NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Bu Rika baru saja menyelesaikan beberapa berkas di mejanya ketika pintu ruangannya diketuk pelan. Ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen dan berkata singkat, “Masuk.”

Pintu terbuka perlahan dan Bu Dewi melangkah masuk. Wajahnya terlihat serius, bahkan sedikit tegang. Hal itu langsung menarik perhatian Bu Rika. Selama ini Bu Dewi dikenal sebagai pegawai senior yang jarang mempermasalahkan hal-hal kecil.

“Bu Dewi?” tanya Bu Rika sambil melepas kacamatanya. “Ada apa? Kelihatannya serius sekali.”

Bu Dewi menutup pintu di belakangnya sebelum duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Bu Rika. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menahan sesuatu yang sejak tadi ingin ia keluarkan.

“Bu Rika… saya datang karena ingin membicarakan Pak Andra.”

Nama itu membuat Bu Rika sedikit mengernyit. Ia bersandar di kursinya, menatap Bu Dewi dengan penuh perhatian.

“Andra?” ulangnya. “Ada apa lagi yang dia lakukan?”

Nada suaranya terdengar heran. Beberapa hari terakhir Bu Rika memang sangat sibuk mengurus berbagai urusan perusahaan sehingga tidak terlalu mengikuti dinamika yang terjadi di kantor.

“Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi akhir-akhir ini,” lanjut Bu Rika. “Masalah apa lagi yang dia buat?”

Bu Dewi menunduk sebentar sebelum akhirnya mulai berbicara.

“Saya sebenarnya sudah mencoba diam, Bu. Tapi kali ini saya merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja.”

Bu Rika langsung duduk lebih tegak. Ia bisa merasakan keseriusan dalam suara Bu Dewi.

“Ceritakan saja dari awal,” katanya pelan. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Bu Dewi menghela napas panjang.

“Ini tentang Novita… staff administrasi baru yang mulai bekerja minggu ini.”

Bu Rika mencoba mengingat. Ia memang sempat melihat nama itu di daftar karyawan baru.

“Novita?” tanya Bu Rika. “Yang baru masuk beberapa hari lalu itu?”

“Iya, Bu.”

“Bagaimana dengan dia?”

Bu Dewi menatap Bu Rika dengan ekspresi tidak nyaman.

“Anak itu sebenarnya bekerja dengan sangat baik. Bahkan menurut saya dia cepat sekali memahami pekerjaannya.”

“Benarkah?” Bu Rika terlihat tertarik.

“Iya. Dia teliti, cepat belajar, dan sangat sopan. Saya bahkan sempat memujinya di depan teman-temannya karena laporan yang dia kerjakan rapi sekali.”

Bu Rika mengangguk pelan.

“Lalu?”

Wajah Bu Dewi berubah sedikit kesal.

“Masalahnya… dia justru mendapat masalah hanya karena bercanda dengan teman-temannya.”

Bu Rika mengerutkan dahi.

“Bercanda?”

“Iya,” jawab Bu Dewi. “Dia hanya bercanda tentang Pak Andra yang terkenal galak.”

Bu Rika tampak terkejut.

“Hanya karena itu?”

Bu Dewi mengangguk pelan.

“Saya tidak tahu bagaimana ceritanya sampai Pak Andra mendengar hal itu. Tapi sejak saat itu sikapnya terhadap Novita berubah.”

Bu Rika menyilangkan tangannya di atas meja.

“Berubah bagaimana?”

Bu Dewi mulai menceritakan semuanya dengan lebih rinci.

“Awalnya dia menyuruh Novita melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan tugasnya.”

“Maksudnya?”

“Misalnya membawa barang-barangnya ke mobil.”

Bu Rika langsung menaikkan alisnya.

“Serius?”

“Iya,” kata Bu Dewi. “Padahal dia staff administrasi, bukan asisten pribadi.”

Bu Rika terlihat semakin tidak nyaman.

“Lalu?”

Bu Dewi melanjutkan.

“Bukan hanya itu. Pekerjaan Novita yang sebenarnya sudah benar juga sering dikoreksi oleh Pak Andra.”

“Dikoreksi?”

“Iya. Tapi bukan karena salah. Koreksinya sering tidak masuk akal.”

Bu Rika menatapnya tajam.

“Maksud Anda?”

“Beberapa laporan yang sudah saya cek sendiri sebenarnya tidak ada masalah. Tapi Pak Andra tetap menyuruhnya mengulang hanya karena alasan sepele.”

Bu Rika menghela napas pelan.

“Sepertinya dia memang sedang mencari-cari kesalahan.”

Bu Dewi mengangguk.

“Persis seperti itu yang saya rasakan.”

“Apalagi yang terjadi?”

Bu Dewi tampak sedikit ragu sebelum melanjutkan.

“Kemarin bahkan dia menyuruh Novita mengambil makan siangnya di tempat yang cukup jauh dari kantor.”

“Jauh?”

“Iya, Bu. Tempat itu berada beberapa blok dari sini.”

Bu Rika terlihat semakin terkejut.

“Kenapa tidak menyuruh sopir saja?”

“Itu juga yang saya pikirkan,” jawab Bu Dewi. “Atau minimal menyuruh office boy.”

“Lalu Novita pergi?”

“Iya. Anak itu tetap pergi tanpa mengeluh.”

Bu Rika terdiam beberapa detik.

“Bagaimana sikapnya selama ini?”

“Dia tetap sopan,” jawab Bu Dewi. “Dia tidak pernah membantah atau menunjukkan kemarahan.”

Bu Rika menghela napas panjang.

“Kasihan sekali.”

Bu Dewi menatap Bu Rika dengan serius.

“Itulah sebabnya saya datang ke sini. Saya merasa situasi ini sudah melewati batas.”

Bu Rika perlahan mengangguk.

“Saya mengerti.”

Ia kemudian bersandar di kursinya sambil berpikir sejenak.

“Sejujurnya saya benar-benar tidak tahu bahwa situasinya sampai seperti ini,” katanya akhirnya.

“Saya juga awalnya tidak yakin apakah harus melaporkannya,” kata Bu Dewi. “Tapi kalau dibiarkan, saya khawatir anak itu akan terus diperlakukan seperti ini.”

Bu Rika menatap Bu Dewi dengan penuh pengertian.

“Anda benar datang ke sini.”

Ia lalu berkata dengan nada tegas.

“Perusahaan ini tidak boleh membiarkan perlakuan seperti itu terhadap karyawan baru.”

Bu Dewi terlihat sedikit lega mendengarnya.

“Apa yang akan Bu Rika lakukan?”

Bu Rika berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Saya akan berbicara dengan Bu Amanda.”

Mendengar nama itu, Bu Dewi langsung mengangguk.

Bu Amanda adalah ibu Andra sekaligus sahabat lama Bu Rika. Jika ada orang yang bisa menegur Andra dengan serius, maka orang itu adalah ibunya sendiri.

“Menurut saya itu keputusan yang tepat,” kata Bu Dewi.

Bu Rika menatapnya dengan ekspresi tegas.

“Sejujurnya saya juga tidak bisa membiarkan Andra bersikap seperti ini.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Dia memang anak sahabat saya, tapi bukan berarti dia boleh memperlakukan orang lain sesuka hati.”

Bu Dewi menghela napas lega.

“Terima kasih, Bu Rika.”

“Tidak perlu berterima kasih,” jawab Bu Rika. “Ini memang tanggung jawab saya sebagai HRD.”

Kemudian ia menambahkan dengan nada lebih serius.

“Selain itu, saya juga akan memperhatikan Novita.”

Bu Dewi sedikit terkejut.

“Maksudnya?”

“Jika memang situasinya seperti yang Anda ceritakan, saya tidak akan membiarkan dia sendirian menghadapi hal ini.”

Wajah Bu Dewi terlihat jauh lebih tenang sekarang.

“Anak itu sebenarnya sangat baik,” katanya pelan. “Saya hanya tidak ingin semangatnya bekerja rusak karena perlakuan seperti ini.”

Bu Rika mengangguk setuju.

“Saya mengerti.”

Ia lalu berkata dengan nada yang lebih lembut.

“Kadang orang yang baru masuk justru yang paling rentan diperlakukan tidak adil.”

Bu Dewi berdiri dari kursinya.

“Saya benar-benar berharap masalah ini bisa segera diselesaikan.”

Bu Rika ikut berdiri.

“Saya juga.”

Ia menatap Bu Dewi dengan penuh keyakinan.

“Percayalah, saya akan menangani ini.”

Bu Dewi tersenyum tipis.

“Kalau begitu saya merasa jauh lebih tenang.”

Sebelum keluar dari ruangan, ia sempat berhenti sejenak di depan pintu.

“Bu Rika…”

“Iya?”

“Terima kasih karena mau mendengarkan.”

Bu Rika tersenyum kecil.

“Kadang seseorang hanya butuh didengar sebelum masalah menjadi lebih besar.”

Bu Dewi mengangguk pelan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Setelah pintu tertutup, Bu Rika kembali duduk di kursinya. Namun kali ini pikirannya tidak lagi tertuju pada tumpukan dokumen di mejanya.

Pikirannya justru dipenuhi satu hal.

Andra.

Ia mengenal pemuda itu sejak kecil. Putra sahabatnya sendiri. Namun apa yang baru saja ia dengar membuatnya merasa sangat kecewa.

“Kalau ini benar…” gumamnya pelan.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

“Sepertinya aku memang harus bicara dengan Amanda.”

1
viellia
next yuuuk kaaak
Black Rascall: udah aku buatin update terjadwal sampai 48 bab jadi di tunggu ya kak tiap jam 9
total 1 replies
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!