"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_26
"Maaf, Pak," Bayu mencondongkan badan sedikit ke arah polisi yang baru saja menghampiri mereka. "Tadi bapak bilang… keluarga korban kecelakaan yang dari Solo, ya?" Bayi mempertegas
"Iya, Mas," jawab polantas dua singkat.
Polantas satu kemudian ikut menimpali, nada suaranya datar tapi jelas. "Jadi begini, Mas. Hari ini ada dua kejadian kecelakaan lalu lintas. Yang pertama, korbannya beridentitas dari Solo. Yang kedua, ya keluarga mas ini, KTP-nya berasal dari Garut."
Bayu menelan ludah. "Yang dari Solo sekarang di mana, Pak?"
"Ada di ruang rawat," jawab polantas dua.
"Kita keluarga korban yang dari Solo, Pak!" pekik Narendra spontan, suaranya sedikit meninggi karena campuran panik dan penuh harap.
Polantas satu langsung mengangkat alis. "Loh? Masnya keluarga korban dari Solo? Kenapa nggak bilang dari tadi, atuh, Mas? Kenapa ikut-ikut saja waktu saya ajak ke sini?"
Narendra dan Bayu saling pandang sepersekian detik, lalu kompak nyengir kuda.
" kalau begitu, mari Pak. Saya antar ke ruang rawatnya," sambung polantas dua.
Narendra dan Bayu segera mengekor di belakang. Langkah Narendra terasa ringan. Ringan karena ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya
Ia belum tahu bagaimana kondisi kakak iparnya itu. Tapi satu hal sudah pasti: Raka masih hidup.
"Silakan masuk, Pak. Korbannya ada di dalam," ujar polantas dua sambil menunjuk pintu IGD.
Tanpa pikir panjang, Narendra langsung merangsek masuk. Bayu tertinggal sebentar untuk mengucapkan terima kasih pada petugas, lalu menyusul masuk ke dalam ruangan.
"Mas…" suara Narendra terdengar pelan namun sarat emosi.
Raka, yang sejak tadi memejamkan mata, langsung membuka kelopak matanya begitu suara itu menyentuh telinganya. Tatapannya beralih, menangkap sosok adiknya yang berdiri kaku di dekat ranjang.
Saat Narendra masuk, seorang suster jaga yang kebetulan sedang mengecek infus Raka menoleh.
"Maaf, Mas. Ini siapanya pasien?" tanyanya sopan.
"Saya adiknya, Sus," jawab Narendra cepat.
"Saya juga, Sus," timpal Bayu yang sudah berdiri di belakang Narendra.
Suster itu mengangguk kecil. "oh, syukurlah sudah ada pihak keluarga yang datang." ucap sang suster seraya tersenyum ramah
"Bagaimana keadaan kakak saya, Sus?" tanya Narendra, nada suaranya nyaris bergetar.
"Alhamdulillah, Pak. Pasien hanya mengalami luka luar. Tidak ada luka dalam. Malam ini akan kami observasi. Kalau semuanya baik, besok sudah diperbolehkan rawat jalan."
Narendra mengernyit. "Sudah di-rontgen, Sus? Cek darah dan lain-lain?" tanyanya memastikan. Dari kondisi mobil Raka, rasanya mustahil hanya ada goresan di dahi yang kini tertutup plester cokelat.
"Sudah, Pak. Hasilnya semua baik-baik saja."
"Yakin, Sus?" Narendra masih belum puas.
Raka mendengus kecil, lalu tersenyum miring. "Emang lo maunya gue gimana sih, Ren? Mati?" katanya sambil terkekeh. "Gue nggak selemah itu."
"Ya gimana saya nggak mikir ke sana, Mas," balas Narendra kesal. "Kita aja tadi hampir masuk ke ruang jenazah."
"Hah? Kok bisa?" Raka spontan membelalakkan mata.
"Alah, panjang ceritanya, Mas," sela Bayu santai. "Intinya, ini semua gara-gara keototan si Naren. Main ikut-ikut aja sama Pak Pol, padahal mbak resepsionis belum selesai ngecek Mas Raka dirawat di mana."
Belum sempat Bayu selesai tertawa, kepalanya sudah kena toyor.
"ya lo juga ikut-ikut aja Nyet," kesal Narendra.
Suster itu tersenyum tipis melihat interaksi mereka. "Baik, kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, saya pamit dulu. Oh iya, tolong salah satu keluarga ke bagian administrasi, ya, Pak. Supaya pasien bisa segera dipindahkan ke ruang rawat."
"Baik, Sus. Terima kasih," jawab Bayu.
Begitu suster pergi, Raka menatap wajah Narendra lebih saksama. "Mata lo kenapa bengkak, Dek?"
"Efek nangis dari Solo sampai Bandung," jawab Bayu enteng.
Narendra langsung melotot. "Berisik lo!"
"Hahahaha…" Raka tertawa lepas. "Sesayang itu, ya, lo sama gue?"
"Bukan," jawab Narendra datar. "Gue cuma nggak mau Rayna sedih. Kalau dia sampai stres, nanti bisa berpengaruh sama proses perkembangbiakan bibit-bibit unggul gue." celetuk Narendra
Raka makin terbahak, sementara Bayu hanya menggeleng-geleng, tak habis pikir dengan keasbunan sohibnya itu.
drrttt… drrttt…
Ponsel Bayu bergetar. Nama Ardi terpampang di layar.
"Halo, Ar," Bayu mengangkat telepon.
"Ini Rayna, Mas Bayu," terdengar suara di seberang. "Dari tadi saya telpon HP Mas Naren nggak bisa."
"Oh, Rayna. Iya, ini HP-nya aku kasih ke Narendra ya," ujar Bayu sambil mengulurkan ponsel.
Begitu mendengar nama Rayna, hati Narendra terasa menghangat tanpa aba-aba. Ia langsung menyambar ponsel itu.
"Halo, Na," ucapnya.
"Mas, kamu itu ya…" suara Rayna terdengar gemetar menahan emosi. "Aku kan udah bilang, HP jangan dimatiin. Harus cepet angkat telepon, bales pesan. Kamu bikin aku khawatir, tau nggak? Udah Mas Raka belum jelas kabarnya, ditambah kamu nggak bisa dihubungin. Aku hampir gila!" cicit Rayna tanpa jeda. lucu rasanya mendengar Rayna yang biasanya irit bicara jadi cerewet begini
"Iya, maaf," jawab Narendra cepat. "Begitu sampai rumah sakit, aku langsung ngurusin Mas Raka. Jadi nggak sempat lihat HP."
Itu dusta. Sebenarnya ia sengaja mematikan ponsel agar Ajeng tak terus-menerus menelepon.
"Jadi kamu udah ketemu Mas Raka? Gimana keadaannya sekarang?" tanya Rayna.
"Dek, alihin ke video call. Mbak pengen lihat kondisi Mas Raka," kini suara Fatma terdengar.
Tak lama, layar berubah. Video call tersambung.
Rayna terpaku saat melihat visual Narendra di layar. Rambut yang tadi pagi tersisir rapi oleh gel kini lemas dan sedikit acak. Dasi sudah terlepas, kerah kemeja terbuka dengan satu kancing yang sengaja dibiarkan.
Masyaallah… anak orang ganteng banget. Dosa nggak sih kalau gue pengen kelo— batin Rayna terpotong.
"Kedip, Dek."
Rayna terkesiap. Wajah kakaknya kini memenuhi layar.
Narendra terkekeh kecil melihat ekspresi Rayna. Namun senyumnya memudar saat menyadari Bayu menatapnya dengan sorot mata penuh arti.
"Kenapa?" bisik Narendra.
"Nggak apa-apa," balas Bayu pelan. "Enak, ya, dikhawatirin istri? Itu hati yakin masih aman?" ejek Bayu
"Apaan sih," desis Narendra. "Hati gue cuma punya Ajeng."
"Yakin?" Bayu menyeringai. "Bukannya lo matiin HP biar Ajeng nggak nelpon terus, dan lo bisa fokus bantuin keluarga Rayna?"
Narendra terdiam.
Iya juga ya… batinnya. Selama ini nggak pernah sekalipun gue sengaja nggak angkat telepon Ajeng. Tapi sekarang… kok enteng banget gue matiin HP cuma biar dia nggak nelpon?
Di layar, Raka, Rayna, dan Fatma masih saling melepas tangis karena kekhawatiran yang sempat membuat mereka nyaris gila tadi. Hingga tiba-tiba terdengar suara lain.
"Mamah!" seru Rayna.
Narendra refleks mendongak ke layar. Terlihat Farah memeluk Rayna, lalu merangkul Fatma.
"Ini Narendra yang nelpon?" tanya Farah.
Raka mengarahkan kamera ke wajah Narendra. "Iya, Mah."
"Nih, Mamah udah datang," ujar Farah ceria. "Jadi jangan teror Mamah terus buat cepet-cepet nemenin Rayna. Tadi Mamah nggak angkat telepon kamu karena lagi buru-buru nyelesain kerjaan. Malam ini Mamah nginep di sini."
"Apaan sih, Mah. Siapa juga yang neror," protes Narendra, jelas salting.
Rayna mengulum senyum. Apa iya Naren seperhatian itu? batinnya heboh.
Setelah panggilan berakhir, Narendra segera mengurus administrasi. Beberapa saat kemudian, Raka dipindahkan ke ruang VVIP.
Raka dan Bayu sudah terlelap. Namun Narendra belum juga mengantuk. Ia menyalakan ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dari Ajeng memenuhi layar.
Otaknya menyuruh menelepon balik. Tapi hatinya… menyebut nama lain.
Dan jari jempolnya memilih patuh pada hati.
"Halo, Assalamualaikum," suara Rayna terdengar merdu.
Narendra terdiam sesaat. Bahkan ia sendiri bingung kenapa menelepon Rayna.
"Halo, Mas?"
"Eh… iya. Udah tidur?" tanyanya dingin menutupi grogi.
"Belum. Ini lagi jagain Mbak Fatma. Tadi perutnya sempat kram."
"Mamah udah tidur?"
"Udah. Sebenarnya Mama mau nemenin, tapi aku larang. Kasihan, kelihatan capek banget."
"Kamu kok belum tidur?"
"Ini mau tidur," jawab Narendra pasrah.
"Mas," panggil Rayna.
"Hmm?"
"Makasih, ya. Kamu mau ambil peran sebagai adik ipar dan menantu yang baik. Meskipun kamu nggak nganggep aku istri, tapi kamu tetap mau nganggep keluargaku sebagai keluarga kamu."
"Sama-sama," jawab Narendra lirih, lalu menutup panggilan.
Ada perih tipis menyapa hatinya.
"Setelah urusan Mas Raka kelar… aku harus cari tahu tentang riwayat kesehatan Rayna yang sebenarnya," gumam Naren pelan.
plisss dong kk author tambah 1 lagi