Di hari pernikahannya, Andi Alesha Azahra berusia 25 tahun, dighosting oleh calon suaminya, Reza, yang tidak muncul dan memilih menikahi sahabat Zahra, Andini, karena hamil dan alasan mereka beda suku.
Dipermalukan di depan para tamu, Zahra hampir runtuh, hingga ayahnya mengambil keputusan berani yaitu meminta Althaf berusia 29 tahun, petugas KUA yang menjadi penghulu hari itu, untuk menggantikan mempelai pria demi menjaga kehormatan keluarga.
Althaf yang awalnya ragu akhirnya menerima, karena pemuda itu juga memiliki hutang budi pada keluarga Zahra.
Bagaimanakah, kisah Zahra dan Althaf? Yuk kita simak. Yang gak suka silahkan skip!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reunian Althaf
Keesokan harinya, Mak Mia terlihat sedang menyapu halaman rumah panggung itu. Angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga-bunga yang ada di halaman rumah.
Tiba-tiba, terdengar suara salam dari depan pagar.
“Assalamualaikum, Mak.”
Mak Mia mendongak. Di sana berdiri Anida, tersenyum manis sambil menenteng sebuah kotak berisi brownies cokelat.
“Waalaikumsalam,” jawab Mak Mia. “Eh, Anida. Masukki, Nak. Mau ki apa, Nak?”
Anida melangkah mendekat, senyumnya tak lepas. “Ini, Mak. Ada brownies untuk Mamak. Mamak kan suka brownies cokelat.”
Mak Mia tersenyum lebar. “Kenapa ki repot-repot bawa begini?”
“Ndak repot ji, Mak. Kebetulan juga banyak ku beli,” jawab Anida ringan. Lalu ia menoleh ke arah rumah. “Oh iya, Mak. Mana Althaf?”
“Oh, ada di dalam,” jawab Mak Mia. “Tunggu ku panggilkan ki nah.”
Mak Mia baru saja meletakkan sapu lidinya dan berbalik, ketika seseorang sudah turun dari rumah panggung itu. Althaf muncul mengenakan kemeja sederhana berwarna navi dan celana panjang hitam.
Meski penampilannya biasa saja, aura ketampanannya tetap tak bisa disembunyikan.
Anida sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menunduk malu-malu.
“Itu Althaf ee,” kata Mak Mia sambil tersenyum, lalu meninggalkan keduanya.
Anida tersenyum lagi dan berkata, “Jadi jeki mau pergi reunian toh?”
Althaf mengangguk singkat. Wajahnya tetap datar.
Anida melanjutkan, “Boleh sama meki saja? Karena motorku na pakai i Nia.”
Baru saja Althaf hendak menjawab, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas rumah. Seseorang turun mengenakan pakaian longgar berwarna navi dan celana panjang kekinian yang senada.
Senyum Anida seketika membeku.
Zahra yang sudah berdiri di samping Althaf langsung berkata, “Ayo, kita berangkat.”
Anida menatap Althaf, jelas meminta penjelasan.
“Aku sama Zahra datang ke reunian,” kata Althaf akhirnya.
Anida kembali tersenyum, meski tampak dipaksakan. “Tapi kan reunian ndak bawa pasangan orang.”
Zahra langsung menimpali, “Terus kamu yang mau datang sama Althaf begitu?”
“Bukan, bukan begitu maksudku,” ujar Anida cepat sambil menggeleng.
Althaf berkata dengan tegas, “Maaf, Anida. Sama ka saya istriku. Ndak bisa kaa bonceng perempuan lain.”
Anida terdiam sejenak, lalu mengangguk sambil tersenyum. “Oh, iye. Kalau begitu naik ojek meka pale.”
Zahra hanya memutar bola matanya.
“Ayo,” kata Zahra singkat.
Althaf kemudian mengambil motor milik Karel. Zahra naik dan duduk di belakangnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, motor itu melaju meninggalkan halaman rumah, meninggalkan Anida yang masih berdiri diam di tempatnya.
*
Setibanya di tempat reunian, di pinggir pantai yang dikenal warga sebagai Pantai Bibir, suasana terlihat sangat ramai menjelang sore hari.
Beberapa anak remaja tampak berjalan berkelompok menyusuri tepi pantai, tertawa dan bercanda.
Di sisi kanan, terdapat lapangan basket dan lapangan tenis yang masih ramai digunakan. Sementara di sisi kiri, deretan warung-warung kecil berjajar rapi menghadap laut, menjual aneka minuman dan makanan ringan.
Althaf memarkir motornya di area yang telah disediakan, lalu berjalan bersama Zahra menuju titik pertemuan reunian. Dari kejauhan, tampak beberapa orang sudah duduk dan berbincang.
Tiba-tiba seorang pria melambaikan tangannya sambil berteriak, “Althaf sini ko!”
Althaf refleks menarik tangan Zahra, mengajaknya mendekat. Begitu tiba, terlihat beberapa perempuan dan laki-laki duduk di kursi mengelilingi sebuah meja panjang.
Suara riuh langsung terdengar.
“Weh, Althaf gandeng cewek cantik,” seru salah satu temannya.
Althaf duduk bersama Zahra. Beberapa temannya langsung menimpali dengan nada menggoda, “Eh, Althaf. Apamu itu? Jangko bilang pacarmu?”
“Istriku,” jawab Althaf singkat. “Zahra.”
Tiba-tiba seorang perempuan bersuara, “Terus Anida bagaimana mi?”
Althaf mengerutkan keningnya. “Memangnya bagaimana?”
Suasana mendadak hening.
Seorang gadis bernama Luna akhirnya berkata, “Ku kira menikah ko sama Anida. Karena dulu waktu SMA dekat sekali ko berdua.”
Seorang pria langsung menyela, “Sudahmi. Baruki lagi kumpul ini ee. Janganmi tawwa bahas Anida, karena ada istrinya Althaf.” Ia menoleh ke Althaf. “Iye toh?”
Itu adalah Wira, teman Althaf.
Wira lalu melanjutkan, “Sekarang apa mu kerja, Althaf?”
“Alhamdulillah, kerja di KUA,” jawab Althaf.
Semua mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian, Anida datang. “Maaf nah, terlambat kaa,” ucapnya sambil tersenyum.
Para teman perempuannya langsung berdiri, menyambut dan memeluk Anida dengan antusias. Setelah itu, mereka kembali duduk bersama.
Zahra hanya diam, duduk tenang.
Wira kembali bersuara, “Eh, karena datang semua meki, pesan meki makanan.”
Semua mengangguk setuju. Jumlah mereka sekitar dua puluh lima orang, ditambah Zahra.
Obrolan pun berlanjut. Namun, tak satu pun dari para perempuan yang mengajak Zahra berbicara. Zahra memilih diam, fokus pada ponselnya.
Tiba-tiba seorang perempuan bernama Yuyun tertawa kecil. “Kalau ku lihat ini. Althaf takut sama istrinya, makanya na bawa istrinya ke sini. Padahal di sini ndag ada bawa pasangan.”
Beberapa orang langsung terkekeh.
Althaf tetap diam dengan wajah datarnya.
Seorang perempuan lain menoleh ke Zahra. “Eh, lulusan apa ki? Umur ta berapa? Atau baruki lulus SMA?”
“Saya sudah lulus beberapa tahun lalu,” jawab Zahra tenang.
Mereka tampak terkejut. Wajah Zahra memang terlihat sangat muda, baby face.
Tak lama kemudian, makanan datang. Mereka makan sambil berbincang, meski kebanyakan obrolan diisi dengan cerita tentang pencapaian dan pekerjaan masing-masing.
Zahra menghela napas pelan. Ia sudah menduga, kebanyakan acara reuni memang seperti ini.
Tak lama, waktu salat magrib tiba.
“Ayo, kita salat dulu,” kata Althaf pada Zahra.
Zahra berbisik, “Aku lagi halangan.”
Althaf mengangguk. “Ya sudah, aku salat duluan ya.”
Beberapa teman Althaf ikut berdiri untuk salat. Namun, sebagian lainnya tetap duduk, termasuk Anida.
Setelah Althaf pergi, Yuyun kembali membuka suara. “Eh, ku dengar logat ta orang Jakarta. Orang mana memang ki?”
“Saya aslinya orang Jakarta,” jawab Zahra.
Suasana kembali hening.
Salah satu gadis bernama Utami bertanya, “Kita tau ji toh Althaf sama Anida itu pernah punya hubungan spesial?”
“Jangki bilang begitu,” ujar Anida cepat sambil tersenyum kecil. “Nanti Zahra tersinggung.”
Zahra mengangguk. “Iya, aku tahu.”
Yuyun menyahut lagi, “Tidak merasa ndag enak jeki itu? Kita jadi istrinya Althaf, padahal Anida dan Althaf punya hubungan.”
Zahra menatap Yuyun lurus. “Tidak enak kenapa? Emangnya saya merebut Althaf? Tidak, bukan? Bukannya Anida yang meninggalkan Althaf dan menikah dengan orang lain? Jadi, tidak salah dong kalau Althaf juga menikah dengan orang lain, yaitu saya. Atau kalian mau menyuruh Althaf menunggu Anida begitu?”
Semua terdiam. Beberapa langsung menunduk dan kembali meminum jus mereka.
Tiba-tiba Yuyun berbicara menggunakan bahasa Korea. “Duh, ini istrinya Althaf terlalu sombong.”
Yang lain menimpali dengan bahasa yang sama. “Dia sok cantik sekali. Cuma lulus SMA tapi gayanya selangit.”
“Iya,” sahut Utami. “Percuma cantik kalau otaknya kosong melompong.”
Sisil ikut menimpali, “Iya loh. Lebih pintar Anida ke mana-mana. Aku yakin, pasti Althaf bakalam menyesal pilih wanita tidak berpendidikan.”
Zahra tetap diam, seolah tak mengerti. Mereka terus berbicara dengan bahasa Korea, terang-terangan mengejeknya.
Perlu diketahui, mereka itu satu circle dan sama jurusan bahasa Korea. Makanya mereka bisa berbahasa Korea.
“Lihat, dia seperti orang bodoh. Padahal kita menghinanya tepat di depannya,” ujar salah satu dari mereka.
Mereka lalu tertawa kecil. Anida ikut tersenyum tipis.
Utami kemudian berkata lagi dengan bahasa Korea, “Ngomong-ngomong, jam berapa selesai salat?”
“Ya, mungkin sebentar lagi.”
Saat mereka akan menimpali, mereka langsung membeku. Karena yang menjawab adalah Zahra.
Zahra tampak santai, tetap meminum jus alpukatnya. “Lain kalian. Kalian perlu berkaca sebelum menghina orang. Kalian pikir, pintar bahasa Korea, sudah seperti orang jenius?”
Ia lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan, mengeluarkan beberapa lembar uang merah, dan berkata, “Ini aku bayar meja ini.”
Pelayan itu terkejut. “Kak, terlalu banyak uang ta. Harganya cuman lima ratus dua puluh ribu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Zahra tenang. “Gunakan uang itu sekalian untuk sumpal mulut orang-orang ini. Oh iya, sepertinya kalian harus banyak belajar, bahasa Korea kalian bahkan masih belepotan.”
Setelah mengatakan itu, Zahra berdiri dari kursinya dan berjalan pergi, meninggalkan meja reunian yang kini sunyi dan dipenuhi wajah-wajah terkejut.