"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Bangunnya Sang Raja
Tiga hari berlalu seperti deru nafas yang tersengal. Shena praktis memindahkan kantornya ke ruang tunggu VIP rumah sakit.
Dengan laptop di pangkuan dan ponsel yang tak henti berdering, ia mengoordinasi stabilitas saham Adiguna Group sambil sesekali mencuri waktu untuk mengintip Devan melalui kaca ruang ICU.
Pagi itu, saat cahaya matahari mulai menembus tirai jendela rumah sakit, monitor di samping tempat tidur Devan mulai menunjukkan irama yang berbeda. Kelopak mata pria itu bergetar hebat.
Shena, yang sedang meninjau laporan keuangan bersama Rian di sudut ruangan, segera bangkit dan mendekat. "Mas? Mas Devan?"
Perlahan, mata elang itu terbuka. Pandangan Devan awalnya kabur, namun perlahan fokus pada wajah lelah namun cantik milik istrinya.
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit di perutnya, melainkan hangatnya genggaman tangan Shena.
"Shena..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.
"Jangan banyak bicara dulu, Mas. Dokter! Suster!" panggil Shena dengan nada lega yang meluap-luap.
Setelah pemeriksaan singkat, dokter menyatakan bahwa kondisi Devan membaik secara signifikan. Alat bantu nafasnya mulai dilepas. Devan menatap sekeliling dan melihat tumpukan dokumen perusahaan di atas meja sofa.
"Kenapa... ada berkas kantor di sini?" tanya Devan lemah, mencoba untuk tersenyum tipis.
Rian melangkah maju dengan rasa bangga yang tak disembunyikan. "Pak Devan, Anda harus tahu. Saat Anda tidak sadarkan diri, Nyonya Shena secara pribadi memimpin rapat dewan komisaris. Beliau mengusir Sarah, menstabilkan pasar, dan bahkan membuat para pemegang saham yang membangkang berlutut."
Devan tertegun. Ia menatap Shena dengan tatapan tak percaya. Istrinya yang dulu gemetar saat ia bentak, kini berdiri di sampingnya dengan aura seorang pemimpin yang tenang.
"Kau... melakukan itu semua?" bisik Devan.
Shena tersipu, namun matanya menunjukkan kekuatan. "Aku hanya menjaga apa yang menjadi milik kita, Mas. Aku tidak ingin kau bangun dan merasa usahamu sia-sia."
Devan menarik tangan Shena, menciumnya lama. "Aku mencintai wanita yang salah selama bertahun-tahun, tapi aku bersyukur takdir membawaku pada wanita yang tepat lewat cara yang menyakitkan. Kau jauh lebih hebat dariku, Shena."
Namun, ketenangan itu terusik ketika Rian menerima pesan mendesak dari tim keamanan penjara tempat Adrian dan Sarah (yang kini berstatus tahanan kota) ditahan.
"Ada apa, Rian?" tanya Shena, merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu.
"Nyonya, Adrian sepertinya tidak menyerah. Melalui pengacaranya, ia menyebarkan desas-desus baru bahwa dokumen pengalihan saham yang Pak Devan tanda tangani sebelum tertusuk itu dilakukan di bawah tekanan atau palsu. Ia mencoba menuntut pembatalan saham Nyonya lewat jalur perdata."
Wajah Devan mengeras. Ia mencoba untuk bangun, namun Shena menahan bahunya dengan lembut.
"Jangan, Mas. Biar aku yang selesaikan ini. Kau fokus pada pemulihanmu," ucap Shena tegas.
"Shena, Adrian itu licik—"
"Dan istrimu sekarang bukan lagi Shena yang bisa dia tipu," potong Shena.
"Rian, siapkan kunjungan ke penjara. Aku ingin bicara langsung dengan Adrian."
Di ruang kunjungan penjara yang dingin, Shena duduk berhadapan dengan Adrian yang mengenakan seragam tahanan. Pria itu masih sempat tersenyum sinis.
"Lihatlah dirimu, Shena. Mengenakan pakaian mahal, memerintah orang. Kau benar-benar menikmati peranmu sebagai ratu bajakan, ya?" cibir Adrian.
Shena menatapnya tanpa emosi. "Aku ke sini bukan untuk berdebat soal statusku, Adrian. Aku ke sini untuk memberimu pilihan."
Shena meletakkan sebuah foto di kaca pembatas. Itu adalah foto sebuah rekening bank luar negeri yang selama ini digunakan Adrian untuk mencuci uang perusahaan lamanya sebelum ia bangkrut.
"Berhenti mengganggu suamiku dan berhenti menuntut sahamku. Jika kau melakukannya, aku akan membiarkan tim hukumku 'lupa' menyerahkan bukti tambahan ini ke jaksa. Kau mungkin hanya akan dipenjara 5 tahun karena penganiayaan. Tapi jika kau lanjut..." Shena mendekatkan wajahnya ke kaca. "...aku akan memastikan kau membusuk di sana selama 20 tahun atas kasus pencucian uang dan korupsi."
Adrian terdiam. Senyumnya luntur. Ia tidak menyangka Shena bisa mendapatkan data sedalam itu.
"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya Adrian dengan suara bergetar.
"Jangan remehkan seorang wanita yang ingin melindungi keluarganya," sahut Shena dingin. Ia berdiri dan merapikan tasnya. "Satu hal lagi. Sarah sudah mengkhianatimu. Dia memberikan semua bukti keterlibatanmu dalam penculikan Ibu Ratna hanya agar dia bisa bebas dari tahanan kota. Kau sendirian sekarang."
Shena melangkah keluar dari penjara dengan kepala tegak. Ia segera kembali ke rumah sakit, karena baginya, kemenangan terbesar bukan saat musuhnya hancur, melainkan saat ia bisa kembali duduk di samping suaminya tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu.
Malam itu, di kamar rumah sakit, Devan sudah bisa duduk bersandar. Ia melihat Shena masuk dan langsung tahu dari wajah istrinya bahwa masalah Adrian sudah selesai.
"Sudah selesai, Mas," ujar Shena sambil duduk di tepi tempat tidur.
Devan menarik Shena ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Sayang. Sekarang, setelah semua kekacauan ini berakhir... aku punya satu permintaan."
"Apa itu?"
"Saat aku sembuh nanti, aku ingin kita menikah ulang. Bukan sebagai pengganti Sarah, bukan karena hutang, tapi karena aku, Devan Adiguna, ingin melamar Shena sebagai satu-satunya wanita dalam hidupku. Di depan semua orang, dengan caraku sendiri."
Shena tersenyum, kali ini dengan binar kebahagiaan yang murni. "Aku akan menunggu hari itu, Mas."
...****************...