NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: tamat
Genre:CEO / Fantasi Wanita / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tes Kejiwaan

​"Ini Adrian. Teman kuliahku. Dia kebetulan lewat, jadi aku ajak makan malam."

​Kairo berdiri di ambang pintu, suaranya kaku. Di sampingnya, seorang pria berkacamata dengan senyum terukur berdiri canggung.

​Elena membiarkan mereka menunggu, matanya tetap terpaku pada tablet. Taktik negosiasi dasar: biarkan lawan menunggu. Perlahan, dia mendongak.

​Mata Adrian tidak menatapnya seperti pria menatap wanita. Mata itu memindai. Menganalisis.

​"Teman kuliah," ulang Elena, tersenyum tipis. "Jurusan apa? Bisnis? Atau... Psikologi?"

​Senyum Adrian menegang sesaat. "Manajemen, Nyonya Sora. Sama seperti Kairo," jawabnya cepat, mengulurkan tangan.

​Elena menyambut sekilas, lalu melepaskannya seolah berdebu.

​"Silakan duduk. Maaf makanannya sederhana. Koki dipecat karena korupsi wagyu, jadi kita pesan katering sehat."

​Suasana makan malam hening mencekam. Denting garpu terdengar seperti pedang beradu.

​"Jadi..." Adrian membuka percakapan, suaranya lembut ala hipnoterapis. "Kairo cerita kamu baru mengalami... insiden. Masih sering merasa cemas?"

​Elena memotong cherry tomato dengan presisi bedah.

​"Insiden itu namanya 'percobaan bunuh diri gagal karena kurang riset', Adrian. Sebut saja namanya. Dan soal perasaan? Aku lapar. Cemas itu untuk orang tanpa rencana. Aku punya rencana."

​Kairo tersedak air minumnya, melirik Adrian.

​Adrian berdehem, memperbaiki posisi. "Rencana apa? Belanja tas baru? Kairo bilang kamu pernah menangis seharian karena tas Hermia lecet. Ingat?"

​Elena meletakkan pisau garpunya. Ini tes ingatan.

​"Tas itu benda mati, Adrian. Kulit hewan dijahit, diberi merek, di-markup seribu persen untuk ego. Menangisi benda mati adalah inefisiensi emosi. Sora yang dulu mungkin bodoh, tapi manusia berevolusi. Apa salahnya aku berhenti jadi bodoh?"

​"Bukan salah," Adrian menyela, jarinya mulai mengetuk meja. Ketuk. Ketuk. Ketuk. "Cuma... perubahan drastis biasanya dipicu trauma atau disosiasi. Kamu merasa ada suara di kepalamu?"

​Elena tidak menjawab. Dia mengamati ketukan jari Adrian, lalu matanya turun ke tangan kiri pria itu. Ada bekas garis putih melingkar di jari manis. Kulit sekitarnya merah.

​"Dokter Adrian," panggil Elena tiba-tiba.

​Adrian tersentak. "Ya?"

​"Anda sering mengetuk meja seperti itu kalau gugup menghadapi pasien sulit?"

​Wajah Adrian memucat. "Sa... saya bukan dokter. Saya jurusan Manajemen..."

​"Jangan menghina kecerdasanku," potong Elena dingin. "Bahasa tubuhmu berteriak 'psikiater klinis'. Intonasi rendah, tatapan mencari pupil membesar. Itu teknik dasar wawancara psikiatri."

​Elena condong ke depan, tatapannya jauh lebih mengintimidasi.

​"Dan bicara soal kecemasan... Dokter sendiri sedang tidak baik-baik saja. Bekas cincin di jari manis itu baru. Anda baru bercerai? Atau pisah ranjang karena selingkuh? Ketukan jari itu tanda anxiety. Dokter yang butuh terapi, bukan saya."

​Prang.

​Garpu Adrian jatuh. Dia menatap Elena dengan mulut terbuka. Analisis itu telak. Adrian memang baru digugat cerai minggu lalu dan menyembunyikannya dari semua orang.

​Kairo mengerutkan kening. "Adrian? Benar kata Sora?"

​Adrian tidak menjawab Kairo. Dia menatap Elena dengan horor bercampur kagum, lalu mendesis pada Kairo.

​"Kairo, istrimu tidak gila. Dia jenius. Kemampuan deduksinya di atas rata-rata. Atau mungkin..." Adrian menelan ludah. "Selama ini dia pura-pura bodoh untuk memanipulasimu. Hati-hati, Kawan. Kau tidur dengan musuh yang pintar."

​Kairo terdiam, menoleh perlahan ke arah Elena.

​Elena sudah tidak peduli. Dia mengambil apel dan pisau buah. Dengan gerakan stabil, dia mengupas kulit apel tanpa putus. Sreeet...

​Kairo ingat Sora tidak becus memegang pisau. Tapi wanita ini... gerakannya mantap, kuat, berbahaya. Rasa jijik Kairo lenyap, digantikan rasa penasaran yang membakar. Dia melihat lawan sepadan.

​Elena memakan apel dengan bunyi krak renyah.

​"Kenapa diam? Analisisnya sudah selesai?" tanya Elena santai. "Kesimpulannya apa, Dokter? Saya psikopat? Atau cuma wanita waras di pernikahan sirkus?"

​Adrian buru-buru membereskan tasnya. Dia merasa ditelanjangi.

​"Saya... saya harus pergi, Kairo. Ada urusan. Pengacaraku menelepon." Adrian berdiri gugup, menghindari tatapan Elena.

​"Tunggu, Adrian," panggil Kairo, tapi Adrian sudah kabur.

​"Semoga sukses sidang cerainya, Dokter!" seru Elena riang.

​Pintu tertutup. Hening kembali.

​"Kau sengaja melakukannya," kata Kairo rendah.

​"Menebak masalah rumah tangga temanmu? Itu jelas di wajahnya. Orang tidak bahagia pintar mengenali sesamanya."

​Kairo berjalan mendekat, mengurung Elena di kursinya.

​"Kau menakutkan, Sora. Kau tahu itu?"

​"Aku anggap itu pujian." Elena mendongak menantang.

​"Dulu kau bodoh, manja, cengeng. Sekarang kau bicara corporate restructuring dan menganalisis psikiater. Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan?"

​Elena tersenyum miring, menempelkan potongan apel ke bibir Kairo. "Makanlah. Buah bagus untuk menurunkan darah tinggi akibat curiga."

​Kairo menepis tangan Elena. Apel jatuh ke lantai. "Jawab aku!"

​Elena menghela napas bosan, mendorong kursinya mundur.

​"Aku sudah jawab berkali-kali, tapi otakmu terlalu keras menerima fakta." Dia melangkah menjauh.

​"Mau kemana kau?" tanya Kairo frustrasi.

​Elena berhenti di ambang pintu, menoleh malas.

​"Sudah selesai tes IQ-nya, kan? Aku lulus, temanmu gagal. Aku mau ke kamar, nonton Netflix. Drama kalian membosankan, aku butuh hiburan berkualitas."

​Dia menghilang ke balik tangga, meninggalkan Kairo sendirian dengan jantung berpacu dan satu pertanyaan besar: Bagaimana cara menaklukkan wanita ini?

1
Vensentia Anny
seruuuu ...kapan lanjutannya...bikin penasaran...terima kasih autoorr
Rani Saraswaty
jd inget pabrik obat yg ganti pemimpin lus2an amrik..ternyta gayanya sm, main gertak sm senior n bersih2 org lm yg kompeten dibidangnya klo gk nurut tkan aja sistem kerjanya 😄😄
Siska Ika
novelnya bagus
Syalari sholeh
matikan kompor kalau sudah seleaai masak ya
Syalari sholeh
suami pelit tapi kasih barang ratusan juta
this that PINK VENOM
.
mrsdohkyungsoo
sukaaaaa
mrsdohkyungsoo
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
mrsdohkyungsoo
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
mrsdohkyungsoo
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
mrsdohkyungsoo
Hai semuaaa
Bab 1 Selesai,ceritanya seruuu....suka semoga bab2 selanjutnya tak klah seruuuu
UMM
💪💪💪 hajar truss Sora...
NovelbyAsma
Halo kak cerita nya bagus, dan menginspirasi banget buat pemula kaya aku😄 jangan lupa mampir di Cerita ku yang Berjudul "Candu dalam pelukan Dosa "
UMM
hantu el turun tangan 🤭🤣
UMM
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
UMM
hahhaha seruuuuuu
UMM
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
UMM
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
UMM
makin meradang itu suaminya 🤣
UMM
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!