NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengatur strategi

Langkah kakinya menggema di lorong beton yang dingin. Setiap detak sepatu pantofelnya seperti lonceng kematian bagi siapa pun yang menunggu di ujung ruangan.

Nama pria itu adalah Marvel "The Glacier" Moretti. Ia tidak pernah berteriak. Ia tidak pernah memaki. Senjatanya bukan sekadar pistol berlapis krom di pinggangnya, melainkan tatapan matanya yang sewarna abu-abu baja—kosong, tanpa sedikit pun jejak kemanusiaan.

"Marvel, tolong... aku punya keluarga," rintih seorang pria yang terikat di kursi kayu. Wajahnya sudah babak belur, namun ketakutan terbesarnya bukan pada rasa sakit, melainkan pada keheningan Marvel

Marvel menarik kursi plastik, duduk tepat di hadapan pengkhianat itu. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra, membersihkan noda debu imajiner di ujung sepatunya dengan sangat telaten.

"Keluarga adalah alasan mengapa kau seharusnya setia, bukan alasan untuk memohon ampun," suara marvel rendah, nyaris seperti bisikan angin malam.

Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya, lalu mengembuskan asapnya ke wajah pria itu. Tanpa aba-aba, Marvel meraih jemari pria itu dan meletakkannya di atas meja.

"Satu nama, atau kau kehilangan kemampuan untuk menggandeng tangan anakmu," ucap Marvel datar. Nadanya tidak menunjukkan kemarahan, hanya efisiensi profesional yang mengerikan.

"Aku... aku tidak tahu!"

Krak.

Suara tulang patah menyatu dengan teriakan pilu yang memantul di dinding kedap suara. Wajah Marvel tetap datar. Tidak ada kilat kepuasan di matanya, tidak ada seringai. Baginya, ini hanyalah hari Selasa yang biasa.

"Satu nama lagi, dan kita pindah ke jari berikutnya," kata Marvel sambil melirik jam tangan Rolex-nya. "Aku punya reservasi makan malam pukul tujuh, dan aku benci datang terlambat."

Satu jam kemudian, Marvel keluar dari gedung tua itu. Ia merapikan jas custom-made miliknya yang tetap rapi tanpa noda. Di belakangnya, anak buahnya sedang membersihkan "sampah" yang tersisa.

Marvel masuk ke dalam mobil hitamnya, menatap hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Di kota ini, ia adalah hukum. Ia adalah hakim. Dan di hatinya yang beku, belas kasihan adalah penyakit yang sudah lama ia sembuhkan.

Marvel menatap peta digital di atas meja marmer. Cahaya biru layar memantul di wajahnya yang kaku. Musuh mereka, Klan Valerius, baru saja merebut jalur distribusi di pelabuhan.

"Mereka pikir kita akan menyerang lewat depan dengan senapan mesin," ucap Marvel , suaranya sedingin es. "Itu strategi amatir. Kita tidak akan menghancurkan pelabuhan. Kita akan mencekik mereka dari dalam."

Operasi "Umpan Senyap": Kirim dua truk kosong ke pintu utama pelabuhan untuk memancing seluruh penjaga Valerius berkumpul di satu titik. Biarkan mereka merasa menang saat mengepung truk itu.

Tim inti—dipimpin langsung oleh marvel—akan masuk melalui kanal pembuangan limbah yang terhubung langsung ke gudang logistik utama.

Alih-alih meledakkan gedung, retas sistem pendingin kontainer. Valerius menyimpan komoditas sensitif di sana. Jika suhu naik, mereka kehilangan jutaan dolar dalam hitungan menit tanpa satu peluru pun ditembakkan.

Saat kekacauan teknis terjadi, lumpuhkan target utama menggunakan suppressed sniper dari jarak jauh.

"Ingat," Marvel berdiri, mengancingkan jas hitamnya. "Jangan biarkan mereka mati terlalu cepat. Aku ingin mereka melihat kekaisaran mereka runtuh sebelum napas terakhir."

Ingat, jangan sampai kita ketahuan oleh musuh.

mereka dengan serius membahas strategi yang akan mereka lancarkan nanti yang membahas dengan serius.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!