NovelToon NovelToon
Douluo : Kaisar Harimau Putih Xing Luo

Douluo : Kaisar Harimau Putih Xing Luo

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai pangeran tertua di Kekaisaran Xingluo seharusnya adalah tiket keberuntungan. Namun bagi Dai Xuan, itu adalah hukuman mati. Di bawah hukum rimba keluarga kerajaan Dai yang kejam, kegagalan membangkitkan Martial Soul Harimau Putih berarti satu hal: tersingkir atau binasa.
​Dunia mencemoohnya. Saudara-saudaranya memandangnya rendah sebagai "produk gagal". Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh yang dianggap lemah itu, tersimpan kekuatan dari dunia lain.
​Bukan Harimau Putih biasa yang ia bawa, melainkan White Tiger Soul-Locking Ability. Kekuatan unik yang mampu mengunci takdir, membelenggu jiwa, dan mematahkan aturan absolut Benua Douluo. Dengan kekuatan jiwa penuh bawaan (Innated Full Soul Power), Dai Xuan memulai langkahnya dari kegelapan.
​"Aturan dibuat oleh mereka yang berada di atas. Karena Harimau Putih kalian tidak mengakuiku, maka aku akan menciptakan takdirku sendiri."
​Dingin, analitis, dan tanpa ampun kepada musuh. Dai Xuan tidak butuh pengakuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Saudara dan Jalan Yang Terhubung

Hari demi hari berlalu dengan cepat di Akademi Kerajaan Star Luo. Dai Xuan menghabiskan sebagian waktunya untuk bertanding di Arena Roh Agung, meningkatkan kekuatan dirinya dengan cara yang terus-menerus berlatih dan menguji batas kemampuannya. Selain itu, dia juga sering meluangkan waktu untuk berolahraga secara intensif dan sesekali mengunjungi keluarga Zhu yang tinggal di pinggiran kota—di sana dia bisa berbicara panjang lebar dengan Zhu Zhuyun tentang cita-cita mereka masing-masing, serta bagaimana cara mereka bisa mengubah takdir yang sudah ditentukan.

Satu tahun telah berlalu sejak hari itu…

Kekuatan spiritual Dai Xuan telah melonjak hingga tingkat delapan belas, dan dia merasakan bahwa tidak akan lama lagi sebelum bisa menembus batas tingkat sembilan belas. Kecepatan kemajuannya yang luar biasa membuat semua orang di sekitarnya tercengang—bahkan guru-guru di akademi pun mulai memperhatikan sosoknya yang dulunya dianggap tidak berharga.

Hari ini, suasana di kediaman keluarga Zhu terasa sangat tegang namun penuh harapan. Zhu Xiong Ying—kepala keluarga Zhu dan saudara kandung dari Permaisuri Zhu Yuexin—sedang bersiap untuk membangkitkan Roh sejati dari putrinya, Zhu Zhuyun. Di ruangan yang penuh dengan energi spiritual, Dai Xuan duduk dengan tenang di sudut dekat jendela, menyaksikan setiap langkah yang dilakukan dengan cermat.

Di dekatnya berdiri Zhu Zhuyu—adik perempuan Zhu Zhuyun yang masih muda namun sudah menunjukkan bakat yang luar biasa—dan ibu mereka, Leng Yufei, yang memiliki perut yang sedikit membuncit sebagai tanda bahwa dia sedang hamil anak ketiganya. Wajah Leng Yufei penuh dengan kekhawatiran dan harapan yang sama kuatnya, sementara Zhu Zhuyu mengpegang tangan ibunya dengan erat.

“Zhuyun, jangan terlalu gugup ya,” kata Zhu Xiong Ying dengan suara yang tenang dan menenangkan, matanya melihat ke arah putrinya yang sedang duduk dengan posisi tenang di atas tikar khusus yang telah disiapkan. Butiran keringat halus menetes di dahi Zhu Zhuyun yang tampak sangat fokus.

“Aku tidak gugup, Ayah,” jawab Zhu Zhuyun dengan suara pelan namun jelas. Matanya yang indah secara tidak sengaja melirik ke arah Dai Xuan yang sedang menatapnya dengan pandangan yang penuh dukungan. Saat melihat senyum yang diberikan Dai Xuan, dia merasa sedikit lebih tenang.

Zhu Zhuyun menghela nafas perlahan sebelum akhirnya menutup matanya dengan erat. Tubuhnya mulai sedikit bergetar seiring dengan munculnya energi spiritual yang kuat dari dalam dirinya. Zhu Xiong Ying berdiri di belakangnya dengan tangan terbuka, memimpin aliran energi untuk membantu putrinya membangkitkan Roh sejatinya.

Beberapa saat kemudian, cahaya keemasan mulai terpancar dari tubuh Zhu Zhuyun. Sosok sebuah kucing dengan bulu berwarna hitam pekat dan mata berwarna biru menyala muncul di belakangnya, mengeluarkan suara mengaum yang lembut namun penuh kekuatan.

“Kucing Roh Dunia Bawah—Roh Binatang tingkat dasar,” kata Zhu Xiong Ying dengan ekspresi yang sangat kompleks. Dia menghela nafas pelan sebelum akhirnya melirik ke arah Dai Xuan yang masih duduk dengan tenang. Wajahnya menunjukkan rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

Wajah Zhu Zhuyun langsung menjadi pucat pasi saat mendengar kata-kata ayahnya. Dia merasa sangat tidak berdaya—dia tahu bahwa Roh yang dia dapatkan bukanlah Roh yang diharapkan oleh keluarga besarnya.

“Zhuyun, mari kita uji kekuatan spiritualmu dulu ya,” kata Zhu Xiong Ying dengan suara lembut sambil mengarahkan tangannya ke arah bola kristal besar yang terletak di tengah ruangan. Bola penguji roh itu tampak sangat indah dengan kilauan warna-warni yang memukau.

Zhu Zhuyun dengan hati-hati mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar dan meletakkannya di atas permukaan bola kristal. Energi spiritualnya mulai mengalir ke dalam bola itu, membuatnya bersinar dengan cahaya biru yang cemerlang.

“Tingkat kekuatan spiritual bawaan tujuh,” suara Zhu Xiong Ying terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Meskipun angka itu tergolong sangat baik untuk kebanyakan orang, tidak seorang pun di dalam ruangan merasa senang—mereka semua tahu bahwa ini bukanlah hasil yang diharapkan.

Tepat pada saat itu, suara tawa riang terdengar dari luar pintu yang terbuka lebar. Dai Weisi masuk dengan langkah yang gagah, wajahnya penuh dengan senyum lebar yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.

“Paman, maaf ya kalau keponakan terlambat datang,” ucap Dai Weisi dengan suara yang ceria sambil membungkuk sedikit kepada Zhu Xiong Ying. Ibu dia, Zhu Yuexin, adalah saudara kandung dari Zhu Xiong Ying, jadi panggilan ‘paman’ adalah hal yang sangat wajar.

“Weisi,” sahut Zhu Xiong Ying dengan nada tenang, tidak menunjukkan emosi apa pun di wajahnya. Dia tahu betul mengapa cucunya ini datang ke sini pada hari yang sangat penting bagi keluarganya.

“Paman, hari ini kan hari pembangkitan Roh Kakak Zhuyun kan? Aku memang harusnya datang lebih awal, tapi Ayah—Yang Mulia Kaisar—memanggil aku tadi, jadi aku terlambat ya. Mohon maafkan aku ya, Paman,” kata Dai Weisi dengan senyum yang membuat beberapa orang merasa jijik. Saat berbicara, matanya juga melihat ke arah Dai Xuan yang masih duduk dengan tenang di sudut ruangan, dengan ekspresi yang sedikit menyipit dan tatapan yang dingin.

“Paman, Roh apa yang muncul dari Kakak Zhuyun ya? Dan berapa tingkat kekuatan spiritual bawaan dia?” Tanya Dai Weisi dengan suara yang penuh dengan antisipasi, matanya bersinar dengan harapan yang jelas.

“Kucing Roh Dunia Bawah—Roh Binatang tingkat dasar, dengan kekuatan spiritual bawaan tingkat tujuh,” jawab Zhu Xiong Ying dengan nada acuh tak acuh yang membuat wajah Dai Weisi langsung bersinar dengan kegembiraan.

Sudut mulut Dai Weisi terangkat tanpa sadar; dia tampak sangat bahagia dengan berita itu. Dalam hatinya, dia sudah mulai merencanakan bagaimana cara dia bisa mengambil keuntungan dari situasi ini—selama dia bisa melepaskan Roh Harimau Putih Neraka yang sebenarnya ada di dalam dirinya dan menggabungkannya dengan kemampuan Zhu Zhuyun, maka dia akan bisa menjadi tunangannya dan mendapatkan semua hak yang seharusnya menjadi milik Dai Xuan.

Dai Xuan melihat senyum puas di wajah Dai Weisi dengan mata yang penuh dengan kemarahan yang terkendali. Tinjunya langsung mengepal dengan erat hingga buku tangannya menjadi putih karena kekuatan yang diberikan.

Tertawa saja sekarang! Nanti aku akan membuatmu tidak bisa tertawa lagi!

Saat Dai Weisi masih larut dalam kegembiraannya, tinju besar milik Dai Xuan tiba-tiba mendarat dengan sangat kuat di wajahnya.

“BANG!”

“AH!”

Tanpa bisa menghindar, tubuh Dai Weisi terpental jauh ke belakang, darah dan beberapa gigi terbang keluar dari mulutnya yang terbuka lebar. Wajahnya langsung membengkak dan berubah bentuk karena kekuatan pukulan yang sangat besar itu. Setelah itu, tubuhnya menabrak dinding dengan keras, menciptakan retakan seperti jaring laba-laba sebelum akhirnya jatuh tak berdaya di lantai dengan wajah yang penuh dengan rasa sakit dan kemarahan.

Sebagai seorang ahli Roh tingkat tinggi yang sudah mencapai taraf Suci Roh, Zhu Xiong Ying seharusnya bisa dengan mudah menghentikan Dai Xuan sebelum dia menyerang Dai Weisi. Namun secara naluriah, dia tidak melakukan apa-apa—bahkan dia merasa sedikit lega melihat cucunya yang selalu sombong itu mendapatkan hukuman yang layak. Meskipun dia tahu bahwa tindakan ini mungkin akan membuat Kaisar Dai Ren marah dan memberikan teguran kepadanya.

“Dai Xuan! Kau terlalu berani sekali!” Teriak Dai Weisi dengan wajah yang merah padam karena amarah dan kebencian. Kata-katanya keluar dengan terbata-bata karena rasa sakit yang luar biasa di wajahnya.

“Tidak suka? Kalau tidak suka, datang dan cobaalah mengalahkanku! Aku akan berdiri di sini saja menunggumu!” Kata Dai Xuan dengan suara dingin yang membuat seluruh ruangan menjadi sunyi sejenak. Dia berdiri dengan tegak di depan Dai Weisi yang masih terbaring tak berdaya di lantai, tatapannya penuh dengan ancaman yang jelas.

“Kau…!” Dai Weisi mencoba untuk berdiri namun hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa menyiksa tubuhnya. Dia dengan cepat menekan amarah yang membara di dalam hatinya—dia masih belum kehilangan akal sehatnya. Berkelahi dengan Dai Xuan sekarang hanyalah akan membuat dirinya semakin malu dan terluka parah.

“Dai Xuan, kau sangat kejam! Tapi kesombonganmu hanya akan bertahan selama dua hari lagi!” Kata Dai Weisi dengan suara penuh dendam sebelum akhirnya dibantu oleh salah satu pengawalnya untuk pergi meninggalkan kediaman keluarga Zhu dengan langkah yang tidak stabil.

“Weisi, tunggu dulu ya. Paman akan mencari Guru Roh penyembuh untukmu. Kamu bisa pergi setelah lukamu sembuh saja!” Panggil Zhu Xiong Ying dengan suara yang penuh kekhawatiran, namun Dai Weisi tidak pernah melihat ke belakang lagi.

Dia datang dengan cepat dan pergi dengan cepat pula, menyisakan suasana yang sangat tegang di ruangan itu.

“Xuan’er, kamu memang agak terlalu impulsif ya,” ucap Zhu Xiong Ying dengan suara yang penuh kekhawatiran sambil menghela nafas panjang. Dia sangat menghargai Dai Xuan dan menganggapnya seperti anak sendiri, tapi tindakan yang dilakukan barusan memang terlalu berisiko.

“Aku tidak bertindak secara impulsif, aku hanya ingin memukulnya saja!” Jawab Dai Xuan dengan nada acuh tak acuh yang membuat Zhu Xiong Ying sedikit terpana. Dia tahu bahwa kedua pemuda ini memang tidak bisa hidup berdampingan dengan baik—seolah mereka memang ditakdirkan untuk saling bersaing.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi beberapa hal memang tidak bisa kita kendalikan. Segala sesuatu tergantung pada kehendak Yang Mulia Kaisar,” kata Zhu Xiong Ying dengan suara yang penuh kesedihan. Dia sangat menghargai Dai Xuan dan ingin melihatnya bersama dengan putrinya, tapi sekarang dengan munculnya Roh Kucing Roh Dunia Bawah pada Zhu Zhuyun, semua rencana mereka tampaknya akan berubah arah. Atau lebih tepatnya, takdir yang sudah ditentukan bagi keluarga Zhu mulai menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.

Dai Xuan tentu saja memahami semua hal itu dengan jelas, tapi dia tidak akan pernah tinggal diam dan menerima takdir yang tidak adil itu!

“Zhuyun, jangan khawatir ya. Aku akan selalu ada di sisimu, tidak peduli apa yang terjadi,” kata Dai Xuan dengan suara yang penuh perhatian sambil memberikan senyum yang menenangkan. Dia lalu dengan lembut mendorong ayunan kecil yang ada di dekat Zhu Zhuyun—suatu hal kecil yang selalu membuat gadis itu merasa lebih tenang.

“Aku tidak khawatir kok, Xuan,” jawab Zhu Zhuyun dengan senyum tipis yang membuat wajahnya tampak lebih cerah. Meskipun dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, dengan adanya Dai Xuan di sisinya, dia merasa bahwa segala sesuatu bisa diatasi.

Sementara itu, di Istana Kekaisaran Star Luo yang megah dan penuh dengan kemewahan, Dai Weisi masuk ke dalam ruangan dengan keadaan yang sangat buruk—dia tidak lagi berjalan dengan gagah seperti biasanya, melainkan digendong oleh salah satu pengawalnya dengan wajah yang membengkak dan penuh dengan darah.

“Ibu! Kau harus adil padaku!” Teriak Dai Weisi dengan suara yang penuh kemarahan saat melihat sosok Zhu Yuexin yang sedang duduk dengan tenang di dalam ruangan yang penuh dengan kemewahan. Matanya penuh dengan air mata yang menggambarkan rasa sakit dan dendam yang dia rasakan terhadap Dai Xuan.

1
anggita
👍☝., jos
khalik capricorn
heran krnya seprti copyan. peerbaiki dari bhaasa. jgn dicampur inggris dan indo.
ag noja
🤣 ceritanya kok gak nyabung saya jadi bingung 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!