NovelToon NovelToon
MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

MY HIJABI FIGHTER : Menikah Dengan Duda ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN PERTAMA ADIVA.

"Kamar kamu di ujung lorong ini. Jangan pernah berani menyentuh gagang pintu kamar saya, apalagi masuk ke dalamnya," ucap Adnan dingin sambil menunjuk sebuah pintu kayu ek di sudut lantai dua.

Nayla, yang masih mengenakan sisa-sisa riasan pengantin yang mulai luntur, mengerutkan kening. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat tangan di dada. "Lho, kok pisah ranjang, Pak? Bukannya di film-film yang saya tonton, kalau udah sah itu biasanya tidur satu kasur? Kan saya ini statusnya pengganti istri Anda."

Wajah Adnan seketika berubah merah padam. Matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Nayla bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh pria itu.

"Dengar baik-baik, anak kecil," desis Adnan dengan suara rendah yang mengancam. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisi istriku. Tidak ada! Terutama bocah tengil seperti kamu yang masuk ke sini hanya karena tebusan dosa. Jadi jangan pernah bermimpi, apalagi berpikir untuk menggantikannya di tempat tidur itu!"

Bukannya gemetar ketakutan karena bentakan sang suami, Nayla justru menegakkan punggungnya. Dengan gerakan super cepat, ia melakukan posisi hormat bak tentara yang sedang melapor pada komandan.

"Siap, Bos! Laksanakan!" seru Nayla lantang.

Adnan baru saja hendak berbalik pergi saat Nayla memajukan tubuhnya. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya di sisi mulut, seolah sedang membisikkan rahasia negara yang sangat krusial.

"Berarti... drama 'Istri Pengganti' ini nggak pakai adegan ranjang ya, Pak? Wah, alhamdulillah. Saya juga belum siap kalau harus gulat di kasur sama Bapak. Takutnya refleks saya keluar, terus Bapak saya banting sampai encok. Kan kasihan perusahaan kalau CEO-nya pakai kursi roda," bisik Nayla dengan kedipan mata yang sangat menyebalkan.

Adnan menepuk keningnya sendiri dengan keras. Ia tidak tahu apakah harus berteriak atau marah menghadapi makhluk di depannya ini. Tanpa sepatah kata pun, Adnan masuk ke kamarnya dan membanting pintu sekuat tenaga hingga pigura di dinding lorong bergetar.

BRAAAKKK!

"Galak banget sih, Es Balok! Awas ya kalau nanti kedinginan nyariin selimut hidup!" teriak Nayla ke arah pintu yang tertutup rapat. Ia kemudian melenggang masuk ke kamarnya sendiri dengan langkah santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja resmi menjadi istri seorang duda pemarah.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Adnan duduk dengan kemeja rapi, sementara Adiva kecil duduk diam di sampingnya, hanya mengaduk-aduk sereal tanpa nafsu makan. Nayla turun dengan seragam SMA-nya yang dikeluarkan, tas yang dicangklong satu bahu, dan kerudung yang dipasang agak asal.

"Pak, saya mau protes," buka Nayla tanpa basa-basi sambil menggebrak meja makan pelan.

Adnan tidak mendongak dari tabletnya. "Apa lagi?"

"Rumah Bapak ini jauh banget dari sekolah saya. Kalau saya harus bolak-balik naik angkot, bisa-bisa saya telat dan dihukum lari keliling lapangan. Reputasi saya sebagai juara umum bisa hancur," keluh Nayla.

"Saya sudah siapkan supir dan mobil untuk mengantarmu," jawab Adnan datar.

"Nggak mau! Bapak mau bikin saya jadi bahan gosip satu sekolah? 'Seorang siswi beasiswa diantar mobil mewah oleh om-om'? Nggak, makasih," tolak Nayla mentah-mentah. "Pokoknya saya minta dibelikan motor besar. Ninja kalau bisa, biar kalau saya telat, saya bisa ngebut kayak di sirkuit."

Adnan akhirnya mendongak, menatap Nayla dengan tatapan tidak percaya. "Motor besar? Kamu itu perempuan, Nayla."

"Ancaman saya cuma satu, Pak," Nayla mencondongkan tubuhnya ke meja makan. "Belikan motor, atau saya angkat kaki sekarang juga kembali ke rumah Ayah yang dekat sekolah. Urus aja anak Bapak sendiri."

Adnan menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya. "Dion," panggilnya pada sang asisten yang berdiri tak jauh dari sana. "Belikan dia motor. Hari ini juga."

Nayla bersorak girang. "Gitu dong! Makin ganteng deh Bapak kalau nggak pelit."

Tanpa rasa malu, Nayla duduk di kursi dan langsung menyambar sepotong ayam goreng. Bukannya menggunakan sendok dan garpu perak seperti Adnan dan Adiva, Nayla justru mengangkat satu kakinya ke atas kursi gaya preman warteg sejati. Dan Ia mulai makan menggunakan tangan kosong tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

"Nayla! Kamu tidak malu dilihat Adiva?" tegur Adnan, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik sekaligus heran.

Nayla berhenti mengunyah, mulutnya penuh dengan nasi. Ia menoleh ke arah Adiva yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang lebar. Nayla menelan makanannya dengan susah payah, lalu menyapa bocah itu.

"Hai, Diva! Kenalin, namaku Nayla. Mulai sekarang, kamu panggil aku Kakak Nay aja ya. Biar kita kayak bestie," ujar Nayla ramah sambil melambaikan tangannya yang berminyak.

"Kakak?" Adnan menyela dengan nada protes yang tajam. "Aku menikahi kamu bukan untuk jadi kakak Adiva. Kamu di sini untuk menjadi pengganti ibunya, setidaknya di depan umum."

Nayla memutar bola matanya. "Ooh, kalau gitu panggil aku 'Momy' aja ya, Diva? Biar keren kayak di sinetron-sinetron ibu kota."

Adnan mendengus sinis. "Momy? Apakah kamu pikir orang desa sepertimu pantas dipanggil Momy?"

Nayla mendecak kesal. "Hadeh, ribet banget sih Bapak ini. Ya udah, panggil 'Umi' aja deh. Lebih religius dan adem di kuping."

"Umi?" Adnan kembali menaikkan alisnya, tampak tidak setuju.

"Salah lagi? Oke, oke... gimana kalau 'Myma'?" Nayla menjentikkan jarinya yang masih belepotan sambal. "Perpaduan Umi dan Mama. Modern tapi tetap ada unsur syari-nya. Keren kan, Diva? Myma. Sounds like a superhero name, right?"

Adnan memukul meja dengan tangannya. "Cukup, Nayla! Jangan ajarkan Adiva hal-hal yang tidak masuk akal. Dia sedang dalam masa terapi, jangan bebani dia dengan panggilan konyol buatanmu!"

Nayla yang tadinya ingin bercanda, tiba-tiba merasa panas hati. Ia bangkit dari kursinya, membawa tas sekolahnya dengan kasar. "Ya udah kalau nggak boleh semua! Panggil aja 'Ibu Tiri' sekalian biar kayak di dongeng Cinderella yang jahat itu! Capek saya ngomong sama Es Balok!"

Nayla berbalik, hendak melangkah keluar dengan perasaan dongkol. Namun, baru tiga langkah ia berjalan, sebuah suara kecil yang sangat tipis dan serak terdengar dari arah meja makan.

"...My...ma..."

Langkah Nayla terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Di sisi lain, Adnan hampir menjatuhkan tablet yang dipegangnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Adnan menoleh perlahan ke arah putrinya. Adiva masih menunduk, tangannya meremas pinggiran taplak meja, namun bibirnya bergerak pelan sekali lagi.

"My...ma..."

Nayla berbalik dengan mata yang berkaca-kaca, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum tengil andalannya. Ia melihat Adiva sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap. Satu kata itu adalah suara pertama yang keluar dari mulut Adiva setelah satu tahun membisu total.

"Dengar itu, Pak Es?" Nayla menunjuk ke arah Adiva dengan jempolnya, sementara air matanya mulai luruh tanpa bisa dicegah. "Anak Bapak lebih pintar milih panggilan daripada bapaknya yang CEO tapi otaknya kaku. Score satu kosong buat Nayla!"

Adnan terdiam seribu bahasa. Kebencian di matanya sesaat luntur, digantikan oleh rasa haru yang luar biasa hebat. Ia menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa terima kasih dan keheranan bagaimana gadis "preman" ini bisa melakukan hal yang gagal dilakukan oleh puluhan dokter spesialis.

Jangan lupa beri dukungan untuk Author Ya guys.

1
Ayu
Lg seru2 nya tunggu update lg ya thor💪🙏
Tasmiyati Yati
penguntit tiap hari memang gak ada kerjaan
Tasmiyati Yati
memang tadi Farah tidak ikut sekoalh
Tasmiyati Yati
kalau pakai dalaman lejing copot saja rok plis Ket nya biar gampang nyerang preman
Mineaa
waaahhh lope lope sekebon Nayla.......
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥
Tasmiyati Yati
masih susah banget sih
Tasmiyati Yati
maaf kak author dari tadi gak bisa like gagal terus
Tasmiyati Yati
sak karepmu lah gagal terus bikin esmosi😡
Tasmiyati Yati
ini jaringan lagi main kemana sih kok susah banget sinyal nya
Tasmiyati Yati
kemana adiva jarang nongol biar tambah seru
Tasmiyati Yati
mulai suka tuh si bos
Sunaryati
Makin tersepona kan, Byby
Tasmiyati Yati
baru beberapa hari jadi istri sdh mulai luluh
Tasmiyati Yati
nanti jadi bucin malu sendiri Adnan
Tasmiyati Yati
happy banget aku baca novel ini semoga di akhir tidak mengecewakan
Tasmiyati Yati
ya karena adiva baru pertama melihat orang cerewet tapi lucu ya diva
Tasmiyati Yati
senang kalau baca novel ada komedinya
Tasmiyati Yati
kenapa gagal melulu kasih komentar
Tasmiyati Yati
mampir baca semoga jadi fans kak
Cintya Tya
lanjut thor... 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!