Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Rival Pertama
Satu bulan telah berlalu sejak Goo Yoon mulai berlatih Teknik Langkah Bayangan di Aula Batu Hitam. Malam demi malam, tubuhnya lelah, tapi gerakan dan instingnya semakin tajam. Setiap langkah, setiap putaran, dan setiap dorongan energi dari tongkatnya terasa lebih alami. Ia telah berubah, meski belum menyadarinya sepenuhnya.
Malam itu, di halaman utama sekte, beberapa murid berkumpul. Udara dingin menyelimuti mereka, dan lampu lentera menciptakan bayangan panjang. Suasana tegang terasa.
Di antara mereka, berdiri seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam legam yang disisir rapi. Matanya tajam, penuh percaya diri, dan aura kekuatannya membuat orang lain menahan napas.
Itulah Jin Hae-Rin, salah satu murid elit sekte yang terkenal dengan kecepatan dan ketangguhannya.
“Goo Yoon,” panggil Jin dengan nada dingin.
Goo Yoon menoleh. Matanya menatap tajam.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Jin melangkah maju, senyum tipis di wajahnya.
“Kabar tentangmu menyebar cepat. Katanya… kamu berhasil mengalahkan Beruang Kabut sendirian dan bertahan dalam ujian tahap kedua. Bahkan para tetua membicarakannya.”
Beberapa murid yang melihat menyeringai, jelas terkesan dan sedikit iri.
Goo Yoon tetap tenang.
“Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan,” jawabnya singkat.
Jin tersenyum, tapi kali ini matanya lebih tajam.
“Kalau begitu… mari kita lihat apakah kabar itu benar.”
Ia melangkah mundur beberapa langkah, bersiap. Aura kekuatannya mulai memancar, dan tanah di bawah kakinya bergetar ringan.
Goo Yoon menatap, merasakan tantangan yang berbeda. Rival pertamanya datang bukan hanya untuk menguji tubuh, tapi juga mentalnya.
SWISH!
Dalam sekejap, Jin Hae-Rin melesat ke arah Goo Yoon. Kecepatan serangannya membuat daun dan debu beterbangan. Namun Goo Yoon telah terbiasa dengan gerakan cepat. Ia menunduk, berguling, dan meloncat ke samping, menghindari serangan dengan presisi.
CLANG! CLANG!
Tongkat Goo Yoon menangkis pedang pendek Jin beberapa kali. Setiap benturan mengirim getaran hingga ke lengan, tapi Goo Yoon tetap fokus. Ia mulai memanfaatkan teknik bayangan yang ia latih selama sebulan terakhir.
Dengan langkah ringan dan cepat, tubuhnya bergerak seperti bayangan, mengelilingi Jin. Serangan Jin mengenai udara kosong, membuatnya frustrasi.
“Memang cepat…” gumam Jin. “Tapi cukup cepatkah untuk mengalahkanku?”
Goo Yoon tersenyum tipis, lalu menyerang balik. Dengan kombinasi kecepatan dan kekuatan tongkat, ia menargetkan titik lemah Jin di sisi pergelangan tangan. WHACK!
Jin tersentak, tapi segera menangkis dengan pedangnya. Duel mereka berlangsung sengit, saling serang dan bertahan dengan cepat. Setiap murid yang menonton menahan napas, menyadari bahwa ini bukan pertarungan biasa.
Beberapa detik kemudian, Goo Yoon berhasil menipu gerakan Jin dengan manuver bayangan, dan tongkatnya menyentuh bahu Jin. Jin kehilangan keseimbangan sejenak.
Goo Yoon mundur beberapa langkah, napasnya berat tapi matanya bersinar.
“Cukup untuk sekarang,” katanya.
Jin berdiri kembali, menyeringai.
“Bagus… kamu lebih dari yang kukira. Tapi ini belum selesai.”
Ia menarik pedangnya, menatap Goo Yoon dengan serius. Rival pertama Goo Yoon kini telah muncul—seseorang yang jelas akan menjadi penghalang sekaligus tolok ukur kemampuannya di sekte ini.
Goo Yoon menatap balik, yakin akan satu hal:
“Kalau aku ingin menjadi terkuat, aku harus mengalahkan semua yang menghadang. Termasuk dia.”
Angin malam berhembus, membawa ketegangan yang menebal. Pertarungan mereka hanyalah awal dari perjalanan Goo Yoon menghadapi rival-rival kuat di dalam sekte.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/