Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. KETAKUTAN
Jeritan Elara menggema di kamar luas di kediaman Duke Arram Oberyn.
"AAAA!"
Tubuh gadis itu tersentak bangun dari tempat tidurnya.
Napas Elara terengah-engah seperti seseorang yang baru saja berlari jauh. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya.
Tangannya gemetar hebat.
Matanya yang masih diliputi ketakutan menatap kosong ke depan.
Namun yang paling terasa adalah perasaan mencekam yang masih tertinggal dari mimpi itu. Membuatnya ingin muntah karena rasa takut yang tinggi.
Api.
Jeritan.
Bau daging terbakar.
Dan kepala-kepala yang ditusukkan di ujung tombak.
Elara menutup telinganya. "Tidak ... tidak ..."
Suara gadis itu bergetar. Ia berusaha mengusir bayangan itu dari kepalanya. Namun setiap kali ia memejamkan mata ia kembali melihat kota yang hancur.
Kota Oberyn yang terbakar.
Dan orang-orang berjubah hitam yang membantai semua orang.
Tiba-tiba.sebuah tangan menggenggam tangannya.
Hangat.
Nyata.
Elara langsung menoleh.
Namun ketika ia melihat siapa orang itu ... pupilnya langsung melebar.
"AARON!!" Elara berteriak keras. Tubuhnya langsung mundur panik. Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
Aaron yang duduk di samping tempat tidur langsung terkejut.
"Lala?"
Namun Elara justru semakin panik. Matanya dipenuhi ketakutan. Ia menatap Aaron seperti melihat hantu.
Bayangan dari mimpi gadis itu barusan kembali terlintas di kepalanya.
Kepala Aaron.
Tertusuk di ujung tombak.
Mata yang terbuka.
Darah yang mengalir.
"Lala, tenang-" pinta Aaron.
Namun Elara justru meronta. "Jangan mendekat!"
Elara mencoba menjauh dari Aaron. Tangannya gemetar hebat. Napasnya semakin kacau.
Aaron mengerutkan kening bingung dengan respon tak biasa Elara ini. "Lala, dengarkan aku-"
Namun gadis itu seolah tidak berada di dunia nyata. Matanya liar. Ia seperti melihat sesuatu yang tidak ada.
Aaron mencoba memegang tangan sang gadis.
Namun Elara justru menarik tangannya dengan panik.
Butuh beberapa detik bagi Aaron untuk menyadari sesuatu; Elara masih terjebak dalam mimpinya.
"Lala?!" Aaron memanggil nama gadis itu dengan tegas.
Namun Elara terus meronta. "Tidak ... jangan!"
Air mata mulai mengalir dari mata Elara. Ia menutup telinganya. Seolah suara jeritan dalam mimpi itu masih bergema.
Aaron menarik napas panjang. Lalu ia memeluk Elara dengan paksa.
Gadis itu sempat meronta.
Namun Aaron memeluknya lebih erat.
"Lala." Suara Aaron tegas. Ia menahan tubuh Elara yang gemetar. "Ini aku! Ini aku, Aaron. Lihat aku. Ini aku Aaron, Lala."
Tangan Aaron mengusap punggung gadis itu perlahan. Gerakan yang lembut dan menenangkan.
"Kau hanya bermimpi." Suaranya jauh lebih lembut sekarang. "Kau aman. Lala, kau aman."
Butuh waktu cukup lama.
Elara masih gemetar. Tangannya mencengkeram pakaian Aaron tanpa sadar. Napasnya masih kacau.
Namun perlahan ... tubuh gadis itu mulai berhenti meronta.
Air mata mengalir semakin deras. Ia akhirnya menyadari pelukan itu nyata. Suara Aaron nyata. Aroma familiar itu nyata.
"Aa ... ron ...." Suara Elara pecah.
Aaron mengusap rambut Elara. "Ya. Aku di sini."
Begitu kata-kata itu benar-benar sampai ke pikiran Elara, sang gadis tiba-tiba menangis keras.
"AAAH!" Tangis Elara pecah begitu saja. Ia memeluk Aaron dengan erat. Tubuhnya gemetar hebat. Seolah ia baru saja melarikan diri dari sesuatu yang sangat mengerikan.
Aaron tetap memeluk Elara. Tangannya mengusap punggung Elara perlahan.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Menangis saja sampai kau tenang," ucap Aaron.
Namun tangisan Elara semakin keras. Suara tangis itu akhirnya terdengar sampai keluar kamar.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dengan cepat.
"ELARA?!"
Seorang wanita masuk dengan wajah panik.
Itu adalah Daria Oberyn.
Istri Duke Arram.
Dan ibu dari Aaron.
Di belakangnya, beberapa pelayan juga masuk dengan wajah khawatir.
Namun mereka langsung berhenti ketika melihat pemandangan di dalam kamar.
Elara menangis keras di pelukan Aaron.
Daria menatap mereka dengan kaget.
"Aaron?" Ia berjalan mendekat. "Apa yang terjadi?"
Aaron mengangkat wajahnya. Ekspresinya sama khawatir dengan sang ibu.
"Sepertinya Elara mengalami mimpi buruk. Dan mimpi itu cukup parah kurasa," jawab Aaron.
Daria langsung memahami. Ia menoleh ke para pelayan.
"Ambilkan air minum. Dan handuk basah serta kering. Cepat," perintah Daria kepada para pelayan.
Para pelayan segera bergegas keluar.
Daria kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Ia menatap Elara dengan wajah penuh kelembutan. Tangannya perlahan mengusap punggung gadis itu.
"Elara?" Suara Daria lembut seperti ibu yang menenangkan anak kecil. "Tidak apa-apa. Kau aman. Kau berada di kediaman Duke Arram. Kau ada di Oberyn. Tidak ada yang terjadi. Itu hanya mimpi buruk."
Suara Daria sangat tenang.
Hangat.
Seperti pelukan yang tidak terlihat.
Elara masih menangis.
Namun tangisnya mulai mereda sedikit demi sedikit.
Pelayan kembali dengan air dan handuk.
Daria mengambil gelas air.
"Elara, minumlah dulu," pinta Daria.
Aaron membantu menegakkan tubuh Elara.
Gadis itu masih gemetar. Namun ia menyesap air itu perlahan dengan Aaron yang membantu memegang gelas.
Daria kemudian mengambil handuk basah. Ia mengusap kening Elara yang dipenuhi keringat dingin. Kemudian mengelap wajah Elara dengan lembut.
"Tenang. Semua baik-baik saja," ucal Daria berkali-kali seperti mantra penenang.
Handuk kering kemudian digunakan untuk mengeringkan wajah Elara.
Perlahan napas Elara mulai stabil. Tangisnya berubah menjadi sesenggukan kecil.
Namun jelas ketakutan itu masih ada.
Beberapa menit kemudian Elara akhirnya tampak sedikit lebih tenang.
Daria menatapnya dengan lembut. "Elara?"
Gadis itu mengangkat wajahnya pelan.
"Ada apa?" Daria bertanya dengan hati-hati. "Apa yang membuatmu begitu ketakutan?"
Begitu pertanyaan itu terdengar, mata Elara langsung membelalak.
Bayangan mimpi itu kembali muncul.
Kota terbakar.
Tubuh hangus.
Kepala yang tertusuk tombak.
Tangan gadis itu kembali gemetar.
Aaron langsung menggenggam tangan Elara.
Hangat.
Kuat.
"Lala," suara Aaron tenang. "kau aman di sini."
Elara menatap Aaron.
Beberapa detik ia hanya menatap wajah Aaron.
Dan perlahan ketakutan itu sedikit mereda. Elara menarik napas panjang.
Lalu mulai berbicara.
"Aku," Suara gadis itu masih gemetar. "Aku bermimpi. tapi rasanya sangat nyata. Terlalu nyata."
Daria dan Aaron mendengarkan dengan serius.
Elara melanjutkan. "Aku berada di kota Oberyn. Tapi kota ini hancur. Ada api di mana-mana. Bangunan runtuh. Porak poranda. Orang-orang ... mati. Banyak sekali orang mati."
Air mata kembali mengalir di wajah Elara.
Aaron dengan sigap mengusap air mata Elara.
"Lalu, orang-orang berjubah hitam datang. Mereka membantai semua orang," Elara melanjutkan.
Aaron dan Daria saling pandang sebentar.
Namun mereka tetap diam.
Elara melanjutkan dengan suara bergetar. "Aku melihat kepala orang-orang yang kukenal. Termasuk kalian."
Daria sedikit terkejut. Namun tetap tenang.
Elara menatap Aaron.
"Aku melihat kepala Aaron. Bibi Daria. Paman Arram. Teman-teman akademi. Bahkan kepala akademi." Suara Elara hampir tidak terdengar. "Semua kepala mereka dipotong. Lalu ... ditusukkan di tombak."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Tangan Daria mengepal tanpa dilihat Elara walau wajahnya tetap tenang.
"Orang-orang berjubah hitam itu yang melakukannya. Mereka menaruh kepala-kepala itu berjajar. Lalu mereka melihatku. Mereka mengincarku. Dan ... kepala Aaron membuka mata saat itu," ujar Elara yang kembali gemetar takut.
Aaron membeku sedikit. "Lala, tenang."
Namun gadis itu melanjutkan. "Dia menyuruhku lari. Lalu semuanya menjadi gelap."
Ruangan kembali hening.
Aaron dan Daria saling pandang. Kali ini ekspresi mereka jelas terkejut. Namun mereka cepat menguasai diri.
Daria tersenyum lembut. "Itu mimpi yang sangat buruk pantas saja kau sangat ketakutan. Tapi tidak ada alasan bagimu untuk takut. Kami di sini. Lihat kami baik-baik saja, 'kan?"
Aaron juga berkata pelan. "Mungkin karena kau melawan terlalu banyak monster kemarin. Tubuhmu sangat kelelahan begitu juga pikiranmu. Tapi jangan takut. Aku akan menemanimu sampai kau benar-benar tenang."
Elara mengangguk pelan.
Ia tahu mungkin alam bawah sadarnya hanya kelelahan.
Namun rasa panas dari api dalam mimpi itu.
Jeritan yang masih terasa di telinganya.
Dan rasa sesak ketika melihat orang-orang yang ia cintai terbunuh.
Semuanya terasa terlalu nyata.
Elara menarik napas panjang. Berusaha menenangkan diri.
Daria kemudian berdiri. "Aku akan memanggil Arram. Dia pasti khawatir saat mendengar tentangmu ini."
Aaron juga berkata. "Aku juga perlu memberikan sihir penyembuhan untukmu. Energi sihirmu sangat tidak stabil. Terutama setelah mimpi buruk seperti ini."
Elara mengangguk. "Terima kasih."
Daria mengelus kepala Elara. "Aku juga akan membuatkan makanan dan dessert untukmu." Ia tersenyum hangat. "Gadis pemberani butuh makanan enak."
Elara tersenyum lemah.
Daria kemudian berjalan keluar kamar bersama para pelayan.
Namun begitu pintu tertutup ... senyum di wajah Daria langsung menghilang. Wajahnya berubah serius. Bahkan sedikit panik.
Daria berjalan cepat menyusuri koridor menuju tangga. Langkahnya tergesa. Jantungnya berdetak kencang.
Karena kata-kata Elara tadi bukan sekadar mimpi buruk biasa. Ia tahu dengan pasti.
Daria berbelok menuju ruang kerja suaminya di lantai bawah. Ekspresinya penuh kecemasan. Seolah ia mengetahui sesuatu tentang mimpi itu.
Sementara itu ....di dalam kamar.
Aaron masih duduk di samping tempat tidur. Tangannya masih menggenggam tangan Elara.
Hangat.
Tenang.
"Semua akan baik-baik saja." Suara Aaron lembut.
Pria itu mengusap wajah Elara.
Merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.
"Lala, aku di sini. Kau tidak perlu takut. Aku cukup kuat untuk tidak kalah dari siapa pun. Bukankah aku sudah berjanji akan melindungimu sejak kita kecil. Jadi jangan takut kalau mimpi itu akan menjadi nyata. Kau tidak akan kehilangan siapa pun," kata Aaron lembut.
Elara mengangguk, ia benar-benar mulai merasa aman.
Walau tanpa Elara dan Aaron tahu bahwa mimpi gadis itu adalah ramalan yanng akan terjadi di masa depan.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜