Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Tim relawan medis
Davin merasakan ponselnya bergetar, pesan masuk dari Dewi. Dia segera membukanya.
[Dok... Anda ada di mana? Tadi Dokter Renata mencari Anda. Apa terjadi sesuatu?]
Davin mengembuskan napas, dia tidak berniat membalas. Tak lama kemudian ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Dia melihatnya, tertera nama Renata di layar, tetapi tak berniat menerimanya. Dibiarkan saja hingga berhenti dengan sendirinya.
Suasana kembali senyap, hanya debur ombak menjadi satu-satunya suara yang menemaninya saat ini.
Ditariknya napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Davin memikirkan langkah apa yang akan diambilnya. Dia membuka ponselnya bersamaan dengan sebuah pesan masuk dari Renata.
[Dok, Anda di mana? Kenapa pulang tidak bilang pada saya? Atau minimal kirim pesan?]
[Apa terjadi sesuatu? Saya khawatir]
Davin tersenyum pahit. Jika dulu, saat belum mengetahui kedok Renata, dia akan merasa berbunga-bunga mendapatkan pesan yang seolah peduli padanya. Namun, kini dia justru merasa muak.
"Hahhh... Dasar gadis bermuka dua," cibirnya dalam hati.
Dia menatap kosong ke laut yang luas. Pikirannya mengembara.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis seperti itu?" tanyanya pada diri sendiri. "Bagaimana jika Mami dan Papi tahu, atau Abang sama Kakak. Apalagi si reseh Danish...?"
Davin kembali membuang napasnya kasar, lalu menggelengkan kepalanya cepat. Dia berbalik, melangkah meninggalkan pantai, berniat untuk pulang. Tak ingin berlama-lama di sana, membiarkan perasaannya dikuasai oleh pikiran negatif.
"Aku harus punya rencana ke depan, bukan hanya meratapi keadaan seperti pecundang!" tekadnya.
.
Di tempat lain, Renata terus memandangi ponselnya berharap Davin membalas pesan yang beberapa menit lalu ia kirimkan. Gadis itu, duduk di balkon kamarnya dengan perasaan gelisah.
"Tidak biasanya Dokter Davin begini? Biasanya dia langsung gercep balas pesan ataupun angkat teleponku."
Ada sedikit rasa tak terima dirinya diabaikan oleh pemuda yang selama ini selalu menjadikannya prioritas.
"Apa aku membuat kesalahan, ya?" pikirnya sambil menatap langit gelap.
"Kayaknya enggak, deh. Tapi, kenapa dia tiba-tiba aneh begitu?"
Renata sibuk berspekulasi seolah merasa tak bersalah, padahal akibat kata-katanya membuat Davin jadi ilfeel padanya.
"Lebih baik besok aku tanyakan langsung padanya, daripada aku penasaran sendiri," gumamnya, lantas beranjak ke kamarnya.
.
Keesokan harinya, bahkan sebelum langit sepenuhnya terang, Davin sudah bangun. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, dia keluar dari unit apartemennya. Udara pagi yang segar langsung menyambutnya. Davin berniat untuk jogging di sekitar kompleks apartemen, menjernihkan pikiran sebelum menghadapi hari yang panjang.
Sebelum memulai jogging dia melakukan pemanasan terlebih dahulu, lalu berlari kecil menyusuri jalanan yang masih sepi. Baginya, berolahraga bukan hanya untuk menjaga kebugaran fisik, tetapi juga untuk memompa semangatnya.
Setelah cukup lama berlari, Davin kembali ke apartemennya. Dia bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Sengaja dirinya berangkat lebih pagi dari biasanya, berharap bisa menghindari Renata. Belum siap rasanya untuk berhadapan dengan gadis itu setelah mengetahui semua kebenarannya.
Namun, takdir berkata lain. Sesampainya di rumah sakit, Davin melihat Renata sudah menunggunya di depan pintu masuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi, Dok!" sapa Renata sambil tersenyum manis.
Davin menghela napas kesal dalam hati. "Kenapa harus bertemu dia, sih! Mau apa, coba?"
"Oke, Davin. Jangan lemah hanya karena senyuman dan rayuannya," ucapnya mencoba membentengi dirinya sendiri.
"Selamat pagi," jawab Davin dengan senyum dipaksakan.
"Bisa kita bicara sebentar, Dok?" Renata bertanya, nada suaranya ceria, matanya menyiratkan permohonan.
Davin berusaha menguasai dirinya, menyembunyikan rasa muak yang mulai menelusup hatinya. "Tentu saja, ada apa?"
"Anda semalam ke mana? Kenapa telepon dan pesan saya tidak dibalas?" Renata bertanya, tatapannya menyelidik. "Saya khawatir terjadi sesuatu sama Anda."
Davin memalingkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata dengan Renata. Inilah susahnya, dia bukan orang yang pandai berpura-pura. Dia memejamkan mata sesaat, seraya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut. "Maaf, Dokter Renata. Semalam saya ada urusan dengan keluarga. Ponsel saya dipegang sama keponakan dan baru sempat saya ambil pagi ini."
"Hahhh... Dokter Davin membiarkan ponsel yang harganya selangit itu buat mainan ponakannya?" gumam Renata terkejut dalam hati.
Namun, ia berusaha tersenyum dan tampak sedikit lega mendengar jawaban Davin. "Oh, begitu. Lain kali, tolong kabari saya ya, Dok. Biar saya nggak khawatir."
Davin mencibir dalam hati mendengar ucapan Renata, tetapi tetap menyunggingkan senyum palsunya.
"Baiklah," jawabnya singkat. "Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi dulu. Ada pasien yang harus saya tangani."
Davin melangkah melewati Renata, menuju ruangannya tanpa menoleh ke arah gadis itu. Dia sudah tidak peduli lagi dan ingin cepat-cepat menjauh dari tempat itu.
Renata menatap kepergian Davin dengan pandangan heran. Ada sesuatu yang berbeda dan ia tak sepenuhnya percaya dengan penjelasan seniornya itu. "Kenapa Dokter Davin terkesan menghindariku? Ada apa sebenarnya?" batinnya bertanya-tanya.
"Sepertinya aku harus mencari tahu," ucapnya segera bergegas menuju ruangannya.
.
Setelah berhasil menghindari Renata, Davin memasuki ruangannya dan di sambut oleh Dewi asistennya yang sedang membersihkan ruangan.
"Eh, selamat pagi, Dok? Anda sudah datang?" sapanya sambil tersenyum ceria.
"Selamat pagi, Sus," jawab Davin seraya duduk di kursinya.
"Dok, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kemarin Dokter Renata malah kemari mencari Anda? Memangnya tidak jadi ke tempat Dokter Renata? Atau Anda punya pengagum yang lain?" cecar Dewi dengan sejumlah pertanyaan persis kayak wartawan yang sedang mewawancarai rasa sumbernya.
Davin melongo, tak tahu harus menjawab yang mana. Namun, sebelum berhasil menjawab, ponselnya berdering. Sebuah notifikasi muncul dari grup chat rumah sakit. Davin membuka pesan tersebut dan membaca pengumuman dari direktur rumah sakit.
[Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, rekan-rekan semua. Sehubungan dengan musibah bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di daerah X, pihak rumah sakit berencana mengirimkan tim medis untuk membantu rekan-rekan seprofesi di sana. Bagi rekan-rekan yang berminat untuk bergabung sebagai tim relawan medis, silakan mendaftarkan diri melalui sekretariat. Pendaftaran dibuka hingga pukul 12.00 siang ini. Atas perhatian dan partisipasinya, kami ucapkan terima kasih.]
Tanpa berpikir panjang, Davin mengirimkan pesan balasan ke sekretariat.
[Assalamualaikum. Saya, dr. Davin, bersedia bergabung dengan tim relawan medis untuk membantu korban musibah di daerah X.]
Setelah mengirim pesan tersebut, Davin merasa lega. Dia ingin melakukan sesuatu yang lebih berarti daripada hanya memikirkan masalah pribadinya. Dengan begitu dia bisa melupakan rasa sakit hatinya dan menemukan kedamaian dalam diri.
Davin kembali fokus pada pekerjaannya, dengan semangat yang baru. Ia tidak sabar untuk segera berangkat ke daerah X dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang dokter yang profesional dan berdedikasi, bukan hanya seorang pria yang patah hati.
Saat istirahat siang, Davin menerima pemberitahuan agar mereka yang telah mendaftar menjadi tim relawan berkumpul di aula.
"Anda mendaftar jadi relawan, Dok?" tanya Dewi saat Davin keluar dari ruangannya.
"Benar, Sus," jawab Davin sambil berlalu menuju aula.
Sesaat kemudian Renata mendatangi ruangan Davin berniat mengajaknya makan bersama.
Dewi yang melihat kedatangannya langsung memberitahu. "Maaf, Dok. Dokter Davin tidak ada di ruangannya. Beliau ke aula bergabung dengan relawan medis lainnya ke daerah yang tertimpa bencana."
"Apa...! Kok, Dokter Davin nggak bilang sama saya?" Renata tampak terkejut.
"Memangnya Dokter Renata apanya Dokter Davin? Ibunya kah? Atau kekasihnya?"
Jleb