Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sorakan penonton kian menggema begitu motor Seyra memasuki garis finish, dia menghentikan motornya dan melepas helm full face dari kepalanya. Seketika udara segar segera menerpa wajah cantik gadis itu.
Tatapan Seyra terarah pada motor sport milik Max yang berhenti di sebelahnya, tanpa basa basi Seyra menendang pemuda itu hingga jatuh ke aspal bersama motornya.
Brugh!
Seketika suasana menjadi hening, sorakan orang-orang berubah menjadi raut terkejut melihat kejadian itu. Max mendesis rendah, begitu merasakan telapak tangannya tergores aspal.
"Bangun lo, bajingan." Ujar Seyra, dia turun dari motor dan mendekati Max.
Max mendongak, dia menatap bingung pada Seyra. "Apa-apaan lo barusan?"
"Harusnya gue yang nanya, kenapa lo bikin rem motor gue blong?!" Seyra menggeram marah, dia menunduk dan menarik kerah baju Max kasar.
Sudut bibir Max berkedut, dia dengan tidak sopannya mencengkeram rahang Seyra.. Pipi gadis itu memerah, akibat cengkraman Max yang menekan kulitnya.
"Nggak usah sok berani, Sey, bilang aja lo masih suka sama gue, kan? makanya lo bikin keributan kayak gini supaya gue mau merespon lo." Kata Max sambil tersenyum miring.
Seyra diam, namun sepersekian detik kemudian tinju gadis itu melesak ke dalam wajah Max. Membuat pemuda itu menoleh ke samping dan melepas cengkeraman di pipi Seyra.
"Berisik! Otak lo sebenarnya di taro di mana hah? Nyesel gue dulu sempet nembak cowok brengsek kayak lo!" Seyra menjawab dengan nada dingin.
"Ah, lo makin menarik kalo galak kayak gi-" Max memejamkan mata, kemudian mendesis tanpa bisa melanjutkan ucapannya.
Dia merasakan sesuatu yang asin di sudut bibirnya. Darah. Pemuda itu terbatuk, dan menghapus darah yang mengalir di bibirnya dengan lengan kiri. Dia menatap Seyra marah, gadis itu baru saja meninju wajahnya hingga sudut bibirnya robek.
"Bangsat!" umpat Max, dan bergegas berdiri kembali.
Dia membalas menendang perut Seyra keras, hingga membuat gadis itu jatuh ke aspal. Max berlari ke arah gadis itu, dia berniat memberikan pukulan telak di wajah Seyra. Namun, tendangan mendadak dari arah samping membuat tubuh Max tersungkur dan menabrak motor milik salah satu peserta balapan.
"Berani lo pukul dia lagi, habis lo sama gue!" ancam Arthur tajam.
Max terdiam, dia meludah ke samping. Tanpa menjawab dia pergi dari sana, dia tidak bisa mengambil resiko lebih buruk saat ini. Jika dia gegabah, sudah di pastikan dia akan kalah dan berujung koma di rumah sakit.
"Shhh..." Seyra mendesis, ketika telapak tangannya mengeluarkan darah akibat pukulan dari Max barusan.
Arthur melangkah mendekati Seyra, pemuda itu berjongkok kemudian menangkup wajah gadis itu menggunakan kedua tangannya. "Lo nggak apa-apa, Sey?"
Seyra menatap Arthur sekilas lalu menepis kasar tangan pemuda itu dari wajahnya, dia menekan luka di sudut bibirnya menggunakan ibu jari. "Gue nggak apa-apa."
Seyra berjalan melewati Arthur tanpa menatap wajah pemuda itu, dia tertatih-tatih menuju motor milik Agha yang baru saja datang dengan wajah cemas.
"Ga, gue pinjem motor lo." Ujar Seyra begitu berhadapan dengan Agha.
"Gue anterin aja, Sey." Usul Agha, namun Seyra menggeleng tegas.
Dia menunjuk motornya yang berada di belakang punggungnya, "Tolong bawa motor gue ke bengkel, besok gue ambil."
"Lo yakin mau pulang sendiri?" cetus Samuel khawatir.
Seyra mengangguk, "Iya, nggak usah khawatir gue nggak bakal tewas di jalan kali."
Tanpa di duga, Samuel memukul pundak Seyra kesal. "Mulut lo kalo ngomong di jaga dong, pamali tau!"
Seyra terkekeh dia mengusap rambut Samuel asal, "Bisa aja lo."
Raut wajah Samuel cemberut, dia membiarkan Seyra mengusap rambutnya. Sebab hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, entah bagaimana gadis itu selalu memperlakukan Samuel seperti adiknya. Padahal umur mereka sama hanya beda dua hari.
Di belakang mereka, Arthur sudah mengepalkan kedua tangannya erat. Dadanya bergemuruh hebat melihat interaksi Seyra dan kedua sahabatnya.
"Seyra, lo pulang bareng gue!" putus Arthur berjalan mendekati gadisnya.
Seyra menoleh ke belakang, melihat Arthur yang sedang berjalan ke arahnya. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan sosok Elsa yang berdiri di samping Ozil akan tetapi tatapannya terarah padanya.
"Kenapa dia natap gue tajam banget?" Pikir Seyra heran.
Dia mengalihkan pandangan ke arah Arthur. "Nggak usah sok khawatir sama gue, lo urus aja hidup lo."
Seyra membuang muka, dia tahu ucapannya sedikit keterlaluan. Tapi dia tak mau terus terlibat dengan para tokoh utama demi kelangsungan hidupnya.
Arthur jelas tak mengerti, "Apa maksud lo?"
Diam, Seyra menaiki motor Agha dan menyalakan mesinnya. "Gue udah cukup muak sama drama yang lo jalanin, Ar."
Selepas mengatakan hal tersebut Seyra menginjak kopling motornya dan melesat pergi, meninggalkan banyak pertanyaan di benak Arthur.
***
Seyra membanting tubuhnya ke atas kasur queen size miliknya, kamar yang dia tempati sangat jauh berbeda dengan kamar milik kakaknya Valeri yang ada di sebelahnya.
Kamar Seyra di dominasi warna abu-abu dan hitam, dinding kamarnya berwarna hitam yang di desain mirip seperti kamar anak laki-laki. Di samping lemari pakaian, terdapat lemari kaca khusus koleksi action figure dan juga miniatur motor sport.
Sifat Seyra yang tomboi dan lebih dominan pada sifat laki-laki, membuat dia tak memiliki rok kecuali rok seragam sekolahnya. Semua pakaian yang dia miliki, berwarna netral seperti hitam, putih, abu dan biru. Tidak ada pakaian berwarna pink atau warna cerah lainnya.
"Kana benar-benar bikin karakter Seyra Charla mirip gue. Apa jangan-jangan dia jadiin gue visualnya?" tebak Seyra setelah menyadari banyaknya kesamaan dirinya dan juga karakter figuran yang dia rasuki.
Ketika Seyra hendak memejamkan mata, mendadak sebuah pesan muncul di ponselnya. Gadis itu meraih ponsel dari nakas, dan melihat pesan tersebut.
[Gue di depan gerbang rumah lo, ada yang mau gue bicarakan sama lo, Sey. Keluar sebentar ya, please.]
Kening Seyra berkerut halus, pesan itu di kirim oleh Arthur. Merasa malas keluar dari kamar, Seyra berniat membiarkan saja pesan itu. Namun, seolah takdir tidak mendukungnya hujan tiba-tiba turun dengan begitu deras.
"Paling dia juga balik, udah hujan lagi." Gumam Seyra acuh.
Detik demi detik berganti jam, sudah tiga jam lamanya hujan turun tanpa henti. Namun, perasaan Seyra menjadi bimbang. "Dia nggak mungkin nungguin di bawah, kan?"
Penasaran dengan kenyataan itu, Seyra turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon kamarnya. Begitu dia keluar dari kamar, dia tertegun melihat Arthur masih berdiri di depan gerbang rumahnya di tengah guyuran hujan.
"Buset, tuh orang goblok apa gimana?!" Seyra bergegas masuk dan mengambil handuk, lalu turun menuju pintu utama.