NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: MEMBANGUN TIM PERTAMA

#

Bayu balik ke arena dengan tas ransel penuh uang. Tekong udah nunggu di kamarnya. Wajahnya serius.

"Lu dapet uang dari mana?" tanya Tekong langsung. Nggak basa-basi.

Bayu lempar tas itu ke kasur. Terbuka. Tumpukan uang kelihatan.

Tekong melotot. "Dua ratus juta? Lu... lu rampok bank?"

"Lebih parah. Gue berhutang sama rentenir paling kejam di kota ini."

Tekong menatapnya nggak percaya. "Lu gila? Pak Harto? Lu berurusan sama Pak Harto?!"

"Gue nggak punya pilihan."

"Lu punya pilihan! Lu bisa tunggu, nabung dari tarung, pelan-pelan!"

Bayu menggeleng. "Gue nggak punya waktu. Misi sistem tinggal dua hari. Kalau gue nggak selesaiin... gue mati."

Tekong terdiam. Napas panjang keluar. Dia duduk di kursi. Garuk kepala frustasi.

"Oke. Udah kejadian. Nggak bisa dibatalin." Dia menatap Bayu. "Terus sekarang apa?"

"Sekarang... gue butuh orang."

"Orang?"

"Tim. Gue nggak bisa jalan sendiri. Gue butuh orang yang bisa dipercaya. Yang kuat. Yang... nggak takut kotor tangan."

Tekong mengangguk pelan. "Lu mau bikin apa? Geng?"

"Bukan geng. Lebih ke... organisasi kecil. Buat ngerjain job-job yang Pak Harto kasih. Dan... job lain yang gue butuhin buat hancurin keluarga Samudera."

Tekong menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis. "Lu... serius mau perang sama mereka."

"Gue udah terlalu jauh buat mundur."

"Oke." Tekong berdiri. "Gue kenal beberapa orang. Orang-orang yang... seperti gue. Pernah jaya. Sekarang jatuh. Butuh tujuan."

"Mereka bisa dipercaya?"

"Mereka desperate. Dan orang desperate... paling loyal. Asal lu kasih mereka harapan."

Bayu mengangguk. "Atur pertemuan. Besok malam. Di sini."

***

Malam berikutnya. Arena tutup lebih awal. Pak Guntur udah dikasih tau, dia izinkan.

Di ruang belakang arena, lima orang berkumpul. Duduk di kursi-kursi kayu lusuh. Asap rokok tipis mengepul.

Pertama, Tekong. Udah jelas. Tangan kanan Bayu.

Kedua, pria tinggi kurus. Umur sekitar empat puluhan. Rambut panjang diikat. Bekas luka bakar di leher. Namanya Wahyu. Mantan tentara. Dipecat karena kasus pemukulan atasan. Sekarang jadi debt collector freelance.

Ketiga, pemuda muda. Mungkin sebaya Bayu. Wajah pucat. Kacamata tebal. Jari-jari panjang. Namanya Rizki. Hacker amatir. Pernah masuk penjara setahun karena bobol ATM. Keluar nggak ada yang mau nerima kerja.

Keempat, wanita. Umur tiga puluhan. Rambut pendek. Mata tajam. Tubuh atletis. Namanya Sari. Mantan polisi. Dipecat karena nolak ikut korupsi. Sekarang jadi bodyguard ilegal.

Kelima, pria gemuk pendek. Botak. Kumis tipis. Senyum lebar tapi matanya dingin. Namanya Budi. Debt collector juga. Terkenal sadis. Pernah patahkan kaki penghutang pakai palu.

Mereka semua menatap Bayu yang berdiri di depan.

"Kenapa lu kumpulin kita?" tanya Wahyu langsung. Suaranya berat. Dalam.

Bayu menatap mereka satu per satu. "Karena gue butuh tim. Tim yang nggak takut mati. Nggak takut kotor tangan. Dan... nggak akan nusuk dari belakang."

Sari menyilangkan tangan. "Apa untungnya buat kita?"

"Uang. Banyak. Dan... tujuan."

"Tujuan?" Rizki dorong kacamatanya. "Tujuan apa?"

"Menghancurkan orang-orang yang harusnya dihancurkan."

Budi tertawa. "Wah, heroik. Tapi gue nggak peduli heroik atau nggak. Gue cuma peduli... berapa bayarannya?"

Bayu berjalan ke meja. Buka tas ransel. Keluarin tumpukan uang.

"Sepuluh juta per orang. Sekarang. Sebagai tanda jadi."

Mereka semua terdiam. Menatap uang itu.

"Dan... kalau job selesai, setiap orang dapet dua puluh juta lagi."

Wahyu bersiul pelan. "Tiga puluh juta total? Buat satu job?"

"Bukan job sembarangan. Job berbahaya. Bisa mati."

"Job apa?" tanya Sari.

Bayu menatap mereka serius. "Rampok gudang narkoba."

Hening.

Lalu Budi tertawa keras. "Lu gila! Gudang narkoba dijaga ketat! Banyak senjata! Kita bisa mati!"

"Makanya bayarannya gede."

Wahyu maju. "Gudang siapa?"

Bayu terdiam sebentar. Lalu jawab pelan. "Milik Valerie Samudera."

Sari terlonjak. "Valerie Samudera? Istri kedua Arjuna Samudera? Pemilik Samudera Group?!"

Bayu mengangguk.

"Lu bener-bener gila!" Sari berdiri. "Mereka punya koneksi ke polisi! Ke mafia! Kalau kita ketahuan, kita semua mati!"

"Kalau kita nggak ketahuan?"

Sari terdiam.

"Gue punya info. Gue tau jadwal pengiriman. Gue tau jumlah penjaga. Gue tau sistem keamanan mereka." Bayu menatap satu per satu. "Gue udah rencanain semua. Yang gue butuhin cuma... eksekutor."

Rizki angkat tangan pelan. "Eh... gue... gue nggak bisa nembak. Gue cuma... bisa komputer."

"Lu nggak perlu nembak. Lu cuma perlu matiin kamera keamanan sama alarm. Bisa?"

Rizki mikir sebentar. Lalu ngangguk. "Kalau gue punya akses ke sistem mereka... bisa."

"Gue kasih akses."

Wahyu berdiri. Berjalan ke depan Bayu. Menatap dari dekat.

"Lu... siapa sebenernya? Kenapa lu mau ngelawan keluarga Samudera?"

Bayu menatap balik. "Itu bukan urusan lu. Yang penting... lu dapet bayaran."

Wahyu tersenyum tipis. "Gue suka jawaban jujur." Dia ulurin tangan. "Gue ikut."

Budi ikutan berdiri. "Gue juga. Uang segitu... gue bisa bayar hutang gue semua."

Rizki ngangguk. "Gue... gue ikut. Tapi gue nggak mau turun langsung. Gue cuma dari jauh."

"Oke."

Sari masih ragu. Dia menatap Bayu lama. Lalu ke uang di meja.

"Gue... gue punya anak. Umur lima tahun. Kalau gue mati... dia sendirian."

Bayu terdiam. Sesuatu di dadanya terasa... sesak.

Memori Kenzo muncul. Kenzo kecil sendirian di kamar. Ibunya udah meninggal. Ayahnya nggak peduli.

"Aku sendirian... aku nggak punya siapa-siapa..."

Bayu menatap Sari. "Kalau lu nggak mau ikut, gue ngerti. Gue nggak akan maksa."

Sari menutup matanya. Napas panjang.

Lalu dia buka matanya. Menatap Bayu tajam.

"Gue ikut. Tapi... lu jamin anak gue aman. Kalau gue mati, lu kasih dia uang buat sekolah sampe kuliah."

Bayu ngangguk. "Gue janji."

Sari ulurin tangan. "Deal."

Bayu jabat tangannya. Kuat.

"Bagus." Bayu berbalik ke semua orang. "Mulai sekarang, kita tim. Kita saling jaga. Kalau ada yang nusuk dari belakang..." Dia menatap dingin. "Gue yang bunuh sendiri."

Nggak ada yang tertawa. Mereka semua tau... Bayu serius.

"Sekarang... dengarkan rencananya."

Bayu buka laptop. Tampilkan peta digital gudang narkoba milik Valerie.

"Gudang ini di pinggiran kota. Jauh dari pemukiman. Penjaga biasanya lima orang. Dua di depan. Dua di belakang. Satu di dalam."

Rizki menatap layar. "Kamera?"

"Delapan. Semua terhubung ke server lokal. Nggak online."

"Gampang. Gue bisa matiin dari server langsung."

"Bagus." Bayu zoom ke bagian belakang gudang. "Ini pintu belakang. Nggak ada kamera. Cuma penjaga dua orang."

Wahyu mengangguk. "Gue sama Budi beresin mereka. Diam-diam."

"Setelah pintu belakang aman, Sari masuk duluan. Pastiin aman. Lalu kasih signal."

Sari mengangguk.

"Tekong dan gue masuk terakhir. Ambil barangnya. Keluar cepat."

"Berapa lama?" tanya Tekong.

"Maksimal sepuluh menit. Kalau lebih... polisi bisa dateng."

Wahyu menggaruk dagu. "Terus barangnya mau dibawa ke mana?"

"Gue udah siapin tempat. Gudang kosong di pelabuhan. Aman."

"Terus... setelah itu?"

Bayu tersenyum dingin. "Gue bakar semuanya."

Mereka semua menatap bingung.

"Bakar? Kenapa nggak dijual?" tanya Budi.

"Karena gue nggak butuh uang dari narkoba. Gue cuma butuh... bukti kalau Valerie kehilangan barang berharga. Dan... chaos."

Sari mulai ngerti. "Lu... lu mau bikin dia panik."

"Bukan cuma panik. Gue mau dia... perang sama suppliernya sendiri. Karena dia kehilangan barang senilai miliaran."

Tekong tersenyum. "Lu... jahat juga."

"Gue belajar dari yang terbaik."

Bayu menutup laptop. "Besok malam. Jam dua belas. Kita eksekusi."

Semua orang mengangguk.

"Ambil uang kalian. Istirahat. Besok... kita mulai perang."

Satu per satu mereka ambil uang. Sepuluh juta masing-masing.

Lalu mereka pergi. Meninggalkan Bayu dan Tekong.

Tekong menatap Bayu. "Lu yakin sama mereka?"

"Nggak. Tapi gue nggak punya pilihan."

"Kalau ada yang ngkhianatin?"

Bayu menatapnya dingin. "Gue bunuh."

Tekong mengangguk. "Oke. Gue percaya lu."

Malam itu...

Tim pertama Bayu terbentuk.

Lima orang. Desperate. Berbahaya. Loyal karena uang.

Tapi... cukup buat mulai perang.

Perang melawan keluarga yang pernah buang Kenzo kayak sampah.

Dan besok malam...

Perang itu... dimulai.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!