(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 103: Pangeran Bergaun Merah Muda
Tiga tahun kemudian. Usia Zhao Xuan kini menginjak tujuh tahun.
Di bawah sinar rembulan yang menyinari halaman belakang paviliunnya, sosok kecil itu sedang melakukan sesuatu yang akan membuat tabib fana mana pun jantungan.
Zhao Xuan sedang melakukan berdiri terbalik, namun ia tidak menggunakan kedua tangannya. Ia hanya menggunakan satu jari telunjuk tangan kanannya untuk menopang seluruh berat tubuhnya. Keringat sebesar biji jagung menetes dari dahi kecilnya. Napasnya diatur dalam ritme yang sangat panjang dan aneh: tiga detik menarik napas, tujuh detik menahan, dan satu detik menghembuskan napas tajam.
Tubuh fana ini benar-benar rapuh, batin Zhao Xuan, merasakan otot lengannya yang mulai bergetar. Tidak ada Qi, tidak ada meridian spiritual untuk dialiri energi, dan sama sekali tidak ada harapan untuk menggunakan Domain Pembantaian.
Namun, seorang dewa kematian tidak pernah mengeluh pada alat yang ia miliki.
Selama setahun terakhir, Zhao Xuan secara diam-diam menciptakan sebuah seni bela diri murni yang disesuaikan untuk dunia tanpa Qi ini. Ia menamainya Seni Pembongkar Tulang Asura (Edisi Fana). Seni ini tidak bisa membelah gunung, namun dengan memanipulasi titik-titik saraf, momentum sendi, dan efisiensi kinetik, Zhao Xuan yakin ia bisa membunuh seekor beruang liar atau sepuluh prajurit berbaju zirah hanya dengan tangan kosong di usia tujuh tahun ini.
Srekk...
Telinga Zhao Xuan yang sangat peka menangkap suara langkah kaki mengendap-endap dari balik tembok halamannya. Ia segera menghentikan pelatihannya, memutar tubuhnya di udara dengan kelincahan seekor kucing, dan mendarat tanpa suara di atas rumput.
Ia merayap ke arah jendela kamarnya dan menajamkan pendengaran.
"Ssst! Pelan-pelan, Kak Tian! Kalau kau menginjak ranting kering lagi, penjaga gerbang utara akan mendengarnya!" Suara bisikan Zhao Ling (kini 11 tahun) terdengar dari balik semak-semak.
"Aku tahu, aku tahu! Jubah gelap ini terlalu panjang," keluh Zhao Tian (16 tahun), Pangeran Mahkota yang seharusnya sedang tidur di kamarnya. "Kau yakin Xuan'er sudah tidur? Anak itu memiliki telinga kelelawar. Jika dia bangun dan mengadu pada Ibunda bahwa kita menyelinap keluar ke Festival Lampion Ibukota, kita akan dihukum menyalin buku sejarah seratus kali!"
"Aku sudah melihatnya tertidur pulas memeluk bantal. Dia tidak akan tahu," balas Zhao Ling yakin. "Ayo cepat! Aku ingin melihat pertunjukan penelan api dan makan manisan buah Tanghulu!"
Di balik jendela, mata hitam Zhao Xuan menyipit datar.
Menyelinap keluar istana untuk festival malam? Dan meninggalkanku karena mengira aku tukang mengadu? batin Zhao Xuan merasa sedikit tersinggung. Dituduh sebagai tukang lapor adalah sebuah penghinaan besar.
Selain itu, ia sangat menyukai manisan Tanghulu. Gula adalah kelemahan baru yang tidak pernah ia rasakan di kehidupannya yang dulu.
Zhao Xuan segera memutar otaknya. Ia ingin ikut, tapi jika ia langsung muncul, kedua kakaknya pasti akan panik dan membatalkan rencana. Ia harus menyelinap melewati lapis kedua Pengawal Kerajaan sendirian dan menyergap mereka di luar tembok.
Zhao Xuan membuka lemarinya. Jubah pangerannya terlalu mencolok. Ia membutuhkan penyamaran yang sempurna, sesuatu yang tidak akan dicurigai oleh prajurit fana yang berjaga malam. Pandangannya jatuh pada keranjang cucian di sudut ruangan, tempat pelayan istana menaruh baju-baju bekas yang akan dibagikan.
Matanya terkunci pada sebuah pakaian pelayan wanita kecil (dayang cilik) berwarna merah muda terang, lengkap dengan pita pita rambut.
Sang mantan tiran Benua Tengah menatap baju itu dengan jijik selama tiga detik penuh. Namun, bayangan manisan Tanghulu dan keinginan untuk membuktikan bahwa ia adalah master penyusupan memenangkan harga dirinya.
Tengah malam, di luar Tembok Utara Istana Kerajaan Zhao.
Zhao Tian dan Zhao Ling berhasil turun menggunakan tali tambang. Mereka mendarat di gang gelap berbatu dengan napas lega.
"Hahaha! Berhasil! Pangeran Mahkota dan Tuan Putri akhirnya bebas!" bisik Zhao Tian kegirangan, membersihkan debu dari pakaian penyamarannya yang berupa jubah rakyat biasa.
"Ayo cepat ke alun-alun utama sebelum kembang apinya mulai—"
Tuk. Tuk.
Seseorang menepuk lutut Zhao Tian dari bawah.
Zhao Tian dan Zhao Ling membeku. Perlahan, dengan keringat dingin mengalir di pelipis, mereka menunduk.
Di bawah cahaya rembulan yang redup, berdirilah seorang "gadis cilik" mengenakan gaun dayang berwarna merah muda. Rambutnya diikat menjadi dua cepol yang sedikit berantakan. Di pipinya terdapat sapuan bedak merah (rouge) yang terlalu tebal dan tidak rata, membuatnya terlihat seperti boneka berhantu.
Namun, yang paling mengerikan adalah ekspresi wajahnya: benar-benar datar, dingin, dan memancarkan aura seorang pembunuh veteran yang sedang menagih utang nyawa.
"HIIIIIIYAAAAAH! HANTU SI KECIL MERAH!!"
Zhao Tian nyaris menjerit dengan kekuatan penuh jika saja Zhao Ling tidak segera membekap mulut kakaknya dengan panik.
"B-Bukan hantu, bodoh! Coba lihat baik-baik matanya!" bisik Zhao Ling dengan lutut gemetar.
Mereka berdua menyipitkan mata. Si "dayang kecil berhantu" itu memiringkan kepalanya, lalu menyodorkan tangan kanannya ke depan, meminta sesuatu dengan gestur yang sangat menuntut.
"Bawa aku. Aku mau Tanghulu," ucap Zhao Xuan datar.
Zhao Tian dan Zhao Ling terbelalak hingga bola mata mereka nyaris jatuh dari rongganya.
"X-Xuan'er?!" desis Zhao Tian histeris, mencengkeram rambutnya sendiri. "Apa-apaan dandanan ini?! Dan bagaimana kau bisa melewati sepuluh prajurit jaga di gerbang tanpa ketahuan?!"
"Prajurit fana tidak memperhatikan anak perempuan yang sedang menangis membawa keranjang cucian di kegelapan," Zhao Xuan menjawab santai. "Penyamaran adalah dasar dari operasi malam hari."
"Operasi malam?! Ini bukan perang, Xuan'er!" Zhao Ling menepuk jidatnya, namun kemudian ia tidak bisa menahan diri. Ia melihat bedak cemong di pipi adiknya dan gaun merah muda yang sedikit kebesaran. Zhao Ling langsung membungkuk dan tertawa tanpa suara hingga perutnya sakit. "Pfft... Hahahaha! Adikku yang kaku memakai gaun merah muda!"
Wajah Zhao Xuan sedikit memerah, namun ia mempertahankan ekspresi datarnya. "Belikan aku manisan buah, atau aku akan berteriak ada penculik di gang ini."
Sebuah ancaman yang membuat kedua kakaknya seketika mengangguk pasrah.
Tiga bersaudara itu akhirnya berjalan menyusuri jalanan Ibukota yang sangat meriah. Lentera berwarna-warni menerangi malam. Aroma daging panggang, mi kuah, dan gula kapas memenuhi udara.
Bagi Zhao Xuan (yang akhirnya memaksa Kakak Sulungnya membelikannya jubah anak laki-laki biasa di pasar malam untuk membuang gaun merah muda terkutuk itu), suasana ini sangat memabukkan. Jutaan orang fana berkumpul tanpa takut akan ada kultivator yang tiba-tiba meledakkan kota mereka. Ini adalah kedamaian murni.
Di tangan kiri Zhao Xuan, sudah ada dua tusuk manisan Tanghulu (apel berlapis gula karamel). Ia mengunyahnya dengan ekspresi serius yang sangat tidak cocok dengan pipi montoknya.
Mereka tiba di sebuah stan permainan karnaval. Pemilik stan seorang pria berwajah licik sedang menertawakan Zhao Tian yang baru saja gagal menjatuhkan botol kayu menggunakan bola kain.
"Maaf, Tuan Muda! Lemparan Anda kurang bertenaga! Tiga keping tembaga lagi untuk mencoba?" tawar si pemilik stan sambil menyeringai. Ia tahu botol kayunya memiliki pemberat timah di bagian bawah, sehingga mustahil dijatuhkan oleh anak-anak.
Zhao Tian menggertakkan giginya. "Sial! Padahal aku ingin memenangkan boneka harimau itu untuk Ling'er!"
Zhao Xuan yang sedang mengunyah apel berlapis gula, melirik ke arah stan tersebut. Ia melihat botol kayu itu, mengukur beratnya, melihat sudut kemiringan meja, dan menghitung gaya gesek angin malam.
Zhao Xuan maju ke depan, menaruh tiga keping tembaga di meja, dan mengambil sebuah bola kain kecil. Pemilik stan tertawa meremehkan melihat anak berusia tujuh tahun yang pipinya masih penuh dengan gula mencoba bermain.
Tanpa mengambil ancang-ancang, Zhao Xuan menjentikkan pergelangan tangannya. Ia tidak melempar bola itu lurus, melainkan memberikan putaran ke bawah yang sangat tajam dan presisi pada sudut botol.
TUK. PRANG!
Bola kain itu menghantam bagian atas botol dengan kecepatan luar biasa. Karena putaran kinetiknya, botol yang memiliki pemberat di bawah itu terpelanting ke belakang, menghantam tiga botol lainnya di sebelahnya hingga semuanya jatuh berantakan ke tanah.
Pemilik stan ternganga. "B-Bagaimana...?"
Zhao Xuan menunjuk boneka harimau terbesar di stan tersebut dengan jari telunjuknya yang lengket karena gula. "Hadiahku."
Malam itu, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao secara sistematis "merampok" setiap stan permainan di alun-alun Ibukota. Dari memanah balon, melempar gelang ke leher botol, hingga menebak cangkir. Refleks dan akurasi mantan Asura-nya, meski di dalam tubuh anak tujuh tahun, membuat para pemilik stan menangis kehabisan hadiah.
Saat mereka berjalan kembali ke istana menjelang fajar, Zhao Tian dan Zhao Ling berjalan terseok-seok karena harus memanggul puluhan boneka, pedang kayu, dan keranjang hadiah.
Sementara itu, Zhao Xuan berjalan paling depan dengan langkah ringan, mengunyah tusuk Tanghulu kelimanya malam itu.
"Aku lelah sekali..." keluh Zhao Tian, menjatuhkan sebuah boneka beruang. "Ling'er, apakah adik kita ini titisan dewa judi atau dewa perang? Akurasinya tidak masuk akal."
"Aku tidak peduli titisan apa, yang penting aku dapat banyak mainan!" kekeh Zhao Ling ceria.
Zhao Xuan menatap langit malam yang tenang. Tidak ada bintang jatuh pertanda Kehancuran, tidak ada intrik sekte kuno. Hanya malam fana yang indah, manisan yang lezat, dan keluarga yang sedikit konyol namun selalu ada di sisinya.