harus berterima kasih karena kau tidak mengambil nyawaku sekarang?
Liu Yan kembali melengkungkan sudut bibirnya. Dia membelakangi Mei Zhiyi sehingga gadis itu tidak akan bisa melihat seperti apa ekspresi wajahnya sekarang. Jika Mei Zhiyi memang bukan salah satu bagian dari mereka, Liu Yan mungkin akan benar-benar menghilangkan niat untuk membunuhnya.
“Aku agak lelah. Siapkan air hangat, aku ingin mandi.”
Mei Zhiyi agak malas, tapi perintah raja seperti perintah militer. Pekerjaan ini seharusnya dikerjakan orang lain, namun di sini dia juga seorang pelayan. Tak ada pilihan, Mei Zhiyi pun menuruti perintah Liu Yan untuk menyiapkan air hangat sekaligus menyiapkan makan malamnya.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei