Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Gerbang Selatan - Ibukota Kekaisaran Awan Selatan.
Matahari bersinar terik di atas dinding kota yang menjulang setinggi tiga ratus meter. Dinding itu terbuat dari Batu Bintang Hitam, diukir dengan ribuan formasi pertahanan yang berkilauan samar.
Ibukota ini adalah pusat dunia kultivasi Selatan. Di sini, Inti Emas berjalan di jalanan seperti pedagang sayur, dan hanya Nascent Soul yang berhak mendongakkan kepala.
Antrean masuk ke gerbang sangat panjang. Namun, ada dua jalur. Jalur Kanan untuk rakyat jelata dan kultivator liar (yang harus antre dan diperiksa). Jalur Kiri yang lebar dan dilapisi karpet merah untuk Klan Bangsawan dan Sekte Besar.
Di jalur kanan, lima sosok berjubah hitam berdiri diam.
Shen Yu memimpin di depan, auranya ditarik masuk hingga terlihat seperti manusia biasa. Di belakangnya, Su Ling memakai cadar. Ye Qing dan Feng Jiu menutupi wajah mereka dengan tudung.
Dan di paling belakang, berjalan tertatih-tatih, adalah Cang Wu. Dia memanggul pedang hitam raksasa (yang beratnya 5000 jin) di punggungnya. Kakinya yang dulu patah kini sudah sembuh, tapi dia berjalan dengan gaya aneh yang kaku, menyeret kakinya sedikit. Di mata orang awam, dia terlihat seperti kuli kasar yang cacat.
"Minggir! Minggir!"
Teriakan kasar terdengar dari belakang.
Sebuah Kereta Kencana yang ditarik oleh empat Kuda Api melaju kencang menuju gerbang. Pengendara kereta itu mencambuk udara, memaksa antrean rakyat jelata bubar.
"Buka jalan untuk Tuan Muda Wang dari Klan Wang!"
Orang-orang menyingkir ketakutan. Klan Wang adalah klan vassal dari Sekte Pedang Guntur, sangat arogan di ibukota.
Namun, kelompok Shen Yu tidak minggir. Mereka tetap berjalan tenang di tengah jalan.
"HEI! Tuli ya?!"
Kusir kereta itu marah. Dia mengarahkan cambuknya yang dialiri Qi ke arah Cang Wu yang berada di posisi paling belakang.
"Sampah cacat! Enyah!"
CTAR!
Cambuk itu melesat ke punggung Cang Wu.
Orang-orang memejamkan mata, membayangkan punggung pemuda kurus itu akan robek.
GRAB.
Suara cambuk berhenti mendadak.
Cang Wu tidak menoleh. Tangan kirinya terangkat ke belakang, menangkap ujung cambuk itu dengan presisi mutlak.
"Hah?" Kusir itu terbelalak. Dia mencoba menarik cambuknya.
Cang Wu menarik sedikit.
BRUK!
Kusir itu terlempar dari kursi kemudi, terbang melintasi udara, dan jatuh berdebum di tanah dengan wajah menghantam batu.
Kereta Kencana berhenti mendadak. Kuda-kuda Api meringkik panik karena merasakan aura "predator" dari Cang Wu.
Pintu kereta terbuka kasar.
Seorang pemuda berjubah emas dengan kipas lipat melompat turun. Wajahnya tampan tapi penuh kesombongan. Aura kultivasinya: Inti Emas Menengah (Mid Golden Core).
Wang Long (Tuan Muda Klan Wang).
"Siapa yang berani menyentuh anjingku?!" bentak Wang Long.
Dia melihat Cang Wu yang dekil, lalu melihat Shen Yu dan yang lain yang tampak seperti kultivator miskin.
"Kultivator liar..." desis Wang Long jijik. "Dan kau membawa sampah cacat ini masuk ke Ibukota?"
Wang Long menunjuk Cang Wu.
"Hei, Cacat. Kau menyentuh cambukku dengan tangan kotormu. Potong tanganmu sekarang, dan bersujud tiga kali. Mungkin aku akan mengampunimu."
Para penjaga gerbang kota hanya menonton sambil tertawa. Mereka sudah biasa melihat Klan Wang menindas pendatang baru.
Shen Yu berhenti berjalan. Dia berbalik perlahan.
"Cang Wu," panggil Shen Yu datar.
"Ya, Guru," suara Cang Wu serak, seperti gesekan kertas pasir.
"Apa yang kau lakukan jika ada anjing yang menggonggong di jalanmu?"
Cang Wu mengangkat kepalanya. Matanya yang kosong menatap Wang Long.
"Patahkan kakinya," jawab Cang Wu polos.
Kerumunan tersentak. Gila! Murid cacat tanpa Qi itu ingin mematahkan kaki Tuan Muda Inti Emas?
Wang Long tertawa keras, wajahnya merah karena marah.
"Patahkan kakiku?! Kau?! Dasar sampah yang tidak punya Qi!"
Wang Long mencabut pedangnya. Bilah pedang itu dialiri listrik biru.
"Mati kau!"
Wang Long melesat. Tusukan pedangnya mengarah lurus ke jantung Cang Wu. Cepat. Mematikan.
Cang Wu tidak menghindar. Dia juga tidak mencabut pedang besarnya.
Dia memajukan langkahnya satu kali.
BAM!
Tanah di bawah kaki Cang Wu retak.
Tangan kanan Cang Wu (yang terdiri dari Tulang Iblis yang ditempa ulang) terulur lurus ke depan, menembus pertahanan pedang Wang Long.
Bukan menangkis. Cang Wu membiarkan pedang Wang Long menusuk bahunya.
SREET.
Pedang itu menembus daging bahu Cang Wu, tapi Tersangkut di tulangnya yang sekeras logam dewa.
"Apa?!" Wang Long terkejut. Pedangnya macet!
Cang Wu tidak berkedip meski bahunya tertusuk. Jarak mereka kini nol.
Cang Wu mencengkeram wajah Wang Long dengan tangan kanannya.
"Dapat."
Cang Wu mengangkat tubuh Wang Long ke udara hanya dengan mencengkeram wajahnya.
"LEPASKAN AKU! AKU KLAN WANG! AYAHKU AKAN—"
Cang Wu membanting tubuh Wang Long ke tanah batu yang keras.
BLAAAAAAM!
Kawah kecil terbentuk. Tulang punggung Wang Long retak seketika.
Wang Long memuntahkan darah segar. Qi pelindungnya hancur total hanya oleh satu bantingan fisik murni.
Cang Wu menginjak lutut kanan Wang Long.
KRAK!
"AAAAAARGGGHHH!" Jeritan Wang Long memilukan.
"Satu," hitung Cang Wu datar.
Dia menginjak lutut kiri.
KRAK!
"Dua."
Kaki Tuan Muda Klan Wang patah tertekuk ke arah yang salah.
Cang Wu mencabut pedang Wang Long yang masih menancap di bahunya sendiri, darah hitam menetes. Dia melempar pedang itu hingga menancap tepat di samping telinga Wang Long yang menangis meraung-raung.
Cang Wu berbalik, menatap para penjaga gerbang yang kini pucat pasi dan memegang tombak dengan tangan gemetar.
"Jalan... Masih ditutup?" tanya Cang Wu.
"T-T-Tidak! Silakan lewat! Silakan lewat, Tuan!" Penjaga itu buru-buru menyingkir, takut dia akan menjadi korban berikutnya.
Shen Yu tersenyum tipis.
Dia berjalan melewati tubuh Wang Long yang sekarat tanpa melirik sedikit pun. Jubah hitamnya menyapu debu di samping wajah Tuan Muda yang sombong itu.
(Setelah insiden Cang Wu mematahkan kaki Tuan Muda Wang di gerbang kota...)
Wang Long diseret pergi oleh pengawalnya yang ketakutan, meninggalkan jejak darah di batu jalanan ibukota. Kerumunan bubar dengan cepat, tidak berani menatap mata Shen Yu dan kelompoknya.
"Ayo," perintah Shen Yu singkat.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan utama Ibukota Awan Selatan yang megah. Toko-toko pil, paviliun senjata, dan rumah lelang berjejer rapi. Aroma dupa spiritual dan obat-obatan memenuhi udara.
Namun, di tengah kemegahan itu, langkah Su Ling tiba-tiba melambat.
Tangannya yang tertutup lengan baju ungu bergetar halus. Dia menyentuh dadanya, napasnya menjadi tidak teratur. Mata Iblis Surgawi di balik cadarnya (satu ungu, satu hitam) berdenyut sakit, seolah bereaksi terhadap sesuatu di dekatnya.
"Su Ling?" Shen Yu segera menyadari perubahan itu. Dia berhenti dan memegang bahu gadis itu. "Ada apa?"
Su Ling menggeleng, wajahnya pucat dan bingung.
"Bukan... Bukan itu, Shen Yu. Aku... aku merasakan sesuatu yang aneh."
"Darahku... darahku mendidih. Rasanya familiar, tapi juga asing. Seperti ada panggilan dari kejauhan."
Su Ling menatap ke arah persimpangan jalan di depan.
"Aura ini... mirip dengan aura Kakekku di Alam Bawah dulu. Tapi jauh lebih murni, lebih kuat, dan... lebih dingin."
Tepat saat itu, suara gong bergema.
DONG! DONG!
"Minggir! Beri hormat pada Iring-iringan Klan Utama Su!"
Dari persimpangan jalan, muncul rombongan kereta kencana yang jauh lebih mewah daripada milik Wang Long tadi. Kereta itu ditarik oleh enam Qilin Angin (hewan roh tingkat tinggi). Bendera berlambang "Bunga Teratai Es" berkibar gagah.
Di dalam kereta yang tirainya terbuka setengah, duduk seorang wanita paruh baya yang anggun dengan aura Nascent Soul Awal. Di sebelahnya, seorang gadis muda yang cantik sedang memegang cermin giok, memancarkan aura Inti Emas Puncak.
Su Ling menatap lambang Bunga Teratai Es itu. Ingatan masa kecilnya di Alam Bawah (sebelum keluarganya dibantai habis oleh "musuh misterius") terlintas.
"Lambang itu..." bisik Su Ling. "Itu lambang yang ada di liontin peninggalan orang tuaku... Liontin yang hancur saat rumah kami dibakar."
Shen Yu menyipitkan mata. Mata kanannya berubah menjadi merah darah. Dia mengaktifkan Penglihatan Karma.
Dia melihat benang merah tipis yang terhubung dari tubuh Su Ling ke arah rombongan Klan Su itu.
Itu adalah Benang Garis Darah (Bloodline Thread).
Tapi anehnya, benang itu berwarna hitam di ujungnya. Itu bukan tanda reuni keluarga yang bahagia. Itu adalah tanda Pemutus Keturunan.
Otak Shen Yu yang cerdas dan licik segera menyusun potongan teka-teki itu.
Keluarga Su Ling di Alam Bawah hancur secara misterius dalam satu malam. Tidak ada musuh lokal yang mengaku bertanggung jawab. Dan sekarang, di Alam Atas, ada Klan Su yang sangat kuat dengan garis darah yang sama.
"Hanya ada satu alasan sebuah Klan Utama membiarkan cabangnya di Alam Bawah musnah," batin Shen Yu dingin.
"Pembersihan."
"Mereka membersihkan 'cacat' atau 'aib' yang muncul di cabang. Dan aib itu... kemungkinan besar adalah Mata Iblis Surgawi milik Su Ling."
Gadis di kereta itu (Nona Muda Klan Su) tiba-tiba menoleh. Dia merasakan sesuatu. Matanya bertatapan dengan Su Ling yang berdiri di pinggir jalan.
Nona Muda itu mengerutkan kening. Dia merasa jijik dan terganggu tanpa alasan yang jelas saat melihat Su Ling, seolah melihat pantulan dirinya yang kotor.
"Tutup tirainya," perintah Nona Muda itu pada pelayan. "Ada bau tidak sedap di jalanan ini."
Tirai tertutup. Rombongan berlalu.
Su Ling masih terpaku. Air mata tanpa sadar menetes dari mata ungunya.
"Shen Yu... apakah mungkin... mereka kerabatku?" tanya Su Ling lirih. "Apakah keluargaku di Alam Bawah berasal dari sini?"
Shen Yu memeluk bahu Su Ling, menariknya mendekat, melindunginya dari pandangan orang.
"Mungkin," jawab Shen Yu lembut, namun matanya menatap kereta yang menjauh itu dengan tatapan membunuh.
"Tapi ingat satu hal, Su Ling."
"Darah tidak selalu berarti keluarga. Terkadang, darah adalah alasan seseorang membunuhmu."
"Jangan mendekati mereka dulu. Biarkan aku yang menyelidikinya. Jika mereka keluargamu yang hilang, aku akan mempertemukanmu. Tapi jika mereka adalah alasan keluargamu di Alam Bawah hancur..."
Aura Shen Yu menggelap.
"...Maka aku akan menghapus nama Su dari sejarah Benua ini."
Su Ling mengangguk, menyeka air matanya. Dia mempercayai Shen Yu lebih dari apapun.
"Ayo," kata Shen Yu. "Kita cari penginapan. Turnamen sebentar lagi dimulai, dan sepertinya musuh kita bertambah satu lagi."
10 bab sehari kek pelit bener