Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raga Tirani Kekacauan
Angin malam menyapu lembah tandus, menghapus perlahan bau anyir darah yang ditinggalkan oleh kematian Tetua Gagak Hitam. Jian Chen tidak membuang waktu; tubuhnya berkedip menyatu dengan bayangan, menggunakan Langkah Hantu Kekosongan untuk merajut jarak kembali ke Puncak Awan Awan sebelum semburat fajar menyingsing.
Setibanya di gubuk bambunya yang sunyi, ia segera mengunci pintu dan melempar beberapa batu spiritual ke sudut ruangan untuk membentuk sebuah formasi penyegel suara sederhana.
Ia duduk bersila di atas ranjang bambu, mengeluarkan cincin penyimpanan rampasan milik Tetua Gagak Hitam. Dengan sisa Niat Pedang di dalam Lautan Kesadaran-nya, ia menghancurkan segel spiritual rapuh peninggalan mayat itu seolah memecahkan cangkang telur.
"Mari kita lihat harga dari sebuah kesombongan," gumamnya pelan.
Isi cincin itu tumpah ke atas ranjang. Tiga ribu Batu Spiritual Tingkat Rendah, sebuah zirah rantai tingkat fana, dan belasan botol porselen berisi racun mematikan. Untuk ukuran seorang ahli Pembentukan Fondasi yang telah hidup puluhan tahun, kekayaan ini sungguh menyedihkan. Pria tua itu pasti telah menumpahkan seluruh hartanya hanya untuk menawar tulang naga di pelelangan tadi.
Jian Chen menyapu bersih batu spiritual itu ke dalam cincinnya dan menyingkirkan barang rongsokan lainnya, lalu mengeluarkan harta yang sesungguhnya: Tulang Naga Kekacauan.
Tulang melengkung berwarna hitam pekat itu terasa seberat bongkahan meteorit, memancarkan aura purba yang membuat udara di dalam gubuk terasa sepadat air kental. Jian Chen memanggil Kuali Naga Hitam miliknya dan meletakkannya di tengah ruangan dengan bunyi debuk yang berat.
"Tulang naga sejati menolak api fana. Bahkan api dari cairan Qi ahli Pembentukan Fondasi pun tidak akan mampu meninggalkan bekas jelaga padanya," ucap Jian Chen, matanya menyipit penuh antisipasi.
Ia mengangkat tangan kanannya. Qi perak dari Meridian Primordial-nya mengalir keluar, lalu ia memancing seutas energi dari Darah Primordial yang tertidur di kedalaman jiwanya. Seketika, nyala api mematikan berwarna hitam kelam dengan inti merah darah meletus di telapak tangannya—Api Primordial Hitam!
Jian Chen melemparkan tulang kuno itu ke dalam kuali, lalu menembakkan pilar Api Primordial Hitam ke dasar tungku.
ROAARR!
Sebuah ilusi auman naga terdengar saat kesembilan naga yang terukir di kuali itu seakan hidup kembali, merespons keagungan api sang kaisar. Suhu di dalam kuali melonjak drastis hingga ke titik yang mampu melelehkan baja spiritual tingkat tinggi menjadi genangan air dalam sekejap mata, namun tulang hitam di dalamnya tetap tak bergeming.
Jian Chen memejamkan matanya, mengalirkan seluruh fokus dan staminanya untuk menjaga pasokan api.
Satu hari berlalu. Tulang hitam itu mulai memancarkan rona merah membara.
Dua hari berlalu. Retakan-retakan di permukaan tulang mulai mengeluarkan suara kertakan tajam yang merobek telinga.
Pada senja hari ketiga, batas ketahanan tulang dari era prasejarah itu akhirnya runtuh.
Di bawah siksaan tanpa henti dari Api Primordial Hitam, kerangka luar tulang itu mengelupas menjadi abu keperakan, meninggalkan setetes cairan kental berwarna emas kehitaman yang mengambang dengan angkuh di tengah kuali. Cairan sekecil mutiara itu memancarkan proyeksi ilusi bayangan naga purba yang meronta-ronta, mengguncang lautan jiwa siapa pun yang berani menatapnya.
"Sumsum Naga Kekacauan!" Mata Jian Chen berbinar dipenuhi kehausan yang buas.
Tanpa membiarkan setitik pun esensi itu menguap ke udara fana, ia membuka mulutnya dan menarik napas kuat-kuat. Tetesan sumsum naga itu melesat layaknya panah cahaya, masuk lurus ke dalam tenggorokannya.
BOOOOOOM!
Seketika, rasanya seolah seribu gunung berapi meletus serentak di dalam perutnya. Sumsum naga itu adalah esensi murni dari makhluk tiran yang mengarungi lautan bintang; energi brutalnya mulai mengamuk, mencoba menghancurkan organ dalam fana milik Jian Chen dari dalam ke luar!
"Bahkan Naga Sejati harus tunduk di hadapanku! Lumatkan!" raung Jian Chen dalam keheningan jiwanya.
Seni Melahap Surga Primordial berputar melampaui batas maksimalnya, menciptakan lubang hitam raksasa di Dantiannya untuk menekan dan menggiling energi buas tersebut. Di saat yang sama, Darah Primordial di jiwanya memancarkan cahaya merah pekat, keluar dari sarangnya dan menyatu dengan kekuatan sumsum emas kehitaman itu layaknya dua raja yang akhirnya bersumpah setia.
Rasa sakit yang ribuan kali lebih mengerikan dari pemotongan daging melanda setiap inci eksistensinya. Tulang-belulang di seluruh tubuh Jian Chen hancur meremuk menjadi serpihan kecil akibat luapan tenaga, lalu dalam sekejap dirajut kembali oleh perpaduan Darah Primordial dan Sumsum Naga.
Setiap kali tulangnya tersambung, warnanya berubah dari putih keruh menjadi seputih giok murni, memancarkan kilau keemasan yang mengisyaratkan ketangguhan yang tak bisa dihancurkan oleh senjata apa pun di dunia fana.
Di bawah permukaan kulitnya, bayangan sisik naga berwarna emas kehitaman muncul sesaat, bergemeretak seperti zirah dewa perang, sebelum meresap kembali dan tersembunyi di dalam dagingnya. Raga fananya baru saja menyelesaikan tahap pertama transendensi—menuju Raga Tirani Kekacauan.
Siksaan penciptaan kembali itu berlangsung sepanjang malam tanpa ampun.
Ketika cahaya matahari pagi membelah kabut di hari keempat, Jian Chen perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi erangan kesakitan maupun keringat kelelahan; yang ada hanyalah helaan napas yang memuat tekanan luar biasa berat, hingga membuat debu di lantai gubuk tersapu bersih membentuk lingkaran sempurna di sekelilingnya.
"Kondensasi Qi Tingkat Delapan Awal," suaranya mengalun pelan, namun gelombang suaranya menggetarkan cangkir bambu di meja hingga retak menjadi dua.
Kultivasinya telah menembus penghalang besar dengan menelan esensi purba. Namun, yang paling mengerikan adalah transformasi raga fisiknya. Jian Chen mengangkat tangan kanannya dan mengepalkan tinjunya dengan lambat. Udara di dalam genggamannya tidak sekadar meletus, melainkan menjerit hancur di bawah tekanan absolut.
"Dua belas ribu kilogram," ucapnya, menyeringai mematikan. "Jika Tetua Gagak Hitam hidup kembali dan berdiri di depanku sekarang, aku tidak perlu menghunus pedangku. Satu jentikan jariku sudah cukup untuk menghancurkan cakar racunnya berkeping-keping."
Brak!
Pintu bambu gubuknya mendadak didorong terbuka secara kasar. Feng Wuya berdiri di ambang pintu, labu arak kesayangannya miring hingga isinya tumpah membasahi tanah. Mata tua pria itu menatap Jian Chen seolah sedang melihat iblis yang bangkit dari mitologi kuno.
Aura naga tiran yang tanpa sengaja bocor barusan telah membangunkan pria tua itu dari tidur mabuknya dalam sekejap.
"Bocah..." Feng Wuya menelan ludah dengan susah payah, mengusap matanya yang masih tak percaya. "Garis keturunan iblis macam apa yang baru saja kau bangunkan di gunungku?!"
Jian Chen berdiri, jubah hitamnya melambai pelan tanpa ada angin. Ia menatap gurunya dengan ketenangan yang menakutkan.
"Hanya fondasi kecil untuk memastikan aku tidak mengecewakanmu di Pertarungan Enam Sekte, Guru," jawab Jian Chen santai, lalu melirik ke arah luar pegunungan. "Berapa lama aku tertutup di sini?"
"Tiga... tidak, empat hari," jawab Feng Wuya masih dengan nada terkesiap, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Wajahnya seketika dipenuhi seringai licik orang tua yang menemukan mainan baru. "Waktumu sangat tepat. Tulangmu pasti gatal setelah mencerna apa pun itu. Malam ini, Gelanggang Asura di Kota Dosa mengadakan perhelatan Malam Seratus Iblis."
Mata hitam Jian Chen memancarkan secercah kilatan merah. "Malam Seratus Iblis?"
"Pertarungan kelangsungan hidup," Feng Wuya menyesap araknya yang tersisa, rasa terkejutnya mulai tergantikan oleh antusiasme. "Seratus petarung dimasukkan ke dalam satu arena tertutup. Hanya satu yang boleh keluar hidup-hidup. Pemenangnya berhak menantang gelar Raja Asura. Para bangsawan dan petinggi sekte dari seluruh kerajaan akan datang menonton secara diam-diam. Bagaimana? Kau berani turun ke sana dan memberi makan pedang raksasamu?"
Jian Chen berjalan melewati gurunya, menengadah menatap langit pagi dengan arogansi seorang kaisar sejati.
"Seratus semut tetaplah semut," ucap Jian Chen dingin. "Siapkan anggur penyambutanmu, Guru. Malam ini, takhta Raja Asura akan berganti pemilik."