NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARUHAN HARGA DIRI

Hafiz menahan napas saat pria berkacamata itu menimbang sejumput ulat di telapak tangannya. Detik-detik berlalu seperti jam pasir yang macet, mencekam dan penuh tekanan.

"Saya ambil semua stok yang ada sekarang," ucap pria itu tiba-tiba sembari merogoh tas kecilnya.

Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, totalnya tiga juta rupiah. "Ini DP. Minggu depan saya butuh sepuluh kali lipat dari ini untuk pengiriman ke Jakarta."

Hafiz menerima uang itu dengan tangan yang tetap stabil, meski di dalam dadanya ada ledakan kelegaan. Tiga juta memang belum ada apa-apanya dibanding lima ratus juta milik Farid, tapi ini adalah bukti otentik.

Langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah rumah utama. Kyai Abdullah berdiri di sana, menatap transaksi itu dengan dahi berkerut dan tatapan menyelidik.

Pria kolektor itu berpamitan, meninggalkan Hafiz yang kini berdiri berhadapan langsung dengan sang Kyai. Uang merah di tangan Hafiz seolah menjadi saksi bisu perjuangannya yang baru saja dimulai.

"Ulat tanah itu benar-benar menghasilkan uang, Hafiz?" tanya Kyai Abdullah, suaranya terdengar antara ragu dan terkesima.

Hafiz mengangguk mantap, menyodorkan uang itu ke hadapan Kyai. "Ini hasil panen awal dari gudang yang Gus Farid sebut sampah, Kyai."

Kyai Abdullah terdiam lama, menatap uang itu lalu menatap wajah Hafiz yang penuh jelaga namun matanya menyala. Beliau menghela napas panjang, tampak sedang menimbang beban berat di pundaknya.

"Farid menawarkan peradaban baru untuk pesantren ini, Hafiz. Dia menawarkan kemegahan yang tidak bisa kubangun sendiri selama dua puluh tahun," ucap Kyai lirih.

"Tapi saya menawarkan kemandirian, Kyai. Saya menawarkan harga diri yang tidak perlu dibeli dengan menjual Zahra," balas Hafiz telak.

Kyai Abdullah tersentak, kata-kata Hafiz menghujam tepat di titik terlemahnya. Beliau memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah putrinya yang tadi menangis tersedu-sedu.

"Baiklah," ucap Kyai Abdullah akhirnya dengan nada yang sangat serius. "Aku akan memberimu kesempatan."

Hafiz menegakkan punggungnya, siap menerima syarat apa pun yang akan keluar dari lisan sang guru.

"Aku beri waktu tiga bulan. Buktikan bisnismu bisa menyaingi bantuan Farid atau setidaknya menutupi biaya renovasi yang mendesak," tegas Kyai.

"Tapi ingat syaratku. Selama tiga bulan ini, kamu tetaplah marbot masjid. Kamu harus menyapu, mengepel, dan membersihkan tempat wudu tepat waktu."

Kyai Abdullah menatap tajam ke arah mata Hafiz. "Jika dalam tiga bulan kamu gagal membuktikan hasil yang signifikan... kamu harus pergi dari desa ini selamanya."

"Setuju," jawab Hafiz tanpa ragu sedikit pun. "Tiga bulan. Jika saya gagal, saya akan menghilang tanpa pernah menoleh lagi."

"Satu lagi," Kyai menambahkan. "Aku tidak akan membantumu. Warga desa juga tidak boleh dipaksa. Kamu harus berjuang sendirian."

Hafiz mengangguk. Ia tahu ini adalah taruhan paling gila yang pernah ia ambil, bahkan lebih gila daripada spekulasi saham yang dulu sering ia mainkan.

Kabar tentang "Taruhan Marbot" itu menyebar secepat api di atas rumput kering. Sore itu juga, Gus Farid yang belum jauh meninggalkan desa, memutar balik mobilnya setelah mendengar laporan dari salah satu warga.

Farid berdiri di tengah pasar desa yang mulai sepi, dikelilingi oleh beberapa tokoh pemuda dan warga yang sering ia beri sedekah. Wajahnya merah padam, merasa otoritasnya ditantang oleh seorang narapidana rendahan.

"Kalian dengar sendiri kan? Si narapidana itu mau menyulap gudang masjid jadi pabrik ulat!" teriak Farid dengan nada provokatif.

Warga mulai berbisik-bisik, beberapa tampak ragu, namun lebih banyak yang terpengaruh oleh pengaruh keluarga Farid.

"Bayangkan, kotoran dan ulat ada di lingkungan masjid! Apa kalian mau tempat ibadah kita jadi bau dan najis karena ambisi orang asing itu?"

"Jangan ada yang mau membantunya! Kalau ada yang terlihat bicara atau menyuplai pakan ulat untuknya, jangan harap bantuan modal dari keluarga pesantren kami cair lagi!" ancam Farid telak.

Warga yang tadinya ingin tahu kini mendadak takut. Mereka tahu betul posisi keluarga Farid bisa menentukan nasib pinjaman modal tani mereka.

Farid tersenyum puas melihat ketakutan di wajah warga. Ia menoleh ke arah masjid yang terlihat dari kejauhan, matanya penuh kebencian.

"Tiga bulan? Aku akan memastikan dalam tiga minggu dia sudah menyerah dan merangkak memohon ampun," desis Farid pada sopirnya.

Malamnya, suasana di masjid terasa lebih dingin dari biasanya. Hafiz sedang mengepel lantai teras setelah salat Isya, punggungnya terasa pegal luar biasa karena ia juga harus mengurus gudang secara bersamaan.

Warga yang biasanya menyapa ramah kini mendadak membuang muka saat berpapasan dengannya. Mereka seolah takut tertular sial jika berdekatan dengan Hafiz.

Bahkan Pak RT yang dulu sering memberinya kopi, kini lewat begitu saja tanpa menoleh. Hafiz sadar, Farid sudah mulai menggerakkan bidak-bidak caturnya untuk mengisolasi dirinya.

"Mas Hafiz..." sebuah suara lembut memanggil dari balik tiang masjid.

Hafiz menoleh dan melihat Zahra berdiri di sana, membawa sebungkus nasi hangat. Wajahnya tampak cemas, tapi ada sinar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

"Aku dengar tentang taruhan itu, Mas. Tiga bulan itu waktu yang sangat singkat," bisik Zahra sembari meletakkan bungkusan nasi di tangga.

"Jangan dekat-dekat, Zahra. Nanti Ayahmu atau warga melihat," peringat Hafiz sembari terus menggerakkan pelnya.

"Aku tidak peduli," sahut Zahra tegas. "Kenapa Mas mau mengambil risiko sebesar itu? Pergi dari desa selamanya... itu hukuman yang berat."

Hafiz menghentikan gerakannya, menatap Zahra dengan pandangan yang dalam. "Karena tinggal di sini tanpa memilikimu jauh lebih berat daripada harus pergi selamanya, Zahra."

Zahra terdiam, pipinya bersemu merah di bawah remaram lampu masjid. Kata-kata Hafiz sederhana, namun mengandung komitmen yang tidak pernah ia dengar dari pria mana pun, termasuk Farid.

"Tapi Mas butuh pakan dalam jumlah besar minggu depan. Tanpa bantuan warga, dari mana Mas dapat?"

Hafiz menatap ke arah perkebunan luas di kaki bukit yang gelap. "Tuhan memberikan bumi ini luas, Zahra. Limbah bukan hanya di pasar."

Zahra ingin bicara lagi, namun suara langkah kaki Kyai Abdullah terdengar dari dalam rumah. Zahra segera berbalik dan menghilang di kegelapan teras rumahnya.

Malam itu, Hafiz tidak tidur. Ia kembali ke gudang, melakukan sortir manual di bawah lampu pijar yang redup.

Setiap ulat yang ia pindahkan adalah harapan. Setiap kotak yang ia susun adalah benteng pertahanan untuk cintanya.

Ia harus menjaga gudang ini setiap malam sambil menjalankan tugas marbotnya setiap subuh. Fisiknya akan diperas habis-habisan.

Hafiz duduk di pojok gudang, bersandar pada karung pakan. Ia memegang mushaf kecil pemberian Zahra, mencoba mencari kekuatan.

"Tiga bulan..." bisiknya pada kegelapan. "Aku akan menjadikannya tiga bulan paling berdarah dalam hidupmu, Farid."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!