Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan
Ibu Citra terus memperhatikan putranya sejak pulang membawa banana cake pesannya tadi terlihat berubah. Entah apa yang membuat putranya itu berdiam diri dengan melamun sendirian. Apa karena banyaknya pekerjaan atau malah hal lain yang mengganggunya?
"Adrian, kamu baik-baik saja, nak?" tanya ibunya menghampiri sang putra disana.
"Ah, ibu. Adrian baik-baik saja, buk." jawabnya datar seperti biasanya.
"Apa kamu sedang banyak pikiran? apa yang membuat kamu sampai melamun seperti ini? Apa karena masih memikirkan mantan istri kamu itu?" tebak ibunya membuat Adrian hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Buk, kapan kita tidak membicarakannya lagi? Ibu sendiri yang menyuruh Adrian untuk melupakan Ambar, dan Adrian sudah melakukannya. Lalu kenapa masih harus membahasnya lagi, Bu?" tuturnya pada sang ibu.
"Lalu, apa yang membuat kamu gelisah begini? Usia kamu sudah berapa Adrian? Apa kamu tidak ingin menikah lagi? Kamu membutuhkan pasangan untuk hari tua kamu. Ibu juga pengen ngeliat anak kamu sebelum ibu-"
"Adrian pergi, buk." pamitnya begitu saja pada sang ibu, karena dia tidak ingin mendengar omongan ibunya yang kembali membicarakan tentang kematian.
Entah kemana perginya Adrian, tapi isi pikirannya terus tertuju pada wanita pemilik bakery itu.
"Karina?" gumamnya sambil terus memikirkan betapa cantiknya wanita itu. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ini.
Kini mobil Adrian sudah sampai di depan bakery tempat wanita itu bekerja dan dari sini Adrian bisa melihat wanita itu yang sedang bekerja.
Langkahnya membawa Adrian kembali mendatangi tempat itu dan kini dia sudah mendengar suara lembut Karina yang menyambutnya setelah mendengar lonceng berbunyi ketika ada seseorang yang masuk.
"Selamat datang di Karina Bake A Love." sapanya pada Adrian dan kembali tersenyum setelah menyadari jika yang datang adalah om-om yang membeli kue miliknya tadi.
"Cari apa, Pak?" tanya Karina pada Adrian.
"Apa saya terlihat begitu tua?" tanya Adrian pada Karina.
"Hah, maksudnya gimana ya, Pak?" tanya Karina yang tidak mengerti maksud dari pria dewasa di depannya saat ini.
"Saya bertanya apa saya terlihat begitu tua hingga kamu memanggil saya bapak?" ulangnya lagi pada Karina.
"Lah, kan biar sopan aja gitu Pak. Masak iya saya panggil ayah, kan gak mungkin. Lagian bukan ayah saya juga." Karina yang membuat Adrian semakin pusing.
Wajahnya cantik, suaranya lembutan ternyata di balik semua itu tersimpan sebuah kata-kata yang tidak masuk di akalnya.
"Yaudah sih, Om aja deh. Mau pesan apa Om? Banana cake lagi atau ada yang lain?"
"Saya pesen yang bisa bikin sakit kepala saya hilang ada?" tanya Adrian lagi pada Karina.
"Lah, Om salah alamat. Kalau sakit kepala datangnya ke rumah sakit, atau paling gak ke apotik cari obat sakit kepala. Di warung depan juga ada tuh, Bodrex, Paramex, Panadol juga ada. Bukan malah datang ke bakery om." jawaban dari Karina benar-benar membuat kepala Adrian semakin sakit.
Sungguh, wanita ini benar-benar membuatnya tidak percaya.
"Terserah, kamu saja. Saya permisi." pamit Adrian karena dia merasa tidak cocok berada di tempat ini. Terlebih wanita yang dia pikir bisa menghilangkan rasa pusing di kepalanya ternyata semakin membuatnya pusing.
"Loh, Om kok marah?"
"Saya tidak punya wewenang untuk marah sama kamu Karina. Jadi berhenti berpikir jika saya marah dengan kamu." jawab Adrian berlalu dari hadapan Karina dan pergi begitu saja meninggalkan wanita itu dengan sejuta isi pikirannya.
"Eh, Om itu tau nama gue?" gumamnya kaget saat mendengar om-om itu mengetahui namanya.
"Tau dari mana ya?" berpikir lagi tanpa ingat jika namanya terukir di Appron pink kesayangannya.
"Ah, udahlah. Ngapain sih mikirin om-om itu. Lagian tuh om-om kayak ABG labil banget. Apa lagi berantem sama istrinya ya?" pikirnya lagi. "Dahlah, bodo amat dah. Bukan urusan gue juga!" lanjutnya lagi dan kembali bekerja.
Sedangkan Adrian lebih memilih pergi ke apartemen miliknya dan tidur disana malam ini. Karena dia tidak ingin kembali ke rumah dan harus membahas hal yang sama lagi dengan ibunya. Jadi dia memilih tidur di apartemen saja malam ini.
***
belajar memangil mas jan om