tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Gema dari Peradaban yang Tenggelam
Melangkah melewati ambang pintu gerbang batu yang telah hancur itu terasa seperti menyeberang ke dimensi yang sama sekali berbeda. Begitu sepatu bot kulit Genevieve yang basah dan usang menginjak lantai batu obsidian di dalam terowongan, suara deru angin badai salju dan gemuruh ganas Sungai Umbra di belakangnya seolah terpotong oleh sebuah tirai tak kasat mata. Raungan alam liar yang sedari tadi memekakkan telinganya seketika menyusut menjadi dengungan tumpul yang bergema pelan di kejauhan.
Sebagai gantinya, kesunyian yang tebal, berat, dan purba langsung menyelimuti dirinya. Udara di dalam celah tebing ini terasa kaku dan stagnan, seolah tidak pernah tersentuh oleh embusan angin selama berabad-abad. Aroma yang menguar bukanlah bau pinus atau darah monster, melainkan bau debu batu yang melapuk, tembaga tua, dan sesuatu yang tajam menyerupai sisa-sisa ozon setelah badai petir.
Genevieve berdiri mematung di mulut terowongan, membiarkan matanya beradaptasi dengan perubahan pencahayaan yang drastis. Ia masih menarik napas dengan ritme yang sangat dangkal. Adrenalin yang sebelumnya membanjiri nadinya saat berhadapan dengan Abyssal Crawler kini mulai surut, meninggalkan realitas pahit akan kondisi fisiknya yang hancur. Otot-ototnya menjerit, dan rasa sakit dari tiga tulang rusuknya yang retak berdenyut seiring dengan setiap detak jantungnya. Sensasi terbakar dari Lumut Darah Beku di pergelangan kakinya masih terasa konstan, menahan rasa sakit akibat keseleo, namun sensasi itu menyedot banyak energi mentalnya.
Ia mengeratkan cengkeramannya pada gagang kulit Nightfang. Belati meteorit hitam itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak runtuh ke lantai dingin. Ia menarik mantel bulu serigala raksasanya lebih rapat, membungkus tubuhnya dari sisa-sisa udara beku yang terbawa masuk.
"Sistem," panggilnya dalam hati, suaranya di ruang mental terdengar letih namun setajam silet. "Laporan pemindaian lingkungan."
Sebuah panel biru kecil berpendar pelan di sudut pandangannya, cahayanya sengaja diredupkan agar tidak merusak penglihatan malamnya.
[Memindai Parameter Lingkungan Internal...]
[Suhu Udara: Stabil pada 6°C. Ancaman hipotermia akut menurun secara signifikan. Mantel termal (Bulu Serigala) berfungsi optimal menahan panas tubuh Tuan Rumah.]
[Kualitas Udara: Oksigen terdeteksi pada tingkat aman (19%). Kelembapan: Rendah. Tidak ada spora beracun atau gas belerang mematikan di radius terdekat.]
[Peringatan: Energi Vital Tuan Rumah berada di angka 15 Poin. Disarankan untuk meminimalkan gerakan mendadak dan mencari tempat berlindung statis untuk memicu regenerasi pasif.]
Genevieve mengabaikan peringatan terakhir itu. Berhenti sekarang sama saja dengan mati perlahan. Ia harus terus bergerak masuk, menjauh dari mulut terowongan sebelum monster pemangsa di luar sana secara kebetulan menemukan celah ini.
Dengan langkah yang diseret pelan dan sedikit terpincang, ia mulai menyusuri lorong tersebut. Lebar terowongan ini cukup untuk dilewati oleh tiga kereta kuda secara berdampingan, dengan langit-langit yang melengkung tinggi di atas kepalanya. Dinding-dindingnya tidak kasar seperti gua alami, melainkan dipahat dengan tingkat presisi yang mengerikan, terbuat dari balok-balok batu hitam raksasa yang saling mengunci tanpa menggunakan semen atau lumpur pengikat.
Satu-satunya sumber penerangan di tempat ini adalah pendaran cahaya ungu redup yang sempat ia lihat dari luar. Semakin dalam ia berjalan, semakin jelas sumber cahaya itu. Pada sambungan antar balok batu di dinding dan langit-langit, tumbuh urat-urat kristal purba yang memancarkan pendaran ungu statis. Cahaya itu tidak cukup terang untuk menerangi seluruh ruangan, namun cukup bagi Genevieve untuk melihat ke mana kakinya melangkah, memberikan lorong ini nuansa seperti berada di dalam perut monster yang sedang tertidur lelap.
Sambil melangkah, mata Genevieve yang analitis menyapu permukaan dinding. Ukiran-ukiran dangkal menghiasi batu-batu hitam tersebut, membentang sepanjang lorong layaknya sebuah permadani sejarah yang membeku. Ia berjalan mendekat ke salah satu dinding, membiarkan ujung jarinya yang pucat menyentuh pahatan dingin tersebut.
Ingatan dari Lady Genevieve yang asli memberitahunya bahwa Aethelgard didirikan oleh para Raja Suci yang membawa cahaya kebenaran, menaklukkan kegelapan alam liar dengan bantuan Gereja Cahaya. Sejarah yang diajarkan di ibukota adalah sejarah tentang manusia yang berjaya di bawah panji-panji dewa-dewi matahari.
Namun, ukiran di dinding ini menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Sebuah kisah yang masuk dalam kategori bidah mutlak di dunia atas sana.
Genevieve melihat relief yang menggambarkan manusia-manusia yang tidak berlutut pada cahaya, melainkan menunggangi monster-monster bayangan. Ia melihat lambang Naga Berkepala Tiga berulang kali dipahat, selalu digambarkan sedang menghancurkan atau melilit pedang-pedang yang menyerupai lambang suci kerajaan saat ini. Ini bukanlah sekadar reruntuhan biasa; ini adalah monumen dari sebuah peradaban atau faksi penentang yang telah dihapus paksa dari buku sejarah Aethelgard. Ksatria beku di luar sana adalah salah satu dari mereka, seorang prajurit dari masa lalu yang terkubur bersama kebenaran.
Sebuah senyum sinis yang amat sangat tipis terbentuk di bibir Genevieve. Penguasa Aethelgard saat ini, termasuk suaminya Duke Alistair dan Nyonya Besar, begitu sombong dengan kekuasaan mereka. Mereka membuangnya ke Jurang Hitam untuk melenyapkannya, tanpa tahu bahwa mereka justru melemparkannya tepat ke dalam pangkuan rahasia terbesar yang bisa menghancurkan legitimasi kekuasaan mereka sendiri. Pengetahuan adalah senjata, dan Genevieve sedang mengumpulkan persenjataannya di dalam kegelapan ini.
Setelah berjalan lurus menembus kesunyian selama hampir dua puluh menit, lorong itu akhirnya melebar, bermuara pada sebuah ruangan melingkar yang sangat luas—sebuah balairung atau ruang depan (antechamber) bawah tanah.
Ruangan ini ditopang oleh delapan pilar pualam hitam yang sangat tebal. Lantainya terbuat dari ubin-ubin batu bersegi enam yang sangat presisi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar raksasa yang dipahat dari satu bongkahan batu utuh, permukaannya dipenuhi oleh peta topografi benua Aethelgard yang dibuat dengan ukiran tiga dimensi. Kristal ungu di dinding ruangan ini tumbuh lebih lebat, memberikan pencahayaan yang jauh lebih baik daripada di lorong tadi.
Genevieve melangkah masuk dengan sangat berhati-hati. Pandangannya menyapu setiap sudut bayangan di antara pilar-pilar raksasa itu. Instingnya yang telah diasah oleh pengkhianatan menolak untuk mempercayai keheningan.
Dan insting itu terbukti benar. Sesuatu di dalam ruangan ini terasa ganjil. Terlalu kotor untuk sebuah makam kuno yang tertutup rapat, namun terlalu sepi untuk sebuah tempat bernaung.
Genevieve berjalan memutar, mendekati meja batu bundar di tengah ruangan. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, matanya menyipit tajam. Langkah kakinya terhenti seketika.
Di atas lantai batu, tepat di samping kaki meja raksasa itu, terdapat sesuatu yang benar-benar menghancurkan asumsinya tentang tempat ini.
Ada setumpuk abu. Bukan sembarang debu vulkanik atau lapukan batu, melainkan abu dari kayu bakar. Di sekitarnya, terdapat beberapa potong tulang kecil yang telah menghitam karena api, sisa-sisa hewan kecil yang dimasak, dan sebuah cawan tembaga penyok yang tertinggal begitu saja.
Genevieve berlutut perlahan, mengabaikan rasa perih di rusuknya. Ia melepas sarung tangan dari sisa kain gaunnya, menyentuh abu tersebut, dan menggosoknya di antara ujung ibu jari dan telunjuknya. Abunya dingin, benar-benar mati, tetapi teksturnya masih cukup menyatu, belum sepenuhnya terbang menjadi partikel debu oleh waktu.
Ini bukan sisa perkemahan dari ratusan tahun yang lalu. Seseorang telah berada di sini belum lama ini. Mungkin beberapa bulan, atau paling lama satu tahun yang lalu.