Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Penyiksaan
Dua hari setelah menemukan bunker, aku tidak bisa tidur dengan benar. Setiap kali menutup mata, aku melihat wajah-wajah mereka. Mendengar teriakan mereka. Merasakan keputusasaan mereka.
Damian tahu. Tentu saja dia tahu, karena dia selalu tahu.
Pagi ini dia membangunkanku lebih awal. Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya.
"Bangun," katanya. "Ada yang harus kau pelajari hari ini."
Aku duduk dengan tubuh yang masih lelah. "Pelajari apa?"
"Survival," jawabnya sambil membuka lemari. Mengeluarkan pakaian hitam sederhana. "Di duniaku, kalau kau tidak tahu cara melindungi diri, kau akan mati. Dan melindungi diri bukan hanya tentang menembak atau berkelahi."
Dia melempar pakaian itu padaku.
"Kadang," lanjutnya, "kau harus tahu cara membuat orang bicara. Cara mendapatkan informasi. Cara bertahan dengan menggunakan kelemahan musuh."
Jantungku mulai berdetak cepat. "Apa maksudmu?"
Damian tersenyum tipis. "Kau akan lihat. Pakai itu dan ikut aku."
***
Tiga puluh menit kemudian, kami berdiri di ruangan yang belum pernah kulihat. Masih di bunker bawah tanah tapi di bagian yang berbeda. Lebih steril. Lebih terorganisir.
Ada meja panjang dengan berbagai alat. Pisau berbagai ukuran. Tang. Gunting. Alat setrum. Bor kecil. Dan banyak lagi yang bahkan tidak kutahu namanya.
Di tengah ruangan ada kursi besi dengan tali pengikat di lengan dan kaki.
Dan di sudut ada boneka seukuran manusia, dengan kulit sintetis yang terlihat sangat realistis.
"Ini ruang latihan," kata Damian sambil berjalan ke meja. Mengambil salah satu pisau. Memeriksanya. "Di sini aku belajar teknik penyiksaan ketika berusia lima belas tahun. Dan sekarang giliranmu."
"Tidak," kataku. Suaraku gemetar. "Aku tidak akan..."
"Kau akan melakukannya, dan itu pasti," potongnya. Tegas. "Karena kalau kau tidak belajar, kau tidak akan bisa bertahan. Dan aku tidak bisa selalu melindungimu."
Dia berjalan ke arahku. Memegang bahuku dengan kuat.
"Dengar," katanya sambil menatap mataku. "Aku tahu ini sulit. Aku tahu ini mengerikan. Tapi ini penting. Sangat penting."
"Kenapa?" tanyaku. "Kenapa aku harus belajar menyiksa orang?"
"Karena suatu hari," jawabnya dengan suara yang sangat serius, "mungkin ada yang menculikmu lagi. Mungkin ada yang mencoba membunuhku dan mengambilmu. Dan kalau itu terjadi, kalau kau ditahan dan ditanya tentang rahasia keluarga kita."
Cengkeramannya mengerat.
"Kau harus tahu cara bertahan," lanjutnya. "Cara mengalihkan perhatian. Cara membuat penculikmu lengah. Dan untuk itu, kau harus mengerti bagaimana penyiksaan bekerja. Dari kedua sisi."
Dia melepaskan bahuku. Berjalan kembali ke meja.
"Jadi hari ini," katanya sambil mengambil pisau kecil, "kau akan belajar. Dimulai dari yang paling dasar."
***
Dua jam berikutnya adalah mimpi buruk.
Damian mengajariku anatomi manusia. Di mana titik yang paling sakit. Di mana yang bisa dipotong tanpa membunuh. Bagaimana cara mematahkan tulang supaya sakit maksimal tapi tetap bisa disembuhkan.
Semua dijelaskan dengan detail yang mengerikan. Dengan boneka sebagai model.
"Lihat," katanya sambil memotong kulit sintetis boneka di lengan. "Potong di sini. Dangkal. Hanya untuk sakit. Tidak untuk merusak. Kalau kau potong terlalu dalam, mereka bisa shock dan pingsan. Kau tidak mau itu. Kau mau mereka tetap sadar."
Aku menatap dengan mual naik ke tenggorokan. Tapi aku tidak bisa berpaling. Damian memaksaku menonton setiap detail.
"Sekarang giliranmu," katanya sambil menyodorkan pisau.
"A-aku tidak bisa."
"Ini hanya boneka," katanya. "Bukan manusia. Cobalah."
Dengan tangan gemetar, aku mengambil pisau. Menatap boneka di depanku. Kulit sintetis yang terlihat sangat mirip kulit asli.
"Potong," perintah Damian. "Seperti yang kutunjukkan."
Aku mengangkat pisau. Meletakkannya di kulit boneka. Tapi tanganku tidak bisa bergerak.
"POTONG!" teriak Damian.
Aku tersentak, pisau bergerak. Memotong kulit sintetis, seperti yang dia ajarkan.
"Bagus," katanya. "Lagi. Lebih panjang kali ini."
Dan aku melakukannya lagi. Dan lagi. Sampai boneka itu penuh dengan potongan-potongan kecil.
Lalu Damian mengajariku tentang alat setrum. Bagaimana menggunakannya untuk memaksa otot berkontraksi. Bagaimana mengatur voltase supaya menyakitkan tapi tidak membunuh.
Semua teknik yang mengerikan. Semua cara untuk membuat orang menderita tanpa membunuh mereka.
Dan yang paling menakutkan, aku mulai mengerti. Mulai melihat logika di baliknya. Mulai memahami efektivitasnya.
Aku kehilangan diriku sedikit demi sedikit.
"Cukup baik untuk hari pertama," kata Damian akhirnya. "Besok kita lanjutkan dengan teknik yang lebih advanced."
Aku meletakkan alat setrum dengan lega. Pikir latihan sudah selesai. Tapi kemudian pintu terbuka, Marco masuk dengan menyeret seseorang.
Pria muda. Mungkin berusia dua puluhan, wajah penuh luka, mata ketakutan, bahkan mulutnya disumpal.
Jantungku berhenti berdetak.
"Apa yang..." suaraku hilang.
Marco mengikat pria itu di kursi besi, melepas sumpalan di mulutnya.
"TOLONG!" teriak pria itu langsung. "KUMOHON LEPASKAN AKU! AKU TIDAK TAHU APA-APA!"
Damian berjalan ke arahku. Menyodorkan pisau yang sama.
"Sekarang," katanya dengan tenang yang mengerikan, "coba yang asli."
Dunia berputar. Aku mundur. Menggeleng.
"Tidak, aku tidak bisa."
"Kau bisa," kata Damian. "Sama seperti di boneka. Hanya kali ini dia akan berteriak. Akan berdarah. Tapi tekniknya sama."
"DAMIAN KUMOHON!" aku berteriak. "JANGAN PAKSA AKU MELAKUKAN INI!"
Tapi Damian tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar. Dia hanya menatapku dengan tatapan dingin.
"Ini orang Bratva," katanya. "Yang mencoba membunuhmu beberapa minggu lalu. Dia salah satu yang selamat dari serangan di gudang. Sekarang dia punya informasi tentang rencana mereka selanjutnya."
Dia menyodorkan pisau lebih dekat.
"Dan kau akan mendapatkan informasi itu," lanjutnya. "Dengan cara yang baru kau pelajari."
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu."
Damian meraih tanganku. Memaksa jari-jariku menggenggam pisau.
"Kau akan," katanya. Suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. "Atau aku akan masukkan kau di sel bersama tiga puluh orang itu. Dan kau akan merasakan apa yang mereka rasakan. Setiap hari. Sampai kau gila."
Ancaman itu menggantung di udara. Nyata. Sangat nyata. Aku menatap pria yang terikat di kursi. Dia menatap balik dengan mata penuh air mata dan ketakutan.
"Kumohon," bisiknya. "Kumohon jangan. Aku punya keluarga. Aku punya anak."
Tapi Damian tidak peduli. Tangannya mendorong tanganku yang memegang pisau lebih dekat.
"Potong lengannya," perintahnya. "Dangkal. Seperti di boneka."
Tanganku gemetar hebat. Pisau hampir jatuh.
"LAKUKAN!" teriak Damian.
Dan aku tidak tahu apa yang terjadi, tubuhku bergerak sendiri, seperti robot yang diprogram. Pisau menyentuh kulit pria itu, dan dia berteriak.
"TIDAK! KUMOHON TIDAK!"
Tapi pisau sudah bergerak, memotong cukup dangkal, seperti yang Damian ajarkan.
Darah keluar dengan merah segar, terasa hangat dan begitu nyata. Bukan darah sintetis dari boneka, tapi darah sungguhan.
Pria itu menjerit, suara yang mengerikan. Yang akan menghantuiku selamanya.
Dan aku tidak bisa berhenti, tangan terus bergerak, seperti ada yang mengendalikan selain diriku.
Atau mungkin itu memang aku, aku yang sudah berubah, dan aku yang sudah rusak sampai bisa melakukan ini.
"Bagus," bisik Damian di telingaku. "Terus lakukan, dan tanya dia di mana markas Bratva."
Suaraku keluar, tapi seperti bukan suaraku. Suara itu terdengar dingin dan begitu kosong.
"Di mana markas Bratva?" tanyaku pada pria yang sudah berlumuran berdarah itu.
"A-aku tidak tahu." jawabnya sambil meringis, menahan perih.
Damian membimbingku. "Potong lagi, lakukan dan kali ini buat sedikit lebih dalam."
Dan aku melakukannya lagi, sampai pria itu akhirnya berbicara, dan memberikan alamat, nama, bahkan memberikan semua yang dia tahu.
Dan ketika Damian akhirnya menarik tanganku menjauh, ketika Marco membawa pria itu keluar, aku hanya berdiri di sana.
Menatap tangan yang berlumuran darah. Tangan yang baru saja menyiksa manusia lain.
"Kau lihat?" kata Damian sambil membersihkan tanganku dengan kain. "Kau bisa melakukannya, bahkan kau jauh lebih kuat dari yang kau kira."
Tapi aku tidak merasa kuat. Aku merasa mati, benar-benar mati di dalam. Garis terakhir sudah dilanggar, moral terakhir sudah hancur.
Aku tidak hanya membunuh lagi, aku menyiksa, dan membuat orang menderita dengan sengaja.
Dan yang paling menakutkan, bagian kecil dari diriku merasakan sesuatu seperti sebuah kepuasan?
Kepuasan karena aku punya kekuasaan, karena aku yang mengendalikan. Dan itu yang paling mengerikan dari semuanya.
Tapi apa yang tidak kulihat adalah, pria yang baru kusiksa itu adalah umpan. Yang di sengaja ditangkap, sengaja dikirim ke sini. Dengan informasi palsu, yang akan membawa Damian dan orang-orangnya ke jebakan. Jebakan yang disiapkan oleh ayah dan Marco.
Dan ketika Damian pergi besok, untuk menyerang markas palsu, itu akan menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkanku. Sebelum aku benar-benar kehilangan, sisa kemanusiaanku yang tersisa.