Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Lorong rumah sakit di dekat IGD tampak lebih sepi dibandingkan lobi utama. Suara langkah kaki dokter dan perawat sesekali terdengar berlalu-lalang, namun tidak terlalu ramai.
Di salah satu sisi lorong, Kenzo dan Kenzi berdiri berhadapan. Wajah Kenzi terlihat gelisah, sementara Kenzo tampak kesal.
“Kak,” kata Kenzi pelan, mencoba menahan emosi, “kenapa kamu memanggil pria itu Daddy?”
Kenzo mendengus kecil. “Karena memang begitu.”
Kenzi mengerutkan kening. “Belum tentu.”
Ia menatap kakaknya dengan serius.
“Kita bahkan tidak tahu siapa dia. Bisa saja kamu salah.”
Kenzo langsung menyilangkan tangan di depan dada. Wajah kecilnya menunjukkan keyakinan yang kuat.
“Instingku tidak pernah salah.”
Nada suaranya penuh percaya diri.
“Dari seratus persen pria yang pernah aku lihat, pria tadi hampir sembilan puluh persen mirip denganku.”
Ia menatap Kenzi dengan tatapan tajam.
“Rahangnya, matanya dan cara dia berdiri.”
Kenzo menegaskan lagi,
“Itu sudah cukup meyakinkanku kalau dia Daddy kita.”
Kenzi terdiam sejenak tetapi kemudian ia berkata lagi dengan hati-hati,
“Tapi—”
Belum selesai ia berbicara, Kenzo memotong dengan kesal.
“Dan satu lagi!”
Kenzi terkejut, Kenzo menatapnya tajam.
“Aku tidak suka tadi kamu menunduk di depannya.”
Kenzi mengerjap bingung. “Kenapa?”
Kenzo mengerutkan kening. “Karena aku membencinya.”
Kenzi terdiam, Kenzo melanjutkan dengan suara yang lebih pelan namun penuh emosi.
“Dia menindas Mommy.”
Wajah Kenzi langsung berubah. Keduanya sama-sama teringat kejadian kemarin di perusahaan. Saat Tasya pulang dengan wajah yang berusaha tegar, namun jelas terlihat terluka.
“Kenapa kalian berdebat?” Suara lembut namun tegas terdengar dari belakang mereka.
Kedua anak itu langsung menoleh. Tasya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajahnya terlihat lelah, namun masih berusaha tersenyum pada kedua anaknya.
“Kalian sedang membicarakan apa?”
Kenzo dan Kenzi saling menatap sebentar. Lalu Kenzo kembali menoleh pada Tasya. Ada sesuatu di matanya yang tampak serius.
“Mom,”
Tasya sedikit terkejut dengan nada suara itu.
“Iya?”
Kenzo bertanya langsung, “Di mana Daddy?”
Pertanyaan itu membuat Tasya langsung terdiam. Kenzo melanjutkan,
“Kenapa Mommy tidak pernah mau menceritakan tentang Daddy kami?”
Pertanyaan itu lagi, Tasya menghela napas pelan. Semakin anak-anaknya bertambah besar, semakin sulit baginya menyembunyikan kebenaran yang terjadi tujuh tahun lalu. Ia menunduk sebentar, mencoba menenangkan dirinya. Namun, sebelum Tasya sempat menjawab Kenzi tiba-tiba menyela.
“Mom…”
Tasya menoleh, Kenzi menatapnya dengan lembut.
“Tidak perlu menjawab.”
Tasya terdiam, Kenzi tersenyum kecil.
“Kami mengerti perasaan Mommy.”
Ia mengatakan itu karena melihat Tasya tidak berkata apa-apa. Seolah ia tahu pertanyaan itu menyakiti ibunya. Tasya menatap kedua anaknya beberapa detik. Lalu akhirnya ia berkata pelan,
“Daddy kalian … sudah tidak ada.”
Suasana lorong tiba-tiba terasa hening. Kenzo dan Kenzi sama-sama terdiam mendengar jawaban itu. Namun mereka tidak menyadari, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, seseorang tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Seorang pria yang sedang berdiri di sudut lorong. Tangannya memegang sebuah iPad.
Pria itu menatap layar iPad-nya sebentar. Di layar itu terlihat data pencarian seseorang. Nama yang sedang mereka cari. Tasya Aditya, orang yang berkaitan dengan masalah peretasan keamanan perusahaan Vasillo.
Pria itu perlahan mengangkat pandangannya ke arah Tasya dan kedua anaknya.
Matanya menyipit, "jika dua anak kembar yang tadi berbicara dengan Tuan Alex … adalah anak Tasya … berarti mereka adalah anak dari wanita yang saat ini sedang dicari oleh Tuan Alex."
Di sudut lorong rumah sakit, pria yang sedari tadi berdiri diam itu masih memperhatikan Tasya dan kedua anaknya dari kejauhan.
Mario menatap layar itu dengan serius. Informasi yang ia kumpulkan sejak tadi pagi perlahan tersusun di kepalanya. Ia kembali teringat percakapan yang baru saja ia dengar.
“Daddy kalian sudah tidak ada.”
Mario menyipitkan matanya. Perlahan ia mulai bergumam pelan, seolah sedang menyusun potongan puzzle.
“Apa mungkin … Tasya adalah wanita tujuh tahun lalu?” Tatapannya kembali pada layar iPad. Ia menggulir beberapa data yang baru saja dikumpulkannya.
“Usia anak-anak itu…” gumamnya. Keduanya terlihat sekitar enam atau tujuh tahun. Jantung Mario berdetak sedikit lebih cepat. Ia menggeser layar lagi, profil riwayat hidup Tasya muncul di sana. Beberapa detik kemudian, Mario berhenti pada satu bagian. Alisnya langsung terangkat.
“Berlin…” Ia membaca ulang kalimat itu.
“Pernah tinggal di Berlin.” Suasana di sekitarnya terasa semakin sunyi di telinganya.
Mario menatap layar iPad beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Tidak mungkin…” Namun, semakin ia memikirkan semuanya, semakin masuk akal rasanya. Wajah kedua anak itu, kemiripan mereka dengan Alex. Mario akhirnya mematikan layar iPad itu. Tatapannya berubah lebih serius.
“Aku harus mencari tahu sendiri.” Suaranya rendah namun tegas. Lalu, sebuah pemikiran terakhir muncul di benaknya. Satu cara yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
“Tes DNA.” Mario bergumam pelan. “Hanya itu yang bisa membuktikannya.” Ia memasukkan iPad ke dalam tas kerjanya. Kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum berbalik berjalan menuju ruang rapat. Beberapa menit kemudian ia kembali berdiri di depan pintu ruang rapat.
Di dalam ruangan itu, Alex sedang duduk di kursi utama meja panjang. Beberapa dokter spesialis dan pimpinan rumah sakit duduk di sekelilingnya, menjelaskan laporan operasional rumah sakit. Aura Alex tetap dingin dan dominan seperti biasa.
Mario membuka pintu dengan tenang lalu masuk kembali ke dalam ruangan.
Beberapa dokter spesialis sedang mempresentasikan laporan operasional di layar besar. Grafik dan angka memenuhi layar, tetapi perhatian Alex tampak tidak sepenuhnya berada di sana.
Pria itu duduk di kursi utama dengan punggung tegak, wajahnya dingin seperti biasa.
Mario masuk dengan langkah tenang lalu berdiri di samping kursi Alex. Beberapa dokter sempat menoleh, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa. Alex melirik sekilas ke arah asistennya itu. Ia langsung tahu Mario datang bukan tanpa alasan. Dengan suara rendah ia berkata,
“Sudah menemukan data anak itu?”
Mario mengangguk, Alex menatapnya dengan yakin.
“Aku tahu kamu bisa menemukannya tanpa perlu waktu lama.” Nada suaranya tenang, penuh kepercayaan pada kemampuan asistennya.
Mario sedikit menunduk hormat.
“Ya, Tuan.”
Ia kemudian menyalakan layar iPad di tangannya. Beberapa detik kemudian ia menggeser perangkat itu ke arah Alex.
“Tuan bisa melihatnya sendiri.”
Alex menatap layar itu dengan santai pada awalnya. Namun, hanya beberapa detik kemudian tatapannya langsung melebar.
Matanya menyipit tajam.
“Anak-anak itu…” Suaranya pelan, namun dingin.
Mario menjawab dengan hati-hati.
“Mereka adalah anak Nona Tasya Aditya, Tuan.”
Beberapa dokter di ruangan itu saling menatap bingung karena tidak memahami apa yang sedang terjadi. Alex masih menatap layar iPad itu. Semakin lama semakin gelap ekspresinya.
Alex mengepalkan tangannya pelan. “Wanita itu lagi.” Nada suaranya rendah dan penuh emosi yang tertahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tetapi matanya masih terpaku pada layar iPad. Seolah semua kejadian hari ini membentuk satu garis tak terlihat.
Sejak hari pertama ia kembali ke Indonesia, ia terus saja terlibat dengan wanita itu. Seakan tak peduli ia pergi ke mana. Tasya selalu muncul, Alex mendengus pelan.
“Sepertinya takdir punya cara aneh untuk mempertemukan orang.”
Tatapannya berubah lebih tajam.
“Dan aku tidak menyukainya.”
Mario terdiam, dia tahu persis apa arti nada suara itu. Karena setiap kali Alex mengatakan sesuatu dengan nada seperti itu berarti badai besar akan segera datang.
"Bawa kedua anak Tasya untukku! Aku ingin wanita itu memulihkan keamanan perusahaan untukku," katanya, Mario hanya bisa mengangguk meskipun dia tahu jika Alex tak ingin terlibat dengan wanita itu.
"Kenapa tidak meminta wanita itu untuk bekerja sama dengan kita?" tanya Mario ragu.
"Itu bukan keputusan yang bisa kamu putus sendiri, Mario. Lakukan apa yang ku perintahkan!" Ruangan langsung mendadak sunyi dan hening.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal