Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam penuh haru di ruang VVIP itu.
Kini, suasana di lobi utama kantor pusat Surya Group tampak berbeda.
Suara langkah kaki yang tegas dan berirama dari sepatu high heels yang elegan menggema, memecah kesibukan para karyawan.
Semua mata tertuju pada sosok wanita yang berjalan dengan dagu tegak dan senyum menawan. Swari Aruna telah kembali.
Tidak ada lagi kursi roda atau wajah pucat; yang ada hanyalah seorang wanita karier yang mempesona dengan blazer satin berwarna krem yang membalut tubuhnya yang telah bugar kembali.
"Selamat pagi, Nyonya Surya," sapa para staf dengan takzim saat ia melintas.
Swari membalasnya dengan anggukan ramah, langkahnya menuju ruang rapat utama tidak terhenti.
Tepat pada saat itu, pintu ruang meeting besar terbuka.
Baskara keluar bersama beberapa petinggi perusahaan.
Langkah Baskara seketika terhenti. Ia mengabaikan klien di sampingnya dan terpaku memandang istrinya yang sedang berdiri di tengah lobi, sedang memberikan instruksi singkat kepada Navy mengenai presentasi Proyek Mahameru.
Baskara menyandarkan bahunya di pintu, melipat tangan di dada dengan senyum bangga yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia memperhatikan bagaimana Swari berbicara dengan penuh otoritas, menjelaskan detail konsep "Green Living" yang menjadi inti dari Proyek Mahameru.
Cara bibirnya bergerak, binar matanya saat membahas bisnis, dan kepercayaan dirinya yang telah kembali seutuhnya membuat Baskara kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Swari yang menyadari keberadaan suaminya, menoleh dan menghentikan bicaranya sejenak.
Ia memberikan kedipan mata nakal ke arah Baskara sebelum kembali fokus pada dokumen di tangannya.
Baskara berjalan mendekat, memecah kerumunan staf.
Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain saat ia meletakkan tangannya di pinggang Swari, menariknya sedikit lebih dekat.
"Kamu terlambat lima menit untuk rapat koordinasi, Sayang," bisik Baskara di telinganya, suaranya berat dan penuh godaan.
Swari tertawa kecil, suara yang kini menjadi musik terindah bagi Baskara.
"Aku tadi harus memastikan Alex dan Alexandria selesai sarapan, Bas. Dan lagi, bukankah pemilik Proyek Mahameru ini punya hak istimewa untuk sedikit terlambat?"
Baskara tertawa, ia mengecup pelipis Swari dengan cepat sebelum beralih ke para klien.
"Maaf semuanya, perkenalkan, ini istri saya sekaligus otak di balik keindahan Proyek Mahameru. Mari kita lanjutkan diskusinya di dalam."
Di tengah ruang rapat yang megah, Swari berdiri dengan penuh karisma di depan layar proyektor besar.
Ia menjelaskan setiap detail desain Proyek Mahameru dengan intonasi yang tegas, cerdas, dan penuh gairah.
Gerakan tangannya yang elegan, cara ia sesekali membasahi bibirnya yang dipoles lipstik merah tipis, serta lekuk tubuhnya yang terpeta sempurna di balik blazer fit body itu benar-benar menghipnotis seluruh ruangan.
Baskara yang duduk di kursi utama di ujung meja, sama sekali tidak bisa fokus pada slide presentasi.
Matanya terpaku pada pergerakan pinggul istrinya saat Swari berjalan mondar-mandir di depan panggung kecil.
Aura kepemimpinan yang bercampur dengan kecantikan alami Swari menciptakan daya tarik seksual yang luar biasa kuat.
Baskara menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering melihat betapa memukaunya wanita itu saat sedang menguasai keadaan.
Tiba-tiba, ia merasakan sensasi panas yang menjalar di bawah sana.
Sesuatu yang sudah lama ia tahan sejak Swari pulih kini bereaksi dengan liar akibat stimulasi visual yang begitu intens.
Baskara sedikit bergeser di kursinya, mencoba menutupi area bawah meja dengan map dokumen.
"Jangan sekarang, Tom..." gumam Baskara sangat lirih, hampir berupa bisikan untuk dirinya sendiri, sambil merutuki "senjatanya" yang mendadak berdiri tegak di waktu yang sangat tidak tepat.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengalihkan pikirannya ke angka-angka keuntungan perusahaan, namun gagal total saat Swari menoleh ke arahnya dan memberikan senyum kemenangan karena berhasil memukau para investor.
Swari yang menyadari perubahan ekspresi suaminya—mata yang menggelap dan cara duduk yang gelisah—hanya memberikan tatapan menggoda.
Ia tahu persis efek yang ia berikan pada Baskara.
"Dan itulah akhir dari presentasi saya. Apakah ada pertanyaan, Tuan Baskara Surya?" tanya Swari dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih rendah dan sensual, menantang suaminya di depan publik.
Baskara berdehem keras, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak serak.
"P-presentasi yang bagus, Nyonya. Saya rasa... kita butuh 'rapat pribadi' di ruangan saya setelah ini untuk membahas detailnya lebih lanjut."
Beberapa investor tertawa kecil, mengira itu hanya candaan bos besar, tanpa tahu bahwa Baskara benar-benar sedang berjuang menahan diri agar tidak langsung membawa istrinya keluar dari ruangan itu sekarang juga.
Langkah kaki mereka terburu-buru menyusuri koridor lantai atas.
Begitu pintu lift tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua di ruang sempit yang dingin itu, atmosfer langsung berubah menjadi panas.
Baskara tidak lagi memedulikan wibawanya sebagai pimpinan perusahaan.
Ia menarik pinggang Swari, menekannya ke dinding lift yang mengilap, dan menciumnya dengan penuh gairah yang telah lama ia pendam.
Swari tidak menolak. Ia justru membalas dengan intensitas yang sama, tangannya menggenggam kuat tangan suaminya, menuntun langkah mereka keluar begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif.
Mereka hampir berlari melewati ruang sekretaris yang untungnya sedang kosong, langsung masuk ke dalam ruangan luas milik Baskara.
Tanpa membuang waktu, mereka menuju ke sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku kayu jati yang besar—ruangan rahasia yang dirancang khusus untuk peristirahatan pribadi Baskara. Begitu pintu itu terkunci dari dalam, kegilaan itu pecah.
"Sayang, aku tidak bisa menahannya lagi. Kamu terlihat sangat mematikan di ruang rapat tadi," bisik Baskara dengan napas yang memburu di ceruk leher Swari.
Pakaian yang tadi terlihat sangat profesional kini berserakan di lantai.
Baskara membaringkan Swari di atas ranjang king size yang empuk, menatap istrinya dengan tatapan lapar dan penuh pemujaan.
Tidak ada lagi kata-kata, hanya ada desah napas yang saling beradu.
Dengan satu gerakan yang penuh tuntutan namun penuh perasaan, Baskara langsung memasukkan senjatanya ke mahkota istrinya, menyatukan kembali raga mereka yang pernah hampir dipisahkan oleh maut.
"B-bas..." desah Swari tertahan.
Matanya terpejam erat, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Baskara saat merasakan sensasi penuh yang menghujam jantungnya.
"Aku mencintaimu, Swari... Hanya kamu," gumam Baskara di sela-sela pergulatan gairah mereka.
Setiap gerakan yang mereka lakukan seolah menjadi perayaan atas kehidupan.
Di ruangan kedap suara itu, mereka melepaskan semua trauma, semua beban, dan semua kerinduan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Masa lalu yang dingin di Kanada dan peti kayu yang menyesakkan kini benar-benar terkubur, digantikan oleh panasnya cinta yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor