⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERITAHUAN SISTEM: MISI GAGAL MUTLAK
[DING!]
Suara mekanis sistem yang biasanya terdengar ramah, kini berubah menjadi sedingin es kutub, bergema di dalam tengkoraknya bagaikan ketukan palu hakim.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: MISI GAGAL MUTLAK.]
[Anda telah gagal membedakan kebenaran dari tipu daya. Anda membiarkan ego dan kebutaan emosional Anda menghancurkan orang yang tulus, dan membiarkan dalang sesungguhnya di balik lenyapnya dana 1 Triliun Anda berkeliaran bebas menikmati harta Anda.]
Raka tidak membantah. Dia bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk marah. Dia hanya menatap layar itu dengan senyum getir yang menyedihkan.
"Gue emang pantes gagal..." gumam Raka parau.
[Manusia tidak akan pernah bisa mengendalikan kekayaan yang melampaui kapasitas mentalnya. Karena Anda telah membuktikan ketidakmampuan Anda memikul beban kekayaan raksasa ini, Hukuman Mutlak akan segera dijatuhkan.]
[Memulai Inisialisasi: Event Gacha '10X Tarikan Nasib Buruk' (Wheel of Misfortune)...]
Seketika, sebuah roda putar raksasa berwarna biru gelap muncul. Roda itu memancarkan kabut beku, memberikan sensasi seolah-olah ruangan itu baru saja diubah menjadi kamar mayat.
Tanpa menunggu persetujuan Raka, roda itu berputar dengan sendirinya. Setiap putarannya terdengar seperti jeritan putus asa.
TRANG! TRANG! TRANG!
Satu per satu, vonis kematian dari langit dijatuhkan tanpa ampun.
[1. Anda akan mengalami Kecelakaan Lalu Lintas fatal dalam 10 hari ke depan.]
[2. Anda akan menghadapi Pukulan Telak dari Lawan Bisnis yang akan menyeret Anda ke ambang kebangkrutan total.]
[3. Anda akan menghadapi Masa Kritis berupa Boikot Massal dan Hujatan dari Seluruh Netizen Nasional (Cancel Culture).]
[4. Anda akan Terlibat Konflik Berdarah dan Pengkhianatan dengan Teman Terdekat Anda.]
[5. Karya Produksi Triliunan Anda akan Dicap sebagai 'Sampah' dan dihancurkan oleh publik.]
[6. Kediaman Mewah Anda akan mengalami Perampokan Sadis (Home Invasion) yang mengancam nyawa.]
[7. Anda akan mendapatkan Penolakan dan Ejekan Paling Kejam yang akan meruntuhkan harga diri Anda sebagai seorang pria.]
[8. Kendaraan Anda akan hancur secara acak, mempermalukan Anda di depan umum.]
[9. Nama Anda akan dipampang sebagai Penunggak Utang, menghancurkan martabat Anda hingga tak tersisa.]
[10. Anda akan Dimaki Habis-Habisan oleh sosok Senior, menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental Anda.]
Sepuluh kutukan. Sepuluh bencana yang dirancang khusus untuk mencabut segala hal yang selama ini Raka sombongkan: hartanya, tahtanya, reputasinya, dan nyawanya.
[Semua rangkaian Nasib Buruk ini akan menimpa Anda secara beruntun dan acak dalam 30 HARI ke depan.]
Raka terdiam. Tenggorokannya tercekat. Dia menatap layar itu dengan dada yang terasa sesak luar biasa.
"Terus... gue harus gimana? Lo mau ninggalin gue di tengah neraka ini sendirian?!" desis Raka putus asa.
Layar merah itu berkedip untuk yang terakhir kalinya.
[Dikarenakan Event ini akan membawa penderitaan tanpa batas, Misi Utama selanjutnya dibekukan.]
[Sistem akan segera Offline. Waktu untuk Log-In selanjutnya tidak dapat diprediksi. Bertahanlah di neraka yang Anda ciptakan sendiri, Tuan Rumah. Semoga Anda selamat.]
BZZT.
Layar holografik itu padam seketika.
Suara statis berdengung sejenak sebelum akhirnya lenyap. Tidak ada lagi antarmuka sistem. Tidak ada lagi cheat uang tak terbatas. Tidak ada lagi dewa pelindung.
Raka menatap tubuh Bella yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Kini ia benar-benar sendirian di dalam kegelapan.
Satu bulan.
Tiga puluh hari ke depan, badai kehancuran akan menghantam hidupnya dari segala arah. Jika dia melangkah keluar dari rumah sakit ini, dia tidak hanya akan membahayakan dirinya sendiri, tapi musuh-musuh yang bersembunyi di luar sana akan menemukan celah untuk membunuhnya.
Lalu, bagaimana kalau dia mengurung diri saja?
"Gue nggak boleh keluar dari Sanatorium Loch Ness ini," gumam Raka dengan suara hampa. "Kalau gue keluar... gue bakal mati, dan Bella... siapa yang bakal jagain dia?"
Di tengah sisa-sisa kewarasannya yang mulai rapuh, Raka mengambil ponselnya. Dengan jari gemetar, dia memutar nomor Wahyu di pagi buta yang dingin itu.
"Halo, Bos?" suara Wahyu terdengar di seberang, masih sedikit mengantuk namun sigap.
"Yu..." Suara Raka parau, berat, dan terdengar seperti orang yang sudah kehilangan separuh jiwanya.
"Sebulan ini... gue nggak bakal bisa keluar."
"Hah? Suara Bos kok lemes banget? Emangnya kenapa, Bos?" Wahyu mulai panik mendengar nada keputusasaan dari bosnya.
"Gue sakit, Yu. Hati dan otak gue hancur. Tolong... tolong lo pegang kendali semua kerjaan di perusahaan. Gue kasih lo otorisasi mutlak."
Raka memejamkan matanya, membiarkan air matanya menetes dalam gelap.
"Tolong banget ya, Yu. Cuma sebulan. Gue bener-bener butuh sembunyi."
Di ujung sana, Wahyu terdiam. Dia tahu bosnya sedang tidak bercanda. Depresi yang menyelimuti nada bicara Raka terasa begitu nyata dan menyesakkan.
"Y-Yaudah, Bos. Saya yang ambil alih. Nanti kalau bener-bener ada masalah yang nggak bisa saya handle, baru saya lapor ke Bos."
"JANGAN!" Raka tiba-tiba membentak dengan suara bergetar. "Jangan pernah nyari gue! Langit runtuh sekalipun, perusahaan bangkrut sekalipun... lo urus sendiri! Jangan bawa masalah dunia luar ke tempat ini!"
"Gue udah ganti nomor darurat Presdir pake nomor lo. Gue bakal transfer sisa duit gue ke lo sekarang."
Tanpa menunggu Wahyu menjawab, Raka memutus sambungan.
Di apartemennya, Wahyu menatap layar ponselnya dengan perasaan tak menentu. Firasatnya mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan sedang mengintai Grup Adiyaksa.
TING! Sebuah notifikasi SMS Banking muncul. [Transfer Masuk: Rp 10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah). Saldo aktif: Rp 15.320.000.000.]
Uang itu seharusnya membuat Wahyu senang. Namun entah mengapa, sepuluh miliar itu kini terasa seperti beban batu nisan.
Satu jam kemudian, mimpi buruk Wahyu dimulai.
Ponselnya berdering tanpa henti layaknya sirene serangan udara.
"Halo, Bos Wahyu." Suara sekretaris resepsionis terdengar tegang. "Ada mitra kerja yang memaksa ingin bicara..."
"Suruh mereka telepon lagi hari Senin," potong Wahyu dingin, mulai merasakan beban berat mahkota yang ditinggalkan Raka.
"Baik, Bos Wahyu."
Telepon terus masuk. Investor, sutradara, manajer bank, semuanya mencari Raka, dan semuanya dialihkan pada Wahyu. Tenggorokan Wahyu terasa kering. Kepalanya berdenyut hebat. Sepanjang hari itu, dia memikul beban sebuah kerajaan bisnis triliunan sendirian, sementara sang Raja mengasingkan diri.
Menjelang sore, Wahyu mematikan ponselnya sejenak untuk bernapas. Saat dia menyalakannya kembali, ratusan panggilan tak terjawab memenuhi layarnya. Semuanya dari Albert Kusuma.
Wahyu segera menelepon balik kakak sepupunya itu.
"Wahyu? Lo nggak apa-apa? HP lo mati, gue kira lo diculik," suara Albert terdengar lega namun serius.
"Sori, Bang. Kepala gue mau pecah. Si Raka ngambil cuti sebulan dan nyerahin seluruh beban Grup Adiyaksa ke tangan gue. Seharian ini gue diteror telepon."
Di ujung telepon, Albert Kusuma terdiam, merasa curiga. "Dia nyerahin perusahaannya ke lo? Emang dia nggak takut lo bawa lari asetnya? Atau... dia lagi ngehindarin sesuatu yang besar?"
"Gue nggak tau, Bang. Pikiran bos gue itu di luar nalar. Dia kayak orang yang lagi nungguin kiamat," jawab Wahyu jujur. "Sori, malem ini gue nggak bisa makan bareng lo. Gue harus beresin kekacauan ini."
"Oke. Hati-hati, Yu. Kalau butuh perlindungan, panggil gue."
Malam harinya, di bawah lampu mejanya yang redup, Wahyu merasa sangat lelah. Bayangan bosnya yang bersembunyi membuat kekesalannya sedikit memuncak. Ia akhirnya menelepon Raka.
"Bos Raka! Gila lo emang! Lo ngelempar gue ke kandang singa!" Wahyu mencoba menyemprot bosnya, berharap Raka akan membalas dengan omelan khasnya.
Namun, jawaban Raka dari seberang sana justru membuat bulu kuduk Wahyu berdiri.
"Hehe... Hahaha..."
Raka tertawa pelan. Tawanya tidak terdengar bahagia, melainkan tawa kosong, getir, dan sangat sinis. Tawa seorang pria yang sedang menertawakan penderitaannya sendiri di dalam kegelapan.
"Wahyu... lo harus kuat ya. Kalau gue nggak bisa ngelewatin sebulan ini... kalau gue bener-bener mati di sini... lo ambil aja semua perusahaan itu."
Suara Raka berubah menjadi bisikan yang sangat suram, diiringi suara wind chime yang bergemerincing menyeramkan dari luar jendela sanatorium.
"Bantuin gue tahan badainya ya, Yu. Karena di sini... hawanya udah mulai dingin."
Klik.
Telepon dimatikan. Wahyu menatap ponselnya dengan tangan bergetar, menyadari bahwa sebulan ke depan, tidak akan ada yang baik-baik saja.