NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Dokter Ramlan memberikan isyarat pelan kepada Baskara.

"Tuan, biarkan anak-anak masuk sebentar. Suara anak-anak seringkali menjadi stimulasi terkuat bagi pasien dalam kondisi koma."

Baskara membantu Alex dan Alexandria mengenakan jubah medis kecil yang terlihat kebesaran di tubuh mereka.

Dengan langkah ragu dan wajah yang sembab, kedua bocah itu mendekati ranjang Mama mereka.

"Mama..." Alexandria membisikkan kata itu sambil mengelus ujung kaki Swari yang tertutup selimut.

"Ini Alexandria Ma. Alexandria bawa boneka kelinci buat Mama biar Mama nggak sendirian."

Alex berdiri di sisi lain, menggenggam jari kelingking Swari yang tak terbalut perban.

"Ma, Alex sudah jadi jagoan hari ini. Alex nggak nangis lagi. Tapi Mama harus bangun, ya? Alex mau tunjukin nilai matematika Alex yang bagus."

Suara polos kedua anak itu membuat suasana di dalam ruang ICU terasa begitu menyayat hati.

Baskara hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, mencoba menahan sesak di dadanya.

Setelah beberapa menit yang emosional, Ratri masuk dengan langkah pelan.

"Sayang, ayo. Mama Swari harus istirahat lagi supaya cepat sembuh. Kita pulang dulu ya, mandi dan makan supaya besok pas Mama bangun, kalian sudah wangi," bujuk Ratri dengan lembut sambil merangkul bahu kedua keponakannya.

Walaupun enggan, Alex dan Alexandria akhirnya menurut.

Mereka memberikan ciuman jarak jauh ke arah Swari sebelum dituntun keluar oleh Ratri dan Nyonya Widya.

Setelah kepergian mereka, sunyi kembali melanda.

Baskara melangkah keluar dari ruangan steril itu, melepas jubah hijaunya dengan lunglai. Ia tidak ingin pulang. Ia tidak bisa pulang.

Baskara terduduk di kursi tunggu yang dingin tepat di depan pintu kaca ruang ICU.

Ia menumpukan kedua sikut di lututnya dan menyembunyikan wajah di balik telapak tangannya.

Di koridor rumah sakit yang sepi dan hanya diterangi lampu temaram itu, sang penguasa bisnis yang biasanya angkuh kini tampak begitu rapuh.

Ia duduk di sana, menjadi penjaga setia bagi wanita yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana.

Pikirannya melayang pada setiap kesalahan yang ia buat, sambil terus merapalkan doa dalam hati agar Tuhan tidak mengambil cahaya di hidupnya itu.

Di tengah keheningan lorong rumah sakit yang mencekam, Navy datang membawakan sebuah tablet milik Swari yang berhasil diamankan dari apartemen lamanya.

Di dalamnya, Baskara menemukan sebuah folder tersembunyi berisi rekaman video harian Swari selama tahun-tahun pertamanya di Kanada.

Baskara menekan tombol play dengan tangan gemetar.

Layar menunjukkan pemandangan jalanan Toronto yang tertutup salju tebal.

Di sudut sebuah kedai kopi kecil yang kumuh, terlihat sosok wanita dengan jaket tipis yang sudah mulai robek. Itu Swari.

Wajahnya jauh lebih tirus, matanya cekung, dan bibirnya pecah-pecah karena cuaca dingin yang ekstrem.

Dalam video itu, Swari terlihat sedang mengumpulkan sisa-sisa roti dari meja pelanggan yang sudah pergi.

Ia memakan remahan itu dengan cepat, seolah takut ada yang melihat.

Tangan kanannya kemudian turun, mengelus perutnya yang mulai membuncit di balik baju yang longgar.

"Hai, malaikat kecil Mama..." suara Swari di video itu terdengar bergetar menahan tangis dan dingin.

"Maaf ya, hari ini kita cuma makan ini. Tapi Mama janji, Mama akan kerja keras biar kalian bisa lahir dengan sehat."

Tiba-tiba, Swari menatap ke arah kamera dengan tatapan yang penuh kebencian sekaligus luka yang sangat dalam. Ia menyeka air mata yang membeku di pipinya.

"Dan untuk kamu, lelaki yang sudah menghancurkan hidupku, yang membiarkanku mati di jalanan ini sendirian... entah siapa kamu, entah di mana kamu sekarang..." Swari menarik napas pendek yang sesak.

"Suatu saat, jika takdir mempertemukan kita lagi, aku akan menghancurkanmu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena membiarkan anak-anak ini menderita bersamaku."

Klik. Video berakhir.

Baskara merasa jantungnya seperti dihantam palu godam.

Ia membanting tablet itu ke lantai, lalu jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin.

Ia meraung tanpa suara, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Selama ini ia merasa sebagai korban karena Swari menghilang. Namun kenyataannya, dialah algojonya.

Ia membiarkan wanita yang ia cintai memakan makanan sisa dan kedinginan di negeri orang demi mempertahankan darah dagingnya.

"Maafkan aku, Swa. Maafkan aku," isak Baskara pecah di koridor sepi itu.

"Hancurkan aku sesukamu, tapi tolong, bangunlah dulu. Kamu belum sempat menghancurkanku secara langsung."

Rasa bersalah itu kini terasa lebih mematikan daripada ancaman Pak Handoko mana pun.

Baskara bersumpah, jika Swari bangun nanti, ia akan menjadi pelayan paling rendah di kaki wanita itu untuk menebus setiap detik penderitaan yang terekam di video tadi.

Suara isak tangis Baskara yang berat dan serak seolah menembus dinding kaca ruang ICU.

Di dalam ruangan yang steril itu, keajaiban kecil mulai terjadi.

Monitor hemodinamik yang semula menunjukkan grafik datar dan stabil, tiba-tiba bergejolak. Angka detak jantung Swari (HR) melonjak naik dari 60 ke 110.

Pip-pip-pip-pip!

Alarm monitor berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam.

Baskara tersentak, ia langsung berdiri dan menempelkan wajahnya di kaca.

Ia melihat jemari Swari yang pucat bergerak sedikit, seolah sedang berusaha menggapai sesuatu di tengah kegelapan komanya.

"Swa... Swari? Kamu dengar aku?" teriak Baskara dari balik kaca, suaranya pecah oleh harapan.

"Swa, bangun Swa! Ini aku orang yang harus kamu hancurkan itu ada di sini! Bangun dan maki aku sepuasmu, tapi jangan tinggalkan aku!"

Perawat jaga segera berlari masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi pasien. Baskara hanya bisa melihat dari luar dengan napas tertahan.

Ia melihat dokter residen memeriksa pupil mata Swari dan menyesuaikan pengaturan ventilator.

Setelah beberapa menit yang menegangkan, perawat keluar dan menghampiri Baskara yang tampak seperti mayat hidup.

"Tuan, Nona Swari menunjukkan tanda-tanda arousal atau usaha untuk sadar. Detak jantungnya bereaksi sangat kuat terhadap suara Anda. Meskipun matanya belum terbuka, otaknya mulai merespons stimulasi eksternal. Ini kemajuan yang luar biasa," jelas perawat itu dengan senyum tipis.

Mendengar hal itu, kekuatan di kaki Baskara seolah hilang.

Ia perlahan kembali duduk di kursi besi di depan ruang ICU itu.

Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan yang lebih bercahaya namun penuh sisa air mata.

"Terima kasih... terima kasih sudah berjuang kembali," bisik Baskara pada dirinya sendiri.

Ia tidak akan beranjak dari kursi itu. Ia akan tetap duduk di sana, menjadi orang pertama yang dilihat Swari saat wanita itu membuka matanya nanti, meskipun yang menantinya mungkin bukan pelukan, melainkan kemarahan besar yang telah terpendam selama enam tahun.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!