Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seragam Kebesaran dan Melambaikan Tangan ke Bukit
Waktu tak pernah menunggu siapapun, dan kini aku telah resmi menanggalkan status anak TK-ku. Aku sudah menjadi anak SD. Dengan seragam putih-merah yang terasa sedikit kebesaran di tubuh mungilku, aku melangkah dengan dada membusung. Ada kebanggaan yang meletup-letup setiap kali aku mengenakan tas punggung hitam baru yang masih berbau pabrik, serta sepatu ATT legendaris dengan sol karetnya yang kuat, sepatu yang dipercaya sanggup bertahan meski harus melewati jalanan batu dan tanah setiap hari.
Ekonomi kami? Jujur saja, belum bisa dikatakan stabil. Kami masih sering menghitung koin untuk membeli garam, namun aku bisa merasakan perubahan itu merayap masuk sedikit demi sedikit. Rumah kami terasa lebih hidup, dan sorot mata Ayah tidak lagi sedalam dulu saat menatap kursi hijau plastiknya. Semua ini adalah buah dari peluh yang tak pernah kering dari kening mereka berdua.
Sekolah dasar tempatku belajar terletak tepat di bawah lereng bukit. Posisi ini memberiku sebuah pemandangan istimewa setiap harinya.
"Nok, belajar yang rajin ya! Jangan nakal!" teriak sebuah suara dari kejauhan yang sangat tinggi.
Aku mendongak ke arah bukit yang menjulang di atas sekolah. Di sana, di jalan setapak yang membelah lereng, aku melihat dua sosok yang sangat kukenali. Ayah dan Ibu. Mereka sedang berjalan kaki menuju ladang orang untuk menjadi buruh, memikul cangkul dan perbekalan di punggung mereka.
Aku segera melompat kegirangan di tengah lapangan sekolah yang ramai dengan anak-anak lain. Dengan semangat, aku melambaikan tangan setinggi mungkin ke arah langit. "Ibuuu! Ayahhh! Hati-hati di jalan!"
Dari ketinggian itu, aku bisa melihat mereka berhenti sejenak. Meski wajah mereka tak terlihat jelas dari kejauhan, aku tahu mereka sedang tersenyum sumringah. Mereka membalas lambaian tanganku dengan lebar, seolah-olah lambaian tangan kecilku adalah suntikan tenaga paling ampuh untuk mereka memulai kerja keras di bawah terik matahari.
"Lihat itu, Shif! Ayah sama Ibuku sudah sampai di atas bukit!" kataku bangga pada Shifa yang berdiri di sampingku.
"Iya, Nok. Tinggi banget ya jalan ke ladangnya," sahut Shifa sambil ikut menatap ke atas.
Melihat mereka berdiri di ketinggian itu, hatiku tiba-tiba berbisik. Aku membayangkan seandainya ketinggian fisik yang saat itu mereka pijak merupakan lambang dari perubahan ekonomi yang signifikan. Aku membayangkan mereka tidak lagi harus mendaki bukit untuk memikul pupuk, melainkan berdiri di puncak kesuksesan hasil dari perjuangan mereka yang luar biasa.
Seandainya saja ketinggian itu adalah derajat hidup yang sudah terangkat, pikirku dalam hati.
Namun, aku sadar bahwa hidup bukan tentang keajaiban yang datang dalam semalam. Berdirinya mereka di atas sana, melambaikan tangan padaku yang memakai seragam baru, adalah sebuah tanda. Itu adalah perjalanan menuju hal-hal baik yang sedang ditenun oleh Tuhan. Perjuangan mereka adalah tangga, dan setiap langkah lelah mereka adalah anak tangga yang akan membawaku menuju masa depan yang lebih cerah.
Lonceng sekolah berbunyi nyaring. Aku memberikan satu lambaian terakhir sebelum berlari masuk ke kelas. Di bangku kayu yang keras itu, aku berjanji, jika Ayah dan Ibu sanggup berdiri di ketinggian bukit itu demi menyekolahkanku, maka aku harus sanggup belajar hingga mencapai puncak ilmu yang lebih tinggi dari bukit manapun di desa ini.
Pelajaran di dalam kelas dimulai, namun pikiranku masih tertinggal di lereng bukit itu. Suara Ibu Guru yang menerangkan huruf-huruf di papan tulis seolah beradu dengan bayangan punggung Ayah yang kokoh dan langkah Ibu yang tegar. Di dalam tasku, ada buku tulis baru dengan sampul cokelat rapi, hasil dari sekian banyak sayur yang Ibu jajakan dan sekian banyak kayu yang Ayah pikul. Setiap goresan pensil yang kubuat di atas kertas putih itu, aku merasa sedang mencicil hutang budiku pada keringat mereka.
Hari demi hari di bangku SD mengajariku bahwa kemiskinan bukanlah aib, melainkan sebuah medan juang. Aku belajar untuk tidak lagi merasa minder saat bekal makan siangku hanya nasi dengan lauk tempe goreng yang sudah dingin. Sebab, aku tahu tempe itu dibeli dengan harga diri Ayah yang tetap tegak meski dihina, dan digoreng dengan cinta Ibu yang bangun saat dunia masih terlelap.
Kini, kursi plastik hijau di sudut rumah kami tetap ada di sana. Warnanya memang sudah kusam, namun bagiku, kursi itu adalah saksi bisu sejarah keluarga kami. Kursi tempat Ayah melepas lelah setelah mendaki bukit, dan tempat Ibu menghitung recehan hasil dagangannya dengan penuh syukur. Kursi itu tidak lagi melambangkan beban, melainkan ketabahan yang tak tergoyahkan.
Aku menyadari bahwa "perubahan" yang kuinginkan tidak selalu berupa tumpukan uang atau dinding rumah yang seketika berubah menjadi tembok beton yang megah. Perubahan itu ada pada caraku memandang mereka. Jika dulu aku bertanya-tanya "aku bisa apa?" sebagai anak kecil, kini aku tahu jawabannya. Aku adalah napas bagi perjuangan mereka. Aku adalah alasan mengapa mereka tetap tersenyum meski bahu mereka memar tertindih beban.
Ketika lonceng pulang sekolah berbunyi dan aku kembali menyusuri jalanan desa, aku tidak lagi menunduk hanya untuk mencari koin keberuntungan. Aku menengadah, menatap puncak bukit yang masih diselimuti kabut tipis. Aku tahu, di balik rimbun pepohonan itu, Ayah dan Ibu sedang bekerja untukku.
Aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa memeluk boneka saat sedih. Aku adalah anak SD berseragam putih-merah yang membawa harapan besar di pundak mungilku. Tekad dan ambisi yang dulu sempat membuatku sesak karena ketidakberdayaan, kini telah berubah menjadi energi yang tenang.
"Tunggu aku di puncak itu, Yah, Bu," bisikku pelan saat melewati gerbang sekolah.
Suatu saat nanti, bukan mereka yang akan melambai padaku dari ketinggian bukit, melainkan aku yang akan menarik tangan mereka menuju puncak kehidupan yang lebih layak. Aku akan membuktikan bahwa setiap langkah lelah mereka di lereng Gunung Prau tidak akan pernah sia-sia. Badai mungkin belum sepenuhnya berlalu, dan ekonomi kami mungkin masih harus diperjuangkan setiap harinya, namun di rumah berdinding bambu itu, kami telah memenangkan pertempuran yang paling utama, kami tidak pernah kehilangan rasa hormat, cinta, dan harapan.
Sore itu, saat aku sampai di rumah dan melihat Ayah melepas jaketnya di kursi hijau, aku tidak hanya menghampirinya untuk mengajak tidur. Aku menghampirinya, mencium tangannya yang kasar, dan membisikkan doa paling tulus bahwa hari esok akan selalu menjadi harapan baru yang lebih cerah bagi kami semua.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰