NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. Kamar Rahasia Dante

Langkah kaki Aira terasa goyah saat ia menapaki anak tangga marmer menuju kamarnya di lantai atas.

Di belakangnya, Dante berjalan dalam keheningan yang menyesakkan, hanya suara gesekan jas sutranya yang terdengar.

Zane dan Julian telah menghilang ke sayap mansion yang lain setelah perjalanan di kereta tadi, meninggalkan Aira sendirian dengan pria yang paling sulit ia kelabuhi.

Dante membukakan pintu kamar tidur Aira yang megah. Cahaya lilin yang temaram memantul di permukaan cermin-cermin besar, menciptakan bayangan yang menari-nari.

"Anda tampak sangat lelah, Nyonya," suara Dante rendah, namun mengandung getaran kecurigaan yang tajam.

"Dan Anda mengenakan pita hitam baru di leher Anda. Saya tidak ingat Julian menyiapkan aksesoris itu untuk Anda pagi tadi."

Aira menyentuh pita hitam yang diikatkan Julian di lehernya untuk menutupi tanda-tanda merah kepemilikan mereka.

"Ini hanya... tren baru di Istana, Dante. Aku menyukainya."

Dante tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Aira bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh pria itu.

Dante meraih tangan Aira, melepaskan sarung tangan rendanya dengan gerakan yang sangat lambat—sebuah hasrat yang tertahan yang terasa seperti interogasi fisik.

"Istana adalah tempat yang kotor, Isabella," bisik Dante di telinga Aira. Ia kini berdiri tepat di belakangnya, tangannya merayap naik ke arah simpul pita di leher Aira.

"Banyak serigala berpakaian sutra di sana. Saya harus memastikan tidak ada satu pun kotoran yang terbawa masuk ke dalam Manor ini."

Dengan satu tarikan halus, Dante melepaskan pita hitam itu. Matanya yang biru es melebar saat melihat tanda-tanda kemerahan yang tumpang tindih di leher porselen Aira—jejak Pangeran yang kini sudah tertutup oleh tanda baru dari Zane dan Julian.

"Apa ini?" suara Dante berubah menjadi geraman yang sangat dalam. Ia memutar tubuh Aira dengan kasar agar menghadapnya.

"Siapa yang berani meninggalkan tanda semurah ini di kulit Anda?"

Dante mencengkeram rahang Aira, memaksa gadis itu menatap matanya yang kini berkilat dengan kecemburuan yang gila.

Di saat yang sama, Aira melihat pantulan Isabella asli di cermin besar di belakang Dante. Sosok itu tertawa, matanya berkilat senang melihat Aira terpojok.

"Beri tahu dia, Aira... beri tahu dia bahwa semua pelayannya sudah mulai mencicipi tubuhmu," bisik suara itu di kepala Aira.

"Dante... lepaskan..." rintih Aira, napasnya tersengal karena ketakutan sekaligus gairah yang tidak seharusnya ada.

Dante tidak melepaskannya. Malahan, ia merendahkan wajahnya, menjilat tanda merah di leher Aira dengan cara yang jauh lebih dominan daripada Julian.

Dante ingin menghapus setiap jejak pria lain dengan keberadaannya sendiri. Ia menggigit kecil kulit leher Aira, membuat Aira mendesah panjang yang tertahan.

"Hanya saya yang berhak menghukum Anda, Isabella," bisik Dante di depan bibir Aira.

"Hanya saya yang boleh memberikan tanda ini pada Anda. Dan mulai malam ini... saya tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan Zane atau Julian, mendekati kamar ini tanpa izin saya."

Dante kemudian mencium Aira dengan ciuman yang penuh dengan otoritas dan kepemilikan yang beracun.

Aira merasa kewalahan; ia terjepit di antara obsesi Dante dan bayang-bayang Isabella asli yang terus menghantuinya.

Di kamar rahasia ini, Aira menyadari bahwa ia bukan lagi seorang majikan, melainkan tawanan yang paling dipuja di The Velvet Manor.

Suara detak jam dinding kuno di sudut kamar Aira terdengar seperti detak jantung yang terpacu.

Dante masih berdiri tepat di belakang Aira, jemarinya yang terbungkus sarung tangan putih kini tidak lagi menyentuh pita, melainkan meraba lembut garis leher gaun sutra Aira yang sedikit berantakan.

"Zane dan Julian pikir mereka bisa menyembunyikan ini dari saya dengan seutas pita hitam?" Dante berbisik, suaranya kini terdengar lebih mirip desisan predator.

"Mereka lupa siapa yang melatih mereka. Mereka lupa siapa yang paling mengenal setiap inci dari kemarahan... dan kebutuhan Anda, Nyonya."

Dante memutar tubuh Aira dengan sentakan yang tidak kasar namun sangat dominan, memaksanya untuk bersandar pada meja rias yang penuh dengan botol parfum kristal. Botol-botol itu berdenting pelan, menciptakan melodi kaca yang rapuh di tengah atmosfer yang berat.

"Dante, sudah cukup. Aku lelah," Aira mencoba memprotes, namun suaranya justru terdengar seperti desahan kecil saat Dante merendahkan wajahnya ke lekuk leher Aira—tepat di atas tanda kemerahan yang ditinggalkan Julian dan Zane.

"Lelah karena melayani Pangeran? Atau lelah karena membiarkan dua pelayan rendahan itu bermain-main dengan Anda di dalam kereta?" Dante tidak menunggu jawaban.

Ia menanggalkan sarung tangan putihnya, membuangnya ke lantai seolah benda itu adalah penghalang antara dirinya dan kebenaran yang ingin ia sentuh.

Tangan Dante yang telanjang kini menyentuh kulit leher Aira. Rasanya panas, sangat kontras dengan hawa dingin yang biasanya memancar dari pria itu. Ia mulai "memeriksa" jejak-jejak itu dengan jemarinya, menekan kulit Aira hingga meninggalkan rona merah baru.

"Hanya saya yang boleh menghukum Anda karena kecerobohan ini, Isabella," Dante menggumam di depan bibir Aira.

Matanya yang biru es kini menggelap, penuh dengan hasrat yang tertahan yang selama ini ia kunci rapat di balik seragam kepala pelayannya.

Dante mencium Aira. Itu bukan ciuman yang memohon; itu adalah ciuman yang menuntut penyerahan diri total.

Ia melumat bibir Aira dengan cara yang membuat Aira kehilangan keseimbangan, memaksa lidahnya masuk untuk menghapus sisa rasa manis teh melati Julian atau aroma maskulin Zane.

Aira merintih, tangannya secara tidak sadar meremas kemeja putih Dante, mencoba mencari pegangan di dunia yang tiba-tiba berputar.

Dante melepaskan bibir Aira hanya untuk berpindah ke lehernya. Ia menggigit tanda dari Pangeran Valerius dengan sangat dalam, seolah ingin merobek setiap sel kulit yang pernah disentuh pria lain.

Aira melengkungkan punggungnya, mendesah keras yang bergema di kamar yang sunyi itu.

"Ah... Dante... s-sakit..." desah Aira terengah-engah.

"Rasa sakit ini akan mengingatkan Anda siapa pemilik Anda yang sebenarnya," Dante berbisik tepat di telinga Aira, sementara tangannya mulai membuka ritsleting gaun sutra di punggung Aira dengan sangat perlahan, membiarkan kain itu melorot hingga bahu porselen Aira terekspos sepenuhnya di bawah cahaya lilin.

Di pantulan cermin besar di samping mereka, Aira melihat Isabella asli sedang berdiri di sudut ruangan.

Sosok itu tidak lagi tertawa; ia menatap Dante dengan pandangan yang penuh nafsu sekaligus dendam.

"Biarkan dia menghancurkanmu, Aira... karena dengan begitu, aku bisa kembali dengan lebih mudah," bisik suara itu di kepala Aira.

Dante berhenti sejenak saat ia melihat pantulan Aira di cermin. Ia menyentuh wajah Aira, memaksanya menatap matanya sendiri yang kini sayu karena gairah yang gelap.

"Jangan lihat ke sana. Lihat saya. Hanya saya."

Dante melanjutkan "pemeriksaannya" dengan cara yang jauh lebih intim dan sensual, memastikan bahwa mulai malam ini, tidak ada satu inci pun dari tubuh Aira yang tidak memiliki tanda darinya.

Di luar pintu yang tertutup rapat, suasana terasa sangat dingin, di mana Julian dan Zane mungkin sedang berdiri di kegelapan, mendengarkan setiap desahan yang keluar dari kamar sang Nyonya dengan kecemburuan yang membakar.

Malam itu, di kamar rahasia Dante, Aira menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penipu yang mencoba bertahan hidup.

Ia telah menjadi pusat dari obsesi gila pria-pria yang rela membakar dunia demi satu tarikan napasnya.

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!