NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERJA KERAS UNTUK SIAPA?

Bayu tiba di proyek bangunan saat matahari sudah mulai menyengat. Keringat menetes di pelipisnya, namun tak ada sedikit pun gurat kelelahan di wajahnya. Perjalanan satu jam dari rumah ia lalui dengan ringan—bahkan dengan senyum yang terus mengembang sepanjang jalan.

Pagi tadi setelah menyerahkan puluhan lembar uang kepada Dini, sang istri langsung berubah manja dan melayaninya hingga beberapa jam.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi rencana. Jika hanya dengan sejumlah uang itu saja istrinya itu sudah bisa sebegitu puas dan patuh, maka Bayu yakin semakin banyak yang ia kantongi semakin nikmat juga pelayanan istrinya.

Ia melangkah santai ke area proyek. Bayangannya masih dipenuhi hitungan-hitungan angka dan rencana penggelembungan dana yang bisa ia akali minggu ini. Namun semua lamunan itu sontak buyar saat matanya menangkap sesuatu yang membuat langkahnya terhenti tiba-tiba.

Sebuah mobil silver terparkir di sisi lapangan dengan pelat nomor yang sangat ia kenal.

"Ini bukannya mobil Mbak Maira?" Gumam Bayu. Jantungnya langsung berdegup lebih kencang dari biasanya.

Biasanya, Maira akan memberi kabar jika ingin datang ke lokasi. Dengan begitu, Bayu punya cukup waktu untuk membereskan catatan, merapikan diri, dan memastikan tidak ada hal yang mencurigakan. Tapi kali ini… kakak iparnya itu datang tanpa pemberitahuan.

Dan bukan hanya itu—semua tatapan langsung tertuju padanya. Bahkan beberapa kuli bangunan yang pernah ia sogok kini menatapnya dengan penuh kecemasan, seperti sedang memohon agar jangan menyeret nama mereka dalam masalah.

“Pak Bayu, udah ditunggu Bu Maira." Ujar salah satu pekerja yang berdiri di dekat gudang material.

Bayu mengangguk kaku, lalu melangkah menuju ruangan sementara yang difungsikan sebagai kantor kecil proyek.

Begitu pintu dibuka, matanya langsung menangkap sosok Maira yang tengah berdiri di sisi meja, menatap lembaran besar gambar proyek. Wajahnya tenang tapi terlihat tegas. Matanya dingin, penuh penilaian. Kontraktor utama duduk di sisi kanan ruangan, dan wajahnya pun tak bersahabat.

Maira hanya menatap Bayu sekilas sebelum duduk. Ia lalu melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja. Dokumen laporan proyek, dan Bayu tahu pasti itu bukan versi yang sudah ia edit.

“Jelaskan ini semua!" Ujar Maira dingin.

Segera Bayu membuka lembaran itu dengan tangan gemetar. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Maira sudah lebih dulu bicara.

“Kamu tahu fondasi bangunan kita roboh semalam?”

Bayu terkejut. “Ro… roboh?”

“Iya. Dan itu semua karena material murahan yang kamu beli!” Suara Maira naik satu oktaf, membuat ruangan itu senyap. Kontraktor hanya mengangguk pelan, mendukung ucapan Maira.

Satu foto menyusul dilempar ke meja—gambar fondasi yang retak dan runtuh, dengan sisa-sisa puing berserakan. “Untung saja kejadiannya malam hari. Kalau siang, bisa makan korban!”

“Saya sudah bicara langsung dengan kontraktor dan para tukang. Mereka mengaku bahan yang datang tidak sesuai. Dan… saya juga sudah cek ulang pembukuannya. Ada angka-angka yang dimanipulasi!” Lanjut Maira melampiaskan semua emosinya.

“Bu… saya bisa jelasin…” Ujar Bayu yang mencoba menyela.

“Saya nggak minta penjelasan! Dan saya tidak peduli meskipun kamu ipar saya, saya minta kembalikan semua uang yang sudah kamu ambil. Kalau tidak, saya akan laporkan kamu ke polisi!"

Bayu membeku di tempat. Darahnya seperti berhenti mengalir, wajahnya pucat pasi. Ia tak menyangka semudah dan secepat ini, semua kelicikannya terbongkar.

“Saya beri kamu waktu dua hari untuk kembalikan semua uang yang sudah kamu selewengkan. Lewat dari itu, saya akan bawa ini ke ranah hukum!” Ancam Maira dengan suara dingin, tajam, tanpa getar sedikit pun.

“Dan satu lagi…” lanjutnya, kali ini dengan nada lebih rendah namun penuh tekanan, “mulai detik ini kamu saya pecat!”

Setelah melontarkan pernyataan itu, Maira berdiri. Tanpa memberi kesempatan Bayu menjawab, ia segera melangkah pergi meninggalkan ruangan. Langkahnya mantap, tak sekalipun ia menoleh ke belakang.

Sementara itu, Bayu masih membeku di kursinya. Kata-kata Maira terasa membekas keras di telinganya. Keringat dingin mengalir dari pelipis hingga lehernya. Rahangnya mengeras. Wajahnya menegang.

Namun di balik diamnya, tangannya terkepal kuat di bawah meja—menyimpan amarah yang tak bisa ia tumpahkan barusan.

“Awas aja ya kamu, Mbak Maira…” Gumamnya penuh geram, suara giginya bergemertak menahan emosi. “Sombong sekali mentang-mentang punya uang!…”

“Tumben kamu ke sini, Dini." Ujar Bu Susi ketika melihat putrinya muncul di teras rumah.

Matanya langsung menelusuri penampilan anaknya dari ujung kepala hingga pergelangan tangan.

Dengan gaya yang dibuat-buat, Dini pura-pura membetulkan rambut sambil memamerkan gelang barunya yang berkilau di bawah cahaya teras.

“Tadi aku habis dari mall, Bu. Terus karena lewat sini, ya udah deh sekalian mampir." Ucapnya santai.

Mata Bu Susi langsung menangkap detail itu. Tangannya dengan cepat meraih lengan Dini. “Kamu beli gelang baru?”

Dini terkikik bangga, menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya agar gelang itu berbunyi kecil.

“Ya ampun, aku nggak nyangka Ibu bisa sadar secepat ini. Haha iya Bu, bagus kan? Pagi tadi suamiku ngasih banyak uang, jadinya aku langsung belanja.”

Alih-alih senang, Bu Susi malah merengut. “Ngapain kamu pamer ke sini kalau nggak ada bawain sesuatu buat Ibu?”

Tanpa banyak protes, Dini langsung menyelipkan tangan ke dalam kantong belanjaannya dan mengeluarkan sebuah gamis berwarna cerah.

“Nih, aku beliin gamis buat Ibu pakai kondangan. Pasti Ibu suka. Kurang baik apa aku, Bu? Coba bandingin sama si Mbak Maira. Dia mah paling banter ngasih uang, tapi nggak pernah ngasih barang ke Ibu.”

Padahal jika dipikir, uang bulanan yang selama ini diberikan Maira lebih dari cukup untuk membeli puluhan daster. Tapi karena dari dulu Bu Susi memang tidak pernah menghargai apapun yang diberikan oleh Maira, kali ini justru ia tersenyum lebar menerima pemberian Dini—meski baru pertama kalinya anaknya itu membelikan sesuatu untuknya.

“Bagus banget ini, Dini!" Serunya sambil memeluk gamis baru itu dengan mata berbinar.

Di saat itu juga, deru suara mesin mobil terdengar di halaman. Maira yang baru saja pulang dari kota sebelah, turun dengan tubuh yang tampak letih.

Tatapan Bu Susi dan Dini langsung beralih begitu melihat Maira turun dari mobil. Ia mengenakan stelan kerja rapi berwarna netral, dan sebuah kerudung pashmina yang disampirkan seadanya di kepala—belum sepenuhnya tertata sempurna.

Dini melirik dari atas ke bawah. Pakaian kerja, sepatu bersih, mobil mengilap, dan sikap tenang Maira membuat hatinya terasa panas. Bisa dikatakan Dini memang iri dengan semua yang dimiliki oleh Maira. Ia ingin sama seperti Maira yaitu menjadi wanita karir, tapi... hal itu tak pernah terwujud.

Dini menggigit bibir, lalu bersuara sambil pasang wajah ceria yang jelas dibuat-buat.

“Wah, Mbak Maira baru pulang kerja ya. Sibuk banget sih, kayak nggak ada capeknya.”

Ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih nyinyir. “Kerja keras banget ya, Mbak. Padahal di rumah nggak ada anak yang nunggu. Uangnya juga bingung dipakai buat siapa. Sayang-sayang amat.”

Maira diam. Tapi hatinya tahu persis, ucapan Dini itu lebih terdengar seperti sindiran. Dari teras rumah, ia menatap Dini beberapa detik. Senyum tipis muncul akhirnya muncul dari bibirnya.

“Oh ada kamu, Din…” Katanya pelan dengan membetulkan sedikit kerudungnya. “Mbak kerja keras begini supaya nanti kalau anak mbak lahir, dia hidupnya nggak kekurangan. Bisa makan cukup, sekolah tinggi… dan paling penting nggak perlu ngemis pekerjaan ke keluarganya sendiri.”

Wajah Dini langsung berubah. Tangan kanannya mengepal erat. Ia tahu betul, kalimat itu tengah menyindirnya saat ia dan suaminya memohon agar diberi pekerjaan oleh Maira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!