Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 35
Lampu klub mewah dan privat itu berputar seperti ilusi di antara nyaring nada. Wajah-wajah asing melebur begitu saja, tawa dan jeritan pecah berderai tanpa makna.
Meja-meja dan sofa ditata sedemikian rupa di balik sekat berhias di tepi lantai dansa. Semua orang tampak terlena dalam irama dan dentuman musik yang tak henti menghantam rongga dada. Beberapa wanita penghibur turun ke lantai mengenakan topeng dan menari tanpa busana.
Aurel melangkah masuk tanpa ragu, tatapannya beku meski tubuhnya dibalut gaun mahal dan terbuka yang membuat banyak perhatian tertuju padanya.
"Dateng juga lo Rel... tumben!"
"Gue mau seneng-seneng," tukas Aurel seraya mengibaskan tangannya. "Waiter (pelayan)! One Vodka Martini, quick (Satu Vodka Martini, cepat)!"
"Right away (Siap), Madam (nyonya)," sahut seorang pelayan berpakaian hitam putih, lantas melesat ke bar untuk menyiapkan minuman.
"Kenapa? Di rumah nggak seneng lo?" ledek salah satu teman perempuan Aurel yang mengenakan gaun biru pendek dan rambut pendek tipisnya dicat ungu.
"Bukan urusan lo, Marta!" bentak Aurel, tak mau kalah.
"Dih! Gak usah sok galak lo! Gue bukan pembokat lo yang bisa lo bentak-bentak seenaknya, ya!" balas Marta tak terima.
"Heh! Sudah! Sudah! Sesama lobang dilarang berantem! Kita di sini buat have fun (senang-senang), ingat?"
Sesosok lelaki kurus berkulit sepucat kertas muncul dan melerai. Rambut cepak pirangnya berantakan. Mata hijaunya tak fokus dan mukanya merah, namun senyum di bibir gelapnya kian merekah kala melihat Aurel berdiri sambil bergoyang pelan di depannya.
"Enak aja lobang--dasar batang berkuman!" cela Marta seraya menjauh, ekspresinya jijik.
"Kayak lo nggak aja, Mar!" cibir lelaki itu, yang kemudian mendekati Aurel tanpa ragu. "Cantik banget kamu malam ini, Rel... kangen banget aku sama kamu...!"
"Oh shut up (diam)!" gerutu Aurel yang menerima segelas minuman pesanannya dari pelayan dan langsung menenggaknya banyak-banyak.
"Hey (hei), slowly (pelan-pelan), baby (sayang)...!" tegur laki-laki pirang itu.
"Berisik kamu, Dave!" ketus Aurel, mengernyit sejenak saat sensasi bagai api membakar kerongkongan dan perutnya bertubi-tubi--namun ia bisa tahan. "Waiter (pelayan), give me more (kasih aku minuman ini lagi)! Now (sekarang)!"
Usai menenggak tiga gelas Vodka Martini lagi, Aurel ikut bergoyang dan makin liar di lantai dansa. Teman-temannya tak lagi mencela. Mereka semua kian larut dalam dunia yang sama.
"Uh... ah..."
Di sela dansa yang menggoda, beberapa sengaja menepi, dan saling bercumbu liar. Tanpa sungkan dan tanpa beban. Di atas sofa, di atas meja. Helai pakaian, potongan kertas dan plastik pembungkus, botol-botol dan gelas-gelas kosong bertebaran di mana-mana.
"Rel..."
Dave memeluk Aurel, mencium dan menjamahnya. Aurel tak menolak. Keduanya mengenyakkan diri di salah satu sofa panjang di sudut, menutup sekat, dan segera saja saling lucut dan bergumul liar.
"Uhhh."
Nikmat sekaligus perih menghantam liang intim Aurel. Kepalanya berdenyut-denyut, dan ia pun sepenuhnya rebah sambil meletakkan lengan di atas dahinya.
"Thanks (terima kasih), Rel... I love you (aku mencintaimu)...!"
Dave memagut bibir Aurel sebelum benar-benar melepasnya, dan mengancingkan kembali kemeja dan celana panjangnya.
"Kupikir kamu nggak bakal datang lagi," kata Dave seraya menuang segelas whiski untuk dirinya sendiri. "Kupikir kamu bakal berubah setelah nikah... tapi aku seneng kamu tetap Aurel yang dulu! Please lah kita sering-sering ketemu kayak gini, Rel..."
"Segitunya kamu cinta dan gak bisa lupain aku?" Aurel terkekeh dengan mata tak fokus, terutama setelah menerima sebungkus heroin yang ditawarkan pelayan yang lewat dan menghirupnya.
"Kamu cintaku satu-satunya," kata Dave dengan suaranya yang tenang dan dalam. "Aku akan melakukan apa saja untukmu... asal kamu senang dan bahagia. Aku bahkan rela kamu menikah dengan lelaki lain asal itu bikin kamu happy..."
Aurel tertawa getir.
"Tapi aku nggak happy, Dave..."
"Kenapa? Rendy nyakitin kamu? Katakan! Kamu mau aku hajar dia?!" seru Dave, seketika naik pitam.
"Jangan," Aurel menggeleng, matanya makin tak fokus. "Bukan Rendy yang harus kamu hajar... tapi..."
"Tapi?"
"Mantannya," geram Aurel. "Aku mau mantan Rendy lenyap dari muka bumi! Selamanya!"
Dave tertawa, namun matanya berubah gelap dan dalam bagai cekungan jurang curam.
"Jadi kamu cemburu? Segitunya kamu cinta Rendy?"
"Aku cuma mau Rendy bertekuk lutut total--sebagai istri sah, aku nggak sudi dibagi dengan perempuan lain! Aku mau aku dipuja sebagai satu-satunya!"
Dave menghabiskan whiskinya dan mendesah, mukanya semakin merah.
"Aku bisa menolongmu," kata Dave lembut. "Tapi dengan satu syarat."
Aurel menengadah. Pikirannya yang berkabut sukar menerka, meski sesungguhnya kelanjutan kalimat Dave dapat dinalar dengan mudah.
"Come here often (seringlah datang kemari) honey (sayang). Fuck with me (bercintalah denganku), always (selalu), as much as we can (sebanyak yang kita mampu), until we die (hingga kita tiada)."
Tawa meluncur dari bibir merah Aurel. Meski tak ada raut bahagia sama sekali di wajahnya yang cantik dan bersih laiknya boneka porselen mahal.
"I'll do it (akan kulakukan). Jadi kamu bakal menyingkirkan Zenna demi aku, kan?"
Dave menyeringai, ekspresinya seperti serigala lapar.
"Tentu. Kamu tahu keahlianku. Gampang itu."
"Dasar mafia!" kekeh Aurel. "Lakukan dengan bersih ya! Tanpa jejak!"
"Pasti," Dave mengambil vape dari saku celananya, dan tanpa ragu menghisapnya. "Jadi, di mana cewek bernama Zenna itu tinggal? Akan kubereskan secepatnya."
Ekspresi Aurel berubah. Mulutnya melekuk muram.
"Itu--"
Dave mengerutkan alis.
"Kamu nggak tahu?"
Aurel menghela napas kasar. "Masalahnya, dia--"
Tiba-tiba ponselnya di atas meja bergetar panjang. Aurel bisa melihat nomor tak dikenal mengiriminya banyak pesan sekaligus dalam satu waktu.
Apa-apaan ini?
Aurel membukanya. Sederet foto kini menghiasi layar ponselnya.
Foto-foto itu menampilkan sesosok wanita sangat cantik berambut ikal panjang dalam berbagai sudut dan gaya--kebanyakan duduk atau berbaring di dalam sebuah kamar luas, dengan jarum infus melekat di badan. Ada sosok Rendy juga dalam salah satu foto itu, duduk di sisi ranjang sambil mencium lembut bibir wanita itu yang terbaring dengan mata terpejam--sepertinya sedang tidur atau tak sadar.
Aurel nyaris meremukkan ponselnya sendiri. Darahnya mendidih. Batinnya menjerit pedih.
Tetapi pesan itu belum usai.
Slide foto terakhir dikirim dan menunjukkan sebuah rumah besar bertingkat dua dengan gaya kuno yang dibangun di antara rimbun hutan. Ada pembagian peta lokasi tercantum sebagai penutup pesan.
"Apa itu, Rel?" tanya Dave sambil melirik ponsel Aurel.
"Lokasi jalang itu berada sekarang," Aurel menatap lurus Dave, wajahnya merah padam. "Kamu siap eksekusi dia kapan aja, kan?"
"Hmm."
Dave meminjam ponsel Aurel dan melihat foto-foto dan tautan lokasi dengan cermat.
"Ada yang sengaja mengirim ini ke kamu. Bukan nomor yang kamu kenal?"
Aurel menggeleng. Tatapannya miring.
"Pengirimnya tahu kamu benci wanita ini, tahu kamu ingin menghabisinya," simpul Dave perlahan. "Pesan ini terlalu mengundang--seperti jebakan. Kamu harus hati-hati, Rel."
Aurel menarik kerah kemeja Dave dan mengguncangnya kuat. "Aku gak peduli! Kamu cinta aku, kan? Kamu janji mau bunuh jalang itu untukku, kan? Bukan masalah besar buatmu, kan? Jawab!"
Dave mendesah dan melepas cengkeraman Aurel dengan satu tarikan mantap.
"Oke. Nggak masalah. Aku bisa menuntaskannya dengan rapi. Kujamin."
Aurel tersenyum dan mencium Dave lama.
"Thanks, honey."
"Hmm," Dave menghisap vapenya lagi. "Jadi kapan kamu mau aku mulai? Oh, dan satu lagi..."
Seringai buas itu kembali terukir di wajah cekung Dave.
"Aku ingin bersenang-senang dengan tubuh perempuan bernama Zenna itu sebelum dia mati...nggak masalah, kan?"
***
bram pantai aja dari jauh
Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/