Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Bernama Prescila
Aku masih ingat sore itu dengan jelas.
Di parkiran sekolah, aku yang awalnya ingin menyampaikan sesuatu… akhirnya hanya berdiri cukup jauh darinya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk melihat semuanya tanpa harus mendekat.
Seorang laki-laki melangkah ke depan Prescila. Dari caranya berdiri, dari jeda di setiap gerakannya, terlihat kalau ia sedang menahan sesuatu. Sesuatu yang mungkin sudah lama ia simpan.
Dan akhirnya… ia mengatakannya.
Prescila tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik, seperti memberi ruang pada kata-kata yang baru saja sampai padanya. Lalu ia tersenyum kecil.
Dan kemudian… ia mengangguk.
Saat itu juga aku tahu artinya.
Ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dadaku. Tidak meledak, tidak juga runtuh. Hanya… bergeser. Aneh. Sulit dijelaskan.
Aku tidak marah. Tapi juga tidak bisa dibilang baik-baik saja.
Hanya… rasanya seperti datang terlambat.
Dan yang paling membingungkan—aku bahkan tidak tahu harus merasa kecewa pada siapa.
Sejak saat itu, tanpa benar-benar disadari, seperti ada batas yang muncul di antara kami. Tidak terlihat, tidak pernah dibicarakan… tapi ada.
Dan entah kenapa—
rasanya aku tidak akan sanggup menembusnya.
Prescila punya hak untuk memilih siapa pun yang ia suka.
Sementara aku… hanya seseorang yang kebetulan menyukainya.
Diam-diam.
Mungkin sejak pertama kali aku melihatnya.
—
Hari itu adalah hari pertamaku datang ke rumah orang tuaku di kota, setelah bertahun-tahun tinggal di kampung bersama kakek dan nenek.
Semuanya terasa seperti perpindahan yang terlalu cepat. Dari tempat yang sudah kukenal lama, ke tempat yang bahkan belum sempat kupahami.
Ibu dan kakakku menyambutku di depan rumah.
Kakakku, Marissa.
Usianya terpaut beberapa tahun dariku, dan sekarang ia sudah kuliah. Cara bicaranya santai, tapi tetap terasa berbeda dariku. Seperti ada jarak yang tidak terlihat.
Rumah itu besar.
Jauh berbeda dengan rumah nenek di kampung. Halamannya luas, pintunya tinggi, dan semuanya terlihat rapi. Terlalu rapi, sampai terasa seperti bukan tempatku.
Aku sempat diam di depan.
Ada rasa canggung yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti sedang berdiri di tempat yang seharusnya milikku, tapi terasa asing.
—
Setelah berbincang sebentar, ibu mengajakku masuk dan menunjukkan kamar yang akan kutempati.
Kamarnya cukup besar.
Jauh berbeda dengan kamar kecilku di kampung. Beberapa koperku langsung dirapikan oleh ibu, sementara aku hanya berdiri, melihat sekeliling.
Mencoba membiasakan diri dengan ruang yang akan kutempati mulai sekarang.
Semuanya terasa baru.
Dan entah kenapa, “baru” tidak selalu terasa menyenangkan.
—
Tidak lama kemudian terdengar suara dari ruang depan.
“Kak Marissa!”
Suara seorang gadis memanggil dari luar.
Aku keluar dari kamar dan melihat seorang gadis berdiri di ruang tamu. Dari cara ia berdiri dan berbicara, terlihat jelas kalau ia sudah sangat akrab dengan rumah ini.
Ibuku tersenyum melihatnya.
“Hai, Cila. Kok tumben mainnya sore?” tanya ibu.
“Iya, Tante. Tadi aku habis bikin persiapan untuk sekolah nanti. Terus capek, jadi sempat ketiduran,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Ooh begitu.”
Lalu ibu menoleh ke arahku.
“Oh iya, kenalin. Ini anak tante yang baru datang dari kampung. Namanya Rendra.”
Aku mengangguk kecil.
“Rendra, kenalin juga. Ini Prescila. Biasanya dipanggil Cila.”
Untuk beberapa detik kami hanya saling melihat.
Tidak ada yang benar-benar tahu harus berkata apa lebih dulu.
“Halo,” katanya akhirnya, dengan nada yang ringan.
“Halo,” jawabku pelan.
Singkat. Tapi cukup.
—
“Cila, sini!”
Suara kakakku terdengar dari kamar.
“Iya, Kak!”
Prescila langsung berlari kecil menuju kamar kakakku.
Dan di momen sederhana itu—
aku baru sadar.
Itu pertama kalinya aku melihatnya.
Gadis yang, tanpa aku sadari saat itu, akan sering muncul di pikiranku.
—
Aku kembali ke kamar dan berdiri di depan cermin.
Menatap bayanganku sendiri.
Lama.
Kulitku terlihat lebih gelap dibandingkan orang-orang di rumah ini. Rambutku juga tidak terlalu rapi. Wajar saja. Di kampung, aku lebih sering berada di luar. Ke hutan, membantu pekerjaan, atau sekadar bermain tanpa memikirkan hal-hal seperti ini.
Penampilan bukan sesuatu yang pernah kupikirkan serius.
Aku menghela napas kecil.
“Ah, mana mungkin dia suka sama aku,” gumamku pelan.
Aku tersenyum kecil, lebih ke arah menyadarkan diri sendiri.
Aku ini anak kampung.
Biasa saja.
Bahkan dulu, waktu SMP, aku sering dibodoh-bodohi oleh teman-teman perempuan di kelas.
Apalagi Prescila.
Dia terlihat bersih, rapi, dan… ya, cantik.
Jauh berbeda.
“Udah ah, jangan kepedean,” kataku pada diriku sendiri sambil menjauh dari cermin.
—
Aku mengambil pakaian ganti dari dalam tas.
Perjalanan dari kampung tadi cukup jauh. Badanku terasa lengket oleh keringat.
Saat membuka pintu kamar mandi di dalam kamar, aku sedikit terdiam.
“Wah…”
Kamar mandinya ada di dalam kamar.
Aku melangkah masuk, melihat sekeliling. Dindingnya bersih, lantainya rapi, dan ada shower yang menempel di tembok.
Hal yang sederhana bagi sebagian orang, tapi terasa asing bagiku.
Di kampung, kamar mandi biasanya terpisah. Harus gantian. Harus menunggu.
Di sini, semuanya… sendiri.
Aku tertawa kecil.
“Enak juga ya ternyata.”
—
Aku menyalakan shower.
Air langsung mengalir dari atas.
Dingin, lalu perlahan terasa biasa.
Segar.
Seperti menghapus sisa perjalanan panjang tadi.
—
Dan di tengah suara air yang jatuh—
aku kembali teringat wajah Prescila.
Yang tadi.
Di ruang tamu.
Aku menggelengkan kepala pelan.
“Sudahlah, Rendra… jangan aneh-aneh.”
—
Ini baru hari pertamaku di rumah ini.
Masih terlalu awal untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Masih banyak yang harus kubiasakan.
Tentang tempat ini.
Tentang orang-orang di dalamnya.
Dan tentang diriku sendiri.
Saat itu, aku belum tahu—
kalau semuanya akan berubah.
Tentang sekolah baruku.
Tentang keluargaku.
Dan terutama…
tentang seorang gadis bernama Prescila.
Gadis yang, pelan-pelan,
akan membuat hidupku jauh lebih rumit
dari yang pernah kubayangkan.