NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Di Jumat sore berikutnya, Kinanti dan Ara datang ke rumah Kirana dengan alasan sederhana.

“Ara pengin menginap dan main sama Gita,” kata Kinanti dengan nada ceria.

Kirana tersenyum. “Masuk, Mbak.”

Rafka yang baru pulang kerja terkejut melihat Kinanti duduk di ruang tamu. Ara langsung berlari memeluk kakinya.

“Om Rafka!” seru Ara riang.

Rafka tersenyum, mengangkat Ara. “Wah, ada Ara.”

Kinanti memperhatikan pemandangan itu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Ia pun mendekat.

“Papa, kok, gendong Ara, bukan gendong aku,” ucap Gita dengan lirih. Raut wajahnya terlihat sedih.

“Maafkan Papa, Gita.” Rafka pun menggendong Gita dan berputar seperti biasanya.

“Mas kelihatan capek,” kata Kinanti sambil menyodorkan minum. Jarinya menyentuh tangan Rafka sekilas.

Rafka menarik tangannya cepat. “Terima kasih.”

Kinanti pura-pura tak menyadari. Ia duduk, merapikan rambut. Gerakannya lambat, terukur. Ia memilih baju yang sederhana, tapi pas di badan. Tidak berlebihan. Cukup untuk menarik perhatian.

Kirana keluar dari dapur membawa camilan.

“Mbak, nih, ada keripik pisang ambon.”

“Wah, terima kasih, Ki,” jawab Kinanti manis.

“Sepertinya tadi aku mendengar suara Mas Rafka," ucap Kirana sambil mengedarkan pandangannya.

“Rafka sudah masuk ke dalam kamar,” balas Kinanti.

Kirana pun masuk ke kamar untuk menyiapkan segala kebutuhan suaminya.

Sepanjang sore itu, Kinanti tidak berbuat apa-apa yang mencolok. Ia hanya duduk di dekat Rafka yang ikut main sama Gita dan Ara. Dia ikut tertawa ketika pria itu tertawa. Mengangguk ketika di ajak bicara.

Dapur dipenuhi aroma bawang tumis dan santan yang mulai mengental. Kirana berdiri di depan kompor, mengaduk sayur dengan gerakan otomatis. Pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Sejak percakapan struk itu, ada sesuatu yang bergetar di dada Kirana. Bukan kemarahan, melainkan rasa tidak aman yang tidak ia mengerti bentuknya.

“Mas, nanti tolong belikan gula merah ke warung,” ucap Kirana tanpa menoleh. Niatnya dia mau membuat agar-agar gula merah.

“Ya,” sahut Rafka.

Di lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan kamar tamu, Kinanti sudah menunggu. Ia berdiri bersandar pada dinding, gaun tipis membalut tubuhnya, rambut tergerai seolah baru disisir dengan sengaja. Matanya menelisik Rafka dari kepala hingga kaki, lambat, menekan.

“Mas sini,” bisik Kinanti.

Rafka berhenti. Jantungnya berdetak keras. “Kin, Kirana lagi di dapur.”

Kinanti tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah polos. Ia meraih tangan Rafka, jemarinya hangat dan yakin.

“Sebentar saja,” kata wanita itu lembut, tapi tidak memberi ruang untuk menolak.

Tarikan itu tidak keras. Justru itulah yang berbahaya. Rafka mengikutinya, seperti orang yang tahu dirinya salah tapi sudah terlalu lelah untuk melawan.

Pintu kamar tertutup perlahan, disertai bunyi klik yang terdengar terlalu nyaring di telinga Rafka. Seolah suara itu menjadi penanda bahwa ia baru saja meninggalkan dunia yang seharusnya, dan masuk ke ruang yang tidak seharusnya ia inginkan, tapi selalu ia cari.

“Duduk, Mas!” perintah Kinanti.

Nada suaranya berubah. Bukan lagi manja, melainkan penuh kuasa.

Rafka menelan ludah, lalu menurut. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegang. Kinanti berdiri di depannya, lalu perlahan memutar badan, membelakanginya. Tangannya meraih resleting gaun, menariknya turun tanpa ragu. Kain itu meluncur ke lantai.

Rafka membeku.

“Mas,” Kinanti berbalik, menatapnya tajam. “Lihat aku.”

Kinanti melangkah mendekat, begitu dekat hingga Rafka bisa merasakan kehangatan tubuhnya, aroma parfumnya yang familiar. Aroma yang selama empat bulan terakhir menjadi pintu ke pelarian.

“Kamu gemetaran,Mas,” bisik Kinanti sambil menyentuh rahang Rafka, mengangkat wajah pria itu agar menatapnya. “Takut?”

Rafka menggeleng pelan. “Ini, salah.”

Kinanti tertawa kecil. Bukan tawa gembira, melainkan puas.

“Kalau salah, kenapa kamu masih di sini?” tanya wanita itu dengan suaranya rendah dan menggoda.

Kirana mendorong Rafka hingga berbaring. Duduk di atasnya, Kinanti mengurung ruang gerak pria itu, matanya menelan keraguan Rafka satu per satu.

“Mas tahu,” lanjutnya pelan, “kalau aku mau, aku bisa ambil semuanya.”

Rafka memejamkan mata. “Jangan ....”

“Jangan apa?” Kinanti menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Rafka. “Jangan jatuh? Jangan lupa keluarga kamu? Atau jangan terlalu menikmati aku?”

Sentuhan Kinanti bukan sekadar sentuhan. Ia menuntut. Mengklaim. Setiap usapan seolah berkata, “kamu milikku.”

Di luar kamar, Kirana mematikan kompor. Ia menghela napas, mengusap keningnya yang basah oleh keringat. “Mas?” panggilnya.

Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke arah lorong. Suasana sunyi.

“Kok, lama sekali pergi ke warungnya. Apa stok di warung juga lagi kosong?” ucap Kirana bermonolog.

Setelah setengah jam Rafka keluar dari kamar Kinanti, wajahnya pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Kancing bajunya tidak terpasang rapi. Kinanti menyusul di belakangnya, langkahnya santai, wajahnya berseri seolah baru memenangkan sesuatu.

“Kok lama?” tanya Kirana sambil menata piring di meja.

“Gulanya lagi kosong. Aku cari keliling juga sama semuanya kosong,” jawab Rafka cepat.

“Oh,” Kirana tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip formalitas daripada rasa tenang.

Kinanti ikut duduk, menyenggol lengan Rafka seolah tak sengaja. “Mas Rafka capek, Ki. Dari tadi dia keliling cari gula merah.”

Rafka tersentak. “Tidak—”

“Aku yang lihat saja,” potong Kinanti lembut. “Kasihan.”

Kirana menatap mereka bergantian. Ada sesuatu yang mengganjal, tetapi ia tidak tahu harus memegang yang mana. Ia memilih diam. Selalu diam.

Mereka semua pun makan malam bersama. Gita dan Ara memuji masakan Kirana yang sangat enak.

Malam itu, ketika Kirana terlelap karena lelah, Rafka terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, dada terasa sesak. Bayangan Kinanti, baik itu tatapan, sentuhan, atau kata-kata rayuan ketika menggoda, berputar di kepalanya.

Ponsel milik Rafka bergetar. Ada nama Kinanti di layar. Dengan malas dia buka pesan itu.

[Mas ke kamarku. Sekarang.]

Rafka menutup mata. Ia tahu ia seharusnya menghapus pesan itu. Mematikan ponsel. Memeluk istrinya. Namun, kakinya bergerak.

Di kamar Kinanti, lampu temaram menyala. Ara tertidur di ranjang kecil di sudut ruangan. Kinanti berdiri di dekat jendela, mengenakan pakaian tidur tipis.

“Akhirnaya kamu Sayang juga, Mas,” ucap Kinanti tersenyum puas.

“Ara ada di sini,” bisik Rafka gelisah.

Kinanti menoleh. “Justru itu.”

Ia mendekat. “Aku mau kamu lihat. Aku ibu yang baik. Aku jaga anakku. Aku perempuan yang lebih sempurna dari Kirana.” Tangannya menyentuh dada Rafka. “Yang tidak kamu dapatkan di rumah.”

Rafka menggeleng lemah. “Sebagai seorang kakak, kamu itu jahat.”

Kinanti tersenyum miring. “Tapi kamu suka.”

Wanita itu memeluk Rafka dari depan, erat. Rafka tidak langsung membalas, tetapi ia juga tidak melepaskan.

“Mas,” bisik Kinanti, “kalau suatu hari kamu harus memilih antata aku dan Kirana, kamu harus tahu aku tidak akan pernah melepaskan kamu.”

1
Sunaryati
Keputusan kamu sudah benar tidak menikahi Kinanti, untuk menjaga perasaan putrimu Gita, Rafka.Jika kau sadar salah taubatlah. Berika uang gono- gini untuk Kinara, sebagai ganti tabungan yang kau habiskan untuk menuruti hawa nafsu bejatmu. Berikan nafkah putrimu, segara rutin
Ila Latifah
emak kirana juga aneh sih. apakah kirana anak tiri?
Ma Em
Semangat Kirana semoga usaha Kirana makin sukses , Kirana dan Gita selalu bahagia .
Naufal Affiq
lanjut kak
Dew666
💎🍭
Rahma Inayah
betapa egois nya bu Maya SDH jls2 Kinanti yg slah merusak.rumh tangga adiknya tp ttp aja Kirana yg di benci padhl satu rahim bukan ank tiri or angkat tp kasih syg kentara berbeda
tutiana
semangat kirana 💪🏻💪🏻💪🏻
tutiana
nah,,, karmanya enak to kinanti, selamat menikmati
Asyatun 1
lanjut
tutiana
ya ampun Thor pengen ngaplok mulutnya kinanti deh
Nanik Arifin
marahmu salah alamat, Maya... hrsnya yg kau usir, kau buang dr keluarga itu Kinanti, bukan Kinara. yg mencoreng nama keluarga, yg jd pelakor itu Kinanti. semua hancur Krn ulah Kinanti. mengapa org lain yg dituding & Kinanti ttp disayang". anda waras ?? kalian emg keluarga problematik
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Tri Lestari Endah
semangat kirana 💪
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Ita rahmawati
aku bner² curiga nih kalo si kirana bukan anaknya mereka,,tp ya emang ada juga sih ortu yg kyk gtu sm anak kandungnya sekalipun,,pilih kasih dlm segala hal kepada sesama anaknya 🤦‍♀️
🌸Santi Suki🌸: 😁😁😁🤭🤭🤭
total 1 replies
Mawar
sabar kirana pasti dibalik cobaan ini pasti akan ada hikmahnya.
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Noor hidayati
orang tua yang sangat aneh mereka,lebih mementingkan kinanti,biarkan saja kirana,suatu saat kedua orang tuamu pasti membutuhkanmu,karena kinanti ga bakalan mau mengurusi mereka kalau sudah jompo
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
Mawar
kok ada ya org tua kek gitu, kasihan x nasibmu kirana padahal km gk salah apa2.
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
tutiana
harus sabaaaarrrrrrrr ngikutin kisah kirana ini
🌸Santi Suki🌸: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
ada ya ortu model bgitu, siapa yg salah siapa pula yg kena getah'y, sabar ya kir semoga kmu mndapatkn kebahagiaan dimasa depanmu
🌸Santi Suki🌸: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Sugiharti Rusli
semoga kamu dan Gita terus maju lha Ki menatap masa depan dengan segala keterbatasan yang ada dengan sikap optimis dan tidak lagi menengok ke belakang,,,
🌸Santi Suki🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Sugiharti Rusli
dan Kirana sepertinya dia sudah 'dibuang' keluarganya karena dianggap telah membuat anak kesayangan mereka terpuruk,,,
🌸Santi Suki🌸: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!