Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tes Kejiwaan
"Ini Adrian. Teman kuliahku. Dia kebetulan lewat, jadi aku ajak makan malam."
Kairo berdiri di ambang pintu, suaranya kaku. Di sampingnya, seorang pria berkacamata dengan senyum terukur berdiri canggung.
Elena membiarkan mereka menunggu, matanya tetap terpaku pada tablet. Taktik negosiasi dasar: biarkan lawan menunggu. Perlahan, dia mendongak.
Mata Adrian tidak menatapnya seperti pria menatap wanita. Mata itu memindai. Menganalisis.
"Teman kuliah," ulang Elena, tersenyum tipis. "Jurusan apa? Bisnis? Atau... Psikologi?"
Senyum Adrian menegang sesaat. "Manajemen, Nyonya Sora. Sama seperti Kairo," jawabnya cepat, mengulurkan tangan.
Elena menyambut sekilas, lalu melepaskannya seolah berdebu.
"Silakan duduk. Maaf makanannya sederhana. Koki dipecat karena korupsi wagyu, jadi kita pesan katering sehat."
Suasana makan malam hening mencekam. Denting garpu terdengar seperti pedang beradu.
"Jadi..." Adrian membuka percakapan, suaranya lembut ala hipnoterapis. "Kairo cerita kamu baru mengalami... insiden. Masih sering merasa cemas?"
Elena memotong cherry tomato dengan presisi bedah.
"Insiden itu namanya 'percobaan bunuh diri gagal karena kurang riset', Adrian. Sebut saja namanya. Dan soal perasaan? Aku lapar. Cemas itu untuk orang tanpa rencana. Aku punya rencana."
Kairo tersedak air minumnya, melirik Adrian.
Adrian berdehem, memperbaiki posisi. "Rencana apa? Belanja tas baru? Kairo bilang kamu pernah menangis seharian karena tas Hermia lecet. Ingat?"
Elena meletakkan pisau garpunya. Ini tes ingatan.
"Tas itu benda mati, Adrian. Kulit hewan dijahit, diberi merek, di-markup seribu persen untuk ego. Menangisi benda mati adalah inefisiensi emosi. Sora yang dulu mungkin bodoh, tapi manusia berevolusi. Apa salahnya aku berhenti jadi bodoh?"
"Bukan salah," Adrian menyela, jarinya mulai mengetuk meja. Ketuk. Ketuk. Ketuk. "Cuma... perubahan drastis biasanya dipicu trauma atau disosiasi. Kamu merasa ada suara di kepalamu?"
Elena tidak menjawab. Dia mengamati ketukan jari Adrian, lalu matanya turun ke tangan kiri pria itu. Ada bekas garis putih melingkar di jari manis. Kulit sekitarnya merah.
"Dokter Adrian," panggil Elena tiba-tiba.
Adrian tersentak. "Ya?"
"Anda sering mengetuk meja seperti itu kalau gugup menghadapi pasien sulit?"
Wajah Adrian memucat. "Sa... saya bukan dokter. Saya jurusan Manajemen..."
"Jangan menghina kecerdasanku," potong Elena dingin. "Bahasa tubuhmu berteriak 'psikiater klinis'. Intonasi rendah, tatapan mencari pupil membesar. Itu teknik dasar wawancara psikiatri."
Elena condong ke depan, tatapannya jauh lebih mengintimidasi.
"Dan bicara soal kecemasan... Dokter sendiri sedang tidak baik-baik saja. Bekas cincin di jari manis itu baru. Anda baru bercerai? Atau pisah ranjang karena selingkuh? Ketukan jari itu tanda anxiety. Dokter yang butuh terapi, bukan saya."
Prang.
Garpu Adrian jatuh. Dia menatap Elena dengan mulut terbuka. Analisis itu telak. Adrian memang baru digugat cerai minggu lalu dan menyembunyikannya dari semua orang.
Kairo mengerutkan kening. "Adrian? Benar kata Sora?"
Adrian tidak menjawab Kairo. Dia menatap Elena dengan horor bercampur kagum, lalu mendesis pada Kairo.
"Kairo, istrimu tidak gila. Dia jenius. Kemampuan deduksinya di atas rata-rata. Atau mungkin..." Adrian menelan ludah. "Selama ini dia pura-pura bodoh untuk memanipulasimu. Hati-hati, Kawan. Kau tidur dengan musuh yang pintar."
Kairo terdiam, menoleh perlahan ke arah Elena.
Elena sudah tidak peduli. Dia mengambil apel dan pisau buah. Dengan gerakan stabil, dia mengupas kulit apel tanpa putus. Sreeet...
Kairo ingat Sora tidak becus memegang pisau. Tapi wanita ini... gerakannya mantap, kuat, berbahaya. Rasa jijik Kairo lenyap, digantikan rasa penasaran yang membakar. Dia melihat lawan sepadan.
Elena memakan apel dengan bunyi krak renyah.
"Kenapa diam? Analisisnya sudah selesai?" tanya Elena santai. "Kesimpulannya apa, Dokter? Saya psikopat? Atau cuma wanita waras di pernikahan sirkus?"
Adrian buru-buru membereskan tasnya. Dia merasa ditelanjangi.
"Saya... saya harus pergi, Kairo. Ada urusan. Pengacaraku menelepon." Adrian berdiri gugup, menghindari tatapan Elena.
"Tunggu, Adrian," panggil Kairo, tapi Adrian sudah kabur.
"Semoga sukses sidang cerainya, Dokter!" seru Elena riang.
Pintu tertutup. Hening kembali.
"Kau sengaja melakukannya," kata Kairo rendah.
"Menebak masalah rumah tangga temanmu? Itu jelas di wajahnya. Orang tidak bahagia pintar mengenali sesamanya."
Kairo berjalan mendekat, mengurung Elena di kursinya.
"Kau menakutkan, Sora. Kau tahu itu?"
"Aku anggap itu pujian." Elena mendongak menantang.
"Dulu kau bodoh, manja, cengeng. Sekarang kau bicara corporate restructuring dan menganalisis psikiater. Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan?"
Elena tersenyum miring, menempelkan potongan apel ke bibir Kairo. "Makanlah. Buah bagus untuk menurunkan darah tinggi akibat curiga."
Kairo menepis tangan Elena. Apel jatuh ke lantai. "Jawab aku!"
Elena menghela napas bosan, mendorong kursinya mundur.
"Aku sudah jawab berkali-kali, tapi otakmu terlalu keras menerima fakta." Dia melangkah menjauh.
"Mau kemana kau?" tanya Kairo frustrasi.
Elena berhenti di ambang pintu, menoleh malas.
"Sudah selesai tes IQ-nya, kan? Aku lulus, temanmu gagal. Aku mau ke kamar, nonton Netflix. Drama kalian membosankan, aku butuh hiburan berkualitas."
Dia menghilang ke balik tangga, meninggalkan Kairo sendirian dengan jantung berpacu dan satu pertanyaan besar: Bagaimana cara menaklukkan wanita ini?
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor