Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 Di Ambang Batas Cahaya
Di dalam ruang ICU, suasana berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Suara monitor jantung berbunyi panjang—satu nada lurus yang menandakan detak jantung Rina telah berhenti (asystole). Dokter dan perawat bergegas melakukan tindakan darurat, memompa dada Rina, sementara di luar, tangis Ibu Rina pecah membelah kesunyian lorong.
Namun, di tempat lain, Rina tidak mendengar kegaduhan itu.
Rina berdiri di sebuah padang yang sangat luas, tanpa ujung, dan berwarna putih bersih. Tidak ada rasa sakit di kepalanya. Tidak ada sesak di dadanya. Semuanya terasa ringan, seolah beban berat yang selama ini ia pikul telah luruh sepenuhnya.
Di depannya, muncul sebuah cahaya yang sangat terang namun sejuk. Cahaya itu perlahan membentuk sesosok bayangan putih yang mengulurkan tangan padanya. Aura dari sosok itu begitu damai, menjanjikan ketenangan yang selama ini Rina cari.
"Ikutlah bersamaku... Di sini tidak ada tuntutan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa takut," bisik suara itu, bergema lembut di hati Rina.
Rina menatap tangan itu. Ia teringat betapa lelahnya ia menghadapi dunia. Ia lelah dituntut mengerti, lelah dipaksa dewasa, dan lelah memendam luka sendirian.
"Apakah di sana aku bisa bebas?" tanya Rina lirih.
"Sangat bebas. Mari, genggam tanganku dan tinggalkan semua kepahitan itu," ajak sosok cahaya tersebut.
Suara-suara dari Dunia Nyata
Saat Rina mulai melangkahkan kakinya mendekati cahaya itu, tiba-tiba terdengar suara-suara sayup yang memanggil namanya. Suara itu terdengar seperti jeritan pilu yang menahan kakinya.
"RINA! JANGAN PERGI, DEK! MAS MOHON!" Itu suara Gus Azkar, terdengar sangat hancur dan penuh penyesalan.
"BAK RINA! JANGAN TINGGALIN ILA! SIAPA YANG MARAHIN ILA LAGI?!" Isak tangis Ila terdengar begitu nyata di telinga kiri Rina.
Rina sempat terhenti. Ia menoleh ke belakang, ke arah kegelapan yang mulai menjauh. Namun, bayangan cahaya di depannya kembali berucap, "Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya akan memberimu beban lagi. Ikutlah denganku, semuanya akan berakhir sekarang."
Rina kembali menatap cahaya itu. Ia merasa dunianya di sana sudah terlalu hancur untuk diperbaiki. Ia tidak yakin bisa kembali dan menghadapi Gus Azkar yang tegas atau harapan orang tuanya yang besar.
Rina mengangkat tangannya, perlahan ujung jarinya hampir bersentuhan dengan cahaya putih itu. Ia memilih untuk pergi. Ia berjalan selangkah demi selangkah, semakin mendekat ke arah ketiadaan.
Di Ruang ICU
"Satu... dua... Shock!" Dokter menggunakan alat pacu jantung (defibrillator) ke dada Rina. Tubuh kecil Rina terlonjak di atas ranjang, namun garis di monitor masih tetap lurus.
"Lagi! Naikkan voltasenya!" teriak dokter.
Di luar pintu, Gus Azkar jatuh berlutut. Ia menangis tersedu-sedu, memohon pada Tuhan agar tidak mengambil istrinya di saat ia baru saja menyadari kesalahannya. Bian hanya bisa bersandar di dinding dengan pandangan kosong, sementara Ila pingsan kembali di pelukan Ibu Rina.
____________________________________________________
Rina sudah sangat dekat dengan cahaya itu. Apakah ada hal terakhir yang bisa menariknya kembali?
____________________________________________________
Di tengah hamparan putih yang sunyi itu, sosok cahaya tersebut semakin menyilaukan, hampir menyentuh ujung jemari Rina. Namun, tepat saat Rina akan menyerahkan dirinya pada ketenangan abadi, sebuah tangan lain yang terasa hangat dan sangat akrab menepuk bahunya dari belakang.
Rina menoleh. Matanya membelalak. "Kakek?"
Itu adalah kakeknya, sosok yang paling menyayanginya semasa hidup, yang selalu menjadi tempatnya mengadu saat ia merasa dunia terlalu jahat padanya. Kakek tersenyum sangat teduh, namun tatapannya penuh peringatan.