NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIAPA ?

Seperti hari lainnya Deya pagi-pagi sudah bersiap dengan baju kebanggaannya, seragam bankernya. Kaki jenjang yang terbalut celana kain panjang itu tengah menghitung anak tangga yang menghubungkan kamarnya dengan lantai bawah.

Senyum manis gadis itu tak hentinya terpancar saat melihat sang ibu tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuk mereka.

“Selamat pagi ibu.” Sapanya dan mendudukkan diri di kursi yang biasa dipakainya.

“Selamat pagi anak ibu.” Sapa sang ibu kembali sambil melihat sekilas mata sembab Deya.

“Ayah mana bu ?” Tanya nya kembali seolah melupakan perkara semalam.

“Lagi nyiram tanaman di belakang nak.” Jawab Kia yang masih sibuk dengan masakannya.

Deya pun sama, terlihat gadis itu sedang mempersiapkan bekal untuk makan siangnya di kantor.

Dari arah belakang terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian rumahannya berjalan menuju kedua perempuan itu. Mata Samsu memperhatikan senyum manis Deya, seketika Samsu membuang nafas panjang.

“Sudah mau berangkat nak.” Tegur Samsu.

“Iya yah, hari ini Senin pasti jalanan macet banget.”

“Ayah telponkan nak Rico ya biar antar kamu.”

Deya yang masih sibuk dengan kotak bekalnya, sontak mengerjitkan dahi. “Apa hubungannya emang yah ?”

“Iya, biar dia yang antar kamu.”

“Emang kalau dia yang nganter nggak macet ? Bisa ngurangin macet ?” Tanya Deya dengan ketus dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

Baru saja Samsu akan angkat bicara, namun Kia sudah lebih dulu menengahi.

“Sudah, sudah, ayo sarapan dulu. Nggak baik debat depan makanan.”

***

Dari Deya keluar rumah, Samsu tak henti-hentinya menawarkan agar Deya mau di antarkan oleh Rico.

“De, ayah telpon Rico ya.” Pinta Samsu dengan sedikit memaksa.

“Ayah, memang rumah dia dimana ? Saya harus menunggu lagi, dia kesini. Belum macetnya dia kesini belum macetnya nanti ngantar saya. Sudah ayah jangan terlalu memaksa.” Ibanya dengan mata yang mulai berkaca.

Lagi-lagi Kia menengahi perdebatan ayah dan anak itu. Namun, kali ini Kia hanya memelototkan matanya pada dang suami. Sesaaat kemudian Samsu hanya bisa diam dan tak mengatakan sepatah katapun.

“Saya pergi dulu.” Pamitnya dan mencium tangan kedua orang tuanya.

“Assalamualaikum.” Salamnya dan mulai melajukan motor kesayangannya.

“Waalaikumussalam.” Jawab kedua orang tuanya serempak.

Dilihatnya Deya semakin mengecil ditelan jarak, Kia mulai membuka percakapan.

“Ayaaah, udah deh. Anaknya nggak mau jangan dipaksa. Nggak liat apa matanya masih sembab gara-gara semalam ?”

Samsu hanya menggeleng pelan sebagai tanda ketidak setujuannya pada Kia. “Ayah maunya Deya sama Rico titik.” Tegas Samsu dan beralih menuju dalam rumah.

“Ayah, jangan egois. Anaknya nggak mau. Jangan memaksanya begitu nanti jika kedepannya mereka tidak sejalan ayah lah yang akan disalahkan.”

“Buu, bersama Rico, Deya tidak akan tidak sejalan.”

“Ayah jangan keras kepala.” Imbuh Kia kembali.

“Ibu baru tau memang ?” Samsu malah kembali bertanya tanpa menoleh ke arah sang istri dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya.

Kia terduduk di sofa ruang tamu, wanita yang telah memberikan anak pada Samsu nyatanya belum bisa meluluhkan hati suaminya untuk menjodohkan anak semata wayangnya dengan laki-laki yang bahkan tak dikenal baik olehnya sekalipun.

“Ibu bahkan tidak tahu siapa laki-laki yang akan ayah berikan tanggung jawab untuk menjaga anak kita. Deya sayang, maafkan ibu nak. Ibu belum bisa meruntuhkan keyakinan ayahmu.” Lirihnya sambil menatap foto keuarga mereka yang tergantung di dinding. Hingga tanpa sadar setetes cairan bening lolos dari mata Kia.

***

Sementara Deya, sepanjang jalan hanya mengomel saat mengingat rencana ayahnya.

“Ayaaaah.” Ucapnya kesal dan semakin melajukan motornya.

“Aku bahkan tak mengenal laki-laki itu, tapi kalaupun aku mengenalnya aku tak akan memilihnya.” Jelasnya kembali, seolah dia sedang berbicara langsung pada sang ayah.

“Ini juga jalanan. Pake acara macet-macetan segala.”

Sepanjang perjalanan menuju kantornya, ia tak henti-henti mengomel hingga motor itu terparkir rapi.

“Astaga Deya, nggak boleh bad mood pagi-lagi nanti cantiknya ilang.” Ucapnya pada diri sendiri sambil mematut dikaca spion motornya. Ia membenarkan jilbab yang sempat berantakan karena helm dan angin.

“Nanti kalau ditanya sama mereka aku harus jawab apa ya ?” Tanyanya sambil memperhatikan matanya yang masih sembab melalui kaca spionnya.

“Iya jawab aja, kalau kamu abis nangis.” Celetuk seseorang yang berada di belakangnya.

Deya kaget bukan main, hingga gadis itu berteriak.

“Aaaaa”,,

Sedangkan perempuan yang juga memakai segaram yang sama denganya hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Sel, bisa nggak si jangan kebiasaan ngagetin orang. Kalau aku jantungan gimana ?”

“Tapi kan itu nggak.” Jawabnya sekena dan memperhatikan mata Deya.

“Kamu abis nangis semalaman De, itu mata kayak di sengat Tawon.”

Deya hanya menghela nafas jengah. “Udah, nggak usah banyak tanya, ayo masuk nanti kita ketinggalan briefing nih.” Ajak Deya sambil mendorong tubuh Selfi.

***

Jam kerja pun dimulai, Deya berusaha semaksimal mungkin untuk melayani customer yang silih berganti. Meski kadang ada beberapa mata yang memandang ke arah wajahnya lebih tepat ke matanya, namun karena sungkan bertanya hingga mereka menyimpan pertanyaan itu sendiri.

Namun berbeda dengan rekan-rekan kerjanya, melihat Deya seperti itu seperti melihat jiwa lain yang merasuki jiwa Deya.

“Tuh anak ada masalah apa sih, sampai nangis segitunya.” Tanya salah satu dari mereka ke yang lain.

“Nggak tau, nggak biasanya si perempuan berlogika itu nangis, biasanya dia yang buat orang nangis.” Celetuk yang lainnya.

Deya hanya melihat dengan ekor matanya, namun telinganya seperti berada ditengah rekan kerjanya.

“Maksudnya apa aku sering bikin orang nangis ?”

“Iya nggak sih De, kan biasanya kamu yang paling berlogika, apalagi kalau kamu ngasih saran buat kami. Pasti ujung-ujungnya kamu bikin kita nangis toh.”

Deya hanya melirik sekilas dan menaikkan satu sudut bibirnya, kemudian kembali fokus untuk melanjutkan kerjaan.

Jam istirahat akan segera datang, kursi antrian pun mulai sepi, Deya merenggangkan otot-ototnya agar tak kaku.

“De.” Panggil beberapa rekan kerjanya.

Deya hanya menatap sekilas, dan memilih untuk beranjak dari kursinya.

“Eits, mau kemana ? Kamu abis kenapa ?”

Selfi mencegatnya dan kembali menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi.

“Ih, KEPO banget deh. Aku kebelet nih.” Elak Deya dan berniat untuk meninggalkan rekan-rekannya.

Namun, belum sempat itu terjadi, ponselnya sudah lebih dulu berdering. Terlihat nomor yang tak dikenal sedang melakukann panggilan telepon.

“De, jangan diangkat takutnya itu penipu.” Saran Selfi dan diangguki oleh yang lainnya.

Deya enggan mendengar saran rekan-rekannya. Ia memilih untuk berjarak dari mereka dan mengangkat telepon dari nomor tersebut.

“Hallo, selamat siang.” Salam Deya dengan sopannya.

“Siang, kamu sudah istirahat ?” Jawab suara bariton yang berada di Seberang telepon.

“Ini siapa ?” Deya balik bertanya.

“Rico.”

Mendengar nama itu, tanpa basa basi dan tanpa salam sopan seperti saat mengangkat telepon. Deya langsung saja memutuskan panggilan telepon.

Anak gadis Samsu itu semakin geram pada ayahnya sendiri. “Ayaaaaaah.” Teriaknya dan sontak membuat yang lain terkaget karena ulahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!