NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan Sang Tuan

Pagi itu, suasana di penthouse terasa lebih dingin dari biasanya. Sisa-sisa badai emosional semalam masih menggantung di udara. Almira terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat dan rasa mual yang kini menjadi tamu tak diundang setiap fajar menyingsing. Ia melihat ke samping; sisi tempat tidur Alex sudah kosong, hanya menyisakan kerutan pada sprei sutra yang menjadi saksi bisu kekasaran pria itu beberapa jam yang lalu.

Dengan sisa tenaga yang ada, Almira bangkit. Setiap langkah menuju dapur terasa seperti berjalan di atas paku payung. Ia harus segera menyiapkan sarapan untuk Alex sebelum pria itu berangkat ke kantor. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika Alex melihatnya sakit, pria itu akan mulai bertanya-tanya, dan pertanyaan Alex adalah hal terakhir yang ingin ia dengar saat ini.

Almira baru saja menyalakan kompor untuk membuat omelet ketika aroma telur mentah menyentuh indra penciumannya. Seketika, perutnya bergejolak hebat. Ia menutup mulut dengan tangan, berusaha sekuat tenaga menahan dorongan untuk muntah.

"Kenapa diam saja? Kau mau membakar dapurku?"

Suara bariton yang dingin itu membuat Almira tersentak. Alexander berdiri di ambang pintu dapur, sudah rapi dengan setelan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya. Matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik Almira.

"Maaf, Tuan. Saya... saya sedang pusing sedikit," jawab Almira tanpa berani menatap mata Alex.

Alex melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Ia berhenti tepat di belakang Almira, membuat gadis itu merasa terhimpit oleh aura dominasinya. Alex meraih dagu Almira, memaksanya berbalik dan menatapnya.

"Wajahmu pucat. Dan kau berkeringat dingin," gumam Alex. Jemarinya yang panjang meraba leher Almira, merasakan denyut nadi yang berpacu kencang. "Kau sakit lagi?"

"Hanya masuk angin, Tuan. Sungguh," bohong Almira, meski suaranya bergetar hebat.

Alex menyipitkan mata. Ia adalah pria yang cerdas dan penuh perhitungan. Ia menyadari perubahan pada diri Almira sejak beberapa hari terakhir. Gadis ini tidak hanya pucat, tapi ia juga tampak menghindari kontak fisik dengannya—sesuatu yang biasanya tidak ia hiraukan, namun kini mulai mengusik rasa ingin tahunya yang posesif.

"Masuk angin tidak berlangsung selama seminggu, Almira," desis Alex. Ia melepaskan dagu Almira dan beralih mengambil segelas air. "Besok aku akan memanggil dokter pribadi keluarga untuk memeriksamu secara menyeluruh. Aku tidak mau 'investasiku' rusak hanya karena kau terlalu malas mengurus diri."

Almira menelan ludah. Investasi. Kata itu selalu berhasil mengiris hatinya. Bagi Alex, dia memang bukan manusia, hanya sebuah aset yang harus tetap prima untuk melayani nafsunya.

Siang harinya, saat Alex sudah berangkat ke kantor, sebuah kejutan pahit mendatangi Almira. Bel penthouse berbunyi, dan Bi Inah yang sedang di dapur meminta Almira untuk membukanya.

Begitu pintu terbuka, sosok Elara berdiri di sana. Wanita itu tampak memukau dengan gaun mini merah darah dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya. Namun, senyum yang tersungging di bibirnya adalah senyum ular yang siap mematuk.

"Oh, kau lagi," ucap Elara tanpa permisi melangkah masuk, seolah ia adalah pemilik rumah tersebut.

Almira menunduk hormat. "Nona Elara. Tuan Alex sedang tidak ada di rumah."

"Aku tahu dia di kantor. Aku ke sini justru karena dia tidak ada," Elara meletakkan tas bermereknya di sofa dan berbalik menghadap Almira. Ia melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah perut Almira yang tertutup gaun rumah yang agak longgar. "Kau tampak... berbeda, Gadis Kecil. Sedikit lebih berisi di bagian yang salah."

Jantung Almira seolah berhenti berdetak. Apakah wanita ini bisa melihat rahasianya hanya dengan sekali lirik? "Saya hanya kurang istirahat karena menjaga Ibu di rumah sakit, Nona."

Elara tertawa, suara tawa yang merdu namun penuh duri. "Jangan membodohiku. Aku sudah melihat banyak wanita yang mencoba menjebak pria kaya dengan cara murahan—seperti hamil, misalnya."

Almira tersentak, wajahnya semakin pasi. "Saya tidak tahu apa yang Nona bicarakan."

"Dengar baik-baik," Elara mencengkeram lengan Almira, kuku-kukunya yang panjang menusuk kulit gadis itu. "Alex mungkin menggunakanku untuk melampiaskan kekesalannya padaku, tapi dia tidak akan pernah membiarkan benih dari wanita kasta rendah sepertimu lahir ke dunia ini. Dia benci keterikatan. Jika kau memang hamil, saranku adalah segera singkirkan 'masalah' itu sebelum Alex mengetahuinya. Karena jika dia tahu, dia tidak akan hanya mengusirmu, dia akan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya."

Setelah memberikan ancaman itu, Elara pergi begitu saja, meninggalkan Almira yang luruh ke lantai. Kata-kata Elara seperti racun yang menyebar cepat di pikirannya. Apakah benar Alex akan sekejam itu? Mengingat sikap arogan Alex sehari-hari, Almira tahu bahwa kemungkinan itu sangat besar.

Malam itu, Alex pulang dalam keadaan yang lebih tenang, namun itu justru membuat Almira semakin takut. Alex yang tenang seringkali lebih berbahaya daripada Alex yang sedang mengamuk.

Mereka makan malam dalam keheningan yang menyesakkan. Almira hanya mengaduk-aduk supnya, rasa mual kembali menyerang namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya.

"Kenapa tidak dimakan?" tanya Alex tiba-tiba, memecah kesunyian.

"Saya... saya sedang tidak nafsu makan, Tuan."

Alex meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Almira dengan pandangan yang sulit dibaca. "Elara datang ke sini tadi siang. Apa yang dia katakan padamu?"

Almira terkejut. Bagaimana Alex bisa tahu? Ah, tentu saja, ada kamera pengawas di depan pintu. "Nona Elara hanya... mampir sebentar, Tuan."

"Dia bilang padaku bahwa kau tampak sakit," ucap Alex, suaranya rendah dan mengancam. "Dia juga bilang bahwa aku harus berhati-hati padamu. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Almira?"

Almira merasa dunianya seolah akan runtuh. "Tidak ada, Tuan. Saya tidak menyembunyikan apa pun."

"Bohong!" Alex menggebrak meja, membuat gelas-gelas di atasnya berdenting keras. Ia bangkit dan berjalan memutari meja, menarik Almira untuk berdiri secara paksa. "Kau gemetar. Kau tidak berani menatap mataku. Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Apa kau mencuri dariku?"

"Tidak, Tuan! Saya bersumpah!" tangis Almira pecah.

Alex mencengkeram pinggang Almira, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Saat itu, Alex merasakan tubuh Almira yang sedikit lebih hangat dan ada semacam ketegangan yang tidak biasa pada perut gadis itu. Pikirannya melayang pada kata-kata Elara tentang 'jebakan'.

"Jika aku tahu kau mencoba mempermainkanku," bisik Alex tepat di telinga Almira, "aku akan memastikan kau dan ibumu berakhir di jalanan tanpa satu sen pun. Ingat itu."

Alex melepaskan Almira dengan kasar, menyisakan gadis itu yang terisak di ruang makan yang gelap. Penderitaan batin Almira mencapai titik nadir. Ia merasa terjepit di antara dua monster—Alex yang arogan dan Elara yang manipulatif.

Malam itu, di dalam kamarnya, Almira kembali meringkuk di lantai. Ia meraba perutnya, membayangkan nyawa kecil yang tidak berdosa itu harus tumbuh di tengah kebencian dan ancaman. Ia mulai menyadari bahwa sikap arogan Alex bukan hanya sekadar sifat, melainkan senjata untuk menutupi rasa sakitnya sendiri. Namun, Almira tidak bisa terus menjadi tameng bagi pria itu.

Ia harus membuat keputusan. Bertahan dan menunggu rahasia ini meledak, atau melarikan diri dan mempertaruhkan nyawa ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!