Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama
"Rania... Rania... bangun!" ucap Raisa, memanggil putrinya dengan nada meninggi.
Sementara sang putri, Rania, masih meringkuk di dalam selimut.
"Rania! Bangun, ini hari pertama kamu sekolah," teriak Raisa kembali.
Rania membuka mata lebar-lebar. Ia lupa kalau hari ini adalah hari pertama masuk sekolah menengah atas.
Ia langsung bangun lalu berteriak, "Iya, Mom. Rania sudah bangun!" Setelah itu, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Di luar kamar, Raisa menghela napas lega lalu meninggalkan kamar putrinya.
Beberapa saat kemudian, Rania keluar dari toilet dan langsung berkemas untuk hari pertama sekolahnya.
Ia menatap dirinya di depan cermin, lalu memutar tubuhnya pelan. "Perfect. Saatnya sekolah," ucapnya puas sebelum keluar dari kamar, tak lupa membawa tas ranselnya.
Di meja makan, keluarga Rania telah berkumpul.
"Good morning, everyone!" teriak Rania dari arah tangga.
Rhea, saudara Rania, menatapnya sinis. "Bisa nggak sih nggak usah teriak Ran? Ini bukan hutan, tahu," ucapnya dengan nada kesal.
Bukannya tersinggung, Rania hanya cengengesan lalu duduk di samping Rhea.
"Daddy mana, Mom?" tanya Rania pada sang Mommy sambil mengoleskan selai pada roti.
"Masih ada di kamar, mungkin sebentar lagi ia turun," jawab Raisa sambil menata piring.
"Pagi, kesayangan Daddy," ucap Radit—sang Daddy—turun dari tangga dengan senyum hangat untuk keluarga tercintanya.
"Pagi, Daddy," jawab mereka bertiga serempak.
Radit langsung mendekat ke meja makan, lalu Raisa menyiapkan sarapan untuk sang suami. "Terima kasih, sayang," ucap Radit dengan lembut.
Raisa membalas dengan senyuman, sementara kedua putrinya hanya bisa memaklumi kebiasaan kedua orang tua mereka yang bucin.
"Bagaimana persiapan sekolah kamu, Ran?" tanya Raisa pada sang putri.
"Aman, Mom. Semua sudah Rania siapkan sejak kemarin-kemarin," jawab Rania dengan antusias.
"Kalau kamu, sayang? Bagaimana persiapan kerja kamu?" ucap Raisa pada putri pertamanya.
"Aman, Mom," jawab Rhea sambil mengacungkan jempol.
"Ingat, awali semua dengan doa," ucap Radit.
"Siap, Daddy," ucap Rhea dan Rania kompak sambil hormat, membuat Radit dan Raisa tersenyum.
"Kak Rhea, kenapa nggak kerja di perusahaan Daddy saja?" tanya Rania pada saudaranya yang memilih bekerja di perusahaan orang lain dibanding di perusahaan Daddynya sendiri.
"Semua yang ada di perusahaan Daddy sudah tahu kakak dan mempermalukan kakak dengan istimewa. Kakak nggak mau dan kakak juga ingin cari pengalaman baru," jawab Rhea.
"Tapi hanya satu tahun. Setelah itu kembali ke perusahaan Daddy lagi," sahut Radit. Ia memang mengizinkan putrinya untuk bekerja di perusahaan lain, lalu kembali ke perusahaan miliknya.
"Iya Daddy. Rhea tau kok," balas Rhea.
Setelah beberapa saat, Rania menghabiskan sarapan paginya. "Rania sudah selesai."
"Daddy akan antar kamu," ucap Radit.
"Aku ingin bawa motor sendiri, Dad," balas Rania dengan nada cemberut.
"Hari pertama saja. Besok baru kamu naik motor. Daddy heran sama kamu, yang lain ingin diantar oleh orang tuanya loh, tapi kamu ini malah nolak," ucap Radit heran.
"Waktu SMP kan aku sudah sering diantar Daddy. Daddy juga yang suruh aku mandiri, gimana sih," ucap Rania sedikit kesal.
"Iya-iya, cuma hari ini Daddy anterin," ucap Radit.
"Iya," ucap Rania pasrah.
"Kalau kamu naik mobil atau motor, Rhea?" tanya Raisa pada Rhea.
"Naik motor aja, Mom," jawab Rhea.
Setelah sarapan, mereka pun keluar dari mansion.
"Mas berangkat dulu ya, sayang," ucap Radit pada istrinya lalu mengecup kening Raisa.
"Iya, Mas. Hati-hati," ucap Raisa lalu menyalami suaminya. "Kalian juga hati-hati ya. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu," lanjutnya.
"Siap, Mom," ucap Rhea dan Rania.
Rhea mengeluarkan motor dari garasi, Radit juga mengeluarkan mobilnya. Mereka meninggalkan mansion, tak lupa melambaikan tangan pada Raisa.
Raisa membalas lambaian tangan suami dan anaknya. Tuhan, jaga keharmonisan keluargaku. Ya Tuhan, gumamnya dalam hati.
Di dalam mobil, Radit menoleh pada sang putri yang terlihat sangat antusias menjalani hari pertamanya di sekolah menengah atas.
Beberapa saat kemudian, Radit menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah baru Rania.
"Aku masuk sekolah dulu ya, Dad," ucap Rania pada Daddy-nya saat mereka sampai di sekolah.
"Iya, jangan nakal kamu," ucap Radit.
"Kapan aku nakal, Dad?" ucap Rania cemberut.
Radit terkekeh. Ia memang sangat suka membuat Rania cemberut, menurutnya wajah putrinya terlihat lucu saat seperti itu.
"Sudah, sana kamu turun. Ingat, jangan bandel," ucap Radit sambil mengecup kening putrinya.
"Iya-iya, Dad. Daddy juga hati-hati ke kantornya," ucap Rania lalu menyalami tangan Daddy-nya.
"Iya, sayang."
Rania membuka pintu mobil, lalu melambaikan tangannya pada Daddy-nya.
Radit tersenyum lalu meninggalkan sekolah.
Victoria High School
Rania menatap sekolah baru yang akan ia tempati selama tiga tahun ke depan. Ia hanya berharap tidak ada kejadian apa pun hingga ia lulus nanti.
Rania memandangi sekolah barunya. "Fasilitasnya oke juga," ucapnya, melihat bangunan-bangunan yang ada di sekolah ini. Beberapa fasilitas seperti perpustakaan yang cukup besar, lapangan bola, lapangan basket, dan masih banyak lagi fasilitas yang belum ia ketahui semuanya.
"Rania," ucap seseorang yang menepuk bahu Rania dari belakang. Tanpa Rania menoleh pun, ia sudah tahu siapa yang menepuk bahunya.
"Lo berangkat sama siapa?" tanya Rania sambil menoleh.
"Bunda gue," jawab Freya, sahabat sekaligus tetangga Rania.
"Oh," ucap singkat Rania.
"Bunga sama Balqis udah datang belum ya?" ucap Freya.
"Gak tau, gue juga baru sampai," ucap Rania.
"Hai, guys."
Rania dan Freya membalik badan. Balqis dan Bunga yang baru saja mereka bicarakan sudah berdiri di belakang.
"Gue kira kalian belum datang," ucap Freya.
"Gue udah dari tadi datangnya," balas Bunga.
"Gue sebenernya malas cepat datangnya, tapi bocah satu ini nih yang kebelet cepat datang," ucap Balqis sambil menatap sinis Bunga.
"Sebagai siswa baru kita harus cepat datang," jelas Bunga.
"Alah, alasan aja lo. Gue tau isi otak lo ini, lo cari cowok kan?" ucap Balqis sinis pada Bunga.
"Hehehe, sembilan puluh sembilan persen benar, satu persen salah, hahaha," ucap Bunga sambil cengengesan.
"Ngeles aja lo," ucap Balqis.
"Kalian jam berapa emangnya datang?" tanya Rania.
"Jam enam, Ran, gue udah ada di sini," ucap Balqis dengan nada geram. Bunga datang ke rumahnya pagi buta.
"Hah! Jam enam?" ucap Rania dan Freya kompak.
"Kalian bayangkan, gue di sini sudah hampir sejam," ucap Balqis dengan nada kesal.
"Tapi gue sudah traktir lo kok," ucap Bunga membela diri.
"Pokoknya ini yang pertama dan terakhir," tegas Balqis.
"Iya deh," ucap pasrah Bunga.
Kring... kring... waktu pembelajaran pertama telah dimulai.
"Geys, waktunya masuk kelas. Gue duluan ya," ucap Freya.
"Gue juga mau ke kelas," sambung Balqis.
"Oke, kita ke kelas masing-masing. Ingat, kalau ada gosip di kelas kalian jangan lupa info kami," ucap Bunga yang memang suka gosip.
"Sipp," ucap mereka sambil mengacungkan jempol.
Mereka berempat pergi ke kelas masing-masing. Mereka tidak ada yang sekelas; kini mereka terpisah. Padahal sejak kecil, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, mereka selalu berada di kelas yang sama. Baru kali ini mereka harus berpisah kelas.
Victoria High School – Kelas X A1
Rania menatap kelas yang ada di depannya, lalu melangkah masuk dan mencari bangku dengan namanya yang sudah tertera. Ia mendapat posisi kedua dari depan.
Rania menatap sekeliling ruangan. Ini pertama kalinya ia berpisah kelas dengan sahabat-sahabatnya. Rasanya ada yang berbeda.
Suara sepatu hak tinggi terdengar, membuat suasana kelas yang semula riuh perlahan hening. Seorang wanita cantik masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, anak-anak," ucapnya dengan senyum hangat.
"Pagi," jawab para murid serempak.
"Perkenalkan, nama saya Melati. Kalian panggil saya Ibu Melati, dan saya yang akan jadi wali kelas kalian," ucap Melati dengan nada hangat. "Dan selamat datang di Victoria High School."
"Iya, Bu," ucap para murid.
Melati tersenyum menatap murid-murid barunya. "Kalian sudah kenal dengan saya. Sekarang Ibu mau kalian perkenalkan nama kalian juga dan maju ke depan."
Mereka mulai memperkenalkan diri, dimulai dari barisan pertama. Beberapa saat kemudian, siswi yang duduk di samping Rania maju ke depan.
"Halo, teman-teman. Perkenalkan, nama saya Adelara Patrisia. Kalian bisa panggil saya Lara," ucap Lara sambil tersenyum.
"Halo, Lara," sahut beberapa murid.
"Selanjutnya," ucap Melati.
Rania berdiri dari duduknya lalu berjalan ke depan kelas untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, nama saya Rania Aluna Kim Valkon. Kalian bisa panggil saya Rania," ucap Rania dengan wajah datar dan nada yang dingin.
Ruangan mulai hening ketika Rania berbicara. Murid-murid yang ada di kelas terpesona dengan kecantikan Rania, tetapi sayangnya ekspresinya begitu datar.
"Boleh kamu sebut ulang nama kamu? Maaf, Ibu kurang dengar," ucap Melati yang terdengar sengaja. Ia ingin memastikan sesuatu ketika mendengar nama Rania.
"Rania Aluna Kim Valkon," ucap Rania kembali.
"Valkon," gumam Melati pelan. "Baiklah… selanjutnya," ucapnya.
Rania kembali duduk di bangkunya.
"Halo, teman-teman. Perkenalkan, namaku Bintang Prilia. Kalian bisa panggil aku Bintang," ucap Bintang sambil tersenyum ramah.