“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Naya melemparkan ponselnya ke lantai hingga hancur, dadanya naik-turun, matanya memerah, dan tangannya mengepal kuat hingga tubuhnya sedikit gemetar.
“Beraninya dia mengabaikan aku, bahkan sampai detik ini dia belum menyentuhku. Apa segitu istimewa Alisha baginya? Aku lihat tidak ada yang bagus dari perempuan itu,” gerutunya lalu melempar sebuah vas bunga ke lantai.
Keributan yang disebabkan oleh Naya di dalam kamar memancing perhatian Irma yang kebetulan lewat di depan kamar anaknya. Irma mengetuk pintu kamar itu, takut jika ada apa-apa dengan Naya.
Naya melirik ke arah pintu saat mendengar suara Irma menanyakan dirinya. Dia memutar malas bola mata lalu mendengus kesal.
“Wanita tua itu kenapa selalu ikut campur urusanku? Kenapa juga dia malam-malam begini harus ke sini?” geramnya lalu mengatur kondisi wajah agar tidak terlihat menahan amarah lagi. Dia memperbaiki penampilan dan berusaha tersenyum agar Irma tidak curiga.
Perlahan Naya berjalan ke arah pintu dan membukanya, Irma melirik ke arah kamar dan terkejut karena sedikit berantakan.
“Kamu habis apa, Nay? Kok berantakan begini?” tanya Irma pada Naya yang terlihat sedih.
“Aku gak sengaja nyenggol vas itu, Ma. Terus aku kepeleset saat menghubungi Mas Albi, eh ponselnya malah jatuh dan pecah,” alasan Naya yang cukup diterima oleh Irma.
“Ooh Mama kira ada apa. Lain kali hati-hati nak. Apa yang sakit? Ada yang butuh Mama obati?” Naya tersenyum lagi dan menggeleng pelan.
“Gak ada, Ma. Aku hanya butuh istirahat aja.”
“Ya sudah, Mama ke kamar dulu. Kalau ada apa-apa segera panggil Mama ya.”
“Iya Ma.”
Ketika Irma melangkah pergi dan membelakangi Naya, senyum ramah itu langsung berubah menjadi tatapan mengerikan dan ekspresi kejam. Adipati yang baru saja mencapai lantai dua, dia berdiri sejenak di tangga dan menangkap keanehan dari perubahan wajah menantunya itu. Saat akan melangkah lagi, perkataan Naya justru membuat dia terdiam. “Dasar mertua sialan, mengganggu ketenanganku saja. Aku kesal begini karena anaknya dan dia malah menanyakan aku kenapa, harusnya dia menghubungi anak sialannya itu dan menyuruhnya untuk lebih menghargai aku sebagai istri. Dasar brengsek.” Naya mengumpat habis-habisan pada Irma yang tidak lagi ada di dekatnya.
Naya masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan sedikit membantingnya. Adipati melangkah menaiki tangga lagi dan langsung saja menuju ke dalam kamarnya sendiri.
“Pa, udah merokoknya?” tanya Irma dengan ramah ketika duduk di depan meja rias menyisir rambut.
“Udah, Ma. Kenapa belum tidur?” tanya Adipati kembali sambil mendekati istrinya.
“Tadi Mama udah tidur, tapi suara gaduh dari kamar Naya membuat Mama khawatir, makanya Mama cek ke sana dan gak ada apa-apa.” Adipati mengangguk-anggukkan kepalanya dan mencium puncak kepala Irma sebelum berjalan ke arah ranjang.
Dia masih menyembunyikan apa yang dia dengar dari Naya tadi dari Irma. Adipati ingin memastikan kalau Naya dan Albiru tidak ada masalah, tapi yang membuat Adipati kehilangan respek adalah saat Naya mengeluarkan umpatan mengenai anak dan istrinya. Adipati adalah pria yang sangat menyayangi keluarganya, terlebih lagi Irma. Sangat marah dia jika keluarganya diumpat begitu oleh orang luar walau hanya sekedar menantu padahal selama ini mereka sudah berbuat baik pada Naya.
...***...
Albiru menyiapkan sarapan untuk Alisha yang saat ini masih tidur. Albiru meminta izin pada Arta agar Alisha bisa istirahat hari ini, izin itu didapatkan tentunya. Alisha menggeliat pelan dan membuka matanya, dia melirik ke samping tempat tidur dan aroma tubuh Albi masih tinggal di sana.
Alisha memiringkan tubuhnya dan mengelus bekas tempat Albiru tidur semalam, air matanya perlahan menetes mengingat bagaimana dia harus berpisah dengan kekasihnya itu dan bagaimana dia harus menahan hati ketika melihat Albiru merindukannya.
Pintu kamar terbuka perlahan, Alisha langsung duduk dan tersenyum pada Albiru yang sedang membawakan nampan berisi makanan untuknya.
“Kita makan di luar saja, tidak perlu di dalam kamar begini, Bi.”
“Kamu mau makan di luar?” Alisha mengangguk. “Ya udah, aku tunggu di ruang makan ya.”
“Aku cuci muka dulu.”
Albiru membawa kembali makanan itu dan menatanya di atas meja. Saat Alisha keluar dengan wajah segar, mereka langsung duduk dan menyantap makanan tersebut. Albiru menyuapi Alisha seperti semasa mereka pacaran dulu. Senyuman dan kerinduan dari mereka berdua terlepas setelah sekian lama menahannya.
“Kamu yang masak ya?” tanya Alisha.
“Bukan. Aku beli.”
“Bohong, aku hafal sekali rasa masakan kamu, Bi.” Albiru tertawa ringan lalu kembali menyuapi Alisha dengan makanan.
Selesai sarapan, Alisha bersiap untuk ke kantor tapi dihalangi oleh Albiru. “Aku sudah minta izin sama bos kamu tadi, lebih baik kita pergi ke rumah sakit aja.”
“Loh, kok kamu malah izinin aku?”
“Aku liat kamu lelah dan kamu harus ke rumah sakit juga kan? Makanya aku izinin kamu.”
“Makasih ya, Bi.”
“Iya sayang. Kita ke rumah sakit bareng ya.”
“Kamu nggak kerja?”
“Enggak. Aku mau nemenin kamu.” Alisha tersenyum hangat lalu memeluk tubuh tegal Albiru yang sangat dia rindukan itu. Alisha mengenyampingkan kalau Albiru sekarang adalah suami dari seseorang dan dirinya seperti seorang selingkuhan.
...***...
Di Jakarta, Naya menerima sebuah foto kebersamaan Albiru dengan Alisha saat memasuki rumah sakit. Naya yang geram langsung menghubungi Kevin—pria yang dia tugaskan untuk memantau Alisha.
“Kenapa mereka bisa bersama?” hardik Naya, suaranya sudah bergetar karena menahan amarah.
“Saya tidak mengerti kenapa bisa bersama, Non. Tapi orang-orang kita tidak bisa mendekati Alisha dan kedua orang tuanya karena mereka dijaga oleh orang-orang Albiru. Mereka semua sangat banyak dan sangat hati-hati.” Naya memutuskan panggilan begitu saja lalu memukul-mukul kepalanya karena merasa tak berguna. Dia takut kalau Alisha buka suara mengenai perbuatannya selama ini dan Albiru akan menceraikannya.
“Ini gak bisa dibiarin, aku harus susul suamiku segera sebelum Alisha mengatakan semuanya dan aku akan hancur,” lirihnya dengan mata memerah.
Naya bersiap untuk menyusul Albiru ke Bandung, dia melewati Irma yang duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat.
“Nay, mau ke mana kamu?” Naya mendengus kesal ditegur begitu oleh Irma. Dia berbalik dan tersenyum seperti biasa layaknya seorang menantu yang baik hati.
“Aku mau nyusul Mas Albi ke Bandung, Ma. Tadi Mas Albi telfon dan suruh aku ke sana.” Irma berdiri dan mendekati Naya.
“Kamu sendirian?”
“Iya Ma, aku bisa kok.”
“Kalau kamu disuruh ke sana, berarti Albiru akan lama di Bandung.”
“Bisa jadi, Ma. Makanya dia suruh aku nyusul ke sana.”
“Ya udah, kamu hati-hati ya, udah nyampe langsung kabari Mama.” Naya mengangguk lalu menyalami Irma dan memasuki mobil yang sudah dia pesan untuk ke bandara.
Di dalam mobil, Naya menghapus bekas salaman tadi dengan rasa jijik. “Dasar wanita tua sialan, selalu aja ingin tau urusanku.” Lagi-lagi Naya mengumpat Irma.
Naya menghubungi Albiru berkali-kali tapi tidak diangkat karena Albiru membisukan panggilan dari istrinya tersebut. Naya menggenggam kuat ponselnya dan berkata pelan, “Awas aja kamu, Alisha. Sudah dibebaskan malah membuat ulah lagi. Beraninya kau menjadi pelakor dalam rumah tanggaku.”