NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Pria dibalik tirai jendela

Napas Meylie terasa berat, bukan lagi karena luka fisik dari pertarungan di lorong gelap, melainkan karena beban misi yang kini ia pikul. Luka di lengannya masih terasa perih, sebuah pengingat brutal akan bahaya yang mengintai. Di kamar motel barunya, ia menatap nama "Fernandez" yang tertulis di buku catatan Yu. Mantan editor hiburan, tetangga Yu yang paranoid dan trauma. Orang yang Yu percayai bisa "melihat apa yang tidak terlihat." Dialah kepingan puzzle selanjutnya, kunci untuk mendekripsi rahasia Yu dan menjatuhkan jaringan tak tersentuh itu.

Meylie menghabiskan beberapa hari melacak Fernandez. Ia tidak bisa menggunakan koneksi resminya, karena itu akan terlalu berisiko. Ia menggunakan jaringan informasi bawah tanah yang Yu pernah ceritakan padanya, mencari jejak seorang pria yang tiba-tiba menghilang dari sorotan media setelah skandal besar beberapa tahun lalu. Ia menemukan bahwa Fernandez, yang dulunya adalah sosok karismatik di dunia hiburan, kini hidup menyepi di sebuah apartemen sederhana di pinggir kota, jauh dari gemerlap yang pernah ia liput. Ia sering terlihat menghabiskan waktu di sebuah kafe tua yang tidak mencolok, selalu di sudut yang sama, selalu dengan secangkir kopi hitam dan koran lama.

Pagi itu, Meylie mengenakan pakaian yang lebih kasual namun tetap elegan—jaket kulit hitam, celana jeans gelap, dan kacamata hitam besar yang menyembunyikan sebagian besar wajahnya. Ia ingin terlihat seperti orang biasa yang sedang menikmati pagi, namun tetap memiliki aura misterius yang tidak mengundang pertanyaan. Ia membawa tas selempang yang berisi buku catatan Yu, laptop burner-nya, dan sebuah perekam suara mini yang tersembunyi.

Ia memarkir mobilnya beberapa blok dari kafe, lalu berjalan kaki. Udara pagi terasa dingin, namun Meylie merasakan panas yang membakar di dalam dirinya. Ini adalah langkah paling berisiko sejauh ini. Fernandez adalah saksi kunci, namun juga orang yang sangat rentan. Meylie harus meyakinkannya, tanpa menakutinya, tanpa membuatnya curiga.

Kafe tua itu berbau kopi pahit dan roti bakar, dengan suasana yang hangat namun sedikit suram. Jendela-jendela beruap, dan beberapa pelanggan terlihat sibuk dengan sarapan pagi mereka. Di sudut ruangan, di balik tirai jendela yang sedikit usang, duduk seorang pria. Itu Fernandez. Rambutnya abu-abu, acak-acakan, dan matanya cekung, memancarkan kelelahan kronis. Ia mengenakan kemeja flanel lusuh dan tampak sibuk membaca koran lama yang ia pegang erat-erat. Setiap beberapa detik, matanya akan melirik ke sekeliling ruangan, gerakannya cepat, waspada, seperti hewan yang terperangkap. Paranoia yang jelas.

Meylie memilih meja di seberang ruangan, di sudut lain, di mana ia bisa mengamati Fernandez tanpa terlihat mencolok. Ia memesan kopi hitam dan duduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia mengamati Fernandez. Cara pria itu memegang koran, cara ia menyesap kopi, cara ia melirik ke pintu setiap kali ada orang yang masuk. Fernandez adalah bayangan dari dirinya yang dulu. Trauma telah menggerogotinya.

"Ini akan sulit," bisik Meylie pada dirinya sendiri.

Ia harus membuat Fernandez percaya padanya. Meylie memikirkan Yu. Yu adalah orang yang empatik, yang selalu bisa menemukan cara untuk menjangkau orang lain. Meylie harus membiarkan sedikit dari Xiao Fei yang asli muncul, menunjukkan kerentanannya yang terbatas, untuk memecahkan benteng pertahanan Fernandez.

Setelah beberapa menit, Meylie bangkit. Ia berjalan ke konter untuk meminta tambahan gula, sengaja melewati meja Fernandez. Saat ia lewat, ia "secara tidak sengaja" menjatuhkan pena dari tasnya, membuatnya bergulir tepat di bawah kaki Fernandez.

Pena itu membentur lantai dengan suara kecil. Fernandez tersentak, korannya sedikit terjatuh. Matanya yang paranoid langsung menatap Meylie, penuh kewaspadaan.

"Oh, maafkan saya," Meylie berkata, suaranya lembut, tanpa nada mengancam. Ia membungkuk untuk mengambil pena itu, memastikan ia sedikit menundukkan kepalanya, agar Fernandez bisa melihat sedikit wajahnya yang tidak tertutup kacamata hitam.

Fernandez hanya menatapnya, tidak mengatakan apa-apa. Tubuhnya sedikit menegang, siap untuk melarikan diri.

"Pena saya jatuh," Meylie menambahkan, lalu mengambil pena itu. Ia berdiri tegak, tersenyum tipis. "Anda Fernandez, bukan? Saya sering melihat Anda di sini."

Fernandez tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, matanya masih menatap Meylie dengan curiga.

"Saya Meylie/ Ling," Meylie memperkenalkan diri, mengulurkan tangan. Fernandez ragu seagu, lalu menjabat tangannya dengan cepat, cengkeramannya dingin dan kaku.

"Saya... saya kenal Yu," Meylie berkata, menurunkan suaranya sedikit. Ia melihat mata Fernandez sedikit melebar. Nama Yu. Itu adalah pemicunya.

"Yu?" Fernandez mengulang, suaranya serak. Ia melirik ke sekeliling, seolah khawatir ada yang mendengar.

"Ya. Yu. Aktor itu," Meylie mengangguk. "Saya tahu dia sering datang ke sini. Dia pernah bilang, Anda adalah salah satu orang paling cerdas yang dia kenal."

Fernandez mengerutkan kening. Sedikit ekspresi terkejut muncul di wajahnya, bercampur dengan ketakutan. "Bagaimana... bagaimana Anda tahu?"

"Saya tahu banyak hal tentang Yu," Meylie menjawab, suaranya kini sedikit lebih serius. "Saya tahu dia tidak meninggal karena overdosis. Saya tahu dia dibunuh."

Wajah Fernandez memucat. Ia menarik tangannya dari jabat tangan Meylie, lalu melihat ke sekeliling kafe dengan panik. "Jangan bicara seperti itu di sini! Ada mata di mana-mana!"

"Saya tahu," Meylie membalas, tatapannya tenang. "Itulah mengapa saya datang kepada Anda. Saya tahu Anda tahu. Saya tahu Anda melihat sesuatu. Saya tahu Anda mendengar sesuatu."

Fernandez menggelengkan kepalanya panik. "Saya tidak tahu apa-apa! Saya hanya seorang pria tua yang suka membaca koran! Jangan libatkan saya dalam masalah Anda!"

Ia mencoba berdiri, seolah ingin melarikan diri.

"Yu tidak akan ingin Anda melarikan diri," Meylie berkata, suaranya lebih tegas. "Dia berjuang untuk kebenaran. Dan Anda, Anda adalah saksinya."

"Saya tidak mau terlibat! Mereka terlalu kuat! Mereka akan membunuh saya!" Fernandez berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, penuh ketakutan. Ia kembali duduk, tubuhnya gemetar.

Meylie melihat kesempatan itu. Ia tahu ia harus menunjukkan sedikit kerentanannya, sesuatu yang bisa memecahkan benteng ketakutan Fernandez. Ia mengangkat lengan kirinya yang terluka, tempat luka goresan dari pertarungan di lorong gelap masih terlihat jelas, meskipun sudah dibersihkan dan ditutupi plester tipis. Ia sengaja menggerakkan lengan itu agar plester dan sedikit darah yang merembes terlihat.

"Mereka sudah mencoba membunuh saya," Meylie berkata, suaranya kini lebih serak, sedikit emosional, menunjukkan rasa sakit yang tulus. "Karena saya mencari kebenaran untuk Yu. Karena saya adalah kekasihnya."

Kata-kata "kekasihnya" dan pemandangan luka di lengan Meylie menghantam Fernandez seperti pukulan. Matanya, yang tadinya dipenuhi ketakutan murni, kini bercampur dengan sedikit keterkejutan dan... simpati. Ia menatap luka itu, lalu kembali ke mata Meylie. Untuk sesaat, topeng Ling yang dingin runtuh, dan Xiao Fei yang berduka muncul, memancarkan rasa sakit yang tulus.

"Anda... Anda kekasih Yu?" Fernandez berbisik, tidak percaya. "Tapi... media tidak pernah menyebutkan..."

"Tentu saja tidak," Meylie memotong, suaranya sedikit lebih pahit. "Hubungan kami rahasia. Untuk melindunginya. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa saya mencintainya. Dan mereka membunuhnya."

Fernandez terdiam, menatap Meylie dengan tatapan yang lebih dalam. Ia melihat bukan hanya seorang investor seni yang misterius, tetapi seorang wanita yang berduka, yang terluka, yang sama seperti dirinya, telah tersentuh oleh kegelapan yang sama.

"Saya... saya tidak bisa," Fernandez berkata, suaranya masih gemetar, namun ada sedikit keraguan di sana. "Mereka akan menemukan saya. Mereka akan membunuh saya. Mereka sudah mengancam saya sejak... sejak saya mendengar teriakan itu."

"Teriakan apa?" Meylie bertanya, nadanya lembut.

Fernandez memejamkan mata, seolah mencoba menekan ingatan yang menyakitkan. "Teriakan dari apartemennya. Malam itu. Saya... saya mendengar semuanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya terlalu takut untuk melihat. Tapi saya mendengar jeritan. Dan kemudian... suara-suara aneh."

"Anda mendengar apa?"

"Suara-suara seperti... ritual. Dan kemudian kesunyian. Lalu... bau. Bau yang mengerikan." Fernandez menggigil. "Saya tahu itu bukan overdosis. Saya tahu Yu sedang disiksa."

Ini adalah pengakuan yang Meylie butuhkan. Fernandez adalah saksi mata, atau setidaknya saksi pendengar.

"Saya punya rekamannya," Meylie berkata, suaranya pelan. "Rekaman penyiksaan Yu."

Mata Fernandez membelalak. Ia menatap Meylie, lalu ke sekeliling kafe yang ramai, seolah mencari mata-mata. "Anda... Anda punya?"

"Ya," Meylie mengangguk. "Dan saya tahu Anda bisa membantu saya mendekripsinya. Saya tahu Yu mempercayai Anda. Dia pernah bilang, Anda adalah satu-satunya yang bisa menembus dinding digital apa pun."

Fernandez masih ragu, ketakutan masih terpancar jelas di wajahnya. Namun, ada juga secercah rasa ingin tahu, sebuah dorongan untuk kebenaran, yang mulai bersaing dengan ketakutannya. Melihat luka di lengan Meylie, mendengar tentang Yu, dan pengakuan Meylie sebagai kekasih Yu, telah memecahkan benteng pertahanannya.

"Saya... saya tidak tahu," Fernandez bergumam, tangannya mengusap wajahnya yang lelah. "Ini terlalu berbahaya. Mereka akan datang untuk kita berdua."

"Mereka sudah datang untuk saya," Meylie membalas, tatapannya tegas. "Dan mereka akan datang untuk Anda juga, cepat atau lambat, jika Anda menyimpan rahasia ini sendirian. Kita bisa melawan mereka bersama. Atau kita bisa mati sendirian, terkubur dalam kebohongan."

Meylie membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Ia tidak menekan lagi. Ia telah menunjukkan kartunya, menunjukkan kerentanannya, dan menunjukkan tekadnya. Kini giliran Fernandez.

Fernandez terdiam lama, menatap cangkir kopinya yang dingin. Ia tampak berjuang dalam dirinya, melawan rasa takut yang telah lama mencengkeramnya. Ia mengingat Yu, aktor muda yang ceria namun juga penuh rahasia, yang sering berbagi cerita tentang "dunia gelap di balik layar." Ia mengingat teriakan yang ia dengar malam itu. Ia mengingat ketidakadilan yang ia saksikan sendiri di industri hiburan, yang membuatnya trauma dan menarik diri.

Akhirnya, Fernandez mengangkat kepalanya, matanya menatap Meylie. Ketakutan masih ada, tetapi kini bercampur dengan sesuatu yang lain: sebuah tekad yang rapuh, sebuah keinginan untuk keadilan.

"Saya... saya tidak bisa bicara di sini," Fernandez berbisik, suaranya lebih tenang, lebih terkontrol. "Terlalu banyak mata. Terlalu banyak telinga. Jika Anda benar-benar punya rekaman itu... dan jika Anda benar-benar kekasih Yu..."

Ia berhenti, lalu menghela napas. "Temui saya... di luar kota. Ada sebuah pondok tua milik keluarga saya. Terpencil. Tidak ada yang tahu. Hanya kita berdua."

Meylie merasakan gelombang lega yang luar biasa. Ia berhasil. Ia telah menembus benteng Fernandez.

"Kapan?" Meylie bertanya, suaranya mantap.

"Nanti malam. Tengah malam," Fernandez menjawab, menatapnya dengan tatapan serius. "Jangan sampai ada yang tahu. Jangan sampai ada yang mengikuti Anda."

"Saya akan berhati-hati," Meylie berjanji.

Fernandez menuliskan alamat pondok itu di secarik kertas kecil, lalu menyelipkannya ke bawah cangkir kopi Meylie. Ia tidak menunggu Meylie membalas. Ia bangkit dari kursinya, buru-buru membayar, lalu bergegas keluar dari kafe, seolah-olah percakapan itu tidak pernah terjadi.

Meylie mengambil kertas itu. Alamat yang terpencil, jauh dari keramaian. Ini adalah langkah selanjutnya. Sebuah aliansi yang rapuh, terbentuk di tengah paranoia dan duka.

Ia menatap ke luar jendela, melihat Fernandez berjalan cepat menyusuri jalan. Pria di balik tirai jendela itu kini telah memilih untuk melangkah keluar dari bayangan. Dan Meylie, dengan buku catatan terlarang Yu dan alamat baru di tangannya, tahu bahwa perburuan ini baru saja mendapatkan sekutu yang sangat penting. Pertarungan melawan jaringan tak tersentuh itu akan segera memasuki fase baru.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!