Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Lama
Gerbang besar mansion Baskara terbuka perlahan.
Lampu-lampu halaman menyorot tajam ke arah mobil hitam panjang yang baru saja berhenti di depan tangga utama. Para pengawal berdiri kaku di kanan kiri, Udara terasa tegang, Pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar dengan langkah santai. Tinggi, rapi, jas abu-abu gelap yang terlihat mahal. Rambutnya disisir ke belakang dengan sempurna.
Namun yang paling mencolok adalah matanya.
Dingin, dan Licik, dia Viktor.
Ia menatap mansion itu sebentar, lalu tersenyum tipis "Jadi ini rumahmu sekarang, Darius."
Di dalam mansion, Darius sudah berdiri di ruang utama, Leon berada di sampingnya. Beberapa pengawal lain berjaga di belakang, Tangga besar di tengah ruangan terlihat megah dan sunyi, Langkah kaki terdengar dari luar, Pintu terbuka Viktor masuk seolah tempat itu miliknya sendiri. Tatapannya langsung menemukan Darius.
"Sudah lama."
Darius tidak tersenyum, Tatapannya hanya dingin.
"Sayangnya tidak cukup lama."
Viktor tertawa kecil "Masih sama seperti dulu."
Matanya kemudian bergerak perlahan hingga berhenti pada seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakang Darius dia Lyra, Matanya langsung menyipit sedikit "Ah…" Viktor memiringkan kepala "Putri kecil itu sudah besar rupanya."
Tubuh Lyra menegang, Darius langsung melangkah sedikit ke samping. Posisinya tanpa sadar menghalangi Viktor melihat Lyra terlalu jelas. "Jangan lihat dia seperti itu."
Nada suara Darius rendah, Namun penuh ancaman, Viktor tersenyum tipis.
"Kau masih protektif." Ia berjalan beberapa langkah mendekat, Para pengawal langsung menegang. Namun Viktor hanya berhenti di tengah ruangan.
"Kau tahu," katanya santai, "aku hampir tidak percaya ketika mendengar kabar ini."
Darius menyilangkan tangan "Kabar apa?"
Viktor menatap Lyra lagi "Bahwa putri partner lamamu sekarang tinggal di rumahmu."
Ruangan menjadi sunyi, Lyra langsung menoleh ke arah Darius, "Partner?"
Darius tidak langsung menjawab, Namun Viktor tertawa kecil.
"Ayahmu dan Darius dulu adalah partner terbaik."
Lyra membeku "Apa?"
Viktor tampak menikmati reaksinya "Bisnis mereka besar. Sangat besar." Tatapannya kembali pada
Darius, "Kalian hampir menguasai seluruh jaringan."
Darius berkata dingin, "Berhenti bicara."
Namun Viktor mengabaikannya "Lalu sesuatu terjadi."
Lyra menelan napas "Apa?"
Viktor tersenyum samar "Seseorang membuat mereka saling curiga." Tatapannya tajam "Hasutan kecil saja sudah cukup untuk menghancurkan dua
orang yang terlalu kuat jika tetap bersama."
Lyra memandang Darius "Kalian… bertengkar?"
Darius masih diam, Viktor tertawa pelan "Bukan hanya bertengkar." Ia mencondongkan tubuh sedikit.
"Mereka hampir saling membunuh." Kata-kata itu membuat Lyra seperti kehilangan udara, Namun Viktor belum selesai. "Dan kau tahu siapa yang membuat semuanya terjadi?"
Ruangan menjadi sangat sunyi, Viktor mengangkat bahu santai "Aku."
Leon langsung bergerak sedikit, Namun Darius mengangkat tangan, Mencegah siapa pun bergerak.
Tatapan Darius sekarang benar-benar gelap "Sekarang kau datang ke sini untuk mengaku?"
Viktor tersenyum, "Tidak." Ia menatap Lyra lagi.
"Aku datang untuk mengambil sesuatu yang dulu gagal kuambil."
Lyra merasakan jantungnya berdetak keras "Apa?"
Viktor menjawab pelan, "Warisan ayahmu."
Darius langsung melangkah maju "Lyra bukan bagian dari permainanmu."
Viktor tersenyum lebih lebar "Oh tapi dia bagian paling penting." Tatapannya berubah tajam.
"Karena dia adalah kunci terakhir dari semua yang dulu kita bangun."
Lyra sekarang benar-benar menyadari satu hal, Ia bukan hanya terjebak dalam dunia Darius. Ia berada di tengah perang lama yang dimulai jauh sebelum ia dewasa, Dan perang itu baru saja dimulai lagi.
Ruangan besar itu terasa seperti medan perang yang belum meledak, Tidak ada yang bergerak Namun semua orang menahan napas. Tatapan Darius dan Viktor saling terkunci seperti dua predator yang saling mengenali bahaya satu sama lain, Lyra berdiri di belakang Darius. Jantungnya masih berdetak keras setelah kata-kata Viktor tadi, Warisan ayahnya, Kunci terakhir, Apa maksud semua itu? "Aku tidak punya apa pun milik ayahku," kata Lyra akhirnya, suaranya tegas meskipun dadanya masih naik turun.
Viktor menoleh padanya, Senyumnya tidak hilang.
"Oh, kau punya."
Darius langsung memotong.
"Dia tidak punya apa pun."
Nada suaranya lebih tajam sekarang, Namun Viktor hanya tertawa kecil."Kau selalu seperti ini, Darius. Selalu ingin melindungi semua orang." Ia berjalan perlahan di ruangan itu, seolah tidak ada puluhan pengawal yang mengawasinya "Masalahnya," lanjut Viktor santai, "ayahnya jauh lebih pintar dari yang kau kira."
Lyra mengerutkan kening "Apa maksudmu?"
Viktor berhenti, Tatapannya langsung menusuk Lyra.
"Dia meninggalkan sesuatu." Sunyi.
"Lalu?" tanya Lyra.
Viktor memiringkan kepalanya sedikit "Sebuah jaringan, "Kekuasaan, "Dan… akses."
Darius berkata dingin "Kau berbicara terlalu banyak."
Namun Viktor melanjutkan seolah tidak mendengar.
"Namun semua itu terkunci."
Lyra menelan napas "Terkunci bagaimana?"
Viktor mengangkat satu jari."Dengan satu orang."
Ia menunjuk Lyra "Kau."
Ruangan terasa semakin berat, Leon langsung menatap Darius, Namun Darius tetap tenang di luar.
Meskipun rahangnya jelas menegang "Itu tidak masuk akal," kata Lyra pelan "Aku tidak tahu apa-apa tentang bisnis ayahku."
Viktor mengangguk.
"Tentu saja tidak."
"Itu sebabnya ayahmu berhasil menyembunyikannya begitu lama."
Ia tersenyum kecil.
"Dia tahu suatu hari seseorang akan datang mencarinya."
Tatapan Viktor berpindah lagi pada Darius.
"Dan ternyata orang itu adalah aku."
Darius melangkah maju satu langkah.
"Jika kau datang hanya untuk bermain teka-teki, kau bisa pergi sekarang."
Namun Viktor justru terlihat semakin santai.
"Oh tidak."
"Aku datang untuk membuat penawaran."
Lyra menegang "Penawaran?"
Viktor menatapnya lurus "Kau ikut denganku."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan menegang.
Darius langsung berkata dingin, "Tidak."
Viktor mengangkat bahu "Sebagai gantinya…"
Ia menatap Darius "...aku akan meninggalkan kota ini."
Namun detik berikutnya Darius tertawa kecil. Tawa yang sangat dingin.
"Jika kau pikir aku akan menyerahkannya padamu…"
Tatapannya berubah sangat tajam.
"...kau lebih bodoh dari yang kuingat."
Beberapa pengawal langsung bergerak sedikit.
Namun Viktor hanya menghela napas panjang.
"Masih keras kepala."
Ia menatap Lyra sekali lagi.
"Kau tidak akan selalu berada di bawah perlindungannya."
Kalimat itu terdengar seperti janji, Lalu Viktor berbalik menuju pintu, Namun sebelum keluar—
Ia berkata tanpa menoleh "Permainan ini tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan apa yang kuinginkan."
Pintu tertutup, Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara, Kemudian Lyra berkata pelan.
"Darius…"
Pria itu langsung menoleh, Matanya masih penuh kemarahan yang ditahan.
"Apa yang dia maksud?" Lyra menelan napas.
"Warisan ayahku."
Darius terdiam beberapa detik, Lalu akhirnya berkata pelan.
"Aku akan mencari tahu."
Lyra menatapnya.
"Kau tidak tahu?"
Darius menggeleng kecil.
"Ayahmu sangat pandai menyembunyikan sesuatu."
Namun kemudian ia menatap Lyra dengan serius.
"Yang aku tahu hanya satu hal."
"Apa?"
Darius menyentuh pipi Lyra dengan lembut.
"Apa pun yang dia cari…"
Tatapannya berubah dingin lagi.
"...aku tidak akan membiarkan Viktor mendekatimu lagi."
Namun di luar mansion Di dalam mobil hitamnya Viktor sedang tersenyum sambil melihat sesuatu di layar ponselnya, Sebuah foto lama, Foto seorang pria muda, Darius, Dan di sampingnya ayah Lyra, Partner, Teman. Yang akhirnya menjadi musuh. Viktor berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Kau tidak tahu semuanya, Darius." Matanya menyipit.
"Dan ketika dia tahu…" Senyumnya menjadi lebih dingin "...permainan ini akan jauh lebih menarik."