NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Tumbal / Hantu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Suara Runtuhan di Kedalaman

Debu tebal menggantung di udara, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas dan menghalangi pandangan di lorong sempit itu. Elara Senja memicingkan mata, berusaha menembus kegelapan jalur bawah tanah RSU Cakra Buana yang kini terasa seperti kerongkongan monster yang sedang sekarat. Guncangan hebat kembali terjadi, merontokkan plesteran dinding tua yang sudah lapuk dimakan usia dan kelembapan tanah Arcapura.

"Jangan berhenti, Elara! Terus lari!" teriak Pak Darto dari depan, suaranya terdengar parau di antara gemuruh reruntuhan.

Pria tua itu mengacungkan senter yang cahayanya mulai meredup, menyinari jalan setapak yang penuh dengan pecahan ubin dan genangan air berbau busuk. Dr. Arisandi, yang berada di belakang Elara, tampak kepayahan dengan jas putihnya yang kini kotor oleh lumpur dan noda darah kering. Dokter yang biasanya logis dan tenang itu kini wajahnya pucat pasi, seolah seluruh rasionalitasnya telah ditarik paksa oleh horor yang baru saja mereka saksikan di ruang ritual.

Suara geraman rendah bergema dari arah belakang, bukan suara gesekan tektonik, melainkan sesuatu yang lebih purba dan lapar. Elara menoleh sekilas dan melihat bayangan hitam pekat merayap di dinding, bentuknya tidak beraturan namun bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar menyusuri retakan beton. Entitas yang bersemayam di pondasi rumah sakit ini tidak rela melepaskan 'tamu' yang telah melanggar batas suci wilayah kekuasaannya.

"Dia mengejar kita! Cepat!" seru Elara panik, tangannya menyambar lengan Dr. Arisandi untuk memaksanya bergerak lebih cepat.

Dr. Arisandi tersandung akar pohon beringin tua yang menembus langit-langit beton, membuat tubuhnya terjerembap ke dalam genangan air keruh. Kacamata yang ia kenakan terlepas, jatuh menghilang ke dalam lumpur hitam yang seolah memiliki daya hisap tersendiri. Pria itu mengerang kesakitan, kakinya terasa kaku seakan ada tangan-tangan dingin yang mencengkeram pergelangan kakinya dari bawah tanah.

"Tolong! Kaki saya... ada yang menahannya!" jerit Dr. Arisandi histeris, matanya terbelalak menatap kosong ke arah kegelapan.

Elara tidak membuang waktu, ia berbalik dan menarik kerah jas dokter itu sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di telapak tangannya sendiri. Pak Darto segera berbalik, merogoh saku rompinya dan mengeluarkan segenggam garam kasar yang telah dicampur dengan serbuk belerang. Ia melemparkan campuran itu ke arah bayangan hitam yang semakin mendekat, menciptakan percikan api biru yang mendesis saat bersentuhan dengan entitas tersebut.

"Pergi kau! Perjanjian lama sudah batal!" hardik Pak Darto dengan suara lantang yang bergetar oleh adrenalin.

Bayangan itu melengking, suaranya seperti gesekan besi berkarat yang menyakitkan telinga, lalu mundur sesaat ke dalam celah-celah dinding yang gelap. Kesempatan sempit itu dimanfaatkan Elara untuk menarik Dr. Arisandi bangkit berdiri, menyeretnya menjauh dari area yang mulai runtuh. Mereka berlari tergopoh-gopoh, napas mereka memburu seiring dengan detak jantung yang memukul rongga dada.

Lorong itu berujung pada sebuah ruang vertikal sempit, bekas lubang lift barang dari era kolonial yang sudah tidak berfungsi selama puluhan tahun. Di tengahnya, sebuah tangga besi berkarat menjulur ke atas, menuju titik cahaya samar yang menandakan permukaan tanah. Struktur logam itu tampak rapuh, dimakan oksidasi dan tetesan air tanah yang tak henti-hentinya menggerus kekuatan besi.

"Kalian duluan! Naik sekarang!" perintah Pak Darto sambil berjaga di mulut lorong, matanya waspada menatap kegelapan di belakang mereka.

Elara mendorong Dr. Arisandi ke arah tangga, memaksa pria itu untuk mulai memanjat meski tubuhnya gemetar hebat. Besi dingin yang licin karena lumut membuat pijakan menjadi berbahaya, setiap langkah harus diambil dengan perhitungan matang agar tidak tergelincir jatuh kembali ke neraka bawah tanah. Suara derit logam yang menyedihkan terdengar setiap kali beban tubuh mereka berpindah dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya.

Saat Elara baru menapakkan kaki di pertengahan tangga, guncangan besar kembali melanda, kali ini disertai suara dentuman keras dari lorong yang baru saja mereka tinggalkan. Debu vulkanik dan serpihan batu menyembur keluar dari mulut lorong, hampir menelan Pak Darto yang masih berdiri di sana. Pria tua itu terbatuk-batuk, namun ia berhasil melompat dan meraih anak tangga terbawah tepat sebelum lantai di bawahnya ambles ke dalam lubang sinkhole yang baru terbentuk.

"Pak Darto! Pegangan!" teriak Elara dari atas, tangannya terulur sia-sia karena jarak mereka terlalu jauh.

Pak Darto bergantung pada besi tua itu dengan sisa tenaganya, kakinya menggantung di atas jurang gelap yang kini menganga lebar. Di bawah sana, dalam kegelapan yang pekat, ribuan mata merah menyala seolah menanti mangsa yang akan jatuh. Namun, tekad penjaga tua itu jauh lebih keras daripada batu karang yang mengelilingi kota Arcapura.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, Pak Darto menarik tubuhnya naik, otot-otot lengannya yang tua menegang menahan beban. Ia merangkak naik perlahan, menyusul Elara dan Dr. Arisandi yang sudah hampir mencapai pintu trapdoor di langit-langit. Udara di bagian atas terasa sedikit lebih segar, meski masih bercampur dengan bau obat-obatan khas rumah sakit.

Dr. Arisandi mendorong pintu besi di atas kepalanya dengan bahu, besi berkarat itu mengerang sebelum akhirnya terbuka dengan suara berisik. Cahaya lampu neon yang menyilaukan menyeruak masuk, menyambut mereka kembali ke dunia nyata yang penuh dengan logika dan sains. Mereka merangkak keluar satu per satu, terbatuk-batuk dan terengah-engah di lantai keramik yang dingin.

Mereka kini berada di ruang penyimpanan linen kotor di lantai dasar, sebuah ruangan yang jarang dikunjungi perawat di malam hari. Tumpukan kain putih bernoda darah dan cairan antiseptik mengelilingi mereka, namun bagi Elara, pemandangan ini jauh lebih indah daripada apa pun yang ada di bawah sana. Ia membalikkan badan, menatap lubang tempat mereka keluar yang kini tampak hanya sebagai celah gelap tak berbahaya.

"Kita... kita selamat?" tanya Dr. Arisandi lirih, posisinya telentang menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

Pak Darto duduk bersandar pada tumpukan selimut, menyeka keringat dingin dan debu dari wajahnya yang keriput dengan sapu tangan kumal. Ia menatap lekat-lekat ke arah pintu trapdoor yang masih terbuka, lalu dengan perlahan menggeser sebuah lemari besi berat untuk menutupi akses tersebut. Suara gesekan logam berat itu menjadi penanda berakhirnya pelarian mereka malam ini.

"Untuk saat ini, Dokter. Untuk saat ini," jawab Pak Darto pelan, namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Elara bangkit perlahan, merasakan setiap sendi di tubuhnya yang protes karena kelelahan ekstrem. Ia berjalan menuju jendela kecil di ruangan itu, menyingkap tirai debu untuk melihat keluar ke arah halaman rumah sakit. Hujan deras mengguyur Kota Arcapura, kilat menyambar di kejauhan menerangi siluet pegunungan karst yang membentengi kota ini, seolah alam pun turut merasakan gejolak yang baru saja terjadi.

Namun, di balik kaca jendela yang basah, Elara melihat sesuatu yang membuat darahnya kembali berdesir. Di tengah taman rumah sakit, di bawah guyuran hujan lebat, sosok bayangan hitam itu berdiri diam menatap ke arah jendela tempat ia berdiri. Sosok itu tidak lagi bersembunyi di bawah tanah, ia telah naik ke permukaan, membawa serta dendam yang belum tuntas.

"Pak Darto..." bisik Elara, suaranya tercekat di tenggorokan saat telunjuknya gemetar menunjuk ke arah taman.

Pak Darto dan Dr. Arisandi menoleh, mengikuti arah pandang Elara, dan ketiganya terdiam dalam keheningan yang mencekam. Pertempuran di bawah tanah mungkin telah usai dengan runtuhnya lorong tua itu, namun perang yang sesungguhnya di RSU Cakra Buana baru saja dimulai.

1
deepey
syukurlah satu pasak sudah tercabut
chitra
seru kak
deepey
ya ampun udah seminggu elara berjuang bertahan hidup... pasti fisik dan mentalnya udah lelah bgt
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!