Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Sang Korban Palsu
Malam itu di hotel, kesabaran Edward sudah berada di titik nadir. Saat Eleanor semakin liar mencumbunya dan jemari gadis itu mulai menarik ikat pinggangnya, Edward tahu ia harus mengambil keputusan ekstrem. Dengan satu gerakan cepat dan presisi, Edward memukul tengkuk leher Eleanor dengan kekuatan yang terukur—cukup untuk membuatnya pingsan seketika tanpa melukainya.
Eleanor terkulai lemas di dada bidang Edward. Edward memejamkan mata erat, mengatur napasnya yang menderu seperti badai. "Sialan..." umpatnya rendah. Tubuhnya terasa panas, dan jantungnya berdegup sangat kencang. Ia segera merapikan kemejanya yang berantakan dan menggendong Eleanor keluar dari kamar hotel itu dengan protektif.
Di depan pintu, Rey sudah berdiri tegap. Matanya sempat melirik kondisi tuannya yang tampak kacau, namun ia segera menunduk.
"Rey, cari tahu siapa dua pria tadi. Dan cari tahu siapa yang membayar mereka. Aku ingin tubuh dan informasi mereka sebelum matahari terbit," perintah Edward dengan suara dingin yang mematikan.
"Baik, Tuan."
Edward membawa Eleanor bukan ke rumah orang tuanya, bukan pula ke kediaman Zollern, melainkan ke Mansion Pribadi Edward—sebuah tempat rahasia yang bahkan neneknya pun jarang berkunjung. Ia memanggil pelayan wanita kepercayaannya untuk mengganti baju Eleanor yang basah kuyup dengan piyama sutra miliknya yang kedodoran.
Keesokan Harinya – Pukul 10 Pagi. Cahaya matahari menembus jendela kamar yang luas. Eleanor mengerang, kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. Begitu ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri. Kamar ini terlalu luas, terlalu maskulin, dan terlalu mewah.
"Oh Tuhan... apa yang terjadi?" Eleanor panik. Ia menyibak selimut dan melihat dirinya mengenakan piyama pria yang sangat besar. Jantungnya hampir copot.
"Kau sudah bangun?" Sebuah suara berat terdengar dari arah balkon.
Edward berdiri di sana, mengenakan jubah mandi hitam, memegang cangkir kopi dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat terlihat lelah dan menderita. Ada lingkaran hitam tipis di matanya—yang sebenarnya karena dia memang tidak bisa tidur menahan hasrat semalam.
"Tuan Zollern? Kenapa saya ada di sini? Dan... dan baju saya kenapa ganti?!" Eleanor sedikit berteriak sambil memeluk selimutnya erat-erat.
Edward melangkah mendekat, duduk di pinggir tempat tidur dengan helaan napas yang sangat berat. "Eleanor... kau harus bertanggung jawab terhadapku."
Eleanor tertegun, matanya mengerjap bingung. "Bertanggung jawab? Apa maksud Anda? Bukankah Anda yang menculik saya?"
"Menculik?" Edward tertawa sinis yang dibuat-buat. "Aku menyelamatkanmu dari hotel itu, tapi apa balasannya? Di perjalanan dan saat sampai di sini, kau memperkosaku dengan brutal, Eleanor. Kau tidak memberiku kesempatan untuk bernapas."
Wajah Eleanor seketika memucat. "Apa?! Jangan bercanda! Saya tidak mungkin melakukan itu!"
"Kau tidak ingat?" Edward mencondongkan tubuhnya, menatap Eleanor dengan tatapan terluka yang sangat meyakinkan. "Kau mendorongku ke tempat tidur, kau merobek kancing kemejaku, dan kau duduk di atas perutku sambil menciumku dengan rakus. Aku mencoba menolak, tapi tenagamu semalam... seperti orang kerasukan."
DEG!
Kepingan memori semalam tiba-tiba berputar di otak Eleanor. Bayangan dirinya yang duduk di atas perut Edward, merasakan kulit dada pria itu di telapak tangannya, dan ciuman panas yang ia mulai sendiri... semuanya muncul seperti film horor.
"T-tidak mungkin..." Eleanor menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi detik itu juga. "Mana mungkin saya melakukan itu?"
"Kau sangat nakal, Nona Lichtenzell. Bahuku bahkan sampai memerah karena cengkeramanmu," dusta Edward sambil menyembunyikan senyum kemenangannya. "Sekarang, reputasiku sebagai pria terhormat sudah ternoda olehmu. Bagaimana kau akan membayarnya?"
Dari balik selimut, suara Eleanor terdengar sangat kecil dan gemetar. "T-tapi itu karena obat! Saya dijebak!"
"Alasan tetaplah alasan. Faktanya, kau sudah memakanku semalam," ucap Edward dengan nada datar namun menuntut. "Hanya ada satu cara untuk menebus kesalahanmu ini. Pernikahan kita harus dipercepat. Aku tidak mau mengambil risiko kau memperkosaku lagi tanpa status yang jelas."
Eleanor semakin meringkuk di balik selimut. Malunya sudah sampai ke tulang sumsum. Ia tidak tahu bahwa Edward sedang menahan tawa melihat reaksi si keras kepala yang sekarang tidak berdaya itu. Edward tahu, mulai hari ini, Eleanor tidak akan punya nyali lagi untuk membantah kata-katanya.