Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Bernama Prescila
Aku masih ingat sore itu dengan jelas.
Di halaman sekolah, aku berdiri beberapa langkah dari mereka. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat semuanya dengan cukup jelas.
Seorang laki-laki di depan Prescila tampak gugup, tetapi akhirnya ia mengatakan sesuatu yang selama ini mungkin sudah lama ia pendam. Prescila hanya diam beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
Dan kemudian… ia mengangguk.
Saat itu juga aku tahu apa artinya.
Ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dadaku. Bukan marah, bukan juga sedih sepenuhnya. Aku bahkan tidak tahu kepada siapa aku harus merasa kecewa.
Prescila punya hak untuk memilih siapa pun yang ia suka.
Aku hanya seseorang yang kebetulan menyukainya… diam-diam.
Mungkin sejak pertama kali aku melihatnya.
Hari itu adalah hari pertamaku datang ke rumah orang tuaku di kota setelah bertahun-tahun tinggal di kampung bersama kakek dan nenek.
Ibu dan kakakku menyambutku di depan rumah. Kakakku bernama Marissa. Usianya terpaut beberapa tahun dariku dan sekarang ia sudah kuliah.
Rumah itu terlihat besar. Jauh berbeda dengan rumah nenek di kampung yang sederhana. Halamannya luas, pintunya tinggi, dan suasananya terasa sangat rapi.
Aku sempat merasa sedikit canggung berdiri di sana.
Setelah berbincang sebentar, ibu mengajakku masuk dan menunjukkan kamar yang akan kutempati.
Kamarnya cukup besar, jauh berbeda dengan kamar kecilku di kampung. Beberapa koperku segera dirapikan oleh ibu, sementara aku hanya berdiri memperhatikan ruangan yang akan menjadi tempatku tinggal mulai sekarang.
Semua terasa baru bagiku.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari ruang depan.
“Kak Marissa!”
Suara seorang gadis memanggil dari luar.
Aku keluar dari kamar dan melihat seorang gadis berdiri di ruang tamu. Sepertinya ia sudah sangat akrab dengan keluargaku.
Ibuku tersenyum melihatnya.
“Hai, Cila. Kok tumben mainnya sore?” tanya ibu.
“Iya, Tante. Tadi aku habis bikin persiapan untuk sekolah nanti. Terus capek, jadi sempat ketiduran,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Ooh begitu.”
Lalu ibu menoleh ke arahku.
“Oh iya, kenalin. Ini anak tante yang baru datang dari kampung. Namanya Rendra.”
Aku mengangguk kecil.
“Rendra, kenalin juga. Ini Prescila. Biasanya dipanggil Cila.”
Untuk beberapa detik kami hanya saling melihat.
“Halo,” katanya ramah.
“Halo,” jawabku pelan.
Tidak lama kemudian terdengar suara kakakku dari kamar.
“Cila, sini!”
“Iya, Kak!” jawabnya cepat sebelum berlari kecil menuju kamar kakakku.
Saat itulah pertama kali aku melihat gadis yang kelak sering memenuhi pikiranku.
Aku kembali ke kamar dan berdiri di depan cermin.
Untuk beberapa saat aku hanya menatap bayanganku sendiri.
Kulitku terlihat lebih gelap dibandingkan orang-orang di rumah ini. Rambutku juga tidak terlalu rapi. Ya, bagaimana lagi. Di kampung aku sering pergi ke hutan atau membantu pekerjaan di luar rumah. Mana sempat memikirkan penampilan.
Aku menghela napas kecil.
“Ah, mana mungkin dia suka sama aku,” gumamku pelan.
Aku tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala sendiri.
Aku ini anak kampung. Penampilanku juga biasa saja. Bahkan selama di kampung dulu, waktu SMP, aku sering sekali dibodoh-bodohi oleh teman-teman perempuan di kelas.
Apalagi Prescila.
Dia terlihat bersih, rapi, dan cantik. Jauh berbeda denganku.
“Udah ah, jangan kepedean,” kataku pada diriku sendiri sambil menjauh dari cermin.
Aku lalu mengambil pakaian ganti dari dalam tas. Perjalanan dari kampung tadi cukup jauh, badanku terasa lengket oleh keringat.
Saat membuka pintu kamar mandi di dalam kamar, aku sedikit terdiam.
“Wah…”
Kamar mandinya ada di dalam kamar.
Aku masuk beberapa langkah sambil melihat sekeliling. Dindingnya bersih, lantainya rapi, bahkan ada shower yang menempel di tembok.
Rasanya agak aneh bagiku.
Di kampung, kamar mandi biasanya terpisah dari kamar. Bahkan kalau ingin buang air, harus gantian dengan anggota keluarga lain.
Di sini semuanya ada di dalam kamar sendiri.
Aku tertawa kecil.
“Enak juga ya ternyata.”
Aku menyalakan shower dan air langsung mengalir dari atas. Rasanya segar sekali setelah perjalanan panjang tadi.
Sambil mandi aku kembali teringat wajah Prescila yang tadi kulihat di ruang tamu.
Aku menggelengkan kepala lagi.
“Sudahlah, Ren… jangan aneh-aneh,” gumamku pada diri sendiri.
Ini baru hari pertamaku di rumah ini.
Dan sepertinya… masih banyak hal baru yang harus aku biasakan.
Saat itu aku belum tahu banyak hal akan berubah.
Tentang sekolah baruku.
Tentang keluargaku.
Dan terutama… tentang gadis bernama Prescila.
Gadis yang kelak akan membuat hidupku jauh lebih rumit dari yang pernah kubayangkan.