NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa: Menaklukkan Para Wanita

Sistem Penguasa: Menaklukkan Para Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Action / Sistem / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Kaya Raya
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos??

Mobil hitam ramping itu mendekati sebuah gerbang besi yang menjulang tinggi. Dua pria di dalamnya bernapas berat.

Saat kendaraan itu mencapai pintu masuk, gerbang raksasa itu langsung terbuka, memberi mereka jalan menuju kawasan luas di baliknya.

Tak lama kemudian mobil itu berhenti di depan pintu masuk utama, lampu depannya menerangi pintu ganda besar untuk sesaat sebelum kedua pria itu membuka pintu dan bergegas keluar. Mereka tidak repot-repot mengunci mobil. Mereka bahkan tidak repot menutup pintu di belakang mereka. Yang terpenting hanyalah masuk ke dalam, menemui bos mereka, dan menyampaikan kabar itu sebelum terlambat.

Mereka berlari menaiki tangga. Pintu besar terbuka, memperlihatkan ruangan yang megah—langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung, sofa kulit ramping, dan sebuah tangga panjang yang mengarah ke lantai atas tempat bos mereka tinggal.

Salah satu penjaga, seorang pria tinggi dengan bekas luka memanjang di sisi pipinya, melangkah maju, menghalangi jalan mereka dengan tangan terangkat, lalu berkata. "Mau pergi kemana kalian?"

Kedua pria itu hampir tidak memperlambat langkah saat mereka bergegas mendekatinya, keputusasaan jelas terlihat di wajah mereka.

"Di mana bos?" salah satu dari mereka menuntut.

Ekspresi penjaga itu tetap kosong. "Dia sibuk. Dia tidak akan menemui kalian sekarang."

Jawaban itu hanya membuat kedua pria itu semakin panik.

"Apa maksudmu dia tidak akan menemui kami? Apa yang dia lakukan sampai begitu penting?"

Penjaga itu mengembuskan napas lewat hidungnya, merendahkan suaranya sedikit sambil memberi mereka tatapan penuh arti. "Kalian tahu bagaimana jadinya jika kalian mengganggu waktunya dengan para gadis."

Kedua pria itu menegang. Wajah mereka pucat pasi.

"Dia bersama perempuan?" salah satu dari mereka bergumam pelan, ekspresinya berubah karena tidak percaya.

Lalu, seolah atas aba-aba, mereka berdua mengumpat bersamaan.

"Sialan! Aku sudah bilang ini penting, dan kau bilang padaku dia sibuk dengan perempuan?"

Tanpa ragu sedetik pun, mereka mendorong penjaga itu ke samping dan bergegas maju. Penjaga itu tidak mengejar mereka. Dia hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya, bergumam pada dirinya sendiri, "Aku sudah mencoba memperingatkan kalian."

Kedua pria itu berlari menaiki tangga itu, melangkahi dua anak tangga sekaligus. Mereka tahu persis ke mana mereka pergi. Mereka telah bekerja di bawah bos mereka cukup lama untuk mengetahui ruangan mana yang dia gunakan setiap kali dia ingin memuaskan dirinya. Selalu ruangan yang sama—ruangan ketiga di sebelah kanan, di ujung lorong panjang, tempat tidak seorang pun diizinkan mengganggunya.

Namun malam ini, mereka tidak punya pilihan.

Mereka harus mengganggunya.

Saat mereka mencapai pintu itu, mereka tidak berhenti untuk mengetuk. Salah satu dari mereka, mencengkeram gagang dan mendorong pintu itu terbuka dengan paksa.

Pemandangan yang menyambut mereka membuat mata mereka perih oleh aroma parfum yang menyengat, bercampur dengan panas tubuh-tubuh yang saling bertautan.

Ruangan itu dipenuhi cahaya lilin keemasan, menerangi tempat tidur besar dan mewah di tengahnya. Seprai berantakan, berserakan dengan jubah sutra dan gaun-gaun yang dibuang sembarangan ke lantai. Aroma anggur mahal tercium di udara.

Dan di sana, di pusat semuanya, adalah bos mereka.

Dia bersantai di atas tempat tidurnya, dada telanjangnya yang berotot naik turun dengan napas yang stabil, lengannya terjulur malas di atas para perempuan yang melingkar di sekelilingnya. Lima orang. Telanjang.

Saat pintu-pintu itu terbuka, ruangan itu membeku.

Para perempuan itu tersentak kaget. Beberapa berebut menutupi diri mereka dengan seprai, sementara yang lain berbalik untuk menatap tajam para pria yang berani mengganggu waktu mereka bersama tuan mereka.

Namun sang bos tidak langsung bereaksi.

Perlahan, kepalanya terangkat menatap ke arah pintu.

Tidak ada yang pernah berani menerobos masuk ke hadapannya tanpa undangan.

Tatapan tajamnya tertuju pada dua pria yang berdiri di ambang pintu, terengah-engah, tubuh mereka masih dipenuhi noda darah.

Tatapannya semakin serius saat ia sedikit mendorong tubuhnya ke atas, bergeser secukupnya untuk mengamati mereka lebih saksama. Pikirannya bekerja cepat, menyusun potongan-potongan informasi.

Pagi ini, ia telah mengirim mereka untuk tugas sederhana—melenyapkan anak muda yang telah mengganggu rencana mereka.

Namun di sinilah mereka berada.

Lalu anak itu?

Namun, saat ia menatap dua orang bodoh berlumuran darah yang berdiri di hadapannya, ada sesuatu dari ekspresi mereka yang membuatnya gelisah.

Dan kemudian ia menyadarinya.

Seharusnya ada lima orang.

Namun sekarang, hanya dua yang berdiri di hadapannya.

Tatapannya semakin serius.

Tanpa sepatah kata lagi, ia mengalihkan perhatiannya kembali ke lima perempuan yang terbaring di atas ranjangnya. Mata penasaran mereka berpindah-pindah antara dirinya dan para pria yang menerobos masuk.

"Pergi," perintahnya tegas.

Para perempuan itu ragu sejenak sebelum menuruti perintahnya, mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan dan menyelinap keluar ruangan satu per satu. Saat yang terakhir keluar, ia memusatkan seluruh perhatiannya pada anak buahnya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Kedua pria itu saling bertukar pandang gugup, tetapi tak satu pun ada yang berbicara.

Matanya menyempit, kesabarannya menipis.

Ia membungkuk ke depan, "Aku akan bertanya lagi," katanya, kali ini lebih dingin. "Apakah dia sudah mati?"

Kedua pria itu menegang, tenggorokan mereka naik turun saat menelan ludah dengan susah payah. Lalu, ragu-ragu, mereka menggelengkan kepala.

Ekspresi bos mereka terlihat sangat marah.

"Aku tidak menyuruh kalian melukainya," bentaknya, "Aku menyuruh kalian membunuhnya! Apa yang kalian lakukan di sini kalau dia masih hidup?"

Salah satu pria mencoba berbicara, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Bibirnya bergerak, namun tak ada suara yang keluar.

Yang lain, menyadari kegagalan rekannya, menarik napas gemetar dan memaksa dirinya berbicara. "Tuan... kami kehilangan tiga orang."

Wajah bos mereka semakin marah. "Kalian kehilangan tiga orang? Bagaimana bisa itu terjadi? Apakah kelompok lain ikut campur?"

Kedua pria itu segera menggelengkan kepala.

Cengkeraman bos mereka pada seprai mengencang, "Lalu bagaimana mereka mati?" tuntutnya. "Siapa yang membunuh mereka?"

Hening sejenak.

Kedua pria itu ragu-ragu. Namun pada akhirnya, mereka tak punya pilihan.

"Deon," salah satu akhirnya bergumam, suaranya nyaris tak terdengar. "Deon yang membunuh mereka."

Ekspresi bos mereka membeku.

Untuk sesaat, ia hanya menatap mereka, tak bergerak, tak berkedip.

Lalu, tiba-tiba, tawa kecil bergema di tenggorokannya.

Tawa itu berubah menjadi tawa yang lebih keras. "Hahahahaha!"

Dan kemudian, tawa itu berhenti.

Wajahnya berubah sangat serius, "Apakah kalian menganggapku orang bodoh?" tanyanya dingin.

Tak satu pun dari mereka berani menjawab.

"Kalian berharap kalau aku percaya bahwa seorang anak muda berumur sembilan belas tahun menghabisi tiga pria bersenjata?" Berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Apakah kalian sudah gila?”

1
Jack Strom
Good... 😄
Billie
Kapan Deon bakal ketemu sama Jenny lagi ya? Penasaran sama bagaimana hubungan mereka nanti! 🤩
oppa
semangat terus otorr
ariantono
crazy up dong kk yang banyak lagii
Agent 2
Jenny jadi model sukses tapi tetap harus urus masalah keluarga ya? Hidup memang tidak selalu mudah 😊
Naga Hitam
apakah...
MELBOURNE: ditungguin terus bab bab terbarunya setiap hari di jam 10 pagi
semangat terus bacanyaa💪💪
total 1 replies
Jack Strom
Sip. 😁
MELBOURNE: semangat terus bacanyaa👍
total 1 replies
Jack Strom
Keren... 😁😛😛😛
Jack Strom
Mantap. 😁😛😛😛
Jack Strom
Good... 😁
MELBOURNE
ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
okford
crazy up torr
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Dolphin
semangat terus thorr
MELBOURNE: terimakasih
ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Coffemilk
makin ke sini makin seru
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
amida
luar biasa
oppa
semoga semua masalah Deon cepat selesai ya
MELBOURNE: makanya support terus guys biar tambah rame yang bacanyaa
total 1 replies
Rahmawati
dimana Charlotte???
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Rahmawati
Mason punya ayah yang jadi walikota ya? Ini tambah masalah besar lagi nih
Rahmawati
petugas disiplin juga kena lempar ke dinding🤣🤣
Rahmawati
Mason tuh terlalu jauh ya, bahkan menghina orang tuanya yang sudah meninggal 😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!