NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Terakhir

Malam itu…

angin berhembus lebih dingin dari biasanya.

Langit gelap tanpa bintang.

Seolah ikut merasakan sesuatu yang akan berakhir.

Ryan sedang bersiap menutup bengkelnya.

Tangannya bergerak pelan.

Tidak terburu-buru.

Seperti tidak benar-benar ingin pulang.

Namun saat ia hendak mematikan lampu—

suara langkah kaki terdengar.

Pelan.

Ragu.

Ryan berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Perasaan itu…

yang sudah ia coba abaikan beberapa hari terakhir—

kembali muncul.

Ia menoleh.

Dan di sana…

berdiri Arini.

Untuk beberapa detik—

dunia terasa diam.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Hanya tatapan yang saling bertemu.

Arini terlihat berbeda.

Wajahnya pucat.

Matanya lelah.

Namun tetap… sama seperti yang ia kenal.

Ryan tidak bergerak.

Ia hanya berdiri.

Seolah takut semua ini hanya bayangan.

“Kamu…” ucapnya pelan.

Arini tersenyum kecil.

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Iya… aku.”

Hening lagi.

Namun kali ini—

lebih berat.

“Aku pikir… kamu tidak akan datang lagi,” kata Ryan akhirnya.

Arini menunduk.

“Aku juga pikir begitu.”

Ia melangkah pelan mendekat.

Setiap langkahnya terasa berat.

Seolah ada sesuatu yang menahannya.

“Aku cuma… ingin memastikan sesuatu,” lanjutnya.

Ryan mengernyit.

“Apa?”

Arini mengangkat kepalanya.

Menatap Ryan dalam.

“Bahwa ini… benar-benar harus berakhir.”

Kalimat itu jatuh seperti hujan deras.

Langsung.

Tanpa jeda.

Ryan tidak langsung menjawab.

Namun matanya tidak berpaling.

“Sudah berakhir sejak kamu kirim surat itu,” katanya tenang.

Arini tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

Ia menggenggam tangannya sendiri.

Seolah menahan sesuatu.

“Tapi… aku tetap ingin melihatmu sekali lagi.”

Keheningan kembali turun.

Namun kali ini—

lebih menyakitkan.

Ryan menarik napas pelan.

“Kamu akan tunangan.”

Bukan pertanyaan.

Tapi pernyataan.

Arini mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada pembelaan.

Hanya jawaban sederhana yang penuh arti.

Ryan tertawa kecil.

Namun tidak ada kebahagiaan di sana.

“Cepat juga.”

Arini menatapnya.

“Aku tidak punya pilihan.”

Ryan mengangguk.

“Memang dari awal… kita tidak pernah punya.”

Kalimat itu membuat Arini terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Ryan…”

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokan.

Ryan menatapnya.

Lama.

Lalu berkata pelan,

“Kamu tidak perlu jelaskan apa-apa.”

Arini menggigit bibirnya.

Air matanya mulai jatuh.

“Aku minta maaf…”

Ryan menggeleng.

“Tidak perlu.”

Suaranya tetap tenang.

Namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih sakit.

Arini melangkah lebih dekat.

Kini hanya beberapa langkah dari Ryan.

“Kalau… keadaan berbeda…”

Ia berhenti.

Tidak sanggup melanjutkan.

Ryan tersenyum tipis.

“Kalau keadaan berbeda… mungkin kita tidak akan bertemu.”

Jawaban itu sederhana.

Namun menghancurkan.

Arini menunduk.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Ryan melihatnya.

Namun tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Tidak menghapus air mata itu.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena ia tahu—

ia tidak berhak lagi.

Beberapa detik berlalu.

Yang terasa seperti selamanya.

Akhirnya—

Arini mengusap air matanya.

Lalu berkata pelan,

“Aku harus pergi.”

Ryan mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada yang menahan.

Tidak ada yang meminta untuk tetap tinggal.

Karena mereka tahu—

semuanya sudah tidak bisa kembali.

Arini berbalik.

Melangkah pergi.

Namun sebelum benar-benar menjauh—

ia berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata,

“Terima kasih… untuk semuanya.”

Ryan tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Melihat sosok itu perlahan menghilang dalam gelap.

Sampai akhirnya—

tidak terlihat lagi.

Malam kembali sunyi.

Namun kali ini…

lebih kosong dari sebelumnya.

Ryan berdiri sendiri.

Di tempat yang sama.

Namun dengan perasaan yang berbeda.

Ia menutup bengkel perlahan.

Lalu sebelum masuk—

ia melihat sekali lagi ke arah jalan.

Ke arah di mana Arini pergi.

Dan untuk pertama kalinya—

ia benar-benar melepaskan.

“Jaga diri…”

gumamnya pelan.

Namun tidak ada yang mendengar.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!