Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagalnya Rencana Jahat Tamara
Rian mundur perlahan dengan tubuh gemetar, jantungnya berdegup kencang seolah mau copot.
Ia kembali ke kamarnya, menutup pintu pelan-pelan, lalu melompat ke kasur dan menarik selimut hingga menutupi kepala.
Di balik selimut, Rian menangis tanpa suara.
"Kak Putri," batinnya menjerit, "kakak orang baik. Kenapa mama sama kak Tamara jahat banget sama kak Putri?"
Rian ingat betul bagaimana tangan lembut Putri mengompres dahinya saat demam, bagaimana Putri menyisihkan uang jajan sekolahnya diam-diam untuk membelikan Rian mainan robot yang dilarang Anggun. Padahal, mereka tidak lahir dari rahim yang sama. Namun, kasih sayang Putri lebih tulus dari kakak kandungnya sendiri.
Rian menghapus air matanya kasar. "Aku nggak boleh diem aja. Aku laki-laki, kak Putri bilang... laki-laki harus melindungi yang lemah."
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Devan dan Putri sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton film, kepala Putri bersandar nyaman di bahu Devan.
Ponsel Devan bergetar di atas meja.
"Siapa malam-malam begini?" gumam Devan, meraih ponselnya. Ia mengernyit melihat nama penelpon, Rian.
"Rian?" Putri ikut melihat, langsung menegakkan tubuhnya khawatir. "Angkat, Mas! Jangan-jangan ada apa-apa di sana, jangan-jangan Rian sakit lagi."
Devan segera mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker.
"Halo, Rian? Kenapa, jagoan kakak?"
"Kak Devan..." suara bisikan Rian terdengar bergetar dan panik dari seberang sana. "Kak Devan lagi sama kak Putri, kan?"
"Iya, ini kak Putri denger kok. Ada apa, Dek? Kamu sakit?" tanya Putri lembut.
"Enggak, Rian nggak sakit. Tapi kak Putri yang bahaya!" Rian terdengar menahan tangis. "Dengerin Rian, kak. Jangan percaya sama kak Tamara! Besok kak Tamara mau ke rumah kak Devan bawa bingkisan buah sama obat herbal."
Devan dan Putri saling pandang, bingung.
"Obat herbal?" ulang Devan.
"Iya! Rian denger sendiri tadi. Kak Tamara masukin sesuatu ke obat itu. Dia bilang itu racun buat bikin bayi kak Putri... luruh, kak Tamara sama mama mau bunuh adek bayi! Kakak jangan minum apapun yang dikasih kak Tamara besok! Tolong janji sama Rian!"
Darah Devan mendidih seketika. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir meledak, Tamara benar-benar Iblis!
Sementara Putri, wajahnya pucat pasi. Tangannya refleks memeluk perutnya yang masih rata, melindunginya secara insting.
Kak Devan denger Rian, kan?" tanya Rian lagi, takut sambungannya putus.
Devan menarik napas panjang, berusaha menenangkan suaranya agar tidak membuat Rian semakin takut.
"Kak Devan denger, Rian. Kak Devan denger jelas," ucap Devan, suaranya dingin namun tegas. "Terima kasih, Rian. Kamu pahlawan, kamu baru saja nyelamatin nyawa keponakan kamu."
"Jangan bilang sama mama kalau Rian ngadu ya, kak. Nanti Rian dipukul..." cicit Rian ketakutan.
Hati Putri teriris mendengar adiknya ketakutan seperti itu di rumahnya sendiri.
"Enggak, sayang. Kakak janji ini rahasia kita, Rian aman. Rian tidur ya sekarang, pura-pura nggak tau apa-apa. Biar Kak Devan yang urus besok," ucap Putri menenangkan.
Klik... sambungan terputus.
Keheningan yang mencekam mengisi ruang tamu. Devan meletakkan ponselnya pelan, tapi aura membunuh memancar kuat darinya.
"Mereka..." Devan mendesis, matanya berkilat marah. "Mereka bukan manusia. Mereka mau ngebunuh anak kita, Put."
Putri menggenggam tangan Devan yang terkepal. "Mas, tenang dulu."
"Tenang?! Dia mau racunin kamu!" bentak Devan, lalu sadar dan merendahkan suaranya. "Maaf... aku cuma..."
"Aku tau." Putri mengusap punggung tangan suaminya. "Tapi kita sudah tau rencananya berkat Rian, kita satu langkah di depan mereka."
Putri menatap lurus ke depan, sorot matanya berubah, tidak ada lagi ketakutan.
"Besok, biarkan Tamara datang," ucap Putri dingin.
Devan menoleh kaget. "Kamu gila? Aku nggak bakal izinin dia injek halaman rumah ini!"
"Izinkan dia masuk, Mas." Putri tersenyum tipis, senyum yang penuh strategi. "Kalau kita tolak di depan pagar, dia bakal cari cara lain yang lebih licik dan mungkin tidak kita ketahui. Lebih baik kita hadapi dia saat kita sudah tau senjatanya."
Putri menatap Devan tajam.
"Kita akan mainkan permainannya. Dia mau sandiwara minta maaf? Oke, kita kasih dia panggung. Tapi di akhir pertunjukan, dia yang akan minum 'racun' buatannya sendiri."
Devan menatap istrinya dengan kagum, Putri benar-benar telah berubah. Istrinya bukan lagi domba yang menunggu disembelih, melainkan singa betina yang siap menerkam siapa saja yang mengusik anaknya.
"Oke." Devan mengangguk setuju, seringai licik muncul di wajahnya.
***
Pagi itu, bel rumah Devan berbunyi. Di layar interkom terlihat wajah Tamara.
Wajahnya beda, tidak seperti biasanya yang penuh makeup tebal dan baju mencolok. Hari ini Tamara mengenakan terusan sopan berwarna putih, rambutnya diikat rapi, dan wajahnya dipulas riasan tipis yang membuatnya terlihat polos dan sendu.
Di tangannya, ia menenteng sebuah keranjang hampers besar berisi buah-buahan segar dan sebuah kotak kayu mungil.
Devan dan Putri yang sedang duduk di ruang tamu saling berpandangan. Devan mengangguk pelan, memberi kode.
Devan memerintahkan Tamara untuk masuk, dan pintu pun terbuka.
Tamara melangkah masuk dengan ragu-ragu, begitu melihat Putri dan Devan duduk berdampingan, ia langsung memasang wajah sedih yang sudah dilatihnya semalaman di depan cermin.
"Putri... Devan," sapa Tamara dengan suara bergetar. Ia meletakkan keranjang itu di meja, lalu tiba-tiba bersimpuh di lantai, tepat di depan kaki Putri.
"Maafin kakak, Put," isak Tamara, "kakak khilaf. Kakak sadar kakak jahat banget kemarin. Kakak iri sama kebahagiaan kamu, sampai kakak lupa kalau kamu adik kakak satu-satunya."
Aktingnya sempurna. Jika Putri tidak tahu kebenarannya, mungkin hatinya sudah luluh. Tapi berkat Rian, Putri melihat air mata itu tak lebih dari bisa ular.
"Bangun, Kak," ucap Putri datar, tidak menyentuh Tamara sedikit pun. Putri tersenyum sinis. "Nggak perlu drama sujud-sujud begitu."
Tamara perlahan berdiri, menyeka air matanya. "Kakak beneran mau berubah, Put. Sebagai tanda permintaan maaf, dan tanda syukur atas kehamilan kamu... kakak bawain ini."
Tamara dengan antusias membuka kotak kayu di dalam hampers itu. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan berwarna cokelat pekat.
"Ini tonik herbal khusus, resep kuno dari sinshe terkenal langganan temen kakak. Katanya bagus banget buat nguatin kandungan, apalagi buat ibu hamil yang punya riwayat sakit kayak kamu. Ini mahal banget, Put. Susah carinya."
Mata Tamara berbinar penuh harap saat menyodorkan botol itu. "Minum ya, Put? Tapi minumnya sekarang, Biar kakak lega rasanya karena kamu udah terima pemberian kakak."
Devan yang duduk di samping Putri hanya diam, menyilangkan kaki dengan santai, namun matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik Tamara.
Putri menerima botol itu. Ia memutar-mutar botolnya, mengamati cairannya.
"Tonik penguat kandungan ya?" gumam Putri, "baunya agak menyengat."
"Itu karena herbal alami, tanpa bahan kimia!" sambar Tamara cepat, sedikit gugup.
Devan mengerling melihat Putri, ia sedikit tersenyum.
"Ayo diminum, Put. Segar kok."
Putri tersenyum manis. Ia berdiri, mengambil dua buah gelas sloki dari lemari pajangan di dekatnya.
"Kebetulan sekali," ucap Putri sambil membuka tutup botol itu. "Kalau ini memang bagus buat kesehatan, kenapa kita nggak minum bareng aja, Kak?"
Wajah Tamara menegang. "M-maksud kamu?"
Putri menuangkan cairan pekat itu ke dalam dua gelas. Aromanya langsung menguar ke seluruh ruangan, bau jamu yang tajam dan sedikit aneh.
"Kakak kan kelihatan pucat dan kurus karena stres mikirin warisan papa," sindir Putri halus sambil menyodorkan satu gelas ke hadapan Tamara. "Tonik ini pasti bagus juga buat stamina Kakak. Anggap saja ini toast perdamaian kita, kita minum sama-sama. Aku minum, Kakak minum."
Tangan Tamara gemetar hebat, ia menatap gelas berisi cairan cokelat itu seolah melihat hantu. Ia tahu persis apa isinya, itu obat keras pemicu kontraksi. Kalau ia meminumnya, rahimnya sendiri bisa hancur atau ia bisa keracunan.
"K-kok kakak?" elak Tamara, mundur selangkah. "I-itu kan khusus ibu hamil, Put. Kalau orang biasa minum, nanti... nanti efek sampingnya bahaya."
"Oh ya?" sela Devan tiba-tiba, "setahu aku, tonik herbal penguat stamina itu aman buat siapa aja. Kecuali... isinya bukan tonik." Devan menatap Tamara dengan tajam, tatapannya penuh intimidasi.
Devan berdiri, menjulang tinggi di hadapan Tamara.
Tamara mulai kehilangan kepercayaan dirinya, ia takut ketahuan saat itu juga.