"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Sayap-Sayap Amarah
Angin kencang di ketinggian ratusan meter menghantam tubuh Tian seperti gada besi. Suara baling-baling helikopter memekakkan telinga, namun deru di dalam dadanya jauh lebih bising. Ia bergantung pada seutas tali baja, terombang-ambing di atas jurang maut Jakarta tahun 2026 yang berselimut lampu kota. Di bawahnya, kaca-kaca penthouse yang pecah tampak seperti kepingan bintang yang jatuh.
"Mas Tian!" Jeritan lirih Mega yang tertinggal di dalam ruangan yang hancur seolah bergema di kepalanya, memberinya kekuatan yang tak masuk akal.
Dua tentara bayaran yang sedang meluncur turun di tali yang sama terkejut melihat seorang pria "mati" yang justru merangkak naik ke arah mereka. Dengan gerakan predator yang haus darah, Tian menangkap kaki salah satu prajurit, menariknya dengan sentakan maut hingga pria itu terjatuh ke kegelapan abadi tanpa sempat berteriak.
"Satu nyawa untuk setiap air mata istriku," desis Tian, suaranya hilang ditelan angin.
Ia terus memanjat. Tangannya yang lecet dan berdarah mencengkeram tali baja itu hingga meninggalkan jejak merah. Saat ia mencapai ambang pintu helikopter, ia disambut oleh moncong senapan. Tanpa ragu, Tian menghantamkan kepalanya ke arah lawan, merebut senjata tersebut, dan mengubah kabin helikopter menjadi ruang pembantaian singkat yang brutal.
Dalam hitungan detik, ia telah melumpuhkan semua orang di kabin belakang. Ia menerjang ke arah kokpit, menempelkan pisau hitam Paman Hasan ke leher sang pilot yang gemetar.
"Putar arah! Pulau Bidadari Tua! Sekarang!" raung Tian.
"Tapi... Tuan Aristha akan meledakkan helikopter ini jika aku berbalik!" balas sang pilot gagap.
"Jika kau tidak berbelok, aku yang akan memastikan kepalamu meledak di sini!" Tian menekan pisau itu hingga darah mulai merembes. "Sisa 25 menit, Jalankan!"
Helikopter itu melakukan manuver tajam, miring hampir sembilan puluh derajat, meninggalkan gedung penthouse yang kini diselimuti asap dan api. Di kejauhan, Tian bisa melihat pasukan Jenderal Yudha di darat mulai bergerak mundur membawa Mega dan ibunya menuju tempat perlindungan sementara. Namun, ia tahu, tanpa kode dari Aristha, semua tempat perlindungan itu hanyalah ruang tunggu kematian.
"Kau gila, Tian," suara Aristha tiba-tiba terdengar melalui radio komunikasi helikopter. Suaranya terdengar sangat jernih, seolah ia duduk tepat di samping Tian. "Kau membajak asetku untuk menjemput ajalmu sendiri?"
Tian menyambar headset pilot. "Aku tidak menjemput ajal, Aristha. Aku datang untuk mengambil apa yang kau curi dari keluargaku. Kau punya 20 menit sebelum aku meratakan pulaumu."
Aristha tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Kau lupa, Macan. Aku memegang kendali atas jantung mereka. Setiap kali kau mendekat, aku akan menaikkan dosis racunnya. Lihat layar monitor di helikoptermu."
Tian menatap layar di dasbor kokpit. Sinyal biometrik Mega dan ibunya muncul di sana. Garis jantung mereka mulai menunjukkan pola yang tidak beraturan takikardia. Aristha sedang bermain-main dengan nyawa mereka, menyiksa mereka secara perlahan hanya untuk melihat reaksi Tian.
"Hentikan!" teriak Tian, tinjunya menghantam kaca kokpit hingga retak. "Hentikan, bajingan!"
"Maka datanglah lebih cepat. Aku sudah menunggumu di teras utama. Mari kita lihat, siapa yang lebih cepat: helikoptermu, atau kegagalan jantung mereka."
Tian menoleh ke arah pilot. "Dorong mesin ini sampai batas maksimal! Abaikan prosedur keselamatan!"
Helikopter itu melesat membelah awan hitam, menuju arah laut utara. Di bawah, laut Jawa yang gelap tampak seperti rahim raksasa yang siap menelan siapa pun yang gagal. Tian mengambil sebuah rompi antipeluru cadangan dan mengisi ulang magasin senjatanya. Pikirannya melayang pada saat-saat ia dan Mega duduk di pinggir pantai, merencanakan masa depan sederhana yang kini tampak seperti mimpi yang sangat jauh.
"Mega... Ibu... bertahanlah sedikit lagi," bisiknya sambil mencium kalung kecil pemberian Mega yang ia simpan di saku.
Pulau Bidadari Tua mulai terlihat di ufuk. Sebuah pulau karang dengan bangunan modern yang angkuh dan lampu-lampu sorot yang menyapu langit. Sistem pertahanan otomatis pulau itu mulai menembakkan suar peringatan.
"Tuan, kita akan ditembak jatuh oleh peluncur roket otomatis!" teriak pilot panik.
"Terus maju! Aku tidak datang ke sini untuk mendarat dengan selamat!" Tian mengambil alih kemudi cadangan, memaksa helikopter itu melaju lurus meski alarm peringatan rudal mulai menjerit-jerit di dalam kabin.
Sebuah rudal meluncur dari daratan pulau, menghantam ekor helikopter dengan ledakan dahsyat. Helikopter itu berputar tak terkendali, terbakar hebat di udara. Di dalam kokpit yang penuh api, Tian melihat layar monitor biometrik Mega menunjukkan garis merah yang berkedip cepat: CRITICAL. Tanpa menunggu helikopter itu jatuh ke laut, Tian menendang pintu kokpit dan melompat keluar menuju hutan bakau di pinggir pulau, sementara helikopter tersebut meledak berkeping-keping di atas kepalanya.