NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Andi meletakkan kapak tumpul yang tadi ia gunakan untuk membersihkan ranting, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah berubah warna karena tanah. Di depannya, dua batang kayu ulin besar yang sudah lama tumbang secara alami telah mereka seret bersama ke tepi sungai.

"Ternyata otot-otot kantorku sudah lama pensiun," gerutu Andi sambil mengatur napas. "Menyeret satu batang saja rasanya seperti memindahkan satu lantai gedung."

Mahesa, yang sedang jongkok sambil mengamati tekstur tanah di pinggir sungai, mendongak. Ia tidak lagi memegang tablet atau alat ukur digital. Tangannya kini memegang seutas tali ijuk kasar. "Itu karena kau mencoba melawannya, Ndi. Jangan gunakan tenaga arsitek, gunakan gravitasi. Tanah di sisi ini sedikit miring, kita bisa memanfaatkan kemiringannya untuk meluncurkan batang kedua."

Siska datang dari arah jalan setapak, membawa dua botol air minum dan beberapa potong pisang goreng yang masih hangat. "Istirahat dulu. Kalau kalian pingsan di sini, aku tidak punya alat berat untuk mengangkut kalian kembali ke pondok."

Mereka bertiga duduk di atas batang kayu besar itu, menghadap ke aliran sungai yang jernih. Suara air yang menabrak bebatuan menjadi musik latar yang menenangkan.

"Ndi," panggil Siska sambil menatap aliran air. "Kau ingat saat kita pertama kali memetakan koordinat jembatan ini di Jakarta? Kita menggunakan citra satelit dan memperdebatkan sudut kemiringannya sampai jam tiga pagi."

Andi terkekeh, teringat ambisi masa lalu. "Ya, dan sekarang kita di sini, menentukan sudutnya hanya dengan perasaan dan seutas tali ijuk. Dan anehnya, aku merasa desain ini jauh lebih stabil daripada apa pun yang pernah kubuat di komputer."

"Itu karena alam tidak butuh presisi milimeter, Ndi," sahut Mahesa sambil mengunyah pisang gorengnya. "Alam butuh fleksibilitas. Kayu ini akan memuai, tanah ini akan bergeser saat hujan, dan jembatan ini harus bisa ikut bergerak bersamanya. Kita bukan sedang membangun sesuatu yang kaku, kita sedang menyambungkan dua sisi kehidupan."

Tiba-tiba, terdengar suara tawa anak-anak dari balik rimbunnya pohon pakis. Tak lama kemudian, muncul tiga anak desa—Dedi, Irwan, dan Siti—yang membawa bungkusan daun pisang berisi ikan sungai hasil tangkapan mereka.

"Pak Andi! Pak Mahesa! Mau dibantu?" teriak Dedi, yang paling besar di antara mereka.

Mahesa berdiri, wajahnya yang biasanya serius kini tampak cerah. "Kebetulan sekali. Dedi, sini. Coba lihat cara kalian mengikat rakit kemarin. Apa menurutmu ikatan itu bisa dipakai untuk menahan kayu ini agar tidak hanyut saat air pasang?"

Ketiga anak itu segera bergabung, berjongkok mengelilingi Mahesa. Percakapan teknis pun beralih dari istilah bioteknologi menjadi istilah lokal tentang jenis simpul dan kekuatan serat alam. Siska dan Andi hanya memperhatikan dari kejauhan, melihat bagaimana seorang jenius teknologi mulai belajar tentang kearifan lokal dari anak-anak yang belum pernah melihat laboratorium.

"Lihat itu," bisik Siska pada Andi. "Mahesa benar-benar sudah menemukan kelas pertamanya."

Andi tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Siska. "Dan kita sudah menemukan rumah kita, Sis. Bukan rumah dengan dinding beton dan AC, tapi rumah yang atapnya adalah langit dan dindingnya adalah pepohonan ini."

Matahari mulai condong ke barat, membiarkan bayangan pepohonan memanjang di atas permukaan sungai. Jembatan itu belum jadi, tapi fondasi persahabatan dan masa depan baru telah terpancang kuat di sana, di antara tawa anak-anak dan bisikan arus sungai Borneo yang abadi.

Pekerjaan itu berlanjut hingga matahari mulai turun, menyisakan gembur cahaya kemerahan yang menembus celah-celah daun. Dengan bantuan tenaga mungil namun cekatan dari Dedi dan kawan-kawannya, dua batang ulin itu akhirnya terpasang melintang, tertanam kuat di ceruk tanah yang sudah diperhitungkan Mahesa.

"Selesai," desah Mahesa. Ia berdiri di tengah jembatan darurat itu, mencoba kekuatannya dengan menghentakkan kaki. Jembatan itu tidak bergoyang. Sederhana, tanpa baut baja, hanya pasak kayu dan lilitan ijuk yang presisi.

Andi berjalan menyusul, berdiri di samping Mahesa sambil memandang ke arah hilir. "Kau tahu, Ma? Ini pertama kalinya aku membangun sesuatu yang aku tahu pasti akan melapuk suatu hari nanti, dan aku sama sekali tidak merasa gagal."

Mahesa menoleh, dahinya berkerut sedikit namun matanya jenaka. "Seorang arsitek yang merayakan pelapukan? Kau benar-benar sudah berubah, Ndi."

"Bukan pelapukan, Ma. Ini namanya siklus," Andi mengoreksi sambil tersenyum. "Suatu hari, kayu ini akan hancur dan menjadi nutrisi bagi tanah di bawahnya. Lalu pohon baru akan tumbuh. Bangunan-bangunanku di Jakarta hanya akan menjadi sampah beton jika suatu saat tidak digunakan. Tapi jembatan ini? Dia akan kembali ke asalnya."

Siska, yang sejak tadi membantu anak-anak membersihkan sisa potongan kayu, melangkah naik ke atas jembatan. Ia berdiri di antara kedua pria itu, merangkul lengan mereka masing-masing. Di depan mereka, permukaan sungai memantulkan warna langit yang kini berubah menjadi ungu gelap.

"Terima kasih, Pak Andi, Pak Mahesa!" teriak Siti sambil melambaikan tangan, sebelum ia dan teman-temannya berlari pulang membawa sisa pisang goreng dalam bungkusan daun.

Suasana kembali hening, hanya ada suara riak air dan orkes serangga malam yang mulai bangun.

"Sis," panggil Mahesa pelan. "Besok, aku akan mulai memindahkan beberapa server kecilku ke balai desa. Aku ingin anak-anak itu melihat bahwa teknologi bukan cuma soal layar ponsel, tapi soal bagaimana mereka bisa memantau kesehatan air sungai mereka sendiri."

Siska mengangguk. "Dan aku sudah bicara dengan tetua desa tadi siang. Mereka setuju untuk menggunakan area di pinggir hutan sebagai kebun pembibitan obat-obatan tradisional. Kita tidak akan merusak hutannya, kita hanya akan belajar darinya."

Andi menarik napas panjang, menghirup aroma hutan yang semakin tajam saat malam tiba. "Jadi, besok adalah hari pertama kita sebagai warga biasa. Tidak ada rapat dewan direksi, tidak ada audit lingkungan."

"Hanya ada kita," sela Siska lembut. "Dan hutan yang tidak pernah menuntut apa-apa selain dijaga."

Mereka bertiga tetap berdiri di sana untuk beberapa saat lagi, merasakan getaran air di bawah kaki mereka melalui kayu ulin yang masih basah. Di jantung Borneo yang luas dan misterius itu, mereka akhirnya berhenti berlari mengejar bayang-bayang kesuksesan. Mereka telah sampai di tempat di mana keberhasilan tidak lagi diukur dengan angka, melainkan dengan seberapa dalam akar mereka tertanam di tanah yang mereka pijak.

Saat kegelapan benar-benar jatuh, hanya pendar kunang-kunang yang sesekali melintas di atas sungai, mengiringi langkah kaki mereka kembali menuju pondok yang kini terasa seperti sebuah istana.

Pagi berikutnya datang dengan suara yang berbeda. Bukan alarm ponsel atau getar notifikasi, melainkan ketukan ritmis dari kejauhan—suara kayu yang beradu, tanda kehidupan di desa sudah mulai berdenyut.

Mahesa adalah yang pertama siap. Ia tidak lagi mengenakan kemeja teknis yang kaku, melainkan kaos katun usang dan celana kargo yang penuh saku. Di tas punggungnya, tidak ada lagi laptop canggih dengan spesifikasi militer; hanya ada beberapa sensor genggam sederhana dan sebuah proyektor kecil yang sudah ia modifikasi agar bisa menyala dengan tenaga surya.

"Aku berangkat dulu," ujar Mahesa sambil mengencangkan tali sepatunya di teras. "Dedi sudah menunggu di persimpangan sungai. Katanya, hari ini mereka mau pamer tempat persembunyian ikan gabus terbesar."

Siska keluar membawa topi lebarnya, tersenyum melihat semangat baru di mata Mahesa. "Jangan terlalu keras pada mereka, Ma. Ingat, mereka gurumu dalam urusan alam, kau hanya asisten mereka untuk urusan data."

"Aku ingat, Bos," canda Mahesa sebelum menghilang di balik rimbunnya pohon pakis.

Sementara itu, Andi sudah berada di area terbuka di samping pondok. Ia sedang memandangi sepetak tanah yang sudah dibersihkan. Di tangannya ada sebuah sketsa, tapi kali ini bukan gambar perspektif bangunan bertingkat. Itu adalah denah sederhana untuk sistem irigasi bambu yang akan mengalirkan air ke kebun pembibitan Siska.

"Ndi," panggil Siska sambil mendekat, "kau benar-benar akan membangunnya tanpa paku baja?"

Andi mendongak, wajahnya coreng-moreng oleh tanah, tapi senyumnya lebar. "Tanpa baja, Sis. Aku akan memakai teknik sambungan pasak yang diajarkan tetua desa kemarin. Ternyata, bambu punya elastisitas yang jauh lebih superior daripada pipa PVC untuk kontur tanah seperti ini. Alam sudah menyediakan solusinya, kita saja yang selama ini terlalu malas untuk melihat."

Siska berjongkok di sampingnya, mulai memilah benih-benih tanaman obat yang diberikan oleh warga desa. Ada jahe merah, temulawak, dan beberapa akar yang ia sendiri belum tahu namanya.

"Rasanya aneh, ya?" bisik Siska. "Dulu kita mengelola aset senilai triliunan rupiah. Sekarang, keberhasilan hari ini ditentukan oleh apakah air ini sampai ke bibit jahe atau tidak."

Andi meletakkan bilah bambunya, lalu menatap Siska dengan tatapan yang dalam. "Tapi rasanya lebih nyata, kan? Di sini, kita melihat hasilnya langsung. Tidak ada angka-angka abstrak di laporan tahunan. Hanya air, tanah, dan pertumbuhan."

Siang harinya, suasana di balai desa pecah oleh sorak-sorai. Mahesa ternyata tidak mengajar di dalam ruangan. Ia membawa anak-anak ke pinggir sungai, menunjukkan bagaimana alat kecil buatannya bisa menunjukkan kadar oksigen di air.

"Lihat," suara Mahesa terdengar tegas namun sabar, "jika angka ini turun, artinya sungai kita sedang lelah. Dan kalau sungai lelah, ikan-ikan tidak bisa bernapas. Tugas kalian bukan cuma menangkap ikan, tapi menjaga agar sungai ini tetap punya napas."

Dedi menatap layar kecil itu dengan mata membelalak. "Jadi ini detak jantung sungai ya, Pak?"

Mahesa terdiam sejenak, tertegun oleh analogi sederhana anak itu. "Iya, Ded. Ini detak jantungnya. Dan kalian adalah dokternya."

Sore harinya, saat mereka bertiga kembali berkumpul di teras pondok, kelelahan fisik itu terasa nikmat. Mahesa bercerita tentang kepolosan anak-anak desa, Andi memamerkan saluran irigasi bambunya yang berhasil mengalirkan air dengan lancar, dan Siska menunjukkan telapak tangannya yang kini mulai sedikit kasar karena tanah.

Tidak ada lagi pembicaraan tentang Jakarta. Tidak ada lagi rindu pada kemewahan. Di bawah naungan langit Borneo yang mulai bertabur bintang, mereka menyadari bahwa mereka tidak sedang kehilangan masa depan. Mereka justru baru saja menemukannya di dalam kesederhanaan yang selama ini mereka remehkan.

"Besok," gumam Andi sambil menyandarkan kepala, "aku ingin mulai membuat kursi dari sisa kayu ulin di jembatan itu. Agar Siska bisa duduk dengan nyaman di kebunnya."

"Dan aku," tambah Mahesa, "akan membawa anak-anak memetakan pohon-pohon induk di hutan utara. Kita akan beri mereka nama, bukan nomor seri."

Siska hanya tersenyum, menutup matanya sambil mendengarkan simfoni malam. Mereka telah benar-benar pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!