Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang Tidak Diminta
Hujan turun lagi.
Bukan hujan deras seperti malam pelarian di Milan, melainkan hujan tipis yang jatuh pelan, seolah ragu untuk benar-benar membasahi bumi. Carmela berdiri di dekat jendela rumah aman, menatap butiran air yang menelusuri kaca—lambat, berliku, tak bisa kembali ke atas.
Seperti dirinya.
Matteo belum kembali.
Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Terlalu lama untuk sekadar “berpikir”. Terlalu sunyi untuk dianggap aman. Carmela mencoba menenangkan diri dengan logika: Matteo bukan pria ceroboh. Ia tahu medan. Ia tahu kapan harus mundur.
Tapi sejak kapan logika sepenuhnya menguasai Matteo—terutama ketika ia merasa kehilangan kendali?
Ponsel di tangannya tetap gelap.
Tidak ada pesan. Tidak ada kabar.
Dan di dadanya, kecemasan tumbuh seperti sesuatu yang tak ingin diakui.
—
Matteo berada di kota kecil dua puluh kilometer dari sana.
Ia tidak berniat pergi sejauh itu. Tapi langkah kakinya membawanya semakin jauh dari rumah aman, semakin dekat pada dunia yang ia kenal—dunia yang penuh bayangan, kontak lama, dan pilihan kotor.
Ia duduk di sebuah bar tua, sudut ruangan yang redup. Tempat itu dulu sering ia datangi sebelum semuanya berubah. Sebelum Carmela.
“Kau terlihat seperti orang yang lupa caranya pulang,” kata seorang pria paruh baya di seberangnya.
Matteo mengangkat pandangan. Marco.
Kontak lama. Jalur abu-abu.
“Aku tidak lupa,” jawab Matteo datar. “Aku hanya tidak yakin ke mana.”
Marco tersenyum kecil. “Itu biasanya pertanda bahaya.”
Matteo meneguk minumannya. “Aku butuh informasi.”
“Tentang Lorenzo?”
“Dan siapa pun yang bermain di belakangnya.”
Marco menghela napas pelan. “Permintaan seperti itu tidak gratis.”
Matteo mengeluarkan sebuah amplop. Meletakkannya di meja.
Marco melirik, lalu mendorongnya kembali. “Bukan uang.”
Matteo menegang. “Lalu apa?”
“Janji,” jawab Marco. “Bahwa kau tidak akan menarik kami ke dalam perang pribadi.”
Matteo tertawa pendek. “Kau sudah berada di dalamnya sejak lama.”
Marco menatapnya serius. “Kau berubah sejak perempuan itu masuk hidupmu.”
Matteo terdiam.
“Dulu kau datang ke sini tanpa ragu,” lanjut Marco. “Sekarang kau terlihat seperti pria yang takut memilih.”
“Aku takut memilih yang salah,” jawab Matteo jujur.
Marco mengangguk pelan. “Lorenzo bergerak lewat perantara. Bukan serangan langsung. Ia ingin kau terpancing melakukan kesalahan—membuktikan bahwa kau masih sama seperti dulu.”
Matteo mengepalkan tangan. “Dan Carmela?”
Marco menatapnya lama. “Dia bukan target. Dia umpan.”
Kalimat itu menancap dalam.
—
Di rumah aman, Carmela akhirnya duduk di meja dapur, membuka ponsel terenkripsi yang diberikan Ricardo. Tangannya ragu, lalu mengetik satu pesan.
Aku tahu kau di luar lebih lama dari yang kau katakan.
Aku tidak akan memintamu pulang.
Tapi jangan menghilang dariku.
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan.
Carmela menutup mata. Menarik napas panjang. Ada satu hal yang ia sadari dengan kejelasan menyakitkan:
Ia tidak takut pada Lorenzo malam ini.
Ia takut pada keputusan Matteo yang tidak ia ketahui.
—
Matteo kembali menjelang dini hari.
Langkah kakinya pelan saat membuka pintu. Lampu dapur masih menyala redup. Carmela duduk di sana, jaket tipis menutupi tubuhnya, mata lelah tapi terjaga.
“Kau lama,” katanya.
Matteo berhenti. “Aku minta maaf.”
“Bukan itu,” balas Carmela. “Aku butuh tahu: apakah kau baik-baik saja?”
Matteo menatapnya—dan untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di dadanya melembut.
“Aku hidup,” katanya. “Dan itu tidak cukup.”
Carmela berdiri. Mendekat. Tidak memeluk, tidak menyentuh—hanya berdiri di depannya.
“Kau bicara dengan orang-orang lamamu,” katanya pelan.
Matteo tidak menyangkal. “Aku perlu memastikan sesuatu.”
“Bahwa aku aman?”
“Bahwa kau tidak menjadi alasan aku kehilangan diriku sendiri,” jawab Matteo jujur.
Kalimat itu menyakitkan—bukan karena kejam, tapi karena rapuh.
“Aku tidak ingin kau menjadi orang yang dulu,” kata Carmela. “Tapi aku juga tidak ingin kau mengorbankan dirimu hanya karena aku.”
Matteo menunduk. “Itulah yang membuatku takut.”
—
Keesokan harinya, keputusan itu diambil—tanpa diskusi panjang.
Carmela meninggalkan rumah aman pagi-pagi sekali.
Ia menulis pesan singkat. Diletakkan di meja dapur.
Aku tidak pergi meninggalkanmu.
Aku pergi untuk memberi kita ruang bernapas.
Percayalah, seperti aku mempercayaimu.
Matteo menemukannya satu jam kemudian.
Panik datang cepat. Terlalu cepat.
Ia mencoba menghubungi Carmela—tidak aktif. Menghubungi Ricardo—tidak tahu. Sistem keamanan menunjukkan tidak ada paksaan.
Ia pergi dengan sukarela.
Itu yang paling menakutkan.
—
Carmela berada di kereta menuju selatan.
Bukan ke tempat Lorenzo memintanya. Bukan ke tempat aman yang Matteo kenal.
Ia memilih kota kecil, anonim. Hotel sederhana. Nama palsu.
Ia duduk di dekat jendela, menatap ladang-ladang yang berlalu.
Ia tidak menangis.
Keputusan ini bukan tentang menjauh karena takut.
Ini tentang berdiri sendiri cukup lama untuk tahu apa yang benar-benar ia inginkan—dan apa yang ia rela pertaruhkan.
—
Matteo menemukan dirinya berdiri di rumah kosong itu, surat di tangannya, napasnya berat.
Ricardo datang sore itu.
“Dia memilih pergi sendiri,” kata Ricardo pelan.
Matteo menutup mata. “Aku tahu.”
“Kau akan mencarinya?”
Matteo membuka mata. Tatapannya gelap—bukan marah, tapi tekad yang dingin.
“Aku akan melindunginya,” katanya. “Bahkan jika itu berarti tidak berdiri di sampingnya.”
Ricardo mengangguk. “Dan Lorenzo?”
Matteo tersenyum tipis. Berbahaya.
“Sekarang,” katanya, “permainannya berubah.”
—
Di kamar hotel kecilnya, Carmela berdiri di depan cermin.
Ia terlihat lebih kurus. Lebih lelah. Tapi matanya—matanya jernih.
Ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia sendirian.
Dan anehnya—ia merasa kuat.